Sewaktu baru pulang kampung, penulis berpikir dapat berbagi skill Bahasa Inggris dengan para mahasiswa Bulukumba agar mereka berkesempatan mengikuti seminar seminar nasional dan internasional sebagaimana kampus kampus ternama yang biasa dilakukan di Jawa.
Maklum, beberapa duta negara negara asing, tokoh tokoh intelektual dunia dan bahkan tokoh politik seperti Presiden Amerika Serikat, Barract H. Obama pernah pidato di kampus Universitas Indonesia.
Penulis berharap para anak muda mudi yang mahasiswa tersebut tidak terasing dan bisa mengikuti perkembangan kontemporer yang sedang terjadi di dunia. Bila perlu, mereka turut bicara dan menuliskan gagasannya dalam Bahasa Inggris agar apa yang mereka suarakan gaungnya lebih luas.
Harapan besar yang pada kenyatannya hanya segelintir pelajar mahasiswa saja bergabung belajar tetap penulis syukuri karena saat ini mayoritas pelajar Bahasa Inggris adalah anak SD, SMP dan SMA nantinya akan kuliah juga. Peluang mereka untuk lebih pintar lebih terbuka karena punya waktu yang lebih panjang menggali ilmu.
Kehadiran Syahruni yang merupakan mahasiswa Al Gazali Bulukumba punya alasan tersendiri dan datang seorang diri. Melalui rekomendasi dosennya Nurbiati, ia mengenal Rumah Belajar Bersama. Penulis heran mengapa ia begitu punya tekad kuat untuk bisa berbahasa Inggris. Setelah berdialog singkat, ternyata ia menyakini bahwa Bahasa Inggris akan punya dampak besar terhadap masa depannya baik untuk kebutuhan akademiknya ataupun kepentingan kerja nantinya.
Karena Syahruni memang niat ditambah lagi gemar Matematika, ia sangat mudah beradaptasi dan memahami pelajaran Basic English secara detail yang diajarkan oleh Rifa’atul Mahmudah. Then, tadi sore penulis mencoba berbagi ilmu dengannya. Apa yang telah ia pahami langsung ia aplikasikan dalam praktek bicara yang sesuai standar tata bahasa. Ia telah mengerti cara cara membuat pertanyan menggunakan Information Question dengan pada beberapa pola tenses. Praktek demikian ini penting karena ia lebih aktif bicara dan lebih mudah menyelesaikan buku latihan dan bacaan Inggrisnya.
Kesempatan datang bagai awan berlalu. Pergunakanlah ketika ia nampak di hadapanmu. — Imam Ali bin Abi Thalib
Membimbing dua pelajar SMA (Sekolah Menengah Atas) menuntaskan buku Basic English Grammar karya Betty Schramper Azar dan Stacey A. Hagen berwarna merah adalah pengalaman pertama penulis menjadi pengajar. Yazdi dan Viqi, biasanya dipanggil Kembar. Mereka berhasil menuntaskan buku merah dalam kurun waktu 3 bulan. Ini memang hanya keberhasilan kecil, tetapi itu menjadi fondasi yang baik untuk menguasai keterampilan Bahasa Inggris yang lain, yakni listening, speaking, writing, dan reading.
Seperti kebanyakan proses, proses ini pun juga sama dimana perjalanan tidak selalu mulus. Starting point Kembar berangkat dari orang-orang yang minat belajarnya masih rendah dan lebih senang bermain game. Imbasnya, mereka akan belajar hanya pada saat di kelas. Hal ini sangat berpengaruh pada daya ingat yang cenderung lemah terhadap pelajaran karena tidak membiasakan diri melakukan pengulangan.
Ketika Kembar ditargetkan menamatkan buku Basic English yang tebal dalam tiga bulan. Hati mereka bergejolak apakah lanjut belajar atau tidak. Dan pilihannya adalah lanjut.
Kembar membawa karakter yang berbeda. Yazdi yang terstruktur, rapih, tekun, dan serius. Sayang, saat dorongan belajarnya menurun, dia kesulitan konsentrasi dan berimbas terhadap daya serap pelajaran yang melambat. Adapun Viqi orang yang fleksibel dan santai namun cenderung cepat berpuas diri saat mengerti pelajaran. Alhasil dia sering bermalas-malasan dan meremehkan tanggungjawab serta mengulur-ulur waktu. Meskipun demikian, munculnya persaingan mendorong mereka lebih giat mengerjakan latihan-latihan di buku merah karena ingin menjadi yang terdepan. Potensi persaingan inilah yang penulis kelola untuk meubah cara pandangnya terhadap belajar.
Dengan dibekali pengetahuan grammar dari buku merah dan penguasaan 16 tenses di luar kepala, itu sangat menguntungkan Kembar. Dari segi materi standar kurikulum pelajaran sekolah saat ini, penulis sebagai pengajarnya yakin bahwa Kembar sudah dapat menyelesaikannya. Bahkan untuk materi lanjutan intermediate dan advance sekali pun, mereka bisa masuk kategori teratas karena telah mempunyai pondasi yang kokoh.
Jangan pernah berpikir instant. Kerjakanlah tugas selembar demi selembar dengan tabah hingga akhirnya tamat juga.
Walaupun demikian, pengetahuan grammar tidak akan pernah cukup untuk memenuhi syarat agar lancar berbahasa Inggris. Yang namanya berbahasa tentu tidak lepas dari berbicara. Oleh karena itu, kami mengkombinasikan pengetahuan grammar dengan membiasakan membaca English textbook. Nah, ada salah satu buku yang cukup bisa menyeimbangkan kedua skill itu dalam konteks daily conversation yaitu Question and Answer karya L. G. Alexander.
Sejauh ini, Kembar tidak mengalami kerepotan menentukan jawaban yang tepat sesuai grammar. Selain itu, kemajuan paling signifikan nampak dari pengucapan English-nya yang sudah meningkat. Intonasi bicaranya juga perlahan membaik dan perbendaharaan kata pun bertambah. Penguatan pemahaman lisannya terolah berkat berbagai pola pertanyaan yang terdapat di buku itu.
Kembar berlatih membaca dan melafalkan (pronuncing) buku cerita berbahasa Inggris dan menjawab soal soal sebagai bukti pemahaman terhadap cerita. Agar lebih komprehensif, penulisan jawaban mesti sesuai dengan aturan grammar (tata bahasa).
Serunya belajar bersama mereka adalah mereka tidak sungkan beradu argumentasi dengan penulis. Jika penulis tanpa atau sengaja (often disengaja, heheh..) membelokkan jawaban yang tepat, baik saat momen mereka bertanya maupun saat review materi. Bagi penulis, ini merupakan poin plus dimana tindakan ini akan memperkuat long-term memory mereka karena otak terlatih untuk mengingat kembali informasi yang baru saja tersimpan dan yang sudah lama.
Tentunya, suasana kegembiraan belajar demikian tidak serta merta terbentuk. Seperti saat awal mereka mengerjakan buku merah, cara belajarnya cenderung pasif. Kembar menerima mentah-mentah penjelasan tanpa disaring terlebih dahulu. Ini bukan karena penulis mencitrakan diri sebagai sosok pengajar yang ditakuti alias “killer” melainkan sebagai teman yang dapat buat mereka lebih terbuka untuk bertukar pikiran. Sehingga, kelas menjadi hidup dengan komunikasi interaktif.
Upayakan untuk saling mendukung dalam belajar. Bukankah kemudahan itu tercipta bagi orang yang mau bekerjasama? Keep studying hard.
Kecerdasan memang advantage (Keuntungan) bagi yang dianugerahkan tetapi rasa suka akan belajar adalah privileged (keistimewaan). Advantage Kembar karena mereka terus melangkah yang berawal dari kesabaran menyelesaikan Basic English Grammar dan kemudian ke pre-intermediate. Kembar sedang menuju privileged dengan kesediaan diri untuk menghadapi tiap tantangan hingga tertanam rasa suka belajar atau bahkan candu terhadap belajar.
Mernissi
Pengajar Bahasa Inggris di Rumah Belajar Bersama
Anak anak ini kini menikmati bacaan ringan buku dalam Bahasa Inggris. Ini memang perjuangan panjang untuk membuat mereka suka membaca. Mereka telah mengerti untuk tidak bergosip saat sedang belajar.
Kini anak anak menjaga kekompakan dalam berbicara Inggris dan berusaha bicara Inggris dengan benar. Alhamdulillah!
Tapi jangan lupa, saat waktu keluar main, anak anak ini seolah tidak mau berhenti. Dianggapnya kelas belajar telah selesai.
Pendidikan tinggi seperti tingkat universitas itu memang penting. Apa yang lebih penting? Pohon yang kuat itu karena akarnya kokoh.
Para pelajar ini anak anak SMP yang selalu merasa senang bersekolah. Itu karena sejak SD telah membiasakan diri belajar sehingga pelajaran pelajaran sekolahnya bukanlah kendala tapi tantangan menarik untuk mencapai nilai 100. Mereka akan terus berkembang dengan usaha belajar yang maksimal.
Dengan terbiasa belajar sejak masa anak anak, itu berarti kita telah menanamkan akar pengetahuan yang kokoh sehingga di masa akan datang, mereka tidak perlu menghabiskan banyak uang untuk mendaftarkan diri pada suatu pekerjaan tertentu. Mereka ini adalah orang-orang yang berilmu. Dan karena ilmunya dibutuhkan, pekerjaan lah yang mengejar mereka.
Foto pada kelas Bahasa Inggris pada Jum’at 26 Mei 2023.
Pada conditional sentence (terjemahan bebas: Kalimat menghayal) ukuran pelajar SMA, dengan mudah Andi Widya Maulidyah memahami materi tersebut. Ia terkesima karena pelajaran basic English yang selama ini ia pelajari ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuk mengerti sub materi adverbial clause, pelajaran tahapan intermediate.
Pikiran Widya mulai sedikit “terputar putar” saat memasuki variasi pada conditional sentence yang biasanya
Di sini lah penulis mengingatkan bahwa inilah pentingnya mengerti 16 tenses (bukan 12 tenses sebagaimana buku literatur berbahasa inggris). Dan Widya langsung merasa lega dan siap membahasnya secara detail tanpa butuh papan tulis (Sebenarnya sih butuh. Cuma spidol pergi entah kemana karena anak anak kecil yang SD suka memainkan spidol dan mengembalikan ke tempat semula).
Sebagai solusi, kita berdiskusi menggunakan pikiran logic sembari membayangkan dimana kalimat fakta dan kalimat menghayal diletakkan berdasarkan struktur tenses. Dan pada akhirnya Widya pun bergembira karena conditional pada progressive dapat ia selesaikan tepat pada jam kelas belajar selesai.
Foto pada kelas Bahasa Inggris.
Jum’at 26 Mei 2023
Tubuh dibersihkan dengan air
Jiwa dibersihkan dengan air mata
Akal dibersihkan dengan pengetahuan
Dan jiwa dibersihkan dengan cinta — Imam Ali bin Abi Thalib
Godwin, pelajar kelas 5 di SDN 2 Terang-Terang Bulukumba dinyatakan tamat buku latihan Basic English Grammar (tata bahasa Inggris) yang tebalnya lebih 550 halaman. Menurut Miss Azhmy Ahdar , guru kelas di Rumah Belajar Bersama, perjuangan ini Godwin lalui sekitar empat bulan.
Godwin dengan Campbell dari Amerika Serikat setelah acara diskusi berbahasa Inggris dengan para pelajar Rumah Belajar Bersama pada Mei 2023.
Kemampuan praktek bicara Godwin juga lumayan bagus. Hal ini terlihat dari kebiasaannya berbicara Inggris di kelas. Dan baru baru ini, kita mendatangkan tamu bernama Campbell dari Amerika Serikat. Sebagaimana lainnya, Godwin termasuk anak yang rajin angkat tangan untuk menanyakan berbagai hal yang terlintas dalam pikirannya.
Dengan perasaan bangga, hari ini Jum’at 26 Mei 2023 Godwin menerima kabar bahwa ia berhak masuk ke tahapan pre intermediate dan menerima materi lanjutan pada grammar, speaking dan pronunciation.
Selelah mendapatkan motivasi belajar English, sebagian pelajar foto bareng bersama Campbell termasuk Godwin yang berhasil tampil di depan dengan mengacungkan dua tangan.
Sebagai penyemangat, para guru pun telah menjanjikan bahwa bila Godwin lebih tekun lagi dan berhasil menamatkan buku buku tingkatan Pre intermediate, ia akan mendapatkan pelajaran TOEFL (Test of English as A Foreign Language) preparation.
Sebagaimana anak kecil kebanyakan, Godwin heran dan langsung bertanya, “Apa itu?” Kita terangkan bahwa itu adalah soal soal latihan buat mahasiswa yang mau lanjut S 2 atau sekolah ke luar negeri. Namun ia hanya mengerti bahwa TOEFL itu untuk sekolah ke luar negeri dan berharap bisa masuk kelas tersebut karena ia ternyata ia baru bilang bahwa dirinya bercita-cita sekolah di luar negeri.
Sebelum pulang Godwin menerangkan bahwa setelah ia selesai latihan jawab soal tulis, ia ingin membaca sambil bicara agar kemampuan speaking dan pronunciation-nya berjalan dengan seiring. Itu inisiatif yang bagus.
Anak anak yang lain di Rumah Belajar Bersama juga sedang berjuang dan sebagai bahan inspirasi, kita akan kabarkan kemajuan belajarnya agar energi positif belajar tersebar lebih luas.
Selama bertahun tahun, Lois terbiasa menjawab soal tanpa cakaran. Karena sekolah masih menerapkan soal essay yang membutuhkan cara kerja, kita pun beradaptasi agar semua berjalan normal.
Peraih juara 1 (satu) Olimpiade Matematika Kabupaten pada 2022 dan 2023 dari SDN 2 Terang-Terang ini telah kita perkenankan mempelajari Matematika SMP selama hal itu tidak memberatkan pikirannya.
Banyak pelajar yang berbakat seperti Lois tapi mereka merasa cukup aman saja dengan nilai yang sangat baik di sekolah. Mereka tidak ambil pusing dengan segala macam kejuaraan yang bertebaran di sekelilingnya. Padahal, potensinya sangat besar. Kita punya peluang karena mereka adalah kumpulan para pelajar yang giat dan mampu. Ukurannya jelas, nilai pelajaran Matematika sekolahnya lazim dapat nilai 9 (sembilan) dan 10 (sepuluh).
Para orang tua perlu memotivasi anak anaknya juga agar ikut kompetisi seperti Lois sehingga punya semangat belajar untuk lebih cepat maju, cara pandang dan keilmuannya bertambah luas dengan pesat.
“Hanya dari hati, kamu dapat menyentuh langit.” – Jalaluddin Ar Rumi
Perbedaan yang membuat kita ingin saling mengenal. Ketertarikan untuk saling mengenal kemudian terwujud dengan kehadiran Campbell dari Boston, Massachusetts, Amerika Serikat di Rumah Belajar Bersama (RBB) pada Kamis, 18 Mei 2023.
Kumpulan anak anak yang bergembira dapat bertemu dan berdialo dengan Campbell di halaman Rumah Belajar Bersama
Campbell menyita perhatian karena selain para pelajar Bahasa Inggris terutama anak anak yang hendak praktek bicara langsung dengan native speakers, warna kulit dan rambut Campbell yang berbeda dari orang Indonesia disertai keramah tamahan dalam bergaul menjadikan Campbell terlihat istimewa.
Rifa’atul Mahmudah (baju merah) sebagai moderator dan Campbell sebagai tamu pembicara.
Sesi dialog ini dipandu oleh Rifa’atul Mahmudah, pengajar RBB dan anggota English Practice Club (EPC). pertanyaan anak-anak memang sederhana seperti What is your favourite color? What countries have you visited? What do you think about Indonesia? What is my name? dan sederet pertanyaan lainnya. Berangkat dari kesederhanaan ini penting karena ini adalah tahapan paling mendasar dalam melatih mereka agar punya keberanian dan kepercayaan diri tampil berbicara di depan banyak orang.
Alesha adalah pelajar kelas 2 di SDN 3 Kasimpureng Bulukumba yang paling rajin bertanya kepada Campbell. Sumber foto: Rumah Belajar Bersama.
Selain itu, ada kesan yang mendalam yang tidak terucapkan pada pertemuan itu . Menatap wajah wajah peserta yang terlihat penasaran disertai rasa ingin tahu yang tinggi seakan memberikan tanda bahwa sebenarnya mereka punya banyak hal yang ingin mereka sampaikan. Cuma saja karena sebagian besar baru pertama kali bertemu orang asing, mereka masih terkesan malu-malu menyampaikan perdapatnya meskipun mereka telah punya segudang pertanyaan yang tercatat di buku tulisnya tergenggam baik di tangan.
Campbel yang berada di tengah bersama seluruh rekan rekan pemerhati Bahasa Inggris di Bulukumba.
Hal lain yang patut kita apresiasi adalah adanya ketenangan anak anak yang duduk di atas bangku belajarnya masing-masing mendengarkan dengan senang hati semua penjelasan Campbell. Mereka nanti bisa jadi pembicara yang ulung sebagaimana Campbell berhasil menarik perhatiannya. Ini sejalan dengan pepatah Yunani kuno yang mengatakan bahwa pembicara yang baik itu dimulai dari keinginan untuk mau mendengarkan.
Daya tarik untuk saling mengenal pada pertemuan ini berakhir dengan foto bersama. Ada juga yang foto berdua, selfie dengan Campbell dan lain lainnya. Semua itu adalah kenangan yang akan menjadi cerita tentang perjalanan dunia belajar berbahasa Inggris.
Setelah acara, pengakuan Campbell, “Faiha is brilliant.” (Terjemahan bebas: Faiha cerdas luar biasa). Hal ini karena saat sesi diskusi Faiha berumur tujuh tahun alias kelas satu SDN (Sekolah Dasar Negeri) 2 Terang Terang Bulukumba melakukan hal yang tidak diucapkan kebanyakan orang seperti menanyakan nama siapa yang jadi pembicara ataupun memperkenalkan dirinya. Ia malah menguji Campbell. Faiha bertanya, “Do you know my name? (Apakah Anda tahu namaku?)” Campbell kaget dan tersenyum menatap Faiha dan orang orang pun berkata bahwa itu adalah Faiha. Faiha mengaku bahwa ia sendiri berpikir yang membuat pertanyaan tersebut karena guru-guru tidak pernah mengajarkan demikian.
Moment berharga ketika Faiha bertanya, “Do you know my name?” kepada Miss Campbell di Rumah Belajar Bersama.
Nama Faiha pun dengan segera melekat di pikiran Campbell dan memberikan pujian “brilliant” setelah acara diskusi tanpa sepengetahuan Faiha. Amma dari Dego Dego Na Bira dan penulis yang diajak membahas tentang ini.
Untuk gerakan pencerdasan selanjutnya, biarlah ibunya Faiha Nino Ashari yang menyampaikannya sebagai bahan motivasi dan inspirasi. Hal terakhir yang Faiha minta sebelum berpisah dengan Campbell adalah berfoto kenangan pertama kali berbicara Inggris dengan tamu mancanegara.
Faiha hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak anak-anak Indonesia dan anak anak dunia yang punya potensi besar untuk berkembang. Tugas kita sebagai pendidik adalah membukakan ruang dan lingkungan belajar yang seluas-luasnya agar tiap anak itu dapat tumbuh sesuai dengan minat dan bakatnya.