Pelajar yang mempunyai kecerdasan lebih di atas rekan-rekan kelasnya sebaiknya diberi kepercayaan. Guru dapat menunjuknya untuk memimpin beberapa orang agar ia mengajarkan materi yang telah ia pahami. Ia akan tambah paham dan kembali belajar menjelaskan pemahamannya. Mental percaya diri pun terbangun. Sedangkan pelajar yang diajar merasa bisa lebih santai karena diajar oleh temannya sendiri dan pasti ingin selevel dalam hal kecerdasan.
Adam anak yang cepat memahami pelajaran. Ia akan menggambar atau menemani rekan di dekatnya untuk bicara manakala ia telah mengerti materi yang sedang dipelajari. Pengaruhnya ini cepat menyebar di mana kelas suara di kelas akan lebih riuh tapi bukan membahas pelajaran tetapi gossip ala anak anak.
Apakah Adam harus dihukum? Tidak perlu. Kita buat ia sibuk tapi harus tetap diawasi dengan jalan menunjuknya menjadi memimpin. Ia bertanggungjawab mengajarkan hal yang ia pahami. dua sampai tiga orang yang ia didik cukup sebagai langkah awal agar ia tidak kewalahan mengkondisikan kelas. Namun ini harus tetap diawasi karena bisa jadi Adam tidak membahas pelajaran alias kembali bergosip.
Begitupun pada Nabila dan Aliza. Keduanya masing-masing menunjuk beberapa orang yang mereka senangi untuk diajar. Setelah itu, kelas dibuat terpisah namun tidak berjauhan agar nuansa belajarnya saling terlihat. Waktu yang diberikan sekitar sepuluh sampai lima belas menit untuk memahamkan. Ketika jam yang ditentukan berakhir, setiap kelompok tampil menerangkan hal yang dipelajari. Di sini terlihat kelompok mana yang lebih mampu belajar secara team.
Untuk melihat titik kelemahan, bisa jadi yang memimpin kurang tahu cara menjelaskan pemahamannya kepada rekannya atau pelajar yang diajar belum tidak cocok dengan metode ini. Pendekatan personal pun dilakukan oleh guru agar ke depan mereka dapat lebih kompak dalam mencapai target pelajaran.
Penulis membaca bahwa cara belajar ini terlihat lebih rileks. Karena tidak tergantung pada guru utama kelas, mereka cenderung berpikir lebih kreatif dengan menciptakan cara sendiri dalam memahami suatu materi. Dan itu dibuat dari hasil musyawarah yang kemudian disepakati oleh pemimpinnya masing-masing.
Kecerdasan lebih dan kepercayaan yang diberikan kepada pelajar yang cerdas tersebut adalah kekuatan yang dahsyat yang sangat efektif digunakan untuk mempengaruhi rekan-rekan yang lain untuk ikut cerdas dan terpercaya—mereka juga ingin memperoleh kesempatan menjadi pemimpin kecil.
Daya tarik dan daya tolak. Kelembutan meciptakan daya tarik. Kekerasan menciptakan daya tolak. Seorang ibu dengan kodrat yang dimilikinya memiilki perasaan yang lebih peka dibandingkan seorang ayah, cenderung lebih rasional dalam mengambil sebuah keputusan. Pandangan ini berlaku di masyarakat termasuk dalam pendidikan keluarga. Apakah itu benar? Mari kita telaah lebih jauh.
Sebuah memontum yang sangat berharga menghadiri pelantikan Nur Azizah Patwa didampingi oleh ayahnya dan kakaknya.
Dua orang kemenakan penulis Aliyah dan Azizah sejak masa kecil sangat berbicara bebas dengan ayahnya, Daeng Uttang. Mereka memang dilatih untuk bebas mengutarakan perasaan, pendapat dan kemerdekaan berpikir. Sementara sang ibu, Daeng Ida sebenarnya sama saja; anak anaknya diajak berdialog terhadap apa yang mereka inginkan. Dibalik itu, ia tegak lurus dalam mengajarkan ketegasan dan kedisiplinan. Apakah itu keras? Bukan! Itu tegas. Untuk kedisiplinan, itu memang butuh ketegasan. Ini adalah bekal utama pembelajaran penguatan mental sejak usia dini, bekal mengarungi kehidupan jalannya penuh liku.
Sang Kakak, NUr Aliyah Patwa, menyapa lebih dekat kepada adiknya yang tersayang pada acara pelantikan sang adik.
Seiring waktu berjalan, kedua anak ini tumbuh. Aliyah di area kompleks tempat tinggalnya di Makassar jadi juara mengaji. Suaranya yang merdu itu membuatnya pandai bernyanyi. “Kalau Aliyah menyanyi duluan, tidak bagusmi suaranya orang lain yang menyanyi”, kata Daeng Fatwa. “Dia harus terakhir yang menyanyi kalau ada arisan keluarga”, lanjut saudari Deng Uttang itu.
Apakah kalian siap melakukan hal yang lebih baik dari yang terbaik? Sumber Foto: Sulthan Rasyid Patwa.
Bakat Aliyah tidak berhenti sampai di sut saja. Beberapa lomba atau kejuaraan yang sempat teringat:
Juara 1 Duta Wisata Bulukumba
Runner Up Pemilihan Putri indonesia Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan
Runner Up Pemilihan Duta Wisata Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan
Runner Up Open Tournament Karate dilaksanakan di Kab. Bone
Beberapa kali Juara pada Taekwondo
Berkat bakat dan usahanya yang sejalan, itulah membuat kehidupannya terbuka lebar untuk berkarir di bank setelah ia sarjana di UNM (Universitas Negeri Makassar).
“Kok, Aliyah meraih juara itu mudah ya baginya?”, Tanya Daeng Fatma. Tidak ada yang merespon. “Mungkin karena ibu dan bapaknya baik sama orang sehingga kebaikan itu mengalir pada anaknya”, katanya berdasarkan pengamatan pribadinya. “Iya juga. Kan, anak anak itu punya rezekinya sendiri yang telah dijamin oleh Tuhan”, kata penulis. “Daeng Fatma alumni pesantren pasti lebih tahu ayatnya, sumber utamanya dalam Al Qur’an. Saya cuma mengerti tafsirnya dalam Bahasa Indonesia tentang dampak positif bagi orang-orang bersyukur dan pukulan balik bagi orang-orang yang berpaling”. Penulis kemudian menambahkan, “Kenapa saya belum jadi orang hebat? Saya ini belum termasuk bersyukur karena masih banyak waktuku yang kusia-siakan.” Makanya “Rajin bangun pagi”, saran Daeng Fatma. “Saya rajin bangun subuh”, kata penulis berapologi, mencari alasan pembenaran.
Nur Azizah Patwa yang jadi tentara.
Sementara itu, Azizah lebih banyak diam. Ia mengenal satu kekuatan dahsyat; disiplin tingkat tinggi. “Dengan disiplin, ia sudah sukses sebelum kesuksesan itu melekat pada dirinya”, pikir penulis. Suatu waktu, ada sebuah rencana kegiatan berkumpul bersama keluarga ibunya. Ia mau ikut tapi karena itu bertepatan dengan jadwal latihan regularnya. Tanpe berpikir panjang, ia dengan wajah meyakinkan memutuskan bahwa ia memilih latihan lari. “Daeng, anak ini pasti akan hebat”, kata penulis ke Daeng Uttang dan Daeng Ida. Mereka tersenyum senang, membiarkan Azizah dengan keputusannya.
always do great things, Azizah.
Cita-cita Azizah terkabulkan jadi tentara. Lulus di TNI AL (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut) adalah penghargaan Pemerintah RI kepada Azizah atas pretasinya di olahraga dayung di Asean Games. Sebelumnya, ia terlebih dahulu merebut dua emas pada Porprov Sul-Sel (Pekan Olahraga Provinsi Sulawesi Selatan).
Keep doing great work.
Menjadi tentara, atlet nasional dan mahasiswa UNM (Universitas Negeri Makassar) dalam satu waktu adalah kepercayaan dan tanggungjawab yang ada di pundak Azizah sekarang. Ini tidak mudah karena sang ibu tercinta yang banyak mengajarkannya tentang ketegasan dan kedisiplinan telah dipanggil kembali ke pangkuan Ilahi.
Dua orang bersaudara dengan bakat dan prestasi berbeda namun tetap membahagiakan dan saling mendukung.
Azizah tidak sendiri. Kakaknya Aliyah dan Ayahnya Daeng Uttang menghadiri pelantikannya sebagai anggota TNI AL di Surabaya pada Selasa, 13 Mei 2026. Ini adalah moment bahagia namun dibalik itu, ada rasa haru yang tidak terkira karena sang ibu yang dengan segala jerih payahnya mendidik dan membesarkan anak-anaknya hingga bisa sampai ke tangga sukses sekarang ini tidak bersamanya. Tentu saja, ketiga orang keluarga kecil ini saling menguatkan adalah jalan terbaik yang ditempuh.
Dicipline is the key to better in life.
Apakah Daeng Uttang dan Daeng Ida dalam mendidik anak anaknya mengkombinaksikan daya tarik dan daya tolak? “Tetta dan Ummi dulu sering menghukum saya karena sering menghukum Fatma atau karena nakal” kata Daeng Uttang. “Namun itu beda rasanya kalau dihukum oleh paman atau tante. Kalau orang tua yang menghukum, saya memang menangis tapi cepat lupa. Bila paman atau tante, lama diingat.” Iya juga. Mungkin saja daya tolak yang disebut hukuman dalam bentuk kekerasan bagian dari daya tarik untuk mendisipkan diri sendiri. Ada yang tahu lebih jauh tentang daya tarik dan daya tolak? Sekian.
Tidak semua perjuangan lahir dari keadaan yang mudah. Ada yang tumbuh dari kehilangan, dari air mata, dari rindu yang tidak pernah benar-benar selesai. Namun justru dari situlah lahir perempuan-perempuan kuat seperti Nur Azizah Patwa.
Prestasi Azizah meraih medali perak cabang olahraga dayung pada Asean Games di Thailand pada 2026 membawa jalan indah dalam hidupnya. Pemerintah memberinya kesempatan untuk menjadi bagian dari TNI (Tentara Nasional Indonesia) dan mempersilahkannya memilih angkatan yang diinginkan. Seakan sudah berjodoh dengan laut, Azizah menjatuhkan pilihannya pada TNI Angkatan Laut (AL)
Perjalanan itu tentu tidak mudah. Mulai dari pendaftaran, latihan, hingga berbagai rangkaian tes dijalani dengan penuh kesungguhan. Lelah, takut, dan tekanan pasti pernah datang silih berganti. Namun Azizah membuktikan bahwa mimpi besar hanya akan datang kepada mereka yang mau bertahan.
Dan hari ini Rabu 13 Mei 20626, kabar bahagia itu akhirnya tiba. Azizah resmi menjadi bagian dari TNI AL.
Di balik senyum bangga itu, ada tetesan air mata yang kembali jatuh. Karena di momen sebesar ini, satu sosok yang paling ingin ia peluk, namun tak lagi bisa hadir menyaksikan langsung keberhasilannya. Sosok yang membesarkannya dengan kasih sayang yang selalu menjadi tempat pulang, sekaligus motivator terbaik dalam hidupnya, ibunya, Nur Wahidah Bakkas Tumengkol.
Tetapi mungkin, dari tempat terbaik di sisi-Nya, Sang Ibu sedang tersenyum bangga melihat putrinya berhasil sampai di titik ini.
Selamat, Nak, Nur Azizah Patwa.
Langkahmu hari ini adalah bukti bahwa doa, perjuangan, dan ketulusan tidak pernah sia-sia. Tetap rendah hati, tetap kuat, dan teruslah menjadi kebanggaan banyak orang.
“Eh. Jadi tentara anakku”, kata Daeng Uttang sambil menatap foto anaknya berseragam tentara. Saya turut senang tapi merespon dengan biasa saja. “Coba lihat fotonya Deng?” kataku. Ia mengarahkan handphone ke wajahku. Saya girang. “Wah, itu langsung mengingatkanku pada wajahnya yang persis sama sewaktu dia masih anak anak, masa ketika ia bebas bermandikan matahari dengan bermain, tertawa riang ataupun ngambek.
Pendidikan Pratama Bintara (Dikmaba) TNI AL (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut) bukan dunia bermain. Itu sungguhan dan nyawa taruhannya. “Mengapa wajah Azizah bisa kembali seindah anak kecil tanpa dosa?” tanyaku dalam hati. Daeng Uttang tiba tiba bilang, “Dulu Azizah setelah tamat SMA daftar tentara, tidak lulus”, kenangnya. “Sekarang ia dimudahkan.” Cita citanya terwujud dengan terlebih dahulu meraih Juara 2 Lomba Dayung untuk Indonesia pada Asean Games di Thailand, 2025. Pemerintah memberikan “tiket” untuk atlet berprestasi tanpa biaya. Allah SWT menunjukkan jalan kemudahan bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.
“Azizah itu bisa renang?”, tanyaku. “Untungnya di masa anak anak ia kursus renang bersama Aliyah, kakakknya di Mattoanging”, kenang Daeng Uttang. “Pelatihnya bilang anak anak saya berbakat jadi atlet nasional. Sebagai bapak, saya tambah semangat mengantar mereka”, tambahnya sembari tersenyum. “Iya ya. Coba dia nda tahu renang, setengah hidup dia di TNI Angkatan Laut. Dan mana berani dia mau jadi pedayung”, tambahku menguatkan rasa senangnya.
Daeng Uttang kini bersiap-siap mengunjungi anaknya di Surabaya yang dalam waktu dekat karena masa pendidikan Azizah akan selesai. Pertemuannya akan berlangsung sangat singkat karena Azizah akan kembali jadi atlet dayung Pelatnas (Pelatihan Nasional) untuk memperjuangkan dan mengharumkan nama baik Indonesia di kejuaraan yang lebih tinggi.
Ada momen tertentu di mana Daeng Uttang ingin berkumpul bersama kedua anaknya Aliyah dan Azizah di rumah, Makassar. Mengingat kesibukan, itu sulit tapi bukan berarti tidak mungkin. Sang Kakak, Aliyah, sedang pelatihan di Jakarta untuk peningkatan kariernya di Perbankan tidak lama lagi akan selesai dan Azizah yang terdaftar sebagai mahasiswa di UNM (Universitas Negeri Makassar) tentu punya urusan dengan kampus yang sesekali membuatnya bisa pulang kampung. Pada momen kebersamaan berharga itulah, kedua anak membahagiakan ini dapat berziarah ke makam ibunya Nur Wahidah Bakkas Tumengkol bersama sang ayah, Daeng Uttang.
Ketika sang anak mencapai cita-cita, orang tua bahagia. Apakah orang tua menuntut anak anaknya untuk dapat membahagiakan orang tuanya? Sekilas mengutip Murtadha Muthahhari, sama sekali tidak. Kebahagiaan orang tua ketika melihat anak anaknya bahagia. Itu cukup. Itu adalah cinta, anugerah yang tanpa perlu diperjuangkan oleh manusia diberikan oleh Allah SWT yang dikhususkan kepada orang tua tepat ketika anak itu lahir ke bumi, menyanyangi anak tanpa batas.
The Real Vacation of a Danish Diving Instructor
Caoralia Liveaboard became an introduction to the diving world of Ditte Spanggaard, a Danish diving instructor working aboard the luxurious Pinisi sailing boat built in Bira, Bulukumba Regency, South Sulawesi Province in 2019. According to its official description, the name “Carolia” is inspired by the word “coral” and the Latin suffix “-ia,” expressing the idea of a “Nation of Corals.” Ditte seems to work in a place perfectly suited to her expertise. She appears not to work in order to go on vacation, but rather to vacation together with guests who have worked hard to afford a journey aboard Coralia.
Together with Coralia, Ditte has been exploring diving destinations and marine tourism routes across eastern Indonesia, including Raja Ampat, Komodo National Park, Banda Islands, Alor, and Cenderawasih Bay.
If you are accustomed to diving, you will know how to be as relaxed as in this photograph. Photo source: Ditte.
“Last year, I worked in Una-Una in the Togean Islands of Central Sulawesi,” Ditte explained. It was an extraordinary underwater destination. “So, I want to come back to Indonesia,” the Danish woman continued.
Based on her personal experience, Una-Una occupies the top place among her favorite diving destinations, followed by Raja Ampat, the Banda Islands, Alor, and even Timor-Leste, although it is not part of Indonesia.
For divers, marine creatures are part of the beauty that delights the eyes. As you can see, the jellyfish drift freely through the water. Photo source: Ditte.
As a diving instructor working aboard a ship, does Ditte spend more of her life at sea than on land?
For a moment, she paused in thought. “I don’t know,” she answered.
“Her life is on the boat. It is understandable that her vacation time at Cosmos Bungalow in Bira is relatively short,” the writer thought. A moment later, she smiled warmly and said honestly, “Every two months on the boat, one month off. That’s the cycle.”
Notice her hands. Underwater, it is impossible to communicate by speaking, so divers use sign language through hand gestures to communicate. Photo source: Ditte.
“I like Indonesia, the people, and working in Indonesia,” Ditte added.
Her presence in Bira was part of her life journey to experience natural beauty different from anything she had seen before. She also admired local culture. Unfortunately, she did not have the opportunity to visit Kajang during her stay in Bulukumba.
The indigenous Ammatoa Kajang Indigenous Community live in harmony with nature: walking barefoot, wearing black clothing, and protecting their customary forest without electricity or excessive modernization. In their tradition, anyone who cuts down one tree must plant two trees in return.
The underwater world also has its own forests in the form of colorful coral reefs. Photo source: Ditte.
According to Imam Shamsi Ali, a prominent figure from Kajang now known in New York City, the Kajang people’s commitment to environmental conservation has drawn international attention. They are recognized as guardians of tropical forests and as an inspiration showing how humanity and nature can live in harmony rather than in conflict.
What else makes people want to explore the world?
“I could travel the world for food,” Ditte said. “I love trying different kinds of food.”
Among Indonesian dishes, her favorite is Gado-Gado. Since she was visiting South Sulawesi, the writer suggested she try Coto Makassar—a traditional beef soup with thick spiced broth and roasted peanuts from Makassar. Ditte seemed interested in trying it.
As for Denmark, anyone familiar with the country would certainly know The Little Mermaid, the most famous statue in Copenhagen. Ditte also briefly explained the idea of a “half flat,” a small beautiful house in the Danish countryside. She then mentioned a unique tower in Copenhagen surrounded by larger buildings. Since there was no more time to ask further questions, the tower she referred to was perhaps The Round Tower, or Rundetårn, an iconic 17th-century structure famous for its panoramic 360-degree view of Copenhagen and its spiral ramp leading all the way to the top.
Ditte with the diving life that brings happiness to her world. Photo source: Ditte.
The car from Bulukumba to Makassar was scheduled to depart exactly at nine in the morning. Aris Irfan, Manager of Cahaya Bone from Kalla Travel, invited Ditte to get ready.As a memory, we took a photograph together and promised to preserve this simple yet meaningful conversation in writing—a remembrance of a brief but pleasant friendship.
Ditte, Irfan, and the writer at the Cahaya Bone Travel office of Kalla Transport in Bulukumba. This photo serves as a memory for someone far away, preserving a meaningful moment of friendship. Photo source: Aris Irfan, Monday, May 11, 2026.
Ditte tried to make the most of her limited time on land by visiting famous places that were not included in Coralia Liveaboard’s itinerary. Perhaps this was her real vacation before returning once again to the diving world—a world that many people would consider a dream holiday in itself.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Wednesday, May 13, 2026
Coralia Liveaboard adalah sebuah pengantar untuk mengenali dunia selam DitteSpanggaard, instruktur selam di kapal pesiar mewah dibuat dengan layar Pinisi di Desa Bira, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan pada 2019. Merujuk situs resminya, kata “coral” (Karang) dan akhiran Latin “-ia,” yang mengekspresikan gagasan tentang Bangsa Karang. Ditte bekerja di tempat yang tepat yang sesuai keahliannya. Ia seolah tidak perlu bekerja untuk pergi berlibur tapi berlibur bersama para tamu yang telah mencari duit untuk dapat berlibur di Coralia.
Bersama Coralia, Ditte menikmati destinasi diving dan wisata bahari di Indonesia timur dengan rute Raja Ampat, Taman Nasional Komodo, Kepulauan Banda, Alor dan Teluk Cenderawasih.
Bila anda terbiasa menyelam, anda akan tahu bagaimana cara untuk bisa serileks mungkin seperti pada foto ini. Sumber Foto: Ditte.
“Tahun lalu, saya bekerja di Una-Una di kepulauan Togean, Sulawesi Tengah” terang Ditte. Itu adalah destinasi wisata bawah laut yang menakjubkan. “Jadi, saya ingin kembali lagi ke Indonesia”, lanjut orang Denmark ini. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia Una-Una sangat spesial ditempatkan di urutan pertama dan kemudian diikuti Raja Ampat, Kepulauan Banda, Alor dan juga Timur Leste meskipun itu bukan Indonesia.
Bagi penyelam, makhluk laut itu adalah bagian dari keindahan untuk memanjakan mata. Ubur ubur bergerak dengan bebas. Sumber Foto: Ditte.
Sebagai intruktur selam yang bekerja di atas kapal, apakah Ditte perempuan yang kehidupannya lebih banyak di laut daripada di darat? Sejenak ia merenung. “Saya tidak tahu”, jawabnya. “Hidupnya di atas kapal. Wajarlah bila waktu berliburnya di Cosmos Bungalow di Bira relatif singkat”, pikir penulis. Sejurus kemudian, ia tersenyum manis dan berkata dengan terus terang, “Setiap dua bulan saya di kapal, satu bulan istirahat. Begitulah perputarannya”.
Perhatikan tangannya. Di dalam laut, anda tidak akan mungkin menggunakan mulut untuk bicara sehingga komunikasi yang dibuat dalam bentuk bahasa isyarat dengan gerakan tangan: Sumber Foto: Ditte.
“Saya suka Indonesia, orang-orangnya dan bekerja di Indonesia”, tambah Ditte. Keberadannya di Bira adalah bagian dari perjalanan hidupnya untuk menikmati keindahan alam yang berbeda yang ia pernah lihat sebelumnya. Ia juga mengagumi budaya. Sayangnya, ia tidak sempat mengenal Kajang pada kunjungannya ke Bulukumba. Masyarakat adat Amma Toa di Kajang hidup menyatu dengan alam, dengan berjalan dengan kaki telanjang, berpakaian serba hitam, tanpa listrik atau modernisasi apapun juga tidak diberlakukan oleh Amma Toa (Kepala Adat Kajang) untuk menjaga kelestarian alamnya. Setiap orang yang menebang satu pohon harus menanam dua pohon.
Alam bawah laut juga punya hutan dalam bentuk karang yang berwarna warni. Akankah kita merusak alam bawah laut yang indah ini? Sumber Foto: Ditte.
Menurut pemahaman Imam Syamsi Ali, orang asli Kajang yang kini jadi tokoh New York AS, komitmen orang Kajang kini dikenal penjaga hutan tropis terbaik, inspirasi untuk melestarikan alam. Manusia dan alam hidup selaras dan bersinergi, bukan bertentangan.
Apa lagi hal yang membuat orang mau menjelajahi dunia? “Saya bisa berkeliling dunia untuk makanan”, terang Ditte. “Saya suka mencoba berbagai macam makanan”. Untuk makanan Indonesia, makanan favoritnya adalah Gado-Gado. Karena dia sedang berada di Sulawesi-Selatan, penulis menyarankan untuk mecoba Coto Makassar—Sup daging sapi dengan kuah kental berbumbu rempah dan kacang tanah sangrai. Ia mengerti dan sepertinya tertarik untuk mencobanya.
Sedangkan mengenai Denmark, Orang yang mempelajari Denmark tentu tahu, The Little Mermaid, patung paling terkenal di Copenhagen. Ditte tertarik sedikit menjelaskan tentang Half Flat, semacam rumah kecil yang indah di tanah pertanian. “Hal yang spesifik, kami mempunyai menara special yang dikelilingi menara yang tinggi. Karena waktu untuk bertanya lebih jauh tidak ada lagi, menara yang ia maksudkan mungkin saja Rundetårn (The Round Tower) yang merupakan arsitektur abad 17 yang sangat ikonik, view 360° kota Copenhagen dan spiral ramp berputar 7½ kali sampai puncak.
Ditte dengan kehidupan dunia selamnya yang membahagiakan hidupnya. Sumber Foto: Ditte
Mobil dari Bulukumba ke Makassar akan berangkat tepat jam 9 pagi. Aris Irfan, Manager Cahaya Bone of Kalla Travel, mempersilahkan Ditte bersiap siap. Untuk kenangan, kami foto bersama dan berjanji akan merekam pembicaraan sederhana yang berkesan baik di hati ini untuk dijadikan tulisan sebagai sebagai kenangan persahabatan yang singkat yang menyenangkan.
Malomo Villa yang merupakan salah satu tempat beristirahat terbaik ketika Anda berkunjung ke pantai Bira. Sumber Foto: Aris Irfan.
Oh iya, Irfan juga terlibat aktif dalam dunia bahari dan punya Malomo Villa di Bira yang bangunannya semi modern yang dekorasinya hasil kombinasi jiwa seninya bersama para ahli pengrajin kayu yang handal.
Ditte, Irfan dan Penulis saat berada di kantor Travel Cahaya Bone of Kalla Transport di Bulukumba. Foto adalah kenangan pada orang jauh untuk mengingat moment persahabatan yang berharga. Sumber Foto: Aris Irfan pada Senin, 11 Mein 2026.
Ditte berusaha menikmati waktunya yang sangat terbatas berada di darat sebaik-baiknya dengan mengunjugi tempat wisata yang terkenal yang tidak masuk daftar kunjungan Coralia Liveaboard. Ini adalah liburannya yang sesungguhnya sebelum ia kembali bekerja di dunia selam di mana orang lain menganggapnya sebagai liburan.
Keistimewaan anak ini adalah di umurnya lima tahun, ia sudah lancar membaca dalam bahasa Indonesia, mengaji dan Bahasa Inggris. Berhitung sudah menjadi bagian kesehariannya karena ibunya guru Matematika. Olahraga yang ia suka adalah karate.
Namanya Afwa. Sekarang ia sudah enam tahun. Tiap kali ketemu, ia selalu minta untuk diajar. Ia suka bawa bukunya sendiri tapi kadang juga lupa. Jadi ia sering ke perpustakaan Rumah Belajar Bersama, ambil buku bacaan dan kemudian mengatakan, “Siapma Mister” (Saya sudah siap Mister). Bacaannya sudah pertengahan Basic Reading tapi kalau ia capek atau penulis lagi sibuk dimana sulit untuk mengoreksi bacaannya secara langsung, Lesson 1 sampai 10 akan jadi hiburannya. Ia sudah sangat mahir bacaan itu. Yang terpenting, setiap datang ke RBB, ada waktu untuk membaca.
Urusan berhitung, Afwa sudah sampai perkalian tujuh tapi ia merasa belum terlalu lancar. Jadi ia menawar untuk latihan lisan perkalian dua dan tiga saja. Tak mengapa ia mengikuti the law of repetition (Hukum perulangan). Perlahan lahan ia pasti akan suka perkalian tujuh, delapan dan sembilan. Bila itu tuntas, urusan matematikanya pasti terasa sangat ringan saat masuk SD nanti.
Kalau karate, sekarang Afwa agak jarang latihan setelah sakit. Mungkin ia perlu banyak nonton video karate untuk mengembalikan semangatnya. Soalnya, ia tertarik gabung karena sering nonton latihan karate.
Tahun ini, Afwa kemungkinan akan masuk SD dan akan tinggal di kampung halaman neneknya di Turungan Beru di Kec. Herlang, Kab. Bulukumba. Suasana pedesaan dekat laut akan membuatnya akrab dengan alam. Semoga orang orang yang mendidiknya nanti di sana bisa memaksimalkan bakat anak yang luar biasa ini.
Paling sedikit, bacaan buku cerita anak anak berbahasa Inggris, Indonesia dan Matematika selalu tersedia untuk Afwa. Sedangkan mengajinya cenderung aman karena neneknya sendiri adalah guru mengaji di Masjid. Bagaimana dengan hobi karate? Karena tidak ada dojo (tempat latihan) karate hobby itu sepertinya akan beralih ke berenang di laut dekat rumah neneknya.
Bertamu ke rumah Dr. Horst Liebner di Gowa, Sulawesi Selatan seolah menggugah semangatku untuk masuk lagi dalam dunia perdebatan pemikiran. Di ruang kerjanya yang teduh dikelilingi perpustakaan mini, ia menyedorkan beberapa referensi buku berbobot, sebagian isinya ia terangkan dan menjadi alasan mengapa gaya penulisannya dipengaruhi sastra.
Saya kaget betul dengan hobinya pada sastra. Seorang tokoh yang dikenal bukan hanya jago teori tentang perahu tradisional tapi juga seorang pelaut ulung yang suka “terus terang” alias apa adanya pada hal yang masuk akal atau tidak masuk akal ternyata
memasukkan lagu music wreck yang dengan senang hati ia tempatkan di halaman depan thesis S 3-nya. Banyak bagian lembaran buku yang ia perlihatkan dan terangkan mengapa penulisannya seperti sekarang ini.
Semua ini berawal dari pernyataan bahwa saya mengerti gaya penulisan Pak Horst karena penulis sudah sering membaca tulisannya. Gaya penulisannya bukan kebiasaan orang Indonesia. Ia okay saja dan menambahkan bahwa dirinya dipengaruhi oleh bahasa Melayu. Ya, beberapa kosa kata yang tidak lazim digunakan bahasa Indonesia sekarang sesekali diselipkan ke dalam tulisannya. Orang harus mengecek kamus lagi untuk mengingatnya.
Obrolan ringan kami berlanjut pada tata bahasa. Saya tahu ia paham tata bahasa dan tidak perlu bertanya ke penulis tapi ia tetap bertanya. Beberapa paragraf secara acak dari tulisannya kami bahas, tidak ada yang salah sama sekali. Untuk apa Pak Horst mengecek itu semua? Ia paham beragam bahasa dan tentu ilmunya jauh lebih luas. Penulis mengikuti alur berpikirnya, masuk ke dunianya dengan harapan, siapa tahu ada hal yang baru ditemukan. Ternyata, gaya bahasa saja yang beda, struktur tetap sama.
Kemudian Pak Horst mengenalkan buku Bahasa Indonesia, Deskripsi dan Teori ditulis oleh N. F. Alifera at Al. Katanya buku ini dibuat oleh orang Rusia. Sungguh menarik, bukan pada alirannya yang waktu itu masih komunis tapi pada keahlian orang asing yang mampu membedah bahasa Indonesia dengan sangat detail. Buku seperti inilah yang selama ini saya cari. Katanya, buku itu ia pelajari sewaktu S 2 di Indonesia tepatnya di UNHAS (Universitas Hasanuddin).
Beberapa data tentang dokumentasi pelayaran zaman Belanda pun ia perlihatkan. Ia dengan senang hati membantu menerjemahkan semua hal yang penulis tanyakan. “Sayang sekali ya, kita orang Indonesia kebanyakan tidak mengerti Bahasa Belanda lagi”, pikir penulis. Bagusnya lagi, Belanda itu punya data yang bisa diakses melalui internet. Tapi kan, segelintir dari kita saja yang bisa membacanya. Sebaiknya sekolah atau universitas berkenan mengkampanyekan dan membuka kembali Bahasa Belanda agar kita tidak buta data sejarah.
Dari situ penulis melihat perkembangan pelayaran dan perahu yang ada di Indonesia khususnya Sulawesi Selatan yang memang terkenal dunia maritimnya. dan tertarik untuk turut berkontribusi lebih jauh. Selama ini, penulis menulis “suka suka aja”. Belajar dan berdiskusi lebih banyak dengan Pak Horst, penulis mungkin saja akan membuat sesuatu yang berharga untuk pengembangan maritim kita.
Menulis tentang pelayaran, sastra dan perdebatan pemikiran, penulis jalani dan nikmati saja. Bulukumba adalah tanah kelahiran dan tempat tinggal penulis menetap sekarang ini yang erat kaitannya dengan laut. Adakah itu akan bermanfaat bagi orang lain? Semoga saja. Sekian dulu.
Saya dari tadi mau olahraga otak dengan main catur. 😀
Kompetisi mengasah kecerdasan manusia tanpa bantuan AI (Artificial Inteligence) kecerdasan mesin digelar oleh FBS UNM (Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar) dengan tema “Empowering Students through English for Global Competence” pada 7 -9 Mei 2026. Pembulatan 500 peserta, tepatnya 497 peserta jurusan Bahasa Inggris bertarung. Mengangetkan! Dari enam kategori kompetisi, Grammar Competition (Kompetisi tata bahasa) paling ketat diikuti 269 peserta. Itu kompetisi rumit karena melibatkan urusan berpikir logis. terlebih lagi kurikulum sekolah Indonesia tidak fokus pada grammar lagi.
Respon Orang Tua Widya
Juara 1 (satu) Grammar Competition diraih oleh mahasiswi semester dua, Andi Widya Maulidyah. Dari mana Widya bisa secepat itu menjadi yang terbaik? Investasi pendidikan. Widya sejak di SDN 221, SMPN 2 hingga tamat SMAN 1 Bulukumba telah ikut kursus Inggris. Tantenya Andi Ayu Cahyani memperkenalkan RBB (Rumah Belajar Bersama) dan langsung disambut oleh kedua orang tuanya Andi Halil Badawi dan Nuraidah Arifin Sallatu. Sang ayah yang mengetahui minat dan bakat anaknya tanpa lelah mengantar kursus sementara sang ibu yang acap kali mengunggah kegiatan Widya di media sosial termasuk takkala Widya lulus di UNM jalur prestasi, 2025.
Mari kita simak ekpresi kebahagiaan orang tua dari sang ayah di facebook pribadinya:
Alhamdilillah, tidak sia-sia anak gadisku kursus di Rumah Belajar Bersama Bulukumba. Hari ini dapat kabar darinya: Juara 1 Final English Fair 2026 di Kampus UNM dari 300 peserta menjadi 30 lalu masuk final 8 orang dan akhirnya juara satu.
Sang Ayah yang menetap di Bulukumba langsung menyambut rasa bahagianya ketika mengetahui anaknya di Makassar meraih juara satu.
Hal senada juga disampaikan oleh sang ibu juga di facebook:
Masya Allah Tabarakallahu. Selamat nak, Andi Widya Maulidyah atas pencapaiannya lomba English Grammar at English Fair 2026 UNM dari 300 peserta menjadi 30 besar, dari 30 besar menjadi 8 besar dan dari 8 besar menjadi juara 1.
Ibunya Widya sangat bersyukur dengan capaian anaknya yang luar biasa. Meraih juara satu untuk mahasiswa semester awal bukan hal mudah tapi anaknya mampu membuktikan bahwa itu bisa.
Widya yang semasa sekolah telah tamat buku Basic Grammar, Pre Intermediate Grammar, Intermediate Grammar standar internasional katya Betty Scrampfer Azar dan beberapa bagian TOEFL (Test of English as a Foreign Language) serta membaca buku beragam buku bahasa inggris seperti Decisive Moments, Indonesia’s Long Road to Democracy (Detik-Detik yang Menentukan. Jalan Panjang Indonesia menuju Demokrasi) karya B. J. Habibie, karya L. G. Alexander dan lainnya. Dengan aksen British English (Bahasa Inggris ala orang Inggris, bukan Amerika) mengekspresikan rasa senangnya dengan mengatakan:
Honestly, I still can’t fully believe it because winning first place against so many participants means a lot to me but I also feel like I wouldn’t have achieve all of this without your teachings and guidance for all this science. I learnt a lot from Rumah Belajar Bersama. Thank you very much.
Terjemahan bebas:
“Sejujurnya, saya masih belum sepenuhnya percaya karena memenangkan juara pertama melawan begitu banyak peserta sangatlah berarti bagiku. Namun, saya juga merasa tidak akan bisa mencapai semua ini tanpa ajaran dan bimbingan kalian dalam bidang sains. Saya telah belajar banyak dari Rumah Belajar Bersama. Terima kasih banyak.”
Daftar nama juara 1, 2 dan 3.
Karena Widya pelajar yang punya kemampuan di atas rata-rata, ia seringkali dipercaya oleh guru RBB untuk meng-handle para pelajar berbakat yang sedang berkembang. Sebelumnya, hal yang sama juga diberikan kepada sepupunya, Andi Junila yang kini telah malang melintang di berbagai macam negeri. Pelajar Andi Aufassaif Mallombassi Patwa, seorang alumni MAN Insan Cendekia Gorontalo, sekolah didirikan B. J. Habibie, yang sanggup belajar Inggris sekitar 11.30 jam sehari berpikir penting menghubungi Widya untuk menghadapi Ujian Tulis dan Lisan Tenses luar kepala. Widya berkenan dan Aufa pun lulus Basic Grammar di RBB. Beberapa kelas yang sudah cukup punya kapasitas bagus, kadang-kadang diberikan ke Widya sebagai pembelajaran micro teaching untuk membangun kepercayaan dirinya dan mental kepemimpinnya.
Widya yang telah memberikan penjelasan semacam micro teaching kepada Aufa kini mendengarkan penjelasan Aufa untuk mengetahui tingkat pemahamannya pada tenses luar kepala, 2025.
Untuk hal tersebut, mari kita dengar pendapatnya: What I gained during my time learning in RBB was not only about knowledge but also confidence and deeper understanding grammar especially. Honestly, all of you guys are the ones who taught me grammar until I was finally able to reach this point and achieve something like this. I am truly grateful for all the lessons and support you’ve given to me.
Terjemahan:
“Apa yang saya dapatkan selama belajar di RBB bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga rasa percaya diri dan pemahaman yang mendalam, khususnya mengenai grammar (tata bahasa). Sejujurnya, kalian semua yang mengajariku grammar hingga akhirnya saya bisa mencapai titik ini dan meraih prestasi seperti sekarang. Saya sungguh bersyukur atas semua pelajaran dan dukungan yang telah kalian berikan kepadaku.”
Cara Belajar Widya The Little Girl at the Window (Gadis Cilik di Jendela) buku mengkisahkan Totto Chan yang penuh rasa ingin tahu, bukan kaku. Jepang terkenal dengan konsep belajar disiplin dan tegas. Sayang sekali Totto Chan dengan pemikiran dan prilakunya yang mengeksplorasi dunia sekelilingya, ia suka berdiri di jendela memanggil pemusik datang ke kelas, bertanya pada burung saat belajar, membuka dan menutup laci membuat gurunya sangat jengkel, ia dianggap anak nakal padahal tidak.
Semua itu adalah ekspresi polos anak kecil yang tidak dapat diterima oleh sekolah di Jepang. Beruntung, ibunya menemukan sekolah baru dibuat dari gerbong kereta bekas. Sosaku Kobayashi, Kepala sekolah menyakinkan bahwa Totto Chan anak yang baik. Kisah nyata kehidupan Tetsuko Kuroyanagi, sang penulis buku, sangat terkenal dan bahkan dijadikan film animasi pada 2023.
Widya tidak pernah nakal di kelas, punya keceriaan belajar layaknya Totto Chan. Ia menemukan belajar Inggris untuk menyenangkan dan menarik. Tidak ada sekolah bekas rel kereta api, ia ke RBB. Tidak ada pertentangan sama sekali antara bermain dan belajar,. Seandainya ia punya ide kebebasan berekspresi seperti Totto Chan, itu sama sekali bukan masalah selama ia mampu mengerjakan tugasnya. Malahan, ia lebih banyak berimajinasi dan berkreasi pada soal soal yang ia pelajari. Kalau ia mendapatkan masalah, ia akan termenung sambil sesekali memegang pulpen hingga titik tertentu, ia mengatakan, “Kudapatmi”. Bila ditanya, ia akan menjelaskan dengan cara berpikirnya sendiri. Mengagumkan.
Guru yang memang memberikan penjelasan dan pertanyaan itu penting namun yang lebih penting adalah melatih dan memberikan kebebasan berpikir. Benar atau salah pada jawaban bukan soal utama. Bila pelajar salah, kesalahan tersebut dijadikan alat untuk menunjukkan jalan yang benar. Dan bila benar, itu sudah sesuai target yang kita inginkan sambil memperhatikan dasar argumentasi yang dibangun. Kehidupan dalam belajar merupakan proses untuk mengembangkan pola pikir.
Masa SD Widya di RBB juga suka banyak bermain. Di SMP, ia terlihat lebih banyak belajar dengan sedikit bermain dan saat SMA, ia menikmati pelajaran, tidak ada waktu bermain. Ia datang, duduk, mengerjakan latihan dan hampir tidak bergeser dari tempat duduknya hingga kelasnya selesai, 90 menit. Bila ia punya waktu luang, 02 sampai 2.30 jam fokus belajar dan bahkan lebih saat ada kegitan Kampung Belajar, ia sering masuk di pagi sore dan kadang kadang di malam hari dalam sehari.
Dari jam belajar yang padat itulah, Widya sudah mampu memahami teks inggris sehingga ia tidak merasa perlu untuk bertanya kecuali pada hal yang benar-benar yang sulit dimengerti. Cukup dengan penjelasan sekilas, ia kembali bekerja. Itulah ia mengapa guru RBB menyebut bahwa dirinya mengerti pelajaran grammar tingkat universitas karena apa yang guru ajarkan padanya itu adalah materi tingakt universitas.
Yang dahsyat lainnya adalah kemampuan belajar ototidak dari Widya. Ia banyak belajar dari rumahnya. Tiba-tiba ia pintar pengucapan ala British English tanpa pernah mendapatkan tanpa pernah ikut kelas pronunciation. Itu ia peroleh dari berselancar di internet. Guru di RBB yang mengerti aksen British English tahu bahwa apa yang disampaikan Widya bukan hanya benar tapi juga terdengar indah dengan intonasi yang khas. Dan karena grammar-nya sudah bagus, otomatis cara bicara tertata dengan baik. Itu keren.
Betapapun pilihan belajar Widya sebatas grammar saja, ia aktif juga ikut EPC (English Practice Club) yang isinya orang dewasa dari berbagai latar belakang. Pengalaman berharga pertamanya saat ia menjadi pembicara Gen-Z faces the Future di EPC ketika masih duduk di SMP, 2021. Anda bisa tebak bagaimana anak gadis remaja berjuang untuk berbicara di depan khalayak umum yang bukan seumurannya meskipun panelisnya Aufa, anak yang baru tamat SMP. Terlihat keduanya bisa berbicara fasih karena mereka terlebih dahulu mencari bahan bacaan berhubungan dengan tema dan berlatih praktek bicara. Andi Ayu Cahyani, Ketua EPC waktu itu, membuka ruang lebih luas kepada remaja yang kemudian anaknya Dzaki yang juga SMP bisa tampil juga di EPC.
Andi Widya Maulidyah dan Andi Aufassaif Mallombassi Patwa ketika masih pelajar sekolah menjadi pembicara di English Practice Club. Yang bertindak sebagai moderator adalah Mr. Umam, guru pesantren Babul Khaer Bulukumba. Foto pada 2021.
Seseorang yang naik kekuasaan tanpa perjuangan akan turun tanpa kehormatan, kata filsuf Aristoteles. Apa yang diperjuangkan Widya pada Grammar Competition di UNM hingga menjadi yang terbaik dari yang terbaik adalah proses belajar yang panjang, tidak instant. Dibalik semua itu, dibalik kesuksesan itu, ada orang tua bersama keluarga, pelajar itu sendiri dan lingkungan belajar yang tepat yang sesuai minat dan bakat untuk berkembang. Selebihnya adalah doa.
Andi Widya Maulidyah yang masih semester dua kini jadi juara 1 English Fair di UNM (Universitas Negeri Makassar), 2026. Sang ayah mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Rumah Belajar Bersama yang telah mendidik Widya Bahasa Inggris dalam jangka waktu yang panjang, sejak SD hingga jelang tamat SMA.
Sewaktu SMA, Widya pernah gagal lomba pidato. Saya heran, seolah tidak percaya dan menanyakan kepadanya. Ternyata Widya diam diam belajar otodidak British English. Pronunciation and Accent) (Pengucapan dan Aksen) sangat bagus tapi juri pada nga respon. Indonesia itu dominan ala American English, kebanyakan di medsos dan Film itu ngomong American. Bila cara bicara Widya tidak dimengerti orang kebanyakan, wajarlah tapi bukan berarti dia salah.
Insya Allah cara belajar Widya akan saya tulis dalam waktu dekat. Penulis sudah berusaha dari tadi tapi kepalaku masih agak pening. Thank you.