Kategori: News

Berita terbaru dari Rumah Belajar Bersama

  • Leadership and Freedom of Expression

    Leadership and Freedom of Expression

    The classroom atmosphere which was not crowded made the writer have more opportunity in designing these students to practice leadership when learning English. The first thing done was appointing Adeeva as the leader because she was the only child who had finished two English storybooks and completed the story questions. The third book she is studying now is also almost finished. The other students are still at the stage of trying to finish books one and two.Adeeva accepted the offer and got the right to control the class as she pleased for 30 minutes. Before Adeeva asked her colleagues to read the second-stage storybook, Belva suggested, “I also want to lead the class, Mr. May I?”

    The writer said, “The leadership has fallen to Adeeva. Please convey your suggestion to her.””After Adeeva leads one reading, may I be the one who leads? Then Gavino and Aliza lead too after I am finished,” said Belva hopefully.”Yes,” Adeeva answered shortly.Everyone shouted, “Hooray.”

    So the class for about 20 minutes ran according to their agreement. Because the time was not up yet, the leadership returned to Adeeva. She suggested to practice orally on the preposition of place–Strengthening of the material that had been learned the day before. Everyone claimed to have been fluent and one by one alternately practiced in front of Adeeva.

    A break time was given for 15 minutes.In the remaining 45 minutes, Belva suggested something again.”Mr., everyone reads one lesson according to their choice.”A good idea. “Okay. How about the others? Agree?” asked the writer.”Agree,” said the children in unison.

    “Alright. But what is read is not only the story in the lesson but also the questions so that your reading is firmer.” No one objected.Gavino and Aliza took an easy reading. Because they were free to choose, there was no protest. Meanwhile, Adeeva read the lesson which was almost on the last page and it was read very well.Belva appeared different. He was the only student who wanted to read two lessons.

    “I want to read twice,” she said.

    “No problem. Please go ahead. That is even better for you,” said the writer. When everyone had finished, they looked very satisfied. Why? Because the suggestion about the way of learning they wanted was fulfilled, deliberated and without any coercion.

    From here we can see these children have learned to express their opinions which without them realizing it, they have practiced to be leaders, managing the class like an experienced teacher because the class can run according to the target. Besides that, the courage to express one’s own thoughts and self-confidence are also built.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Saturday, May 16, 2026.

  • Kepemimpinan dan Kebebasan Berpendapat

    Kepemimpinan dan Kebebasan Berpendapat

    Suasana kelas yang sedang tidak padat membuat penulis punya kesempatan lebih dalam merancang para pelajar ini untuk melatih kepemimpinan saat belajar Bahasa Inggris. Hal yang pertama dilakukan adalah menunjuk Adeeva sebagai pemimpin karena dia adalah anak satu-satunya yang telah tamat dua buku cerita berbahasa Inggris dan menyelesaikan soal soal cerita. Buku ketiga yang sedang ia pelajari sekarang pun hampir tamat. Pelajar yang lain masih tahap sedang berusaha menamatkan buku satu dan dua.

    Adeeva menerima tawaran tersebut dan mendapatkan hak mengendalikan kelas sesukanya selama 30 menit. Sebelum Adeeva meminta rekan rekannya membaca buku cerita tahap kedua, Belva mengusulkan, “Saya juga mau memimpin kelas, Mr. Boleh?”

    Penulis berkata, “Kepemimpinan telah jatuh kepada Adeeva. Silahkan sampaikan usulanmu kepadanya”.

    “Setelah Adeeva memimpin satu bacaan, bolehkah saya yang memimpin? Lalu Gavino dan Aliza memimpin juga setelah saya selesai”, kata Belva penuh harap.

    “Boleh”, jawab Adeeva singkat.

    Semua berteriak, “Hore”.

    Maka kelas sekitar 20 menit berjalan sesuai kesepakatan mereka. Karena waktu belum habis, kepemimpinan pun kembali ke Adeeva. Ia mengusulkan untuk praktek lisan pada preposition of place (Kata depan untuk tempat)–Pemantapan materi yang telah dipelajari sehari sebelumnya. Semuanya mengaku telah lancar dan satu persatu secara bergiliran praktek di depan Adeeva.

    Waktu istirahat diberikan selama 15 menit.

    Pada 45 menit yang tersisa, Belva mengusulkan sesuatu lagi.

    “Mr., setiap orang membaca satu lesson yang sesuai pilihannya”.

    Ide yang bagus. “Oke. Bagaimana yang lain? Sepakat?” tanya penulis.

    “Sepakat”, kata anak anak serentak.

    “Baiklah. Tapi yang dibaca bukan hanya cerita pada lesson tapi juga soal-soalnya agar bacaan kalian lebih mantap”. Tidak ada yang keberatan.

    Gavino dan Aliza mengambil bacaan yang mudah. Karena bebas memilih, tidak ada protes. Sedangkan Adeeva membaca lesson yang hampir pada halaman terakhir dan dibaca dengan sangat baik.

    Belva tampil beda. Ia satu satunya pelajar yang ingin membaca dua lessons.

    “Saya mau dua kali membaca”, katanya.

    “Tidak masalah. Silahkan saja. Itu malah lebih bagus buatmu”, kata penulis.

    Saat semua telah selesai, mereka terlihat sangat puas. Mengapa? Karena usulan tentang cara belajar yang mereka inginkan dipenuhi, dimusyawarahkan dan tanpa ada paksaan.

    Dari sini kita dapat melihat anak anak ini telah belajar untuk mengutarakan pendapatnya yang tanpa mereka sadari, mereka telah berlatih untuk menjadi pemimpin, mengelola kelas layaknya seorang guru yang berpengalaman karena kelas dapat berjalan sesuai target. Selain itu keberanian mengutarakan pikiran sendiri dan kepercayaan diri juga terbangun.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Sabtu, 16 Mei 2026.

  • Ujian dengan Jalan Kaki

    Ujian dengan Jalan Kaki

    Ujian sekolah dan kuliah di dua universitas adalah ujian kehidupanmu nak yang akan menguatkanmu menghadapi ujian kehidupan.

    Ada hal yang selalu teringat dan sulit kulupakan. Saat Nashwa pakai sepatu sekolah diteras rumah, ia berkata “Bapak, ada hapalan sekolah saya lupa. Tunggu beberapa menit bapak. Saya hapal dulu”, tambahnya. Ia duduk dan menghapal dengan caranya. Setelah yakin, ia berkata kepadaku, “Saya sudah hapal bapak”.

    Seketika terasa ada kebahagian yg seolah mengatakan “Kamu hebat nak”, kataku dalam hati.

    Saya pun mengantarnya berangkat dgn memakai motor Honda Supra tuaku. Nashwa suka duduk di depan menikmati perjalanan hingga sampai di depan pagar sekolahnya,

    Sesuatu yang selalu menjadi kebiasaan Nashwa raih tangan saya sembari mencium sambil sy berucap, “Nu jago ini anakkue…pintar, ehhh… Jangan jajan sembarangan. Kalau mau pulang, tunggu adek Muh Dzaki Munadhil Irfan biar bersamaan pulangnya nak.

    Saat waktu tiba pulang sekolah, terkadang saya menjemput, tapi anak anaku kebanyakan pulang dengan jalan kaki bersama adiknya–
    Hal yg berbeda dari kebanyakan orang tua yang selalu menjemput anak² mereka.

    Angka 99 dimulai dari angka 1.

    Sesuatu yang terkadang saya sengaja untuk tidak menjemput mengundang tanya. Itu benar! Nashwa bertanya. “Bapak, kenapa tidak menjemputku?” Saya cuma tersenyum sambil meraihnya, memeluknya dan menciumnya. Itulah jawabanku agar anak anak tidak selalu dalam zona nyaman. Ini juga nanti akan menjadi cerita yang indah saat mengenang masa sekolahnya.

    Sekarang Nashwa sebentar lagi akan menyelesaikan study-nya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ujian jalan kaki untuk tidak selalu dalam zona nyaman pada akhirnya jadi pembelajaran untuk membentuk karakternya dan kemandiriannya dalam menghadapi ujian kehidupan.

    Aris Irfan

    Bulukumba, Selasa, 16 Mei 2026

  • Perjuangan Belajar Arrumi

    Perjuangan Belajar Arrumi

    The best (Terbaik). Ungkapan singkat dari Arrumi Putri Irbeck yang baru saja menerima sertifikat kelulusan Ujian Tulis dan Lisan pada Tenses. Arrumi harus ujian sebanyak tujuh kali hingga ia dinyatakan lulus, paham luar kepala.

    Arrumi adalah alumni SMA 9 Ujung Loe dan tinggal di Desa Seppang. Ia harus berkendara motor seorang diri sekitar 20 sampai 25 menit untuk tiba ke RBB (Rumah Belajar Bersama) di kota Bulukumba. Selama tujuh bulan ia belajar Basic Grammar (Tata Bahasa Dasar) di bawah bimbingan Agung Pratama Salassa.

    “Metode belajar di RBB gampang dimengerti karena materinya tersusun rapi”, kata Arrumi. Untuk suasana kelas, “Banyak orang yang memang datang dengan niat mau “Guru gurunya juga baik dan ramah. Penjelasan materinya detail”, lanjutnya. Karena itu, ia tidak merasa rugi jauh jauh datang dari desa. Kwalitas seimbang dengan pengorbanan.

    Arrumi yang bercita cita kuliah di kampus kedinasan, sekarang ini mengikuti kursus kedinasan untuk menghadapi materi ujiannya. Ia memanfaatkan pengetahuan dasar Inggrisnya yang diperoleh untuk menganalisa soal soal. Ia merasa bersyukur karena dengan adanya basic yang bagus, ia dapat sedikit banyak mengerti cara menjawab dengan benar.

    Langkah Arrumi sudah tepat. RBB hanya memberikan materi tingkat lanjutan ke Pre Intermediate, Intermediate dan TOEFL (Test of English as a Foreign Language) dan sejenisnya hanya bagi pelajar yang lulus dari satu tahap ke tahap berikutnya. Karena waktunya yang terbatas, ia berjuang memahami Basic Grammar dan Tenses secara total. Itu cukuplah sebagai bekal utama untuk belajar secara acak. Dan menurutnya, dari bekal tersebut, ia bisa nyambung dengan latihan soal-soal kedinasan yang sedang ia pelajari saat ini.

    Seperti itulah mungkin tafsir “the best” Arrumi, menemukan kemudahan untuk melangkah lebih jauh menempuh cita cita. Mr. Agung sengaja memberikan ujian tulisan dan lisan karena tinggi kepada Arrumi dan pelajar lainnya karena ia ingin agar sertifikat kelulusan itu memang sesuai dengan kapasitas, mampu dipertanggungjawabkan. Dan setelah jatuh bangun tanpa kenal menyerah, Agung menyatakan Arrumi layak mendapatkan sertifikat kelulusan dengan nilai akhir termasuk kategori the best.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Sabtu, 16 Mei 2026

  • Parents’ Happiness Through Their Children

    Parents’ Happiness Through Their Children

    Attraction and Resistance. Gentleness creates attraction. Harshness creates resistance. A mother, by her natural disposition, is often believed to possess greater emotional sensitivity than a father and to be more rational when making decisions. This perspective exists within society, including in family education. But is it truly correct? Let us examine it more deeply.

    A very precious moment: attending the inauguration ceremony of Nur Azizah Patwa, accompanied by her father and oldest sister.

    Two of the writer’s nieces, Aliyah and Azizah, had spoken freely with their father, Daeng Uttang, since childhood. They were raised to express their feelings, opinions, and freedom of thought openly. Their mother, Daeng Ida, was actually no different; she also encouraged dialogue about what her children wanted. However, behind that openness, she remained firm in teaching discipline and decisiveness. Was that harshness? No. It was firmness. Discipline indeed requires firmness. This became the main foundation for strengthening mental resilience from an early age—a preparation for navigating life’s winding paths.

    The oldest sister, Nur Aliyah Patwa, warmly greeted her beloved youngest sister during the inauguration ceremony.

    As time passed, both children grew up. In the residential area where they lived in Makassar, Aliyah became a Qur’an recitation champion. Her beautiful voice also made her talented in singing.

    “If Aliyah sings first, no one else’s voice sounds good afterward,” said Daeng Fatwa. “She has to sing last whenever there’s a family gathering,” continued that Daeng Uttang’s sister.

    Aliyah’s talent did not stop there. Among the competitions and achievements the writer remembers are:

    1. First Winner, Tourism Ambassador of Bulukumba
    2. Runner-Up, Miss Indonesia Selection at the South Sulawesi Provincial Level
    3. Runner-Up, Provincial Tourism Ambassador Selection in South Sulawesi
    4. Runner-Up, Open Karate Tournament held in Bone Regency
    5. Winning multiple Taekwondo championships

    Through the harmony between talent and hard work, opportunities in life opened widely for her, eventually leading to a banking career after graduating from Universitas Negeri Makassar.

    “Why does winning seem so easy for Aliyah?” asked Daeng Fatma.

    No one responded immediately.

    “Perhaps because her parents are kind to others, and that kindness flows to their children,” she said based on her own observations.

    “That makes sense too. Children have their own fortune already guaranteed by God,” the writer replied. “Daeng Fatma, as a pesantren graduate, surely knows the verses better—the original sources in the Qur’an. I only understand the Indonesian interpretations about the positive impact on those who are grateful and the consequences for those who turn away.”

    Two siblings with different talents and achievements, yet they continue to bring happiness to one another and support each other wholeheartedly.

    The writer then added, “Why haven’t I become a great person yet? Perhaps because I am still not truly grateful, since I waste so much of my time.”

    “That’s why you should wake up early regularly,” advised Daeng Fatma.

    “I already wake up for dawn prayers,” the writer answered apologetically, trying to justify himself.

    Meanwhile, Azizah was quieter by nature. She understood one extraordinary power: high discipline.

    “With discipline, she had already become successful even before success attached itself to her,” the writer thought.

    One day, there was a plan for a family gathering from her mother’s side. Azizah wanted to attend, but it coincided with her regular training schedule. Without hesitation, and with a confident expression, she chose her running practice instead.

    “Daeng, this child will become great,” the writer said to Daeng Uttang and Daeng Ida.

    They smiled happily, allowing Azizah to stand by her decision.

    Azizah’s dream eventually came true—she became a soldier. Her acceptance into the Indonesian Navy was a recognition from the Government of Indonesia for her achievements in rowing at the ASEAN Games. Before that, she had already won two gold medals at the South Sulawesi Provincial Sports.

    Being a soldier, a national athlete, and a university student at Makassar State University  at the same time is both a trust and a responsibility now resting on Azizah’s shoulders. It is not easy, especially because her beloved mother—who taught her firmness and discipline through countless sacrifices—has returned to the embrace of the Divine.

    Azizah is not alone. Her older sister Aliyah and her father Daeng Uttang attended her inauguration ceremony as a member of the Indonesian Navy in Surabaya on Tuesday, May 13, 2026. It was a joyful moment, yet behind that happiness lay immeasurable sorrow because the mother who had struggled tirelessly to educate and raise her children to the point of success could not be there. Naturally, supporting one another became the best path for this small family.

    Did Daeng Uttang and Daeng Ida combine attraction and resistance in raising their children?

    “Father used to punish me often because I bullied Fatma or behaved badly,” said Daeng Uttang. “But it felt different when punishment came from an uncle or aunt. When parents punished me, I cried but quickly forgot. But if it came from relatives, I remembered it for a long time.”

    That may be true. Perhaps resistance—what we call punishment in the form of harshness—can also become part of attraction when it teaches a person to discipline themselves. Does anyone understand this more deeply?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Thursday, April 14, 2026

     

  • Little Leaders

    Little Leaders

    Students who possess greater intelligence than their classmates should be given trust and responsibility. Teachers can appoint them to lead a few classmates and teach the material they have already understood. By doing so, they will gain a deeper understanding because they must relearn the material through explanation. Their self-confidence will also grow. Meanwhile, the students being taught may feel more relaxed because they are learning from their peers and will likely be motivated to reach the same level of understanding.

    Adam is a student who quickly understands lessons. Once he has grasped the material being studied, he tends to draw or chat with nearby classmates. His influence spreads quickly, and soon the classroom becomes noisy—not because students are discussing the lesson, but because they are sharing childish gossip.

    Should Adam be punished? Not necessarily. Instead, he should be kept busy in a productive way while still being supervised. The teacher can appoint him as the leader of a small study group. He can be made responsible for teaching the material he understands to two or three classmates at first so that he does not become overwhelmed in managing the group. However, this process still requires supervision because Adam may return to chatting about unrelated topics instead of discussing the lesson.

    The same method can be applied to Nabila and Aliza. Each of them may choose several classmates they enjoy working with to teach. Afterward, the class can be divided into separate groups that remain close enough for the learning atmosphere to be visible to everyone. Around ten to fifteen minutes may be given for discussion and understanding. When the allotted time ends, each group presents what they have learned. Through this process, it becomes clear which groups are better able to learn and cooperate as a team.

    To identify weaknesses, the teacher may observe whether the group leader lacks the ability to explain the material clearly or whether the students being taught are simply not suited to this learning method. Personal guidance from the teacher is still necessary so that, in the future, the students can work together more effectively in achieving learning targets.

    The writer has read that this learning method feels more relaxed. Because students are not entirely dependent on the main classroom teacher, they tend to think more creatively by developing their own ways of understanding the material. These methods emerge through group discussion and mutual agreement led by their respective group leaders.

    Exceptional intelligence and the trust given to gifted students are powerful forces that can effectively influence their classmates to become smarter and more trustworthy as well. They, too, will aspire to gain the opportunity to become “little leaders” in the classroom.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Friday, May 15, 2026

     

  • Kebahagiaan Orang Tua pada Prestasi Anak

    Kebahagiaan Orang Tua pada Prestasi Anak

    Daya tarik dan daya tolak. Kelembutan meciptakan daya tarik. Kekerasan menciptakan daya tolak. Seorang ibu dengan kodrat yang dimilikinya memiilki perasaan yang lebih peka dibandingkan seorang ayah, cenderung lebih rasional dalam mengambil sebuah keputusan. Pandangan ini berlaku di masyarakat termasuk dalam pendidikan keluarga. Apakah itu benar? Mari kita telaah lebih jauh.

    Sebuah memontum yang sangat berharga menghadiri pelantikan Nur Azizah Patwa didampingi oleh ayahnya dan kakaknya.

    Dua orang kemenakan penulis Aliyah dan Azizah sejak masa kecil sangat berbicara bebas dengan ayahnya, Daeng Uttang. Mereka memang dilatih untuk bebas mengutarakan perasaan, pendapat dan kemerdekaan berpikir. Sementara sang ibu, Daeng Ida sebenarnya sama saja; anak anaknya diajak berdialog terhadap apa yang mereka inginkan. Dibalik itu, ia tegak lurus dalam mengajarkan ketegasan dan kedisiplinan. Apakah itu keras? Bukan! Itu tegas. Untuk kedisiplinan, itu memang butuh ketegasan. Ini adalah bekal utama pembelajaran penguatan mental sejak usia dini, bekal mengarungi kehidupan jalannya penuh liku.

    Sang Kakak, NUr Aliyah Patwa, menyapa lebih dekat kepada adiknya yang tersayang pada acara pelantikan sang adik.

    Seiring waktu berjalan, kedua anak ini tumbuh. Aliyah di area kompleks tempat tinggalnya di Makassar jadi juara mengaji. Suaranya yang merdu itu membuatnya pandai bernyanyi. “Kalau Aliyah menyanyi duluan, tidak bagusmi suaranya orang lain yang menyanyi”, kata Daeng Fatwa. “Dia harus terakhir yang menyanyi kalau ada arisan keluarga”, lanjut saudari Deng Uttang itu.

    Apakah kalian siap melakukan hal yang lebih baik dari yang terbaik? Sumber Foto: Sulthan Rasyid Patwa.

    Bakat Aliyah tidak berhenti sampai di sut saja. Beberapa lomba atau kejuaraan yang sempat teringat:

    1. Juara 1 Duta Wisata Bulukumba
    2. Runner Up Pemilihan Putri indonesia Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan
    3. Runner Up Pemilihan Duta Wisata Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan
    4. Runner Up Open Tournament Karate dilaksanakan di Kab. Bone
    5. Beberapa kali Juara pada Taekwondo

    Berkat bakat dan usahanya yang sejalan, itulah membuat kehidupannya terbuka lebar untuk berkarir di bank setelah ia sarjana di UNM (Universitas Negeri Makassar).

    “Kok, Aliyah meraih juara itu mudah ya baginya?”, Tanya Daeng Fatma. Tidak ada yang merespon. “Mungkin karena ibu dan bapaknya baik sama orang sehingga kebaikan itu mengalir pada anaknya”,  katanya berdasarkan pengamatan pribadinya. “Iya juga. Kan, anak anak itu punya rezekinya sendiri yang telah dijamin oleh Tuhan”, kata penulis. “Daeng Fatma alumni pesantren pasti lebih tahu ayatnya, sumber utamanya dalam Al Qur’an. Saya cuma mengerti tafsirnya dalam Bahasa Indonesia tentang dampak positif bagi orang-orang bersyukur dan pukulan balik bagi orang-orang yang berpaling”. Penulis kemudian menambahkan, “Kenapa saya belum jadi orang hebat? Saya ini belum termasuk bersyukur karena masih banyak waktuku yang kusia-siakan.” Makanya “Rajin bangun pagi”, saran Daeng Fatma. “Saya rajin bangun subuh”, kata penulis berapologi, mencari alasan pembenaran.

    Nur Azizah Patwa yang jadi tentara.

    Sementara itu, Azizah lebih banyak diam. Ia mengenal satu kekuatan dahsyat; disiplin tingkat tinggi. “Dengan disiplin, ia sudah sukses sebelum kesuksesan itu melekat pada dirinya”, pikir penulis.  Suatu waktu, ada sebuah rencana kegiatan berkumpul bersama keluarga ibunya. Ia mau ikut tapi karena itu bertepatan dengan jadwal latihan regularnya. Tanpe berpikir panjang, ia dengan wajah meyakinkan memutuskan bahwa ia memilih latihan lari. “Daeng, anak ini pasti akan hebat”, kata penulis ke Daeng Uttang dan Daeng Ida. Mereka tersenyum senang, membiarkan Azizah dengan keputusannya.

    always do great things, Azizah.

    Cita-cita Azizah terkabulkan jadi tentara. Lulus di TNI AL (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut) adalah penghargaan Pemerintah RI kepada Azizah atas pretasinya di olahraga dayung di Asean Games. Sebelumnya, ia terlebih dahulu merebut dua emas pada Porprov Sul-Sel (Pekan Olahraga Provinsi Sulawesi Selatan).

    Keep doing great work.

    Menjadi tentara, atlet nasional dan mahasiswa UNM (Universitas Negeri Makassar) dalam satu waktu adalah kepercayaan dan tanggungjawab yang ada di pundak Azizah sekarang. Ini tidak mudah karena sang ibu tercinta yang banyak mengajarkannya tentang ketegasan dan kedisiplinan telah dipanggil kembali ke pangkuan Ilahi.

    Dua orang bersaudara dengan bakat dan prestasi berbeda namun tetap membahagiakan dan saling mendukung.

    Azizah tidak sendiri. Kakaknya Aliyah dan Ayahnya Daeng Uttang menghadiri pelantikannya sebagai anggota TNI AL di Surabaya pada Selasa, 13 Mei 2026. Ini adalah moment bahagia namun dibalik itu, ada rasa haru yang tidak terkira karena sang ibu yang dengan segala jerih payahnya mendidik dan membesarkan anak-anaknya hingga bisa sampai ke tangga sukses sekarang ini tidak bersamanya. Tentu saja, ketiga orang keluarga kecil ini saling menguatkan adalah jalan terbaik yang ditempuh.

    Dicipline is the key to better in life.

    Apakah Daeng Uttang dan Daeng Ida dalam mendidik anak anaknya mengkombinaksikan daya tarik dan daya tolak? “Tetta dan Ummi dulu sering menghukum saya karena sering menghukum Fatma atau karena nakal” kata Daeng Uttang. “Namun itu beda rasanya kalau dihukum oleh paman atau tante. Kalau orang tua yang menghukum, saya memang menangis tapi cepat lupa. Bila paman atau tante, lama diingat.” Iya juga. Mungkin saja daya tolak yang disebut hukuman dalam bentuk kekerasan bagian dari daya tarik untuk mendisipkan diri sendiri. Ada yang tahu lebih jauh tentang daya tarik dan daya tolak? Sekian.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 14 April 2026

     

  • Nur Azizah Patwa, Atlit Peraih Medali Perak Sea Games

    Nur Azizah Patwa, Atlit Peraih Medali Perak Sea Games

    Tidak semua perjuangan lahir dari keadaan yang mudah. Ada yang tumbuh dari kehilangan, dari air mata, dari rindu yang tidak pernah benar-benar selesai. Namun justru dari situlah lahir perempuan-perempuan kuat seperti Nur Azizah Patwa.

    Prestasi Azizah meraih medali perak cabang olahraga dayung pada Asean Games di Thailand pada 2026 membawa jalan indah dalam hidupnya. Pemerintah memberinya kesempatan untuk menjadi bagian dari TNI (Tentara Nasional Indonesia) dan mempersilahkannya memilih angkatan yang diinginkan. Seakan sudah berjodoh dengan laut, Azizah menjatuhkan pilihannya pada TNI Angkatan Laut (AL)

    Perjalanan itu tentu tidak mudah. Mulai dari pendaftaran, latihan, hingga berbagai rangkaian tes dijalani dengan penuh kesungguhan. Lelah, takut, dan tekanan pasti pernah datang silih berganti. Namun Azizah membuktikan bahwa mimpi besar hanya akan datang kepada mereka yang mau bertahan.

    Dan hari ini Rabu 13 Mei 20626, kabar bahagia itu akhirnya tiba. Azizah resmi menjadi bagian dari TNI AL.

    Di balik senyum bangga itu, ada tetesan air mata yang kembali jatuh. Karena di momen sebesar ini, satu sosok yang paling ingin ia peluk, namun tak lagi bisa hadir menyaksikan langsung keberhasilannya. Sosok yang membesarkannya dengan kasih sayang yang selalu menjadi tempat pulang, sekaligus motivator terbaik dalam hidupnya, ibunya, Nur Wahidah Bakkas Tumengkol.

    Tetapi mungkin, dari tempat terbaik di sisi-Nya, Sang Ibu sedang tersenyum bangga melihat putrinya berhasil sampai di titik ini.

    Selamat, Nak, Nur Azizah Patwa.

    Langkahmu hari ini adalah bukti bahwa doa, perjuangan, dan ketulusan tidak pernah sia-sia. Tetap rendah hati, tetap kuat, dan teruslah menjadi kebanggaan banyak orang.

    Fatmawati Patwa
    Bulukumba, Rabu, 13 Mei 2026

  • Karena Perjuangan dan Cinta

    Karena Perjuangan dan Cinta

    “Eh. Jadi tentara anakku”, kata Daeng Uttang sambil menatap foto anaknya berseragam tentara. Saya turut senang tapi merespon dengan biasa saja. “Coba lihat fotonya Deng?” kataku. Ia mengarahkan handphone ke wajahku. Saya girang. “Wah, itu langsung mengingatkanku pada wajahnya yang persis sama sewaktu dia masih anak anak, masa ketika ia bebas bermandikan matahari dengan bermain, tertawa riang ataupun ngambek.

    Pendidikan Pratama Bintara (Dikmaba) TNI AL (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut) bukan dunia bermain. Itu sungguhan dan nyawa taruhannya. “Mengapa wajah Azizah bisa kembali seindah anak kecil tanpa dosa?” tanyaku dalam hati. Daeng Uttang tiba tiba bilang, “Dulu Azizah setelah tamat SMA daftar tentara, tidak lulus”, kenangnya. “Sekarang ia dimudahkan.” Cita citanya terwujud dengan terlebih dahulu meraih Juara 2 Lomba Dayung untuk Indonesia pada Asean Games di Thailand, 2025. Pemerintah memberikan “tiket” untuk atlet berprestasi tanpa biaya. Allah SWT menunjukkan jalan kemudahan bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.

    “Azizah itu bisa renang?”, tanyaku. “Untungnya di masa anak anak ia kursus renang bersama Aliyah, kakakknya di Mattoanging”, kenang Daeng Uttang. “Pelatihnya bilang anak anak saya berbakat jadi atlet nasional. Sebagai bapak, saya tambah semangat mengantar mereka”, tambahnya sembari tersenyum. “Iya ya. Coba dia nda tahu renang, setengah hidup dia di TNI Angkatan Laut. Dan mana berani dia mau jadi pedayung”, tambahku menguatkan rasa senangnya.

    Daeng Uttang kini bersiap-siap mengunjungi anaknya di Surabaya yang dalam waktu dekat karena masa pendidikan Azizah akan selesai. Pertemuannya akan berlangsung sangat singkat karena Azizah akan kembali jadi atlet dayung Pelatnas (Pelatihan Nasional) untuk memperjuangkan dan mengharumkan nama baik Indonesia di kejuaraan yang lebih tinggi.

    Ada momen tertentu di mana Daeng Uttang ingin berkumpul bersama kedua anaknya Aliyah dan Azizah di rumah, Makassar. Mengingat kesibukan, itu sulit tapi bukan berarti tidak mungkin. Sang Kakak, Aliyah, sedang pelatihan di Jakarta untuk peningkatan kariernya di Perbankan tidak lama lagi akan selesai dan Azizah yang terdaftar sebagai mahasiswa di UNM (Universitas Negeri Makassar) tentu punya urusan dengan kampus yang sesekali membuatnya bisa pulang kampung. Pada momen kebersamaan berharga itulah, kedua anak membahagiakan ini dapat berziarah ke makam ibunya Nur Wahidah Bakkas Tumengkol bersama sang ayah, Daeng Uttang.

    Ketika sang anak mencapai cita-cita, orang tua bahagia. Apakah orang tua menuntut anak anaknya untuk dapat membahagiakan orang tuanya? Sekilas mengutip Murtadha Muthahhari, sama sekali tidak. Kebahagiaan orang tua ketika melihat anak anaknya bahagia. Itu cukup. Itu adalah cinta, anugerah yang tanpa perlu diperjuangkan oleh manusia diberikan oleh Allah SWT yang dikhususkan kepada orang tua tepat ketika anak itu lahir ke bumi, menyanyangi anak tanpa batas.

    Zulkarnain Patwa
    Makassar, Jum’at 8 Mei 2026

  • Ditte and the Sea

    Ditte and the Sea

    The Real Vacation of a Danish Diving Instructor
    Caoralia Liveaboard became an introduction to the diving world of Ditte Spanggaard, a Danish diving instructor working aboard the luxurious Pinisi sailing boat built in Bira, Bulukumba Regency, South Sulawesi Province in 2019. According to its official description, the name “Carolia” is inspired by the word “coral” and the Latin suffix “-ia,” expressing the idea of a “Nation of Corals.” Ditte seems to work in a place perfectly suited to her expertise. She appears not to work in order to go on vacation, but rather to vacation together with guests who have worked hard to afford a journey aboard Coralia.

    Together with Coralia, Ditte has been exploring diving destinations and marine tourism routes across eastern Indonesia, including Raja Ampat, Komodo National Park, Banda Islands, Alor, and Cenderawasih Bay.

    If you are accustomed to diving, you will know how to be as relaxed as in this photograph.
    Photo source: Ditte.

    “Last year, I worked in Una-Una in the Togean Islands of Central Sulawesi,” Ditte explained. It was an extraordinary underwater destination. “So, I want to come back to Indonesia,” the Danish woman continued.

    Based on her personal experience, Una-Una occupies the top place among her favorite diving destinations, followed by Raja Ampat, the Banda Islands, Alor, and even Timor-Leste, although it is not part of Indonesia.

    For divers, marine creatures are part of the beauty that delights the eyes. As you can see, the jellyfish drift freely through the water.
    Photo source: Ditte.

    As a diving instructor working aboard a ship, does Ditte spend more of her life at sea than on land?
    For a moment, she paused in thought. “I don’t know,” she answered.
    “Her life is on the boat. It is understandable that her vacation time at Cosmos Bungalow in Bira is relatively short,” the writer thought. A moment later, she smiled warmly and said honestly, “Every two months on the boat, one month off. That’s the cycle.”

    Notice her hands. Underwater, it is impossible to communicate by speaking, so divers use sign language through hand gestures to communicate. Photo source: Ditte.

    “I like Indonesia, the people, and working in Indonesia,” Ditte added.
    Her presence in Bira was part of her life journey to experience natural beauty different from anything she had seen before. She also admired local culture. Unfortunately, she did not have the opportunity to visit Kajang during her stay in Bulukumba.
    The indigenous Ammatoa Kajang Indigenous Community live in harmony with nature: walking barefoot, wearing black clothing, and protecting their customary forest without electricity or excessive modernization. In their tradition, anyone who cuts down one tree must plant two trees in return.

    The underwater world also has its own forests in the form of colorful coral reefs.
    Photo source: Ditte.

    According to Imam Shamsi Ali, a prominent figure from Kajang now known in New York City, the Kajang people’s commitment to environmental conservation has drawn international attention. They are recognized as guardians of tropical forests and as an inspiration showing how humanity and nature can live in harmony rather than in conflict.

    What else makes people want to explore the world?
    “I could travel the world for food,” Ditte said. “I love trying different kinds of food.”
    Among Indonesian dishes, her favorite is Gado-Gado. Since she was visiting South Sulawesi, the writer suggested she try Coto Makassar—a traditional beef soup with thick spiced broth and roasted peanuts from Makassar. Ditte seemed interested in trying it.

    As for Denmark, anyone familiar with the country would certainly know The Little Mermaid, the most famous statue in Copenhagen. Ditte also briefly explained the idea of a “half flat,” a small beautiful house in the Danish countryside. She then mentioned a unique tower in Copenhagen surrounded by larger buildings. Since there was no more time to ask further questions, the tower she referred to was perhaps The Round Tower, or Rundetårn, an iconic 17th-century structure famous for its panoramic 360-degree view of Copenhagen and its spiral ramp leading all the way to the top.

    Ditte with the diving life that brings happiness to her world.
    Photo source: Ditte.

    The car from Bulukumba to Makassar was scheduled to depart exactly at nine in the morning. Aris Irfan, Manager of Cahaya Bone from Kalla Travel, invited Ditte to get ready.As a memory, we took a photograph together and promised to preserve this simple yet meaningful conversation in writing—a remembrance of a brief but pleasant friendship.

    Ditte, Irfan, and the writer at the Cahaya Bone Travel office of Kalla Transport in Bulukumba. This photo serves as a memory for someone far away, preserving a meaningful moment of friendship. Photo source: Aris Irfan, Monday, May 11, 2026.

    Ditte tried to make the most of her limited time on land by visiting famous places that were not included in Coralia Liveaboard’s itinerary. Perhaps this was her real vacation before returning once again to the diving world—a world that many people would consider a dream holiday in itself.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Wednesday, May 13, 2026