Ujian dengan Jalan Kaki

Ujian sekolah dan kuliah di dua universitas adalah ujian kehidupanmu nak yang akan menguatkanmu menghadapi ujian kehidupan.

Ada hal yang selalu teringat dan sulit kulupakan. Saat Nashwa pakai sepatu sekolah diteras rumah, ia berkata “Bapak, ada hapalan sekolah saya lupa. Tunggu beberapa menit bapak. Saya hapal dulu”, tambahnya. Ia duduk dan menghapal dengan caranya. Setelah yakin, ia berkata kepadaku, “Saya sudah hapal bapak”.

Seketika terasa ada kebahagian yg seolah mengatakan “Kamu hebat nak”, kataku dalam hati.

Saya pun mengantarnya berangkat dgn memakai motor Honda Supra tuaku. Nashwa suka duduk di depan menikmati perjalanan hingga sampai di depan pagar sekolahnya,

Sesuatu yang selalu menjadi kebiasaan Nashwa raih tangan saya sembari mencium sambil sy berucap, “Nu jago ini anakkue…pintar, ehhh… Jangan jajan sembarangan. Kalau mau pulang, tunggu adek Muh Dzaki Munadhil Irfan biar bersamaan pulangnya nak.

Saat waktu tiba pulang sekolah, terkadang saya menjemput, tapi anak anaku kebanyakan pulang dengan jalan kaki bersama adiknya–
Hal yg berbeda dari kebanyakan orang tua yang selalu menjemput anak² mereka.

Angka 99 dimulai dari angka 1.

Sesuatu yang terkadang saya sengaja untuk tidak menjemput mengundang tanya. Itu benar! Nashwa bertanya. “Bapak, kenapa tidak menjemputku?” Saya cuma tersenyum sambil meraihnya, memeluknya dan menciumnya. Itulah jawabanku agar anak anak tidak selalu dalam zona nyaman. Ini juga nanti akan menjadi cerita yang indah saat mengenang masa sekolahnya.

Sekarang Nashwa sebentar lagi akan menyelesaikan study-nya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ujian jalan kaki untuk tidak selalu dalam zona nyaman pada akhirnya jadi pembelajaran untuk membentuk karakternya dan kemandiriannya dalam menghadapi ujian kehidupan.

Aris Irfan

Bulukumba, Selasa, 16 Mei 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *