Kategori: Uncategorized

  • Atlet Berkwalitas Pantang Menyerah

    Atlet Berkwalitas Pantang Menyerah

    Kejuaraan karate ka INKAI (Institut Karate Do Indonesia) tingkat Sulawesi Selatan dan Barat di Kostrad Kariango, Maros pada 28 dan 29 Agustus 2021 telah selesai. Para peserta dari pun telah kembali ke daerahnya dengan membawa prestasi masing-masing. Bulukumba sendiri telah meraih 11 medali; 3 emas, 1 perak dan 7 perunggu.

    Setelah meraih kesuksesan, bagaimana kita menyikapi para atlet kita yang telah mengharumkan nama kabupatennya? Kebanggaan yang mereka peroleh seharusnya tidak sekedar nama saja. Tentu kita mengharapkan ada perhatian lebih agar mereka lebih mampu mempertinggi prestasinya. Pemerintah Daerah Bulukumba khususnya Dinas Pemuda dan Olahraga Bulukumba tentu mengetahui cara cara yang terbaik agar karir mereka lebih mudah memasuki panggung nasional dan bahkan bila perlu di panggung internasional.

    Sekedar catatan saja. 6 + 1 orang atlet karate INKAI Bulukumba yang meraih juara 1 layak memasuki kompetisi pentas nasional. Mereka diantaranya:

    Juara Kata Beregu Putra;

    1. Tri Reski Adi Akbar
    2. Muh Raihan Athallah
    3. Muhammad Ariel Qushai.

    Juara 1 Kata Perorangan Putri:

    1. Arraya Aulia.

    Juara 1 Kata Beregu Putri:
    1. Arraya Aulia
    2. Rahmi Sulistia
    3. Andi Balele Batari.

    Dan 1 orang lagi yaitu Prayudha Azzikra Asdar telah meraih juara 1 Kata Virtual antar perguruan karate Se-Indonesia pada Mei 2021.

    Para juara 2 dan 3 dari Bulukumba yang jumlahnya juga banyak juga merupakan kandidat untuk dapat menjadi atlet nasional karena selain memiliki bekal pengalaman baik menginjak tatami (matras pertandingan) mereka pun mengerti hal hal penting yang harus dibenahi.

    Juara 1 Kata Beregu Putri: Arraya Aulia, Rahmi Sulistia dan Andi Belele Batari pada Kejuaraan INKAI SUL-Sel dan Barat di Kostrad Kariango.
    Sumber Foto: INKAI Kodim 1411/Bulukumba

    Untuk itu, beberapa catatan penting yang patut menjadi perhatian. Diantaranya yaitu ketika memasuki tahapan pelatihan khusus, para atlet membutuhkan ruangan yang layak yang tidak harus lagi berpindah-pindah. Peralatan olahraga yang dimiliki oleh atlet karate ka masih super minim. Biasanya mereka patungan (mengumpulkan uang secara bersama) untuk membeli peralatan. Selain itu, suplai gizi untuk para atlet dan para pelatih perlu dijaga agar stamina mereka tetap terjamin hingga memasuki tahapan kejuaraan. Latihannya hampir tiap hari terhitung sore dan malam. Belum lagi transportasi yang dibutuhkan menuju tempat kejuaraan diadakan sering menjadi kendala klasik buat para atlet. Pada intinya, mereka tidak boleh berjuang sendiri dalam mempertinggi prestasinya.

    Prayudha Azzikra Asdar. Juara 1 Kata Perorangan Pra Pemula Putra pada Kata Virtual Se Indonesia, Direktur Cup PNUP, 2021
    Sumber Foto: INKAI Kodim 1411 Bulukumba

    Para atlet termasuk atlet olahraga lainnya sebenarnya tidak perlu repot mengurusi hal tersebut sehingga mereka dapat fokus berlatih. Untuk mengatasi masalah ini, sebenarnya mudah saja bagi Pemerintah Daerah dengan menetapkan kebijakan anggaran yang pro terhadap pengembangan olahraga dan menyalurkan anggaran tetap sasaran.

    Alangkah eloknya jika para atlet daerah kita mampu berkomentar seperti Irene Kharisma Sukandar,  pecatur Indonesia pertama yang berhasil menyandang gelar Grand Master Internasional Wanita (GMIW) yang membantah pernyataan Dewa Kipas (Dewa Kipas pernah menjadi polemik internasional karena disyinyalir menggunakan mesin pada catur online) bahwa catur itu tidak ada uangnya. Menurut Irene, “Bila stigma ini didengar oleh generasi penerus…, ini menjadikan mereka tidak motivasi lagi…” lebih lanjut, “Saya digaji oleh negara. Saya diberikan uang. Sebelum main saya sudah berikan uang”, katanya. Dalam dunia pendidikan, ia mendapatkan beasiswa penuh untuk S 1 di Indonesia dan S 2 di Amerika Serikat. itu karena dari catur.

    Dibalik semua itu, ayo terus melangkah dalam menghadapi segala kesulitan. Orang yang kalah hanya bagi orang yang menyerah. Ossu Shinobu: pantang mundur, pantang menyerah. Osss!

    Zulkarnain Patwa
    * Anggota INKAI Kodim 1411/Bulukumba
    * Direktur Rumah Belajar Bersama

  • Siapa Yang Bersungguh Sungguh Pasti Dapat

    Siapa Yang Bersungguh Sungguh Pasti Dapat

    Penulis: Fatmawati Patwa

    “Harus konsisten dalam menekuni bidang disiplin ilmu yang anda pelajari,
    anda bisa menjadi konsisten seperti saya.”

    (Bacharuddin Jusuf Habibie)

    “Ummi, belikan saya baju karate. Saya mau ikut karate di Kodim”, kata Ayla saat itu.

    Kan banyak baju karate peninggalan kakak. Pilih saja mana yang cocok. Ada bajunya Daeng Ica, Daeng Lala dan Daeng Caca. Semua kakakmu dulu ikut karate sampai sabuk biru. Bahkan, Daeng Ica sampai sabuk coklat”, balasku.

    “Tapi Ummi, izinkan saya masuk karate kan?”

    “Iyalah, makanya baju karate kakaknya saya simpan baik-baik supaya kalau Ayla berminat, langsung saja pilih mana yang pas. ”

    Begitulah percakapan diantara kami awal mulai berniat masuk karate.

    Dia Ayla alias Nabila Alamanda, sudah lama ingin mengikuti jejak kakak-kakaknya yang sekarang sudah nyantri di Pesantren Gontor, Jawa Timur. Sayangnya, beberapa perguruan karate yang ada di Bulukumba sempat vacum bahkan mati suri selama bertahun-tahun.

    Sebenarnya sejak kelas 2 SD selalu merajuk untuk didaftarkan masuk karate. Namun niatnya itu tidak kesampaian berhubung tidak ada perguruan yang aktif kala itu. Entah apa penyebabnya. Ia sempat bergabung diantar oleh Mama Lia—Ibu angkat Ayla—tapi setelah beberapa waktu, ia tidak aktif kembali.

    Dan pada akhir tahun lalu, INKAI (Institut Karate Do Indonesia) KODIM 1411/Bulukumba mulai bangkit kembali. Ayla tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk bergabung. Latihan pun aktif berjalan setiap Senin dan Kamis, 16.00 – 18.00 Wita. Suasana pandemi mewajibkan tiap peserta karate mengkuti protokol kesehatan; pakai masker dan cuci tangan.

    Awalnya, rekannya hanya beberapa orang. Namun seiring berjalannya waktu, banyak orang tua yang mendaftarkan anaknya dan berbaur dalam latihan karate. Mungkin ini akibat pandemi yang membuat sekolah ditutup dan anak anak hanya tinggal di rumah menghabiskan waktunya bermain HP (handphone) sehingga Karate menjadi pilihan yang menarik.

    Semangat berlatih yang membara membuat Ayla tidak mau alpa mengikuti latihan. Apapun alasannya. Bahkan ketika ada acara di kampung atau di tempat lain, ia tidak mau ketinggalan. Sekarang malah sebaliknya. Ia sama sekali sudah tidak minat lagi. Daya tarik karate lebih mempesona dari yang lain. Dia sangat bangga memakai baju karate meskipun masih sabuk putih.

    Dan saat ujian penaikan sabuk pada bulan April 2021 yang lalu, Ayla dan 5 orang temannya yang diuji oleh Sensei Achmad Sjairodji dan Senpai Asri langsung menyabet sabuk hijau 🟢, sementara kebanyakan dari temannya harus puas dengan sabuk kuning 🟡.

    Kebahagiaan Nabila Alamanda berfoto dengan penguji Sensei Achmad Sjairodji (Sabuk hitam DAN 5) setelah ia berhasil meraih kenaikan sabuk putih ke hijau di Bulukumba. Prestasi kecil ini membuatnya menjadikanya sangat tekun berlatih meraih prestasi di karate. Sumber foto: Nabila Alamanda pada 11 April 2021

    Loncatan ini yang membesarkan hatinya untuk terus berlatih lebih giat lagi. Ada limpahan energi yang tinggi dalam memperbaiki gerakannya.

    Namun pernah suatu waktu pulang latihan tiba-tiba menangis dan ingin mundur.

    “Ummi, saya tidak mau lagi latihan”, katanya sambil sesegukan meneteskan air mata.

    Lah kenapa?”, tanyaku.

    “Tadi waktu latihan, saya dikembalikan dan bergabung dengan anak anak yang latihan massal karena gerakanku katanya tidak bagus. Teman-teman meledek saya. Aihhhh dikembalikan ki. Kasian deh luh. Saya jadi malu”, Begitu ungkapnya.

    Emang latihannya dipisah?”, saya bertanya lebih lanjut.

    “Iya. Saya dilatih khusus bersama beberapa orang senior yang sabuk coklat dan hitam. Terus, tadi ada senior suruh saya balik ke barisan yang banyak itu”, terangnya.

    Ada rasa iba melihatnya menangis membuat saya menyeka air matanya yang mengalir di pipi tembemnya sambil sesekali mencium dan memeluknya. Lalu, saya duduk mensejajarkan posisi dengan wajahnya dan memegang kedua bahunya.

    Saya membesarkan hatinya dengan berkata, “Ooooo begitu masalahnya toh. Tidak apa apalah. Saat latihan, memang begitu nak. Kalau sudah beberapa kali dikasi tahu dan belum berubah itu karena dianggap apatis alias cuek dan tidak mau menerima arahan. Makanya, kalau diberi petunuk, cepatlah menyesuaikan. Kakak senior juga dulu begitu sewaktu masih kayak Ayla. Bahkan, bukan cuma sekali dua kali mereka bolak balik. Dulu latihan mereka lebih keras nak. Kalau ditegur pake tendangan sama pukulan. Sekarang sih enak, cuma bolak balik barisan. Masa baru begitu sudah putus asa. Semangat dong! Mana jiwa bushido-nya (Bushido berasal dari nilai-nilai moral samurai, sering menekankan beberapa kombinasi dari kesederhanaan, kesetiaan, penguasaan seni bela diri, dan kehormatan sampai mati). Nanti kalau gerakannya sudah berubah pasti dilatih khusus lagi. Ingat tidak boleh bermental kerupuk. Digigit sedikit saja langsung patah-patah.”

    Setelah itu dia menikmati lagi latihannya dengan baik dan penuh semangat. Telebih setelah  pelatih mengumumkan akan ada lomba, Ayla dipilih oleh Senpai Sarif. Dan saat Senpai Ammar ke Kodim melihat Kata dari Ayla, Senpai Ammar mengatakan bahwa anak ini punya bakat. Karenanya, ia pun dilatih secara intensif. Dalam masa pelatihan, Senpai Rauf pun selalu memberinya motivasi bahwa Ayla bisa berprestasi.

    Intensitas latihan dari 2 kali seminggu ditambah menjadi 8 kali seminggu dengan jadwal sore dan malam hari; Kodim, Puri Asri dan di SMA PGRI. Dan setiap hari jum’at, Ayla latihan di Balong Kec. Ujung Loe, Bulukumba yang Jaraknya sekitar 10 km dari rumah di kota Bulukumba. Intesitas latihan semakin meningkat 2 minggu menjelang lomba. Ia latihan tiap hari. Dengan penuh semangat (sebenarnya ia sedikit sakit karena flu tapi tidak ia hiraukan. Saya menyuruhnya minum madu agar tetap prima), ia terus hadir karena bertekad tampil maksimal untuk meraih medali.

    Senior senior Ayla yang menjuarai berbagai turnamen memakai pakaian yang super mahal.  Bahkan ada yang harganya sampai 3.6 juta. Ia mulai terpengaruh dan berkata, “Ummi, belikan baju untuk lomba. ”

    “Kan itu bajunya sudah ada”, kataku.

    “Kalau pake baju bagus dan mahal, sudah pastikah jadi juara?” tanyaku.

    “Yah tidaklah. Pasti tergantung gerakan tapi kan baju mempengaruhi gerakan. Ummi, kalau baju yang mahal itu, gerakan terlihat lebih memukau.”, jawabnya

    “Terus, kalau gerakan bagus tapi pakai bajunya yang lebih murah, apa gerakannya jadi jelek?” tanyaku mengajak ia sedikit berpikir kritis.

    “Tidaklah. Tapi enak tong itu kalau pakai baju mahal. Percaya diri gitu loh Ummiiii”, jelasnya.

    “Ooo Kalau begitu pakai baju yang sudah ada. Perbaiki gerakanmu dengan latihan terus menerus. Jangan gugup saat bertanding. Insya Allah pulang bawa medali. Oke? Tidak perlu ikut-ikutan pakai baju mahal. Cuci bajunya bersih-bersih. Pasti sudah bagus dilihat”, kataku menjelaskan.

    Percakapan ini alot karena dia kecenderungan memaksakan kehendak untuk memakai baju mahal. Sementara saya tidak menginginkan dia mengikuti arus atau trend yang sifatnya hedonis. Hanya ingin mengajarkan kepadanya bahwa membeli sesuatu itu tidak atas keinginan semata, bukan ikut-ikutan tapi atas dasar kebutuhan. Dan tidak semua hal yang dia inginkan harus terwujud. Saya mendidiknya untuk pandai bersabar.

    Alhamdulillah, akhirnya ini bisa Ayla mengerti dan berangkat dengan baju yang selama ini dipakai latihan. kemudiaan ia punya ide cerdas dengan menghubungi pamannya yang juga karate ka, Saiful Patwa, agar membelikannya baju khusus Kata yang harganya ratusan ribu. Hal itu cukup membesarkan hatinya.

    Kemudian, perhatiannya bukan lagi ke baju tapi bagaimana berusaha maksimal untuk bisa memperbaiki gerakan meskipun tidak memiliki baju mahal. Hasilnya, saat Kejuaraan INKAI tingkat Sul-Sel dan Barat di Kostrad Kariango, Maros pada 28 dan 29 Agustus 2021, Ayla pulang dengan meraih medali perunggu (juara 3) pada kelas Pra Pemula Kata Perorangan Putri dan posisi ke 4 untuk tim beregu.

    Nabila Alamanda sesaat setelah meraih juara 3 pada Kata Pra Pemula Putri tingkat Sul-Sel dan Barat di Kostrad Kariango.
    Sumber Foto: Fatmawati Patwa

    Selamat buat anakku Ayla, Nabila Alamanda….
    Sukses selalu dan semoga kejuaraan yang akan datang bisa meningkatkan medalinya.

    Sebagai ibu, saya memperhatikan bahwa banyak hal positif yang Ayla dapatkan sejak menjadi karate ka. Diantaranya:

    1. Ayla sudah bisa mempersiapkan sendiri perlengkapannya; Mulai dari mencuci sampai menyeterika, minimal baju karate.
    2. Rasa takutnya terhadap orang-orang atau teman-temannya yang sering mengganggu sudah hilang.
    3. Ayla sudah bisa mengatur waktunya sedikit demi sedikit
    4. Waktu bermain HP-nya berkurang karena pulang latihan capek biasanya langsung istirahat.
    5. Mentalnya semakin bagus.
    6. Salah satu syarat untuk menjadi sukses telah ia ketahui yaitu bersungguh-sungguh. Ayla konsisten menjalani pilihannya menjadi karate ka.
    Nabila Alamanda didampingi ibunya, Fatmawati Patwa saat penganugrahan medali dan sertifikat juara 3 tingkat Sul-Sel dan Barat di Kostrad Kariango, Maros. Sumber Foto: Fatmawati Patwa

    Dibalik semua kesibukan di karate, saya tetap mengatur jadwal agar Ayla tetap mengikuti kelas Mengaji, Bahasa Inggris dan Matematika. ya! Masa  kecil adalah masa terbaik untuk belajar banyak hal. layaknya pepatah, belajar di waktu kecil, bagaikan menulis di atas batu. Menurut saya, ia ada waktu yang terbaik mempersiapkan masa depannya yang lebih baik. Alhamdulillah, semua pelajaran tersebut dapat ia ikuti dimana aktifitas karatenya dapat terus berjalan. Terima kasih banyak. Osss!

     

  • Karate Ka Kodim  1411/Bulukumba Raih 11 Medali di Kejuaraan INKAI Sul Sel Bar

    Karate Ka Kodim 1411/Bulukumba Raih 11 Medali di Kejuaraan INKAI Sul Sel Bar

    Bulukumba, RBB (31/8)—Kejuaraan Antar Do Jo pada 28 dan 29 Agusutus 2021 di Gor Sapta Marga Kostrad Asmil Brigid Para Raider 3 tingkat Sulawesi Selatan dan Barat disambut hangat oleh para atlet karate ka (ka: ahli). Dari ratusan atlet yang hadir yang tersebar di berbagai macam Do Jo, terdapat 33 orang dari  INKAI (Institut Karate Do Indonesia) Kodim 1411/Bulukumba berperan serta untuk bertanding pada Kumite dan Kata.  Ini tambah semarak karena banyaknya orang tua para atlet juga turut hadir untuk menyaksikan anak-anaknya bertanding.

    Melalui proses perjuangan yang panjang, pada akhirnya atlet Bulukumba sanggup menunjukkan keahliannya dengan menyumbangkan 3 emas, 1 perak dan 7 perunggu. Berikut nama nama atlet yang meraih prestasi:

    1. Juara 1 Kata Beregu Putra : Tri Reski Adi Akbar, Muh. Raihan Athallah B. dan Muhammad Ariel Qushai
    2. Juara 1 Kata Beregu Putri: Arraya Aulia, Rahmi Sulistia dan Andi Belele Batari
    3. Juara 1 Kata Perorangan Putri (Cadet): Arraya Aulia
    4. Juara 2 Kata Perorangan Putra (Cadet): Muh. Farhan Syahrir
    5. Juara 3 Kata Perorangan Putri Pra Pemula : Nabila Alamanda
    6. Juara 3 Kumite Usia 6 – 7 Tahun (Pra Usia Dini): Muh. Alfatih S. Dase
    7. Juara 3 Kategori Kumite Usia 14 – 15 Tahun (Cadet):  Arraya Aulia
    8. Juara 3 Kata Perorangan Putra Pra Pemula : Prayuda Azzikra Asdar
    9. Juara 3 Kata Perorangan Putra Pemula : Abi Perisay Putra
    10. Juara 3 Kata Perorangan Putra (Cadet): Muhammad Ariel Qushai
    11. Juara 3 Kata Perorangan Putra (Yunior) : Muh. Raihan Athallah B.

    Keberhasilan ini berkat usaha yang sangat panjang disertai dari dukungan internal dan eksternal. Letkol Arm Joko Triyanto, S.Pd—Dandim Kodim 1411/Bulukumba yang juga pembina INKAI Ranting Kodim 1411/Bulukumba— mendukung secara penuh kemajuan dan prestasi karate ka Bulukumba dengan memfasilitasi sarana dan prasarana latihan, khususnya Aula tempat latihan dan berbagai kebutuhan latihan lainnya. Bisa dibayangkan, prestasi akan sulit muncul jika tanpa latihan selama pandemi. Untunglah, latihan di Kodim dapat terus berjalan lancar dengan tetap menjalankan protokol kesehatan.

    Selain itu, terdapat 3 orang pelatih yaitu Senpai Sarifuddin, Senpai Ammar dan Senpai Rauf mendesain khusus agar terdapat latihan ekstra buat para atlet siap tanding. Pada tahapan ini, mental tidak kenal menyerah dan mental juara ditanamkan dengan baik.

    Hal yang menarik lainnya, para pelatih memberi kesempatan anggota karate pemula untuk ikut kejuaraan. Senpai Sarif mengatakan, “Untuk pemula, tidak perlu pikir juara. Yang penting kenal matras sehingga pada kejuaraan berikutnya mereka tidak tegang lagi bertanding dan lebih siap untuk meraih juara.” Kebijakan tersebut langsung disambut meriah. Terbukti, lebih 20 orang peserta pemula yang masih anak anak kecil bergabung dan diantar langsung oleh orang tuanya. Para orang tua yang memiliki mobil inilah yang membantu semua atlet untuk berangkat hingga sampai tujuan.

    Saat berada di ‘arena’ tatami (Baca: matras arena tanding. “Tatami” berasal dari bahasa jepang yang berarti tikar yang dibuat dari jerami dan empuk). Penampilan atlet Bulukumba memukau dan menyita perhatian. Hal ini dijelaskan oleh Fatma mewakili orang tua, ibu dari Nabila Alamanda yang meraih medali perunggu, mengatakan, “Tim Kata Bulukumba mempertontonkan gerakan yang paling indah karena  memadukan antara seni dan power (kekuatan).  Sangat nampak keindahan gerakannya apalagi saat perpindahan gerakan satu ke gerakan yang lainnya. Gerakan tangan, gerakan pinggul dan gerakan kakinya sangat berseni sehingga menarik untuk disaksikan. Adapun tim lain, gerakannya didominasi dengan power.

    Sementara itu, Muhammad Zabir Ikbal, Ketua INKAI Bulukumba, setelah menyampaikan kebanggaannya dan ucapan selamat kepada para atlet yang telah mengangkat nama baik Bulukumba. Iqbal kemudian melayangkan kritik pada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulukumba terutama dalam perhatian pemerintah pada para atlet. “Saya kecewa dengan Pemkab Bulukumba  karena kurangnya perhatian terhadap atlet. Sampai sekarang ucapan selamat saja dari pemerintah belum ada.”, katanya. Ia melanjutkan, “INKAI pun dipersulit ketika membutuhkan kendaraan milik Dinas Perhubungan”, terangnya. “Begitu banyak anggaran yang menghabiskan dana program yang tidak tepat sasaran yang akhirnya dana habis tidak tepat sasaran” jelasnya. “Para atlet itu semestinya punya biaya pembinaan agar lebih semangat mempertinggi prestasinya”, tutupnya.

    Dibalik semua itu, atlet karate Bulukumba tetap fokus, kembali bekerja lebih giat dengan terus mengintensifkan latihan. Melihat bakat atlet pemula banyak berminat di Kumite, latihan atlet khusus kumite juga akan dibuat dengan jadwal latihan yang lebih padat sebagai persiapan menghadapi beberapa kejuaraan agar semakin banyak lagi medali yang bisa diraih para karate ka Bulukumba. Osss!

    Zulkarnain Patwa

  • Punya Ide Kreatif Wisata Bulukumba? Program Lintas Negara

    Punya Ide Kreatif Wisata Bulukumba? Program Lintas Negara

    Andi Junila Aulia

    “Mempersiapkan Masyarakat Basis Pariwisata di Kawasan Pesisir Kabupaten Bulukumba untuk Mengembalikan Sektor Wisata yang Lebih Regeneratif”

    Perkenalkan saya Junila, Putri Daerah dari Kabupaten Bulukumba. Sejak lahir sampai SMA tinggal dan berproses di kota Butta Panrita Lopi ini. Saya merupakan lulusan Sarjana Pertanian di Universitas Hasanuddin, Makasssar.

    Saya berhasil mendapatkan kesempatan beasiswa untuk belajar ke Amerika Serikat melalui program YSEALI Academic Fellowship Program 2020 dalam bidang Environmental Issues and Natural Resources Management. Program ini merupakan inisiasi dari Barrack Obama untuk pemuda-pemudi se-Asia Tenggara agar memperoleh pengalaman belajar dengan para ahli di Amerika Serikat.

    Pada pertengahan tahun 2020, saya memperoleh kesempatan untuk bekerja di salah satu NGO Jepang yang berlokasi di Ubud, Bali. Earth Company, merupakan NGO yang berfokus pada isu lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Earth Company memiliki satu inisiatif dalam bidang pariwisata yang berkelanjutan dengan mendirikan sebuah eco-villa bernama Mana Earthly Paradise. Melalui beberapa pengalaman tadi, ini mengantarkan saya untuk menginisiasi sebuah program lingkungan yang fokusannya kepariwisata dan masyarakat desa wisata di kota kelahiran yaitu Kabupaten Bulukumba.

    Sosialisasi dalam bahasa Inggris terhadap orang orang yang berminat pada pengembangan pariwisata di Bulukumba di komunitas English Practice Club pada Rabu, 11 Agustus 2021.
    Sumber foto: Rumah Belajar Bersama

    Re-tour Academy atau Regenerative Tourism Academi adalah sebuah program yang dirancang untuk membantu pemuda pemudi di lokal dalam membangun kembali sektor pariwisata di desa melalui konsep pariwisata yang regeneratif. Program ini dibentuk oleh tim Panrita dari Sulawesi Selatan yang berhasil mendapatkan pendanaan dari YSEALI Small Grant Competition 2021 yang diselenggarakan oleh East West Center Hawai’i bekerja sama dengan The Maureen and Mike Mansfield Center University of Montana, Missoula, Amerika Serikat.

    Ide program
    Ini berangkat dari kepedulian terhadap masalah lingkungan dalam kawasan pariwisata khususnya pesisir Kabupaten Bulukumba. Berdasarkan pengalaman pribadi, cukup banyak tempat wisata yang rusak akibat ulah warga dan wisatawan yang tidak bertanggungjawab. Selain itu, tidak hanya wilayah pesisir yang banyak tercemar sampah dari para wisatawan dan penduduk setempat, tetapi juga sampah yang terbawa arus.

    Untuk mengkonfirmasi hipotesis tersebut, saya dan tim memutuskan untuk mengadakan diskusi terbuka dengan beberapa komunitas berbasis pariwisata, para pakar dan aktivis di bidang pariwisata, jugadari pemerintahan.

    Setelah melakukan riset, kami akhirnya bisa mengambil kesimpulan dan fakta bahwa apa yang mereka alami sebelumnya juga dirasakan secara luas oleh semua pihak. Selain itu, tim juga menemukan banyak komunitas berbasi pariwisata yang ternyata bergelut dalam menjaga dan mengelola situs untuk menciptakan pariwisata yang berkelanjutan. Belum lagi, pandemic juga berdampak pada pendapatan masyarakat yang menjadikannya semakin tidak stabil dan tidak tahu bagaimana cara untuk pulih. Melihat isu-isu yang melingkupi komunitas berbasis pariwisata di Bulukumba ini, kami sebagai tim termotivasi untuk mendorong pemuda setempat dalam membuat perubahan di komunitas mereka dengan membuat program Re-Tour Academy.

    Program ini memiliki dua agenda utama. Yang pertama adalah Innovation Challenge Day dimana 5 tim terpilih akan mengikuti proses pelatihan melalui workshop dengan para ahli dalam bidang pariwisata, mengembangkan ide-ide yang mereka usulkan, dan melakukan presentasi di hari terakhir. Hanya 3 tim yang akan didanai dan dipilih untuk lolos ke tahap selanjutnya yaitu Program Akselerator. Dalam program lanjutan ini, 3 tim akan memiliki waktu 3 bulan untuk mengimplementasikan proyek mereka dengan pendampingan dari para mentor. Di akhir program, 3 tim ini akan diberikan kesempatan untukmempresentasikan hasil proyek mereka kepada calon sponsor dan mitra di masa mendatang. Pendaftaran program ini akan dibuka dari tanggal 17 sampai tanggal 24 Agustus 2021 dengan mengambil tema besar, “Mempersiapkan Masyarakat Basis Pariwisata di Kawasan Pesisir Kabupaten Bulukumba untuk Mengembalikan Sektor Wisata yang Lebih Regeneratif”. Berikut beberapa pilihan sub tema dalam program ini:

    • Pendidikan
    • EkonomiKreatif
    • PemberdayaanMasyarakat

    Untuk informasi lebih lanjut, silakan cek ke media sosial kami di IG (@retour_academy) dan halaman FB (retouracademy). Program ini diharapkan dapat mengatasi masalah lingkungan dan pariwisatadi Kabupaten Bulukumba dan juga untuk mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) khususnya poin nomor 8 (Pekerjaan yang Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), 11 (Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan), 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), dan 13 (Aksi Iklim).

    Semoga inisiatif ini mampu memicu pemuda-pemu di Bulukumba untuk lebih peka terhadap permasalahan sekitar serta lebih berani berinovasi untuk pengembangan daerah. Seperti kata Bung Hatta, “Indonesia tidak akan nyala terang hanya karena obor di ibu kota, justru karena lilin-lilin kecil yang tersebar di seluruh desa”.

  • Re-Tour Academy

    Re-Tour Academy

    Preparing Community-based Tourism in the Coastal Area of Bulukumba to Build Back Tourism in Regenerative Ways

    By Andi Junila Aulia

    Re-tour Academy or Regenerative Tourism Academy is a program that aims to help the youth rebuild their tourism-based community in Bulukumba through a regenerative concept of tourism. This program is established by Team PANRITA from South Sulawesi, Indonesia who successfully secured funds from the YSEALI Small Grant Competition 2021 held by East West Center Hawai’I collaborated with The Maureen and Mike Mansfield Center University of Montana, Missoula, USA.

    The idea of the program itself was first designed out of the team’s own concern for the unsettling tourism in some coastal areas in Bulukumba. Based on their personal experiences, there are quite a number of damaged tourism sites that come as a result of the irresponsible activities of both the locals and the tourists. Also, many coastal areas are polluted with waste, not only from the ones left by the locals and the tourists but also waste brought by the currents. To confirm their hypothesis, the team decided to hold an open discussion with some tourism-based communities as well as expertise and activists in the tourism field.

    At the end of the forum, the team was finally able to draw a conclusion and that was the fact that what they have experienced before is also broadly felt by every parties. In addition, the team also found out that many tourism-based communities turn out to be struggling in maintaining and managing sites to create sustainable tourism. Not to mention, the pandemic has also impacted their irregular income to be even more unstable and they happened to not know how to recover from this situation. Looking at these issues surrounding the tourism-based communities in Bulukumba, the team is motivated to encourage the local youth to make a change among their community by creating Re-Tour Academy program.

    This program has two main agendas. The first one is the Innovation Challenge Day where 5 selected teams will spend 5 days in training and developing their proposed ideas. Only 3 teams will be funded and selected to get to the next phase that is the Accelerator Program. In this specific step, the 3 teams will have 3 months to implement their projects while still receiving intensive training and monthly mentoring. At the end of the program, the 3 teams will be given the opportunity to present the result of their projects to the future potential sponsors and partners. The application will be opened on 17th – 24th August 2021. It will take a big theme, “Preparing Community-based Tourism in the Coastal Area of Bulukumba to Build Back Tourism in Regenerative Ways” with the following sub theme:

    • Creative Economy
    • Educational Programs
    • Social Experiences

    For more information, please kindly check to our social media on IG (@retour_academy) and FB page (retouracademy).

    The program is expected to address the environmental and tourism issues among the tourism sites in Bulukumba and also to support the Sustainable Development Goals (SDGs) particularly SDG point number 8 (Decent Work and Economic Growth), 11 (Sustainable Cities and Communities), 12 (Responsible Consumption and Production), and 13 (Climate Action).

  • Buka Puasa Bersama Mempererat Silaturahmi

    Buka Puasa Bersama Mempererat Silaturahmi

    Bululumba, RBB (16/04)—Kegiatan Juma’at berkah pada Ramadhan tahun ini diisi dengan buka puasa bersama dengan para pelajar, guru-guru dan orang tua pelajar dari Rumah Belajar Bersama (RBB).  Raut wajah kegembiraan terpancar dari anak-anak yang membuat suasana semakin semarak.

    Saat berbuka puasa (16/04)

    Hari Jum’at sengaja dipilih karena ini adalah hari raya mingguan ummat Islam. Ini adalah hari yang terbaik untuk saling berbagi sesama yang juga dapat dijadikan momentum untuk menjalin dan mempererat ikatan silaturahmi. Seperti kita ketahui, para pelajar di RBB mempunyai kelas dan jam belajar yang berbeda-beda. Ada kelas Baca Tulis, Bahasa Inggris, Mengaji, dan Matematika. Terkadang mereka tidak saling kenal atau hanya kenal wajah saja. Dengan adanya buka puasa bersama, ada kesempatan untuk saling bertemu pada waktu yang sama untuk mengakrabkan diri dengan berbincang-bincang santai.

    Selain itu, kehadiran sebagian orang tua pelajar turut berbuka puasa membuat suasana kekeluargaan di RBB semakin hangat. Para pelajar pun terutama yang masih anak-anak merasa lebih nyaman karena langsung didampingi oleh orang tuanya. Pelayanan dari guru-guru RBB yang turun langsung melayani semua orang yang hendak berbuka membuat suasana feel like at home (serasa seperti di rumah).

    Karena kelas belajar pada Ramadhan ini selasai tanggal 27 April 2021, RBB masih ada kesempatan untuk mengadakan sekali lagi acara berbuka puasa bersama yaitu Jum’at depan tepatnya pada 23 April 2021. Bagi rekan-rekan yang ingin yang turut ingin berkonstribusi menyumbangkan minuman dan makanan sebagaimana baru saja terlaksana, tetap kami terima. Semoga semua aktivitas positif ini bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Terima kasih banyak.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

  • Pesan Taqwa dan Implikasi Sosial Tauhid

    Pesan Taqwa dan Implikasi Sosial Tauhid

    Oleh Ust. Asep Saepullah 

    Kepunyaan Allah-lah segala sesuatu yang ada di seluruh langit, dan segala sesuatu yang ada di bumi. Dan sungguh telah Kami pesankan kepada mereka yang telah menerima Kitab Suci sebelum kamu serta padamu juga, hendaknya kamu semua bertaqwa kepada Allah. Jika kamu ingkar, maka (ketahuilah) sesungguhnya kepunyaan Allah-lah segala sesuatu yang ada di seluruh langit dan segala sesuatu yang ada di bumi. Allah itu Maha Kaya lagi Maha Terpuji (QS. al-Nisa’: 131)

    Taqwa sebagai Kesadaran Ketuhanan

    Dari kutipan ayat di atas didapati penegasan bahwa pesan itu sama untuk para pengikut Nabi Muhammad saw (orang-orang Muslim) dan mereka yang menerima kitab suci sebelumnya, yaitu pesan taqwa kepada Allah. Sebagai penegasan terhadap identitas tersebut, al-Qur’an memuat 245 kali kata taqwa dengan segala derivasinya. Taqwa memiliki barometer yang telah ditentukan Allah secara jelas sesuai dengan kadar kemampuan manusia, yang dengannya manusia terklasifikasikan menjadi orang-orang yang beruntung dan orang-orang yang merugi (al-Faaizuun wa al-Khaasiruun).

    Taqwa” biasa dijelaskan sebagai sikap “takut kepada Allah” atau “sikap menjaga diri dari perbuatan jahat” atau “sikap patuh memenuhi segala kewajiban serta menjauhi larangan Allah”. “Takut kepada Allah” mencakup segi positif “taqwa”; sedangkan “sikap menjaga diri dari perbuatan jahat” menggambarkan satu segi saja dari keseluruhan makna “taqwa”. Dan “sikap patuh memenuhi segala kewajiban serta menjauhi larangan Allah” terdengar terlampau legalistik. Taqwa juga menjangkau aspek yang sangat luas meliputi Iman, Islam dan Ihsan yang berulang kali disebutkan dalam al-Qur’an dengan beragam derivasi. Oleh sebab itu, pemahaman yang mendalam terhadap makna taqwa menjadi sangat urgen mengingat bahwa ia hadir sebagai tema global yang telah mengundang banyak penafsiran.

    Muhammad Asad dalam The Message of The Qur’an, menerjemahkan “taqwa” sebagai God-consiousness, “kesadaran ketuhanan”, yang dalam Kitab Suci diisyaratkan sebagai tujuan diutusnya para Nabi dan Rasul, yaitu kesadaran Tuhan Maha Hadir (omnipresent) dan kesediaan menyesuaikan keberadaan diri seseorang di bawah cahaya kesadaran itu (QS. al-Baqarah:115; al Hadid:4).

    Kesediaan menyesuaikan keberadaan diri seseorang di bawah cahaya kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam hidup itu berarti kesediaan menjalani hidup dengan standar akhlaq yang setinggi-tingginya, yaitu amal saleh, tindakan-tindakan bermoral atau berperikemanusiaan. Dalam semangat kesadaran akan adanya Tuhan Yang Maha Hadir dan Maha Tahu itu, hidup berakhlaq bukan lagi masalah kesediaan, tapi keharusan. Karena pesan itu tidak lain adalah kelanjutan wajar tabiat alami manusia. Pesan itu pada prinsipnya sama untuk sekalian umat manusia dari segala zaman dan tempat. Pesan itu universal sifatnya, baik secara temporal (untuk segala zaman) maupun secara spatial (untuk segala tempat). Itu sebabnya terdapat kesatuan esensial semua pesan Tuhan, khususnya pesan yang disampaikan kepada umat manusia lewat agama-agama “samawi” (“berasal dari langit,” yaitu mempunyai kitab suci yang diwahyukan Tuhan kepada seorang Nabi atau Rasul).

    Tauhid dan Implikasi Sosial

    Paham Tauhid atau Ketuhanan Yang Maha Esa adalah inti ajaran al-Qur’an. Kita diperintahkan untuk tunduk (islam) kepada Tuhan yang Maha Esa itu. Dan ajaran inti ini telah disampaikan Nabi kepada ummat manusia tanpa perbedaan. Dengan kata-kata lain, ajaran al-Qur’an adalah universal. Segi-segi yang mendukung universalitas al-Qur’an, yaitu, Pertama, seruan al-Qur’an tertuju kepada seluruh ummat manusia, tanpa memperdulikan keturunan, ras dan lingkungan budayanya. Kedua, fakta bahwa al-Qur’an menyeru semata-mata kepada akal manusia dan, karenanya, tidak merumuskan dogma yang bisa diterima atas dasar kepercayaan buta semata; dan akhirnya, fakta bahwa al-Qur’an tetap seluruhnya tak berubah dalam kata-katanya sejak ia diturunkan empat belas abad yang lalu dan akan selamanya demikian keadaannya, karena ia dicatat sedemikian luas, sesuai dengan janji ilahi, “Dan Kami–(Tuhan)–lah yang pasti menjaganya” (Q. Al-Hijr: 9). Berdasarkan tiga faktor ini maka al-Qur’an merupakan tahap akhir wahyu Tuhan, dan Nabi Muhammad adalah penutup segala Nabi.

    Menyelami lebih dalam makna tauhid merupakan langkah awal yang harus dilakukan guna menemukan korelasi maupun konsekuensi tauhid dalam kehidupan sosial. Sungguh naïf apabila ajaran tauhid tidak disandingkan dengan kehidupan sosial. Masyarakat luas sebagai sasaran dakwah, serta lingkungan tempat tinggal, merupakan lahan menyebarkan kebaikan. Dalam Islam iman tidaklah berarti apa-apa, bila tetangga dan saudara seiman masih merengek karena kelaparan. Bahkan dikatakan sungguh sebuah ironi ketika makanan yang kita masak tercium baunya oleh tetangga namun kita tidak membagikanya juga.

    Manusia-tauhid dan umat-tawhid memikul kewajiban untuk memerintahkan manusia menegakkan suatu tatanan sosial yang adil dan etis. Banyak ayat al-Quran yang mengutuk ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan, dan menyuruh manusia untuk menegakkan suatu tatanan sosial adil dan etis. Islam dengan spirit kemanusiaannya merupakan pondasi dalam bergerak; dan tauhid adalah orientasinya. Diri sendiri beserta keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat merupakan bagian yang paling ideal dalam mengejawantahkan nilai-nilai ketauhidan. Mari berlomba-lomba menjalani kehidupan yang bertawhid dalam kehidupan sehari-hari dengan menebar kebajikan ke sesama. []

    Asep Saepullah, Anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian, MUI dan Dosen IIQ Jakarta.

     

     

  • Relasi Iman dan Amal Shaleh

    Relasi Iman dan Amal Shaleh

    Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan (Qs. Yûnus: 9).

    Ayat Al-Quran di atas menjelaskan bahwa orang yang beriman dan beramal shaleh akan selalu dituntun oleh petunjuk Allah SWT dalam setiap langkahnya. Gerak hidupnya akan selalu dihiasi hidayah dan keagungan yang mengalir penuh dengan keberkahan dan kekhusyuan.

    Dalam kitab Tafsir Al-Munîr, Syaikh Muhammad Nawawi Al-Banteny menafsirkan ayat tersebut dengan sangat menarik. Bagi beliau, yang dimaksud dengan orang beriman dalam ayat di atas adalah mereka yang selalu menyibukkan hati dan nafasnya untuk menghasilkan makrifat (pengetahuan) tentang Allah SWT. Sedangkan mereka yang beramal shaleh adalah orang yang selalu menyibukkan anggota tubuhnya untuk khidmat kepada Allah SWT. Matanya digunakan untuk melihat dan mengambil hikmah dari kehidupan. Telinganya sibuk mendengarkan kalam Allah SWT, lisannya sibuk berdzikir, dan seluruh anggota tubuhnya sibuk untuk terus meningkatkan cahaya ketaatan kepada Allah SWT.

    Imam Al-Ghazali dalam kitab Mukâsyafatul Qulûb menjelaskan, bahwa iman selalu membenarkan terhadap keesaan Tuhan, juga dengan segala yang datang dari Nabi Muhammad SAW, dengan selalu menambah amal kebaikan. Bagi Imam Al-Ghazali, iman dan amal shaleh menjadi definisi dasar umat Islam dalam pentas kehidupannya mencipta kemaslahatan dan kedamaian.

    Iman memang menjadi kekuatan yang sangat istimewa dalam diri setiap muslim. Dengan iman yang teguh, seseorang akan mendapatkan cahaya ketuhanan yang terus memancar dalam setiap gerak hidup yang dijalankan. Tidak salah kalau sebagian besar ulama mendefinisikan iman sebagai pembenaran dengan hati (tashdîq bi al-qalb), membeberkan dengan lisan (tashrîh bi al-lisân), dan menjalankan dengan perbuatan (amal bi al-arkân). Dengan hati yang teguh, maka lahirlah lisan yang tangkas dan perbuatan yang efektif dan visioner.

    Oleh karenanya, selain tidak bisa melupakan Allah SWT sedetik pun dalam hidupnya, orang beriman juga akan selalu beramal shaleh yang efektif dan visioner untuk kemanfaatan setiap manusia. Sekejap pun tidak bisa melewatkan hidup tanpa Tuhan, dan sedetik pun tak mau lalai untuk selalu membahagiakan dan menyenangkan saudaranya.

    Basis keimanan inilah yang dibangun Nabi Muhammad SAW dengan penuh kesabaran ketika mendakwahkan Islam di Mekah. Nabi Muhammad SAW menggembleng dan membekali umatnya dengan keyakinan yang teguh dalam meyakini Islam dan memperjuangkan kemaslahatan di muka bumi. Para sahabat pun, kalau kita lihat, menjadi teman karib Nabi Muhammad SAW yang sangat setia dan loyal dalam memperjuangkan Islam. Tak salah kemudian kalau Nabi Muhammad SAW selalu memuji keimanan para sahabatnya.

    Keberanian dan tekad yang bulat dari para sahabat inilah yang menjadi basis keimanan yang kukuh dan menghasilkan amal shaleh yang selalu bermanfaat bagi sesama. Salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW adalah Abu Bakar Ra. Selain beriman secara teguh, beliau juga mempunyai basis ilmu pengetahuan yang mendalam. Hingga keimanan beliau berkembang menjadi amal shaleh, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

    Sayangnya, belakangan ini amal perbuatan sebagian umat seringkali dilandaskan pada basis keimanan dan pengetahuan yang dangkal, sehingga perbuatan yang dijalankan seringkali terjebak dalam ritual yang formal semata. Akhirnya mereka banyak terjebak pola keimanan yang parsial, hanya sesuai dengan tafsir yang mereka pegangi saja. Kadang- kadang, keimanan yang dangkal dan parsial semacam ini juga menghasilkan sikap benar sendiri, atau juga bahkan anarkis sembari menyalahkan orang lain secara asal-asalan.

    Tafsir dangkal atas iman dan amal shaleh pastilah menghasilkan pola kehidupan yang dangkal dan seremonial. Dalam ajaran jihad, misalnya, keimanan justru diarahkan sebagai tekad bulat dalam melakukan teror, kekerasan, bahkan bom bunuh diri. Bahkan mereka sangat bangga dengan keimanannya ketika bisa membuktikan lewat cara yang anarkis seperti itu. Hal ini jelas merupakan sebuah pendangkalan.

    Dari sini, iman tidaklah cukup diyakini saja. Tetapi juga harus disirami dengan pengetahuan yang mendalam dan cahaya kearifan yang menyejukkan. Lihatlah keimanan sahabat Umar bin Khattab Ra. yang sangat teguh dan kuat. Tetapi beliau juga sangat rasional menjelaskan keimanan dan ajaran ritual, di samping juga cahaya kearifan yang selalu memancarkan dalam dirinya. Ketika menjadi khalifah, selain dikenal tegas sahabat Umar ra. juga penuh kasih sayang kepada warganya yang miskin dan terbelakang.

    Orang yang beriman sekaligus berpengetahuan jauh akan lebih hebat daripara orang yang hanya sekadar beriman. Karena pengetahuan akan menjadikan bobot keimanan semakin kukuh, tidak bertindak secara asal-asalan, dan selalu mendahulukan kemaslahatan publik. Pengetahuan menjadikan iman dan shaleh akan semakin meneguhkan kemaslahatan yang bisa dinikmati oleh semua.

    Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa, berpikir sesaat lebih baik daripada beribadah seribu tahun. Dalam konteks di atas, tidaklah cukup keimanan hanya menjalankan ritual dan ajaran formal, tetapi juga harus dipenuhi dengan permenungan, analisis, dan tafsir yang mencerahkan.

    Menurut Syaikh Utsman Al-Khubary, Hadis Nabi di atas justru menandaskan bahwa iman haruslah dibarengi pemikiran dan pengetahuan yang cukup, sehingga melahirkan amal shaleh yang progresif dan visioner. Karena pemikiran yang jernih dan mencerahkan pastilah dihasilkan oleh ketenangan hati yang selalu hadir untuk berdzikir kepada Allah SWT. Hati yang tenang akan mengarahkan sebuah gerbong pencerahan dan menggerakkan amal perbuatan yang terus mengalir penuh kesejukan dan kedamaian. Sebaliknya, hati yang keruh, hanya menjadikan ajaran Islam menjadi bringas, kasar, dan mudah marah.

    Ajaran Islam yang didakwahkan Nabi Muhammad SAW sangat toleran dan penuh kedamaian. Keimanan yang dilecutkan Nabi Muhammad SAW kepada umatnya adalah keimanan yang teguh membela kebenaran dengan   jernih    dan    penuh    ketulusan. Dakwah yang disampaikan Nabi Muhammad SAW tidak menghasilkan suasana menjadi keruh, ricuh, dan penuh teror. Tetapi yang tercipta adalah suasana yang sejuk, nyaman, dan terasa menyegarkan.

    Iman hadir dengan sejuk bersama hidayah. Amal shaleh akan terus menghiasi kehidupan kaum beriman. Iman dan amal shaleh berjalan beriringan membawa kemanfataan dan kemaslahatan. Iman dan amal shaleh menjadikan watak umat Islam selalu memberi, berderma, dan menjalin persahabatan. Saatnya umat Islam menjadi teladan dalam berdakwah di masyarakat, memelopori gerakan yang membela sanubari kemanusiaan dan kebajikan dan terus mengobarkan mata air kearifan untuk menentramkan tata kelola kehidupan dan kebijakan.[]

    Ust. Muhammadun AS, dosen STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta, alumni Pesantren Guyangan Pati, Pesantren Sunan Ampel Jombang, dan Pesantren Mahasiswa Wahid Hasyim Yogyakarta.

  • Ulang Tahun Karate INKAI ke 50 dengan Donor 50 Ribu Kantong Darah

    Ulang Tahun Karate INKAI ke 50 dengan Donor 50 Ribu Kantong Darah

    Dalam menyambut ulang tahun INKAI (Institute Karate-Do Indonesia) ke 50 yang jatuh pada 15  April 2021, INKAI Se-Indonesia mengadakan aksi donor darah. Jadwal tanggal kegiatan di masing-masing daerah berbeda. INKAI Bulukumba berinisiatif mengadakan kegiatan donor darah di Rumah Sakit Umum Sulthan daeng Radja Bulukumba pada Sabtu, 3 April 2021 bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia Bulukumba dan FORKI (Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia). Hal ini dilaksanakan lebih awal karena mengingat tanggal 15 April pada thun ini bertepatan dengan bulan Ramadhan.

    Rekan-rekan Pengurus INKAI Bulukumba yang hadir lebih dahulu saat aksi donor darah di RSUD Sulthan Daeng Radja Bulukumba (3/4/2021)

    Donor darah INKAI sebagai wujud langsung kepedulian dalam membantu masyarakat. Menurut Senpai Sarifuddin, “INKAI Se-Indonesia berlang tahun ke 50 sehingga kita mengangkat thema 50 ribu kantong darah untuk disumbangkan kepada masyarakat yang membutuhkan. Kita mengharapkan agar aksi ini dapat mendorong masyarakat luas untuk  turut menyumbangkan darahnya”, terang pelatih Karate Kodim 1411 ini.

    Setelah pengecekan dan layak, rekan rekan pengurus INKAI Bulukumba mendonorkan darahnya

    Para pendonor pun tidak terbatas. Hal ini disampaikan langsung oleh Muh. Asri, S. Pd. OR selaku Wakil Ketua INKAI Bulukumba dengan menjelaskan bahwa selain pada peserta dan pengurus INKAI, masyarakat umum terlibat menyumbangkan darahnya. Pendonor tidak dibatasi asalkan umurnya mencapai 17 tahun ke atas”, katanya mantap.

    Motivasi sehat dengan donor darah.
    Sumber Foto: Pengurus INKAI Bulukumba

    Sementara itu, Bachtiar dari Seksi Organisasi INKAI Bulukumba yang mendonorkan memberi kesan bahwa kegiatan ini sehat sehat semua dan tidak ada kendala. Bacrtiar berkata, “Saya sangat bersyukur karena terdapat antusias pengurus INKAI dan masyarakat yang mau meyumbangkan darahnya.”

    Hal yang sama juga disampaikan oleh Muhammad Asdar, Bendahara INKAI yang juga telah mendonorkan darahnya pada hari tersebut. Ia menyampaikan bahwa dirinya sangat apresiasi dengan INKAI Bulukumba yang sangat ini aktif untuk misi kemanusiaan ini. Sumoga sumbangan darah kami dapat membantu ummat manusia yang membutuhkan.

    Setelah donor darah, acara ditutup dengan makan Coto Makassar secara bersama-sama.
    Foto pada Sabtu, 3 April 2021

    Sebagai penutup, pengurus dan keluarga besar INKAI, selamat ultah ke 50. Semoga tetap jaya. Oss.

    Zulkarnain Patwa
    Pengurus INKAI Bulukumba bagian Hubungan Masyarakat (Humas)

  • Larangan Menebar Kebencian

    Larangan Menebar Kebencian

    Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan  kaum (laki-laki)  yang lain, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula suatu kaum (perempuan) merendahkan kaum yang lainnya, boleh    jadi yang direndahkan itu lebih baik… (QS. Al-Hujurât: 11)

    Ayat di atas melarang kita agar tidak  menebar kebencian   kepada   sesama, baik kepada non-muslim, apalagi kepada sesama muslim. Asas persaudaraan harus dikedepankan sesuai dengan ajaran Islam yang suci dan agung. Allah melarang umat Islam agar tidak merendahkan orang lain  yang membuat persaudaraan tercerai-berai. Menurut Imam Ibnu Abbas, ayat al-Quran di atas turun untuk merespons sikap  Tsabit bin Qais bin Syamas yang mengejek  seorang laki-laki dari sahabat Anshar dengan ejekan yang bernada Jahiliyah. Sikap seperti  ini tak pantas dilakukan seorang muslim. Karena Islam sarat dengan ajaran-ajaran luhur, menghormati yang lain, dan berlaku bijaksana dalam keadaan apa pun.

    Dalam perspektif Islam, sesama manusia adalah saudara sehingga harus saling mengenal, merekatkan hubungan, dan bekerjasama dalam kebaikan. Kehidupan membutuhkan kebersamaan, kekompakan,  toleransi, dan agenda bersama yang dinamis dan progresif bagi kemajuan dan kebahagiaan umat manusia. Jangan merendahkan orang lain, jangan perlakukan orang lain sebagai musuh yang harus dibasmi dan disingkirkan.

    Hidup dengan kedamaian adalah kunci meraih keberhasilan. Hidup dengan permusuhan adalah awal malapetaka. Merendahkan, mencela, mengejek, menggunjing, berburuk sangka, dan mencari-cari kejelekan orang lain adalah penyebab terjadinya permusuhan. Tragedi kemanusiaan seringkali berawal dari permusuhan dan kebencian

    Islam meletakkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai dasar utama dalam kehidupan di dunia ini. Pluralitas adalah sunnatullah yang harus dimanfaatkan sebagai media pembelajaran untuk saling mengenal, menebar benih kebaikan, dan merekatkan persaudaraan. Betapa indah dunia ini bila tidak ada kebencian di antara kita, kehidupan berjalan dengan penuh kedamaian lahir batin.

    Trilogi persaudaraan yang disampaikan  KH. Achmad Siddiq, yaitu ukhuwwah islamiyah (persaudaraan atas dasar keagamaan), ukhuwwah wathaniyah (persaudaraan atas dasar kebangsaan), dan ukhuwwah basyariyah (persaudaraan atas dasar kemanusiaan) merupakan manifestasi agung dari ajaran Islam yang harus dibumikan di negeri tercinta yang heterogen dan plural ini.

    Dalam konteks ini, peristiwa  pembebasan kota Mekah (Fathu Mekah) menarik untuk kita perhatikan bersama. Pasca pembebasan kota suci ini, Nabi Muhammad SAW bersabda, Barang siapa masuk ke rumah Abu Sufyan, maka dia akan aman. Abu sufyan berkata, Hanya berapa orang yang dapat ditampung di rumahku? Kemudian Nabi bersabda kembali, Barang siapa yang masuk ke masjid, maka ia akan aman. Abu Sufyan berkata lagi, Hanya berapa orang yang dapat ditampung di masjid? Nabi pun kembali bersabda, Barang siapa yang meletakkan senjatanya, maka dia aman, dan barang siapa yang mengunci pintunya, maka dia aman.

    Di pintu Masjid Al-Haram Nabi melanjutkan sabdanya, Wahai penduduk Mekah, apa yang kalian lihat terkait dengan  perbuatanku terhadap kalian? Mereka menjawab, Baik, wahai saudara yang mulia dan anak saudara yang mulia. Nabi bersabda kembali, Pergilah, kalian semua dibebaskan (Imam Nawawi, Tafsir Munir, 2/469-470).

    Dalam peristiwa yang bersejarah ini tampak terlihat semangat persaudaraan Nabi Muhammad SAW. Tidak ada balas dendam dalam hati Nabi dan para sahabatnya terhadap penduduk kota Mekah. Justru yang ada adalah kasih sayang  terhadap sesama, menebarkan perdamaian dan kerukunan, dan menjauhi permusuhan.

    Padahal ditilik dari sejarahnya, penduduk kota Mekah seringkali menzalimi dan mengintimidasi Nabi Muhammad SAW beserta para pengikutnya, terutama sebelum umat Islam hijrah ke Madinah. Seandainya Nabi atau para sahabatnya pun membalas perlakuan yang diterima umat Islam dahulu, mungkin juga masih bisa dipahami. Mengingat parahnya aksi kezaliman yang kerapkali dilakukan oleh penduduk Mekah kepada Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Tapi bukan ini yang dilakukan Nabi Muhamamd SAW. Beliau justru memaafkan dan membebaskan mereka dari dosa-dosa di masa lalu. Itu sebabnya, penduduk Mekah disebut sebagai orang-orang yang dibebaskan. Dan mereka pun berbaiat masuk Islam.

    Patut disayangkan, ajaran persaudaraan seperti di atas seperti hilang dari kesadaran  umat Islam belakangan ini. Sebagian umat Islam sedemikian mudah terpancing provokasi pihak lain, mudah tersinggung, dan kehilangan nalar obyektif dan proporsional. Fanatisme primordial dan egoisme berlebihan menjadi pembakar api kebencian. Sesama umat Islam pun sering terjadi ketegangan, percekcokan, bahkan pembunuhan.

    Polarisasi umat Islam terbagi ke dalam segregasi sosial, ekonomi, budaya, politik, dan pendidikan. Satu dengan yang lain tidak bisa menutupi kelemahan dan kekurangan masing-masing. Hubungan dengan non-muslim berjalan dalam bayang-bayang permusuhan dan kebencian yang berpotensi melahirkan konflik horizontal. Kekhawatiran dan kecemasan menyatu dalam kejiwaan dan kepribadian umat Islam. Beberapa kasus yang terjadi belakangan ini (baik bermotif agama, ekonomi, budaya, pendidikan, dan politik) adalah bukti faktual dari rentannya persaudaraan internal umat Islam. Kematangan dan kedewasaan dalam menyikapi masalah yang ada masih jauh dari yang diharapkan. Kesan emosional subyektif sangat kuat. Inilah yang harus diantisipasi dan diperhatikan oleh semua pihak, terutama kaum agamawan.

    Menebar Kedamaian

    Menghadapi masa depan yang penuh problem, kedewasaan dan kematangan dalam menyikapi masalah haruslah dipersiapkan, sikap permusuhan harus dihilangkan dan perdamaian harus disemai. Kebencian terhadap agama lain, etnis lain, golongan lain, dan suku lain sudah waktunya untuk dihilangkan secara bertahap.

    Dakwah Nabi dalam menyebarkan Islam  dengan membumikan nilai-nilai persaudaraan, kedamaian, kerukunan dan kasih sayang semestinya menjadi teladan baik bagi semua pihak. Dalam surat An-Nahl ayat 125 Nabi diperintahkan untuk berdakwah dengan cara-cara bijak (alhikmah), nasehat yang baik (mau’idzah hasanah), dan perdebatan yang bersifat konstruktif (mujadalah). Nabi tidak diperintahkan menebarkan kebencian, permusuhan, dan pembunuhan.

    Kerjasama antar-kelompok masyarakat, bahkan antar agama perlu dilakukan demi harmonisasi dan humanisasi. Interaksi sosial dapat berjalan secara inklusif, moderat, dan progresif. Masing-masing kelompok hanyalah bisa memahami hakikat eksistensi dirinya manakala berinteraksi dengan orang  lain, mencoba memahami orang lain dan mengambil manfaat realitas majemuk yang ada.

    Benih-benih kebencian yang bersumber dari pemahaman keagamaan yang bercorak eksklusif, kontestasi ekonomi, sosial, pendidikan, dan politik dengan sendirinya akan hanyut oleh pemahaman keagamaan yang inklusif. Di mana pemahaman seperti ini tidak akan tumbuh kecuali melalui proses interaksi positif dengan umat agama lain. Dalam konteks ini, agama lahir sebagai sumber kedamaian dan kebahagiaan lahir batin, bukan sumber kebencian, konflik, dan agitasi yang melahirkan disharmoni sosial.[]

    Ust. Jamal Ma’mur Asmani
    Dosen Institute Pesantren Mathaliul Falah, Direktur Lembaga Studi Kitab Kuning, Pati.

    * Buletin Jum’at ini diterbitan oleh MAARIF Institute dan   Perhimpunan Pengembangan  Pesantren dan masyarakat (P3M). Edisi 9 : 2 April 2021 / 20 Sya’ban 1422 H.