Semasa mahasiswa, Catatan Pinggir (Caping) pernah saya beli mulai dari jilid 1 sampai 7. Saya baca, tidak semuanya, mayoritas. Namanya juga Caping, tulisan itu bebas ke mana-mana, tanpa beban memasukkan informasi yang penulis suka, memberitahu cerita lampau yang terlupakan. Menyambung rangkaian paragraf yang entah bagaimana caranya bisa terhubung. Mengagumkan.
Namun, saya pikir itu bacaan santai saja. Sesekali tulisan dahsyat Goenawan Mohamad itu saya kejar di akun Facebook-nya. Dapat. Daya kejutnya tidak pernah hilang. Justru, yang membuat saya terkejut adalah buku yang saya beli dahulu hilang. Saya anggap biasa saja. Ada yang suka, silakan. Silakan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk pencerdasan diri dan orang di sekitar.
Masalah hadir ketika saya melatih diri fokus menulis setiap hari, minimal satu esai. Tulisanku bebas, suka-suka saja. Yang penting, ada tulisan. Kalau pas lagi ada inspirasi, bagus. Kalau tidak, saya buat sendiri inspirasi agar konsistensi menulis tidak putus. Ini telah berjalan selama empat bulan. Saya pikir, kok saya merasa penting membaca lagi Caping itu. Saya kembali mengejarnya, membeli Caping 13, 14, dan 15.
Apa yang ingin saya cari? Saya pun masih tidak tahu. Saya ingin membacanya saja. Saya memang ingin mengumpulkan tulisanku itu menjadi buku, tidak sehebat Catatan Pinggir. Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku, betapapun saya cukup rajin membaca, saya merasa masih sangat miskin kosakata dan ingin memperkaya melalui pendekatan Caping. Siapa tahu, saya bisa juga menuliskan hal-hal sederhana dengan untaian kata yang menawan.
Semalam jelang dini hari, saya membaca Caping 15 selama hampir dua jam. Pada bagian awal yang biasanya disebut Kata Pengantar didahului Kata Penutup. Goenawan menulis, “46 tahun, 2.027 tulisan, 15 jilid buku—dan rubrik Catatan Pinggir di majalah Tempo pun beristirahat. Saya memutuskan untuk tidak menulis lagi setiap minggu.” Caping memang telah ditutup tetapi esai penulis kesohor kita ini tidak berhenti meskipun tidak panjang lagi. Kita tetap bisa menikmatinya tanpa harus menuntut beragam ide dihamparkan dalam satu esai. Semoga semua itu juga dapat terdokumentasikan seperti Caping.
Saya sendiri pun sedang berjuang untuk mampu menggenapkan tulisan menjadi sebuah buku. Catatan harian berserakan mungkin saja dapat berguna bagi orang lain. Tidak ada niat untuk menyusun alur sistematika penulisan layaknya buku resmi yang dibagi dalam beberapa bab. Bagiku itu cukup seperti Caping, kumpulan judul dalam satu buku. Karena keseharianku bergelut dengan dunia pembelajaran bahasa Inggris, banyak hal yang kutulis erat kaitannya dengan pembelajaran bahasa Inggris. Jadi, sepertinya itu lebih tepat bila buku itu diterbitkan dalam versi dwibahasa: Indonesia dan Inggris. Satu buku cukup untuk memulai.
Masa mahasiswa menikmati Caping 1 sampai 7 telah lama berlalu. Caping 15 pun berakhir. Para penulis yang lebih muda terinspirasi, bukan dengan niat untuk melampaui Goenawan Mohamad namun mengikuti jejaknya mengabadikan sesuatu yang berharga dalam kehidupan ini. Kehidupan dicatat, pelajaran untuk kita semua.
Zulkarnain Patwa
Kamis, 30 Juli 2026
Ketika guru sedang asyik duduk santai menyaksikan seorang pelajar bernama Nabila menyetor pemahaman tenses di…
Anak-anak baru saja mendapatkan pelajaran serius berupa simple present pada verbal tense dengan menggunakan subjek…
Passive di luar kepala adalah konsekuensi logis bagi pelajar yang telah mengerti tenses di luar…
Akhir-akhir ini, kita sering mendengar istilah Kampung Inggris untuk menarik perhatian publik. Berbagai lembaga pendidikan…
Dalam sebuah diskusi, Fathy Cayadi menginginkan para pelajar Rumah Belajar Bersama (RBB) di Tanete berprestasi…
Miss Fathy Cayadi yang mendidik pelajar Rumah Belajar Bersama (RBB) di Tanete mengombinasikan pembelajaran bahasa…
Leave a Comment