Murid Mengatur Guru Menuju Merdeka

Ketika kelas dibuka, seorang anak langsung mengusulkan praktik latihan percakapan. “Mister, supaya semua bisa bicara, semua diberikan pertanyaan tentang benda-benda yang ada di sekitar kita,” kata Nisa. “Iya, Mister,” sahut yang lainnya. Guru langsung sepakat dan mengusulkan untuk mengumpulkan benda-benda yang dapat ditaruh di atas meja. Setelah terkumpul, seseorang bertindak sebagai pemimpin dengan bertanya, “What is that?” (Apa itu?). Para pelajar secara serempak akan menjawab, “That is a notebook” (Itu adalah sebuah buku catatan). Pemimpin kelas dilakukan secara bergantian hingga mereka paham inti pelajaran sederhana ini.

Usulan kedua pun hadir. Anak-anak menginginkan tanya-jawab yang sedikit panjang dalam bentuk percakapan, juga. Mereka pun membuat cerita:

A: Who sells Cing Cau at your school?
B: They are Dama, Attar, and Adam.
A: How much is it?
B: It is Rp7.000,-
A: Who buys it?
B: Imam buys it.
A: Ok. Thank you for your information.
B: You are welcome.

Terjemahan:
A: Siapa yang menjual Cing Cau di sekolahmu?
B: Mereka adalah Dama, Attar, dan Adam.
A: Berapa harganya?
B: Harganya Rp7.000,-
A: Siapa yang membeli?
B: Imam yang membeli.
A: Ok. Terima kasih atas informasi Anda.
B: Sama-sama.

Cerita ini dianggap sangat berkesan karena ini berdasarkan usulan anak-anak itu sendiri. Guru kelas hanya membantu menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Oleh karena itu, mereka tidak kewalahan menghafal percakapan itu dan dengan segera berlomba-lomba untuk menyetor percakapan secara berpasangan. Ini agak berbeda bila mereka diminta menghafal percakapan dari buku. Kemungkinan besar, penyebabnya adalah konteks percakapan sesuai dengan kehidupan sehari-hari mereka.

Hal berikutnya adalah membaca percakapan yang tertera di papan tulis dan menerjemahkan secara bersama-sama—tidak ada terjemahan bahasa Indonesia di papan tulis. “Yang berani tampil adalah yang terbaik malam ini,” kata guru. Adeeva, Audree dan Belva mengacungkan tangan. Satu per satu membaca dan menerjemahkan dengan caranya sendiri. Hasilnya, ketiganya disebut terbaik. Nabila berkata kepada rekan kelasnya, “Saya tahu cuma saya tidak mau tampil.” Pelajar yang lainnya hanya terdiam sambil berpikir-pikir untuk memilih tampil atau tidak. Sejurus kemudian keheningan itu terpecahkan. “Pada pertemuan belajar berikutnya, semoga kalian berani juga tampil dan menjadi bagian dari yang terbaik,” kata guru menyemangati.

Sesi pelajaran berikutnya adalah review of parts of the body (revisi pada bagian-bagian dari tubuh) mulai dari rambut hingga jari kaki. Usulan dari seorang pelajar ini ditolak oleh beberapa anak karena menganggap itu terlalu mudah. Namun, guru bertanya, “Apakah kalian menguasainya?” Mereka menjawab, “Iya. Tentu saja.” Pancingan berlanjut, “Apakah kalian bisa membuktikannya?” Tantangan diterima dengan jawaban, “Bisa.” Seluruh pelajar mempraktikkan parts of the body secara bersama. Terdapat beberapa kata yang terlupakan—itulah pentingnya review.

Pelajaran diakhiri dengan game kosakata. Anak-anak menentukan sebuah huruf berdasarkan jari yang dihitung menggunakan huruf. Jika hitungan jatuh pada huruf ‘n’, setiap peserta menyebut kosakata Inggris yang dimulai dari huruf n seperti number, nostril, dan nose. Pelajar yang paling banyak menyebut dianggap paling cerdas dan memperoleh pengakuan, sedangkan pelajar yang tidak menyebut satu kata pun mendapatkan hukuman dalam bentuk petikan tangan, sebuah aturan yang dibuat oleh mereka sendiri. Karena ini permainan, pujian dan hukuman ini membuat mereka tertawa bahagia.

Mayoritas pelajaran pada pertemuan ini adalah usulan dari para pelajar itu sendiri. Mereka perlu dilibatkan secara langsung pada pembelajaran yang mereka suka, bukan dipaksa suka. Keaktifan mereka menandakan tidak ada yang merasa terpaksa belajar. Mereka bukan lagi sebagai objek tetapi subjek alias pelaku yang menumbuhkan jati diri mereka sendiri: pelajar merdeka. Demikian kilasan aktivitas belajar pada kelas malam di Rumah Belajar Bersama (RBB) yang selalu memotivasi para pelajarnya untuk berani berpikir secara mandiri.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Senin, 14 September 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *