Penulis: Zulkarnain Patwa

  • Meniti Tiga Kekuatan Bahasa

    Meniti Tiga Kekuatan Bahasa

    Kesulitan mengkombinasikan pelajaran grammar and speaking (tata bahasa dan bicara) akhirnya terjawab. Bila pada pertemuan sebelumnya, anak-anak terlebih dahulu mendalami tenses–bagian dasar yang sulit dari tata bahasa—kemudian speaking, tenses dinikmati tetapi energi untuk speaking telah habis karena energi berpikir telah terkuras habis. Ketika speaking di awal, semua semangat. Grammar yang diletakkan di sesi kedua tetap menyenangkan.

    Kebutuhan manusia untuk berbicara memang lebih dahulu daripada memikirkan ilmu tata bahasa. Anak kecil bisa berbicara lancar jauh sebelum mengenal huruf, tulisan dan segala aturannya. Kenyataan yang tak terbantahkan ini yang sangat perlu diterapkan dalam pembelajaran bahasa.

    Penulis berpikir bahwa para pelajar yang sudah mengenal banyak kosakata terlebih sudah tahu percakapan sehari-hari dan telah dibiasakan membaca buku-buku berbahasa Inggris bisa diajak untuk mempelajari banyak hal dalam satu waktu. Uji coba yang dijelaskan di atas adalah catatan perjalanan proses belajar untuk mencari hal mana yang paling efektif didahulukan. Hasil sementara yang didapatkan adalah speaking, lalu grammar. Istilah sementara dipakai karena siapa tahu di kemudian hari ada penemuan yang lebih menarik. Lagi pula, ini baru satu contoh kasus yang belum dibandingkan dengan yang lainnya.

    Kepedulian untuk menguatkan kemampuan berbahasa Inggris kepada para pelajar tak lepas dari pengalaman pribadi. Sejak kecil, berumur sekitar sembilan tahun, penulis sudah berbahasa Inggris dengan almarhum ayah, Drs. H. Patiroi, yang sering mengajak penulis ke Pantai Bira untuk berenang dan berkomunikasi dengan orang asing. Kadang-kadang orang barat itu diajak datang ke rumah. Literatur ayah dalam bahasa Inggris dan Arab juga banyak di mana penulis menikmatinya di waktu senggang.

    Masalah yang tidak terselesaikan adalah grammar. Ternyata, itu sangat berguna dalam dunia akademis. Semasa mahasiswa, penulis pernah terhalang masuk kelas internasional hanya karena tidak bisa menulis dengan benar, tata bahasa kacau. Solusinya, penulis berguru ke Kampung Inggris di Pare, Jawa Timur selama satu setengah tahun.

    Dari pengalaman berharga itu, penulis menginginkan kesadaran tentang grammar sangat penting ditanamkan sejak anak-anak. Tiga kekuatan utama terletak pada speaking, reading, and grammar (berbicara, bacaan, dan tata bahasa) dapat tumbuh secara beriringan, bukan saling menyalahkan. Di kalangan pelajar bahasa Inggris, isu yang sering muncul, grammar tidak penting, yang penting adalah paham apa yang dibicarakan. Sebaliknya, grammarian (penganut grammar) juga membalas, orang yang terbiasa speaking tetapi tidak tahu grammar, bicaranya terbalik-balik. Padahal, semuanya penting, tergantung kebutuhan masing-masing. Sedangkan reading yang berhubungan dengan pengembangan wawasan, jarang kena hujatan.

    Satu hal yang hampir terlupakan adalah writing (menulis). Pelajar yang aktif dalam dunia writing membutuhkan kekayaan kosakata dan grammar—hal yang mutlak—membuat tulisan diterima secara universal betapapun di setiap daerah atau negara menggunakan aksen bicara yang berbeda.

    Sungguh sangat elok jika pelajar kita sanggup semuanya. Sederhananya, bila bahasa Inggris dibagi menjadi dua yaitu formal dan non-formal, maka pelajar yang memenuhi syarat di atas bisa mencapai semuanya.

    Pekerjaan mengombinasikan pelajaran bahasa Inggris itu memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa. Sumber daya manusia yang handal yang mau berpikir dan bekerja ekstra adalah pilihan yang tepat mengerjakan tugas ini. Mereka inilah yang mampu menyesuaikan teori yang tidak sesuai dengan fakta dan bahkan mencari solusi yang baru dari persoalan kesulitan pelajar berbahasa Inggris.

    Apakah kita bagian dari solusi atau masalah?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, 7 Agustus 2026

  • Kertas Sakti

    Kertas Sakti

    Tidak pernah terbayangkan sebelumnya di mana sebuah kelas belajar di malam hari terkondisikan untuk mau memahami tenses di luar kepala. Pertama, semua peserta anak SD. Kedua, jadwal anak-anak itu sangat padat. Pagi sampai siang, mereka pergi ke sekolah dan siang sampai sore jelang Maghrib mengaji. Di malam hari, kami bertemu mereka. Mereka mau main-main saja karena capek belajar. Ketiga, mengingat alasan kedua itu, pelajaran yang diberikan kepada mereka tidak sepadat dengan pelajar di kelas sore.

    Alasan mengapa mereka betah belajar karena anak-anak ini diberikan kebebasan berpendapat. Usulannya didengarkan dan dimusyawarahkan bersama. Tidak ada perasaan tertekan. Tekanan hanya diberikan bila melanggar kesepakatan yang telah dibuat. Misalnya, mereka yang tidak memperhatikan pelajaran di waktu jam belajar mendapatkan teguran. Guru pun membuat cara agar semangat belajar lebih tinggi dengan jalan berjanji memberikan jam keluar main lebih banyak bila semua perhatian pada pelajaran. Mereka bersorak bergembira. Teguran kepada para pelajar malas bukan lagi datang dari guru, melainkan dari sesama rekan pelajar. “Jangan begitu (baca: malas). Nanti jam keluar main kita lebih sedikit,” ungkap anak-anak mengingatkan rekannya.

    Lantas, dari mana spirit menguasai tenses itu tumbuh? Beberapa anak-anak yang sangat tekun belajar terlebih dahulu dilatih. Setelah sukses, mereka menjadi contoh bagi yang lainnya. “Tenses itu susah, mister,” seorang anak bernama Audrey mengeluh. “Ya? Itu teman-teman bermainmu bisa. Kalau mereka bisa, masa kamu tidak bisa? Mau tidak lebih pintar?” balas guru. “Iya ya. Maulah pintar, Mister,” Audrey merespons. Pelajar yang lain yang mempunyai keluhan yang sama juga mendapatkan motivasi untuk mau berusaha lebih giat mengubah keluhan mereka menjadi tekad. Berlakulah, where there is a will, there is a way (di mana ada kemauan, di situ ada jalan).

    Niat untuk berlomba-lomba menguasai tenses semakin tumbuh ketika selembar “kertas sakti” dipasang di papan pengumuman. Lembaran itu berisi nama-nama pelajar disertai dengan 16 kotak kosong yang diisi dengan tanda centang (✓) dari tiap setoran tenses yang telah selesai. Mereka bisa mengukur capaian dirinya dan berusaha untuk bisa menyetor lebih banyak.

    Hal yang berkesan adalah tanda centang itu diisi oleh pelajar itu sendiri. Mereka sebenarnya bisa mencentang lebih banyak dari apa yang mereka setor demi terkesan lebih pintar tapi itu tidak dilakukan. Guru sengaja memberikan kepercayaan demikian untuk membiasakan berperilaku jujur. Lagi pula, pada dasarnya anak-anak itu prilakunya jujur. Kejujuran itulah menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri, tidak membohongi diri sendiri.

    Patut diingat, setoran tenses itu per individu. Anak-anak yang lain harus antre menunggu, membosankan. Agar lebih aktif, tiap anak yang mempunyai setoran tenses lebih banyak berhak menguji rekannya, sedangkan yang tidak ingin menguji membantu cara menguasai segala perubahan kalimat dalam satu tense. Waktu berjalan efektif, tidak terbuang percuma. Guru dapat mendidik pelajar yang lain yang tidak bisa di-handle oleh teman sebayanya. Kelas ini terlihat sangat hidup meskipun dalam setiap kelompok kecil yang dibuat secara natural itu mempunyai tingkatan yang berbeda-beda, tetapi dapat dirangkum hanya dalam satu kelas.

    Di balik kesuksesan model belajar ini, ada juga kelemahannya. Berdasarkan fakta yang ditemukan, anak-anak telah menguras sebagian besar energinya untuk menyetor satu, dua dan bahkan tiga tenses: tergantung dari kemampuannya. Setelah itu, mereka keluar main, bermain sepuasnya melepaskan kepenatan berpikir. Saat mereka kembali diajak belajar, guru memberikan pelajaran ringan dalam bentuk bahan percakapan, speaking. Biasanya, itu dimulai dengan membaca bersama-sama bahan percakapan itu untuk memperbaiki pengucapan. Pada tahap ini, suara anak-anak lebih rendah. Ketika mereka berdialog secara berpasangan, mayoritas sudah tidak bisa fokus lagi. Otak dan fisiknya benar-benar lelah dan butuh istirahat.

    Menghadapi kondisi itu, guru berkata, “Baiklah anak-anak. Waktu belajar kalian tinggal lima menit. Kalian boleh pulang.” Anak-anak sangat bergembira, “Hore”. Suara riuh itu layaknya low battery pada handphone yang telah di-charge penuh. “Bagi anak-anak yang mau tinggal sejenak, bisa melanjutkan pelajaran yang disukai hingga jam belajar berakhir.”

    Sebelumnya, proses belajarnya dalam bentuk reading aloud (membaca dengan suara nyaring), kemudian diikuti dengan tenses. Reading sukses, tenses tidak sukses. Sekarang, tenses diikuti dengan percakapan. Tenses kemungkinan besar sukses, percakapan tidak sukses. Pertemuan berikutnya guru akan mencoba membalik, percakapan yang kemudian diikuti tenses. Kreativitas mencari model belajar untuk anak 7 sampai 10 tahun ini akan terus dicari hingga mereka bisa minimal tiga hal: Reading, grammar, and conversation or speaking (Membaca, tata bahasa, dan percakapan atau berbicara).

    Sekarang, kita bisa membayangkan cara belajar yang lebih membumi. Kesuksesan menanamkan pengetahuan berbahasa Inggris kepada anak sejak usia dini ini tidak sekadar mengandalkan ilmu pengetahuan yang dikreasikan, tetapi juga imajinasi untuk membuat sesuatu hal yang terbarukan.

    Terakhir, apakah pendidikan formal di sekolah kita di Indonesia juga mempunyai “surat sakti” yang jujur dan real (nyata) untuk membuktikan efektivitas pada penerapan kewajiban belajar bahasa Inggris sejak kelas 3 SD?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 6 Agustus 2026

  • Mendobrak Malu Belajar demi Kuliah ke Cina

    Mendobrak Malu Belajar demi Kuliah ke Cina

    Seorang pemudi tamatan SMA tertarik belajar bahasa Inggris. Ia mencari informasi di media sosial, menemukan Rumah Belajar Bersama (RBB) mengadakan kegiatan belajar selama liburan sekolah, satu bulan. Kontan saja ini menarik perhatian karena jarang ada muda-mudi yang mau belajar bahasa Inggris. Alasan paling umum, malu.

    “Saya mau kuliah di Cina,” kata Novi Amelia. Ide yang cukup berani. Para guru mengira Novi ingin lanjut kuliah di Indonesia. “Baiklah,” kata guru, “Kampung Belajar yang kamu pilih ini menyediakan sembilan jam sehari,” kata seorang guru RBB, “kita bisa lihat nanti sejauh mana capaianmu menyelesaikan materi dasar. Bila kamu cepat memahami, kami para guru bisa membuatnya lebih cepat lagi.” Novi menganggukkan kepala sebagai tanda menyanggupi ajakan itu.

    Hari-hari belajar berlalu dengan baik. Novi memang cukup rajin datang ke kelas, menyimak pelajaran dengan baik dan praktik bicara. Sayangnya, kondisi fisiknya yang kadang kurang fit membuatnya sesekali tidak hadir di kelas. Sekali waktu ia berkata, “Apakah saya bisa ke luar negeri?” Pertanyaan itu ia ajukan pada dirinya sendiri, namun dengan suara agak nyaring. Penulis menanggapi, “Sangat bisa. Pertahankan dan kalau perlu, tingkatkan semangat dan kualitas belajarmu. Kamu masih muda dan mempunyai banyak waktu. Cita-cita yang tinggi itu harus diikuti dengan belajar ekstra giat.” Ia kembali menganggukkan kepala.

    Novi menyelesaikan pelajarannya di Kampung Belajar dengan kualitas sedang. Ia pun mengambil jeda istirahat, sekitar hampir satu bulan. Tiba-tiba, ia kembali lagi belajar di RBB mendaftar dua kelas: Reading and Grammar (Bacaan dan Tata Bahasa). Kehadirannya di kelas jauh lebih efektif dari sebelumnya. Tingkat fokus belajarnya pun jauh lebih baik, aktif mengerjakan latihan Grammar dan Reading serta rajin tampil di depan video live (siaran langsung) untuk menerangkan hasil kerjanya dalam bahasa Inggris. Mr. Fajar Hamzah, guru kelas Reading, mengapresiasi usahanya itu dengan memberikan bonus kelas tambahan di malam hari. Ia bebas memilih materi yang ia suka.

    Saat penulis sesekali memperhatikan kelas malam, Novi sering mengerjakan latihan pada buku Grammar-nya. Pilihannya itu sangat sejalan dengan dunia akademik yang menjadi cita-citanya. Tidak lama lagi, ia akan menamatkan Basic English Grammar—lebih dari sepuluh bab ia telah tuntaskan dari enam belas bab. Kecepatannya dalam mengerjakan latihan didukung oleh pemahamannya yang sudah lumayan baik pada latihan tenses di luar kepala. Ia tidak begitu kebingungan lagi menganalisis perubahan kalimat tingkat dasar.

    Sementara itu, buku Reading yang ia pelajari itu sudah hampir tamat. Buku itu memang tidak terlalu tebal, mungkin seperempat dari Basic English Grammar. Namun, pada tiap lesson (pelajaran), Novi dituntut untuk memahami arti bacaan cerita karena ia harus mampu menjawab isi dari soal-soal cerita tersebut yang sesuai kaidah grammar. Di sini, literasi berbahasa Inggris tertanam dengan baik.

    Prediksinya, dalam satu atau dua minggu, Novi bisa menamatkan buku Reading. Ini karena ia sudah punya cukup bekal grammar untuk bisa menjawab soal-soal, tanpa harus banyak bertanya lagi. Bila ia tidak berhenti, ia berhak lanjut ke tahap Pre-Intermediate Reading. Prediksi penulis tidak sepenuhnya dibenarkan oleh Mr. Fajar Hamzah. “Kalau Novi tidak datang terlambat ke kelas, itu bisa,” kata Mr. Fajar, “Pada beberapa pertemuan terakhir ini, ia agak telat karena ada urusan penting lainnya yang harus ia selesaikan.”

    Sementara itu, buku Basic English Grammar membutuhkan waktu sedikit lebih lama, satu bulan karena selain jumlah soalnya yang sangat banyak, kemampuan untuk menganalisis soal pada bab yang baru membutuhkan waktu dan energi lebih. Otak benar-benar diperas untuk mampu membaca tipuan atau jebakan soal. Namun, ini bukan persoalan. Justru, pelajaran ini akan membuatnya lebih matang bila ke depan, ia bertemu dengan materi tingkat tinggi seperti TOEFL dan IELTS.

    Terlepas berhasil atau tidaknya dari proses belajar Novi untuk kuliah di luar negeri—semoga saja berhasil—ia telah menjadikan dirinya sendiri sebagai contoh, pemudi yang tidak hanya berkhayal, tetapi juga berusaha mewujudkan cita-cita yang tinggi. Selama ia belajar, ia sama sekali tidak malu untuk bertanya kepada pelajar yang lebih muda darinya, terlebih kepada pelajar yang lebih dewasa dan itu adalah tanda-tanda kesuksesan bagi penuntut ilmu.

    Zulkarnain Patwa
    Rabu, 5 Agustus 2026

  • Menolak Omong Kosong Kesuksesan di Atas Kertas

    Menolak Omong Kosong Kesuksesan di Atas Kertas

    Izzatunnisa dan Nabila dua orang pelajar kelas 4 SD baru saja (03/08/2026) membuktikan kefasihannya mendemonstrasikan seluruh struktur perubahan verbal tenses di luar kepala secara teratur. Seberapa besar kalkulasi matematis capaian mereka?

    Bayangkan saja, ada 16 tenses.
    Dalam setiap tense, terdapat 6 perubahan kalimat dengan satu subjek, kecuali subjek “I” hanya 4 perubahan kalimat karena pada present progressive tense, “I am not” dan “Am I not” tidak punya singkatan sehingga itu dihitung 4 perubahan kalimat saja meliputi kalimat positif, pertanyaan, negatif, dan pertanyaan negatif.

    Subjek yang mereka praktikkan pada tiap tenses sebanyak 10: I, you, they, we, He (Adam), She (Hawa), dan It (A cat). Itu berarti:

    * 1 subjek, 6 perubahan kalimat.
    Keterangan:
    1 kalimat pada positif.
    2 kalimat pada negatif.
    1 kalimat pada pertanyaan positif.
    2 kalimat pada pertanyaan negatif.
    Total = 6 kalimat.

    * 10 subjek, 60 perubahan kalimat dalam satu kotak tense.
    * 16 kotak tenses, 960 perubahan kalimat.

    60 x 16 = 960.
    960 – 2 = 958. Pengurangan 2 itu bersumber dari “I am not going? and Am I not going?“, tidak bisa dihitung 6, tetapi 4.
    Total seluruh kalimat tenses = 958

    958 kalimat itulah diucapkan tanpa melihat buku catatan, live (siaran langsung) di akun Facebook Rumah Belajar Bersama (RBB).

    Izzatunnisa. Pelajar ini pada awalnya belajar bahasa Inggris “suka-suka” saja. Ia termasuk anak yang tidak mau menjawab soal-soal pada bacaan berbahasa Inggris. Melihat teman-temannya bertambah lancar, tiba-tiba ia mengatakan, “saya mau menguasai tenses.” Niatnya itu kini terbukti. Hanya dalam dua minggu, ia menuntaskannya. Semoga spirit belajarnya semakin meningkat.

    Langkah berikutnya adalah menguasai tenses tersebut secara acak. 958 kalimat akan ditanyakan ulang menggunakan kalimat yang berbeda-beda pula. Inilah saatnya di mana setoran irregular verbs (kata kerja yang tidak beraturan) yang mereka telah pelajari sebelumnya berfungsi. Mereka akan menemukan jawaban mengapa terjadi perubahan verb 1, 2, dan 3 dalam bahasa Inggris, tetapi tidak dalam bahasa Indonesia.

    Pelajaran dasar lainnya, Izzatunnisa dan Nabila diwajibkan juga menyetor nominal tenses—ordinary verb (kata kerja utama) menggunakan be—yang prosesnya sama sewaktu mereka belajar verbal tenses. Meskipun nominal tense jauh lebih mudah, materi ini tidak bisa dipandang sebelah mata karena itu adalah pembandingnya verbal tenses. Bila pelajar tidak mampu membedakan dasar-dasar verbal tenses vs nominal tense, mereka dianggap masih belum mengerti tenses dengan baik.

    Nabila. Anak ini cerdas, cepat memahami pelajaran,.namun seperti halnya kebanyakan anak-anak, ia ingin lebih banyak bermain. Dalam beberapa waktu terakhir, ia diingatkan bahwa potensi kecerdasannya sangat besa. Sayang sekali bila ia sendiri sengaja memperlambatnya. Perubahan kemudian terjadi dengan dengan meminta untuk selalu di-video terutama pada setoran tenses. Akhirnya, ia pun tuntas.

    Metode belajar ini memang sungguh berbeda, tidak lazim. Jangankan institusi formal seperti sekolah, lembaga nonformal seperti kursus jarang yang berani menerapkannya. Permasalahannya terletak pada konsep waktu dan kejadian pada kalimat dari tata bahasa Indonesia sangat jauh berbeda dengan bahasa Inggris. Selain itu, dalam frasa semisal noun phrase (frasa benda), struktur sintaksis bahasa menganut pola DM (Diterangkan-Menerangkan), sementara Inggris menganut pola MD (Menerangkan-Diterangkan).

    Indonesia
    Wanita (D) + Cantik (M) = Wanita Cantik.

    Inggris
    Beautiful (M) + Girl (D) = Beautiful girl.

    Frasa yang berada dalam kalimat dalam bahasa Inggris dianggap terbolak-balik dalam pikiran pelajar Indonesia. Lebih parah lagi pada verb (kata kerja). Indonesia tidak mengalami perubahan pada kata “pergi”, tetapi bahasa Inggris berubah menjadi “to go, go, goes, went, gone, going“.

    Bahasa Indonesia:
    Saya pergi ke sekolah setiap hari.
    Saya pergi ke sekolah kemarin.

    Di sini, “pergi” tidak mengalami perubahan.

    Bahasa Inggris:
    I go to school every day.
    I went to school yesterday.

    Di sini, “go” berubah menjadi “went“. Bahasa Inggris mengalami banyak perubahan kata kerja.

    Demikian sekilas kerumitan sederhana yang ditampilkan di sini. Wajar saja jika sebagian besar orang yang tidak mengerti alur berpikir seperti ini menganggap itu tidak penting, bikin pusing kepala. Padahal, bahasa besar lainnya seperti bahasa Arab juga mengalami perubahan yang mirip dan bahkan lebih kompleks daripada bahasa Inggris.

    Mengingat beratnya tantangan linguistik tersebut, di Indonesia sendiri lembaga seperti SMART, BEC, dan ELFAST di Kampung Inggris Pare di Jawa Timur yang mempunyai kapasitas mumpuni bersedia menerapkannya. Perbedaannya, para pelajar mereka dominan remaja dan dewasa yang ingin bekerja atau kuliah S-1, S-2, dan S-3 di dalam dan luar negeri, bukan anak SD sebagaimana yang di RBB.

    Lalu, apa keistimewaan tenses di luar kepala ini? Pertama, para pelajar akan terbiasa menggunakan kalimat yang benar saat berinteraksi dengan orang lain. Kedua, membaca teks dalam bahasa Inggris akan lebih mudah dipahami. Ketiga, mampu menjawab soal-soal esai. Pembelajaran untuk tujuan akademis dan non-akademis tercapai.

    Let’s make a better place for our next generation.

    Kesiapan pencapaian akademis inilah yang menjadi modal utama bagi para pelajar SD RBB termotivasi menguasai tenses. Mereka bersiap menghadapi tantangan besar, mengikuti Olimpiade Bahasa Inggris. Bercermin dari realitas, para pelajar yang diberikan pelatihan olimpiade adalah mereka yang telah menguasai tenses. Hal ini sengaja dibuat demikian agar terdapat alasan untuk mau belajar lebih giat. Tentu saja, bagi pelajar yang berminat dan memenuhi syarat yang ditetapkan, mereka tentu akan mendapatkan pelatihan olimpiade. Tetapi, makna yang sebenarnya yang hendak dibangun adalah penguasaan dasar-dasar bahasa Inggris sebagai kunci utama untuk bisa melejit, berkembang dengan sangat pesat sehingga pengetahuan mereka bisa digunakan untuk kepentingan olimpiade dan berbagai macam kebutuhan lainnya yang berhubungan dengan cita-cita pelajar itu sendiri. Pekerjaan ini memang ekstra, namun setelahnya, percepatan pencerdasan lebih mudah tercapai. Kesulitan pelajaran pada materi tingkat lanjut akan tampak lebih sederhana di mata para pelajar.

    Manifestasi nyata dari kemudahan memahami materi ini langsung diterapkan pada aspek penting berikutnya, yaitu speaking (bicara). Para pelajar ini perlu diajak saling bercakap-cakap secara berpasangan. Izzatunnisa dan Nabila telah menamatkan satu buku Basic Reading (Bacaan Dasar) secara otomatis mempunyai perbendaharaan kosakata yang cukup banyak. Kosakata yang mereka miliki itu yang akan diolah dalam bentuk dialog untuk memudahkannya memahami makna dan arah pembicaraan. Bahan percakapan lain dengan mengikutkan kosakata yang baru pasti ikut serta—pengembangan lain pun harus terus berjalan.

    Dari proses belajar yang baik dari kedua anak berbakat ini, kecerdasan mereka tidak boleh dinikmati sendiri, menang sendiri. Bila dibiarkan, tanpa sadar kita telah menanamkan paham individualisme, egoisme menang sendiri kepada anak-anak kita yang itu bertentangan dengan ajaran agama khususnya Islam dan negara kita menganut yang paham “keadilan sosial” yang tertera jelas pada sila kelima di Pancasila.

    Oleh karena itu, tiap anak yang telah berhasil mencapai kemampuan di atas rata-rata dari rekan sesama pelajarnya dilatih untuk mengamalkan ilmunya minimal kepada rekan-rekan terdekatnya. Konsep peer tutoring (belajar sebaya) ini menciptakan keseimbangan pemahaman dalam kelas belajar, tidak menciptakan jurang pemisah yang menganga lebar antara pelajar yang bodoh dan pintar. Semuanya berlatih untuk pintar. Sistem kerja sama di kelas inilah yang menghapus kesenjangan. Lagi pula, pelajar yang mendapatkan kepercayaan untuk berbagi ilmu, ilmunya pasti bertambah, tidak pernah berkurang sedikit pun.

    Berangkat dari contoh kecil dari keberhasilan Izzatunnisa dan Nabila yang masih SD itu, apakah kita mau lebih berani dan lebih siap melakukan terobosan yang lebih besar? Apakah omong kosong kesuksesan di laporan lembaran kertas akan terus dipertahankan? Apakah kita bersedia berkorban mengerahkan seluruh potensi kecerdasan dan tenaga untuk masa depan generasi yang lebih baik?

    Zulkarnain Patwa

    Bulukumba, Selasa, 4 Agustus 2026

  • Khayalan yang Masuk Akal

    Khayalan yang Masuk Akal

    Conditional sentences (kalimat pengandaian) biasa penulis sebut dengan kalimat mengkhayal. Namanya juga khayalan: pasti bertentangan dengan realitas. Biarpun kalimat dibolak-balik, faktanya bukan pada kalimat tersebut. Itu karena kemasukan satu kata: if (jika).

    Pada grammar, kalimat mengkhayal itu berada dalam pembahasan adverbial clause (klausa keterangan), tergolong materi intermediate. Merujuk literatur Betty Schrampfer Azar dan Marcella Frank, guru dan ahli tata bahasa Inggris, mereka menjelaskan materi ini setelah menuntaskan materi adjective clause (klausa sifat) dan noun clause (klausa benda). Kemungkinan besar, ini karena begitu luasnya cakupan adverbial clause sehingga kalimat mengkhayal tersebut ditaruh pada bagian akhir dan untuk menghindari kerumitan berpikir bagi pelajar asing yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris.

    Apakah adverbial clause bisa diajarkan tanpa terlebih dahulu mengenal adjective clause dan noun clause? Pertanyaan ini hadir setelah penulis memperhatikan soal-soal olimpiade bahasa Inggris yang menghadirkan “kalimat mengkhayal” tipe 1.

    Untuk lebih aplikatif, dua orang peraih emas pada olimpiade SD bernama Adeeva, kelas 5 SD, dan Faika, kelas 4 SD, diajak “mengkhayal”. Mereka diminta membuat dua kalimat yang mereka suka. Sebuah contoh kita hadirkan di sini.

    Saya menjadi seorang dokter. Saya akan menolong banyak orang. (I become a doctor. I will help many people.)

    Kemudian, mereka diminta memasukkan conjunction (kata sambung) “if” (jika) di awal kalimat–menggabungkan kedua kalimat di atas menjadi satu. Terbentuklah: If I become a doctor, I will help many people. (Jika saya menjadi seorang dokter, saya akan menolong banyak orang.)

    Lalu, mereka membalik kalimat. I will help many people if I become a doctor. (Saya akan menolong banyak orang jika saya menjadi seorang dokter.)

    Luar biasa! Kedua anak itu dapat melakukannya dengan sangat mudah. Faktanya, itu berada di masa yang akan datang: belum terjadi atau belum menjadi dokter. Itulah yang disebut kalimat mengkhayal tipe 1 yang hadir dalam olimpiade SD.

    Bagaimana dengan tipe 2 dan 3 serta mixed 1 and 2 (campuran 1 dan 2)? Semua bisa saja diajarkan karena itu dapat diajarkan melalui pendekatan tenses yang telah mereka kuasai di luar kepala. Namun, penulis berpikir untuk tidak membuat anak-anak kesulitan mencari fakta pada kalimat. Pada akhirnya, tipe 2 dan 3 dipelajari bersama.

    Penulis terlebih dahulu me-review, “Jika simple present bertemu dengan simple future, maka simple past bertemu dengan apa?” tanya penulis.

    Mereka menjawab, “Kalau simple past, itu bertemu dengan simple past future, lah,” jawab mereka dengan santai.

    Soal ini hanya boleh diberikan pada pelajar yang paham struktur tenses. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, kedua anak ini telah mengerti. Terlebih, kotak kosong tenses ditaruh di hadapan mereka agar “khayalan” mereka masuk akal.

    Khayalan kok masuk akal? Maksudnya, sesuai dengan kaidah tata-bahasa.

    Pembahasan pun terus berjalan. “Kalau begitu, silakan tindak lanjuti dengan membuat kalimatnya. Itu disebut kalimat mengkhayal tipe 2,” kata penulis.

    Adeeva dan Faika saling menanyakan kata kerja kedua dari “become.” Mereka sepakat menyebut “became”. Mereka membaca verb 2 (kata kerja kedua) itu dengan sebutan “bikam”, tidak ada bedanya dengan become di verb 1. Penulis membantu (pronunciation) pengucapan, “Verb 1 dibaca ‘bɪˈkʌm, lidah Indonesia, bikam’ dan verb 2 dibaca ‘bɪˈkeɪm, lidah Indonesia, bikeim’.” Ini penting untuk bahan percakapan, bukan hanya pandai jawab soal tulisan.

    Berikut ini kalimat yang berhasil mereka pikirkan.

    Type 2
    If I became a doctor, I would help many people; or, I would help many people if I became a doctor.
    (Jika saya menjadi seorang dokter, saya akan menolong banyak orang; atau, saya akan menolong banyak orang jika saya menjadi dokter.)

    Dalam bahasa Indonesia, tipe 1 dan 2 terlihat sama saja: tidak ada perubahan kata. Dalam bahasa Inggris, terdapat perubahan kata di mana “become” menjadi “became” dan “will” menjadi “would”. Artinya waktu dan kejadiannya berubah ke masa past (lampau); fakta ke present (saat ini).

    Untuk lebih sederhana, sewaktu Adeeva dan Faika masih di kelas 2 SD, mereka bukan dokter. Saat ini, mereka bukan kelas 2, tetapi kelas 4 dan 5 SD. Jadi, faktanya, saat ini keduanya bukan dokter.

    Pengantar tipe 2 yang ringan diterima otak anak-anak ini lebih baik dilanjutkan ke tipe 3. Logikanya pun sama.

    Penulis memberikan pancingan, “Ingat tipe 2 tadi. Jika ada kalimat past, kalimat yang mengikutinya pasti past juga. Buktinya adalah simple past bertemu dengan simple past future.” Penulis menghela napas sejenak untuk memberikan ruang berpikir.

    “Pertanyaannya sekarang: jika past perfect, itu bertemu dengan past apa?” tanya penulis.

    Anak-anak langsung menatap kotak kosong tenses-nya dan menyadari pasangannya pasti berada di kotak perfect juga. Hanya ada satu past yang tersisa setelah past perfect disebut. Dengan enteng mereka menjawab, “Tentu past future perfect”.

    Penulis membenarkan. Itulah yang disebut tipe 3.

    “Sekarang, kalian buat kalimatnya. Perfect menggunakan verb 3,” kata penulis tanpa perlu lagi menjelaskan rumus. Mereka tahu perubahan become-became-become (menjadi) dan help-help-helped (menolong).

    Dengan santai mereka menjawab, “If I had become a doctor, I would have helped many people; or, I would have helped many people if I had become a doctor.” (Jika saya [dulu] sudah menjadi seorang dokter, saya akan sudah menolong banyak orang.)

    Kalimat ini sedikit membingungkan dalam bahasa Indonesia, tetapi tidak usah khawatir karena penjelasan mengikuti. Simple past adalah kejadian masa lampau yang sederhana, sedangkan past perfect adalah kejadian yang lebih lampau dari simple past.

    Jika analoginya pada Adeeva dan Faika, saat ini mereka kelas 5 dan 4 SD. Bagi mereka, masa kelas 2 SD adalah simple past (masa lampau), sedangkan masa TK adalah past perfect (lebih lampau lagi).

    Ketika mereka masih kelas 2 SD, itu adalah simple past. Nah, kejadian lebih lampaunya adalah sewaktu mereka masih TK. Itulah past perfect. Faktanya, berada di simple past atau saat mereka masih kelas 2 SD bukan saat ini di mana mereka sudah tidak kelas 2 SD lagi.

    Nah, kalimat tipe 3 ini mengkhayalkan andai saja status “sudah menjadi dokter” itu sudah terjadi sejak TK (past perfect), maka dampaknya mereka sudah menolong banyak orang sepanjang masa lalu mereka, termasuk saat mereka kelas 2 SD.

    Lalu, bagaimana dengan faktanya? Faktanya ditarik ke seluruh realitas masa lalu mereka (simple past): nyatanya, sejak TK sampai kelas 2 SD dulu, mereka bukanlah dokter, melainkan anak-anak sekolah biasa. Karena faktanya di masa lalu mereka bukan dokter, maka khayalan tipe 3 ini murni penyesalan atau pengandaian atas masa lalu yang sudah selesai dan tidak bisa diubah lagi.

    Jadi, kalimat tipe 1, 2, dan 3 itu bukan kejadian sebenarnya, melainkan murni khayalan saja. Penulis sengaja menunda materi mixed 1 dan 2 karena masih perlu waktu untuk memastikan bahwa struktur kalimat yang mereka telah berhasil buat tersebut harus diikuti dengan pemahaman makna yang utuh. Mereka tahu gambaran umum, tetapi belum paham makna secara detail. Lagi pula, beberapa variasi kalimat conditional belum dijelaskan. Bila mereka mahir jebakan soal atau pemahamannya matang, materi mixed–terus terang sangat rumit dipahamkan pada anak SD–itu pasti akan jauh lebih mudah diajarkan bila makna dari tipe 1, 2, dan 3 tuntas.

    Beginilah realitas kalimat mengkhayal. Apakah Anda ingin menuntaskan realitas yang dikhayalkan, atau mengkhayalkan realitas?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 3 Agustus 2026

  • Logika Cerdas Mengolah Kata

    Logika Cerdas Mengolah Kata

    Mengenal kosakata itu mudah, tetapi mengenalkan kelas kata pada kosakata tidak mudah. Kenapa? Orang Indonesia bisa berbicara Bahasa Indonesia dengan lancar tanpa perlu kelas kata. Persoalannya, ketika bahasa masuk dalam pembelajaran akademis, menyusun kalimat dengan benar akan menjadi masalah yang besar.

    Bahasa Indonesia dan Inggris mempunyai kesamaan, menggunakan huruf latin. Istilah kelas kata (parts of speech) pada satu kata masih sangat mirip, bisa dicocokkan betapapun pengembangannya sangat berbeda. Memanfaatkan kesamaan tersebut, Miss Fathy Cayadi pada kelas bahasa Inggris di Rumah Belajar Bersama (RBB) Tanete mengenalkan a student sebagai noun (kata benda), smart sebagai adjective (kata sifat), and there sebagai adverb (kata keterangan) yang umum dipakai sebagai pengatur untuk memperkuat pemahaman nominal tense (kalimat nomina). Kata kerja utamanya adalah Be: am, is, are untuk kalimat present dan was, were untuk kalimat past (lampau) biasanya diikuti oleh noun, adjective, and adverb.

    Pada penggunaan am, is, are di kalimat present, para pelajar sudah cukup akrab mengenalnya melalui game, praktik lisan dan bacaan. Hal yang sama pun kini diberlakukan pada was dan were di simple past. Fajar Hamzah yang berkesempatan hadir di RBB Tanete memberikan contoh sederhana:

    (+) I was there.
    (+) You were a student.
    (+) He was smart.

    Subjek yang dipakai pada kalimat adalah I, you, they, we, He (Adam), She (Hawa), dan It (A dog). Cakupannya meliputi kalimat positive, positive interrogative, negative, and negative interrogative.
    Dari sini, kita dapat membaca, dalam satu kalimat, terdapat empat perubahan. Karena terdapat sepuluh subjek, perubahan minimal empat puluh kalimat. Jika diacak, itu tentu akan jauh lebih banyak.

    Selanjutnya, mari kita ikuti ungkapan pepatah Arab: sekali ditulis seribu kali diulang. Dari segi jumlah, perubahan contoh di atas terlihat banyak. Ini bukan kelemahan melainkan keunggulan. Kuantitas yang banyak memungkinkan kualitas yang lebih baik. Para pelajar lebih banyak melakukan praktik pengulangan kalimat. Proses perulangan yang mempunyai banyak variasi kalimat meringankan otak untuk lebih mudah memahami.

    Patut diingat, karena begitu pentingnya materi ini dan agar selalu mudah diingat, metode oral exercise (latihan lisan) sebelum para pelajar pulang, mereka diwajibkan menyetor simple present dan tambahan satu hal, lawan kata dari adjective. Misalnya, hot vs cold, beautiful vs ugly dan old vs new untuk memperkaya perbendaharaan kata dan dapat digunakan pada kalimat nominal. Mr. Ancha menangkap kesan bahwa hal ini menumbuhkan keberanian berbicara sedikit lebihnya banyak, tidak terpaku pada hafalan rumus tense, betapapun rumus merupakan bagian dari cara memudahkan pembelajaran.

    Kekayaan pembelajaran ini terus berjalan. Selingan listening to a dialogue (menyimak percakapan). Ini adalah rekaman suara yang mengasah ketajaman telinga mendengarkan percakapan tanpa teks. Rekaman suara dari native speaker berkali-kali diulang untuk memperjelas apa yang dibicarakan. Guru kemudian memberikan jalan kemudahan dengan cara menanyakan sekaligus menjelaskan apapun yang sulit dimengerti, termasuk artinya ke dalam bahasa Indonesia.

    Dengan pemahaman dasar-dasar kelas kata dan simple present dan simple past pada nominal tense ini, masalah terumit pada pembagian kata kerja “be” hampir tuntas. Hal yang tersisa adalah penggunaan “be” pada future (akan datang), dan perfect (sempurna) yaitu been. Itu berarti, nominal tenses dengan segala perubahan kalimatnya dapat dipahamkan di luar kepala maksimal satu bulan ke depan.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 2 Agustus 2026

  • Mengabdi untuk Rakyat Desa di Akhir Pekan

    Mengabdi untuk Rakyat Desa di Akhir Pekan

    Kebutuhan belajar bagi rakyat di desa segera terpenuhi bila ada kesadaran dari rakyat itu sendiri. Kaum terdidiknya harus turun langsung dan hidup bersama rakyatnya untuk mengetahui masalah dan menyikapinya.

    Fajar Hamzah alias Mr. Ancha pemuda Desa Barugae di Kecamatan Tanete, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan memang tidak tinggal di desanya melainkan di Kota Bulukumba. Ia bekerja sebagai tenaga pendidik di Rumah Belajar Bersama (RBB), Senin sampai Jum’at. Pada hari liburnya yaitu Sabtu dan Minggu, ia meluangkan waktu pulang kampung. Ia mengamalkan ilmunya dengan mengajak warga desa yang masih sekolah untuk belajar

    Kehadiran Mr. Ancha yang menggunakan kurikulum RBB yang dikombinasikan dengan pengalamannya mengajar memudahkan rakyat di desanya mampu mengakses pengetahuan sebagaimana pelajar di kota.

    Malahan, pelajar desa mendapatkan manfaat lebih karena anak-anak yang belajar itu tidak diminta mengeluarkan duit. Gerakan amal tanpa menarik pembayaran ini sengaja dibuat untuk menarik perhatian rakyat agar lebih sadar pada pendidikan, tidak merasa khawatir atau terbebani di tengah keadaan ekonomi yang serba sulit.

    Bila pada pertemuan perdana minggu lalu, pelajar desa itu belajar bahasa Inggris, minggu kedua ini, peminat pelajar pun makin berkembang. Beberapa anak tertarik belajar matematika. Oleh karena itu, Modul Perkalian dan Pembagian ala Metode 40–pengulangan latihan tulis dan lisan minimal sebanyak 40 kali agar pelajaran dipahami di luar kepala–dari RBB langsung diserahkan kepada Mr. Ancha untuk dibagikan kepada siapa pun yang berminat.

    Bahasa Inggris dan matematika untuk tingkatan dasar sengaja diberikan karena itulah yang menjadi masalah utama anak-anak. Untuk tindak lanjut pada materi yang tingkat menengah dan atas akan diajarkan sesuai perkembangan pelajar. Intinya, bila pelajaran dasar tersebut dituntaskan, dengan sendirinya materi pelajarannya meningkat.

    Jadi, persoalan kurikulum pendidikan bukanlah masalah. Justru yang menjadi masalah adalah apakah ada warga terdidik desa yang juga mau turut terlibat agar Mr. Ancha tidak berjuang sendiri? Apakah minat pelajar untuk ingin tahu lebih banyak terus tumbuh? Apakah kita mempunyai gagasan baru untuk turut serta menyukseskannya?

    Zulkarnain Patwa
    Sabtu, 1 Agustus 2026

  • Kreativitas dan Inovasi Pendidikan dari RBB Tanete

    Kreativitas dan Inovasi Pendidikan dari RBB Tanete

    Perpaduan speaking and grammar (bicara dan tata bahasa) dikemas dalam bentuk game dan percakapan diolah dengan baik oleh Miss Fathy. Game penuh dengan kalimat acak simple present pada nominal tense di mana pelajar yang telah dibekali teori dilatih berpikir mandiri mengatur kalimat menjadi terstruktur. Tiap kalimat diucapkan dengan suara lantang, diperdengarkan ke seluruh pelajar.

    Penguatan pada penggunaan beam, is, are—bukan lagi sebatas kebenaran karena sering mengucapkan dengan benar tetapi berdasarkan pemahaman. Konsekuensi yang mengikuti adalah kesesuaian subjek dalam hal ini pronoun (kata ganti) dengan kata kerja “be” tidak bisa ditawar-tawar. Ini memang sedikit rumit. Miss Fathy tidak kehabisan akal. Ia menguatkan penjelasannya menggunakan gambar. Pandangan mata sangat membantu memahamkan apa yang didengar dan kemudian diucapkan baik secara perorangan ataupun bersama-sama.

    Kreativitas tidak hanya berhenti sampai di situ. Para pelajar pun memperoleh soal esai. Segera setelah menyelesaikan soal “Peradaban tulis” ini, pembahasannya dibarengi dengan “peradaban lisan.” Target utamanya pada grammar adalah pemahaman seluruh struktur perubahan tenses di luar kepala.

    Kemudahan dalam meruntuhkan materi simple ini akan terus berkembang dan diuji pada materi progressive, perfect, dan perfect progressive, pelajaran sekolah tingkat SMP dan SMA. Bercermin dari metode pengajaran yang fun di atas, para pelajar sekolah dari segala tingkatan menikmati proses belajar ini. Terlebih, Rumah Belajar Bersama (RBB) baik di kota Bulukumba dan RBB di Tanete yang dipelopori oleh Miss Fathy sama-sama berusaha sekuat tenaga untuk membuktikan bahwa tenses bisa dipahamkan kepada mayoritas para pelajar SD. Namun, sebelum melangkah jangkauan yang lebih luas itu, pembuktiannya terlebih dahulu diterapkan kepada pelajar RBB sendiri.

    Kreativitas dan inovasi yang terbukti efektif di lapangan—bukan di atas lembaran kertas laporan—diterima sebagai solusi dari kebuntuan pelajar kita mempelajari bahasa Inggris. Berbagai kesulitan belajar yang dihadapi pada pelajar kita selama ini sudah saatnya diberikan jawaban dalam bentuk tindakan yang konkret dengan mencontoh hal-hal positif yang kita temukan di lingkungan sekitar.

    Bukankah mengambil manfaat kebaikan dari hal yang baik itu baik?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, 31 Juli 2026

  • Penulusuran Ruang Belajar Terbaik

    Penulusuran Ruang Belajar Terbaik

    Sebuah kalimat seakan menghilangkan rasa lelah guru dalam berjuang. “Mauka (baca: saya mau) juga kuasai tenses,” kata Izzatunnisa. Ide ini tiba-tiba saja terucap dari mulutnya setelah ia memimpin lomba penjumlahan berbahasa Inggris.

    Sebelum terjadi kesepakatan berhitung, Nisa sudah mengatakan bahwa ia tidak mau membaca, diskusi, ataupun latihan irregular verbs (kata kerja yang tidak beraturan). Itulah mengapa kelas dimulai dengan game, bermain kartu. Beruntung, Nisa paling pintar di antara teman-temannya yang hadir sehingga ia tidak diperkenankan menjadi peserta melainkan menjadi juri sekaligus pengendali kartu untuk penjumlahan. Ia bangga dengan posisi itu.

    Beberapa waktu setelah game itu usai, Nisa meminta untuk divideo secara live (siaran langsung) pada Future Progressive and Past Future Progressive dengan segala perubahan kalimat disertai pergantian subjek. “Kalimat tenses itu cuma dibolak-balik saja,” ungkapnya dengan penuh percaya diri. Ia melewati tahapan ini dengan mulus.

    Anak kelas 4 SD ini telah menyelesaikan delapan tenses dari enam belas tenses yang wajib ia kuasai. Untuk menyelesaikan delapan tenses berikutnya di perfect dan perfect progressive tinggal menunggu waktu. Nisa sudah punya niat yang kuat, bacaan berbahasa Inggrisnya pun sudah banyak dan kemampuannya menemukan alur yang tepat pada perubahan kalimat yang baru saja ia praktikkan.

    Dalam waktu dekat, ia diprediksi akan melakukan loncatan belajar yang sangat pesat mengingat rekan-rekannya yang pintar menjawab soal-soal di sekolah dan sebagian dari pelajar yang menguasai tenses telah meraih emas Olimpiade Bahasa Inggris SD tingkat nasional yang titik beranjaknya dari penguasaan tenses. Guru juga telah berjanji bahwa apabila Nisa berhasil menuntaskan seluruh tenses, ia akan memperoleh pelatihan dasar-dasar soal olimpiade.

    Untuk memaksimalkan potensi anak seperti Nisa perlu kesabaran ekstra. Asse Icha, keponakan penulis, pernah berguru ke Ust. Saefuddin, guru Math Master dan penemu sempoa 99 di Kampung Inggris, Pare, Kediri, Jawa Timur. Waktu itu, penulis melihat Icha tidak menuliskan apa pun di buku catatannya pada pelajaran cara hitung cepat yang baru saja diajarkan padanya. “Icha, catat itu. Nanti kamu lupa,” kata penulis. Icha hanya terdiam, menunjukkan wajah kurang simpatik atas teguran itu.

    Melihat kondisi itu, Saefuddin langsung menengahi. “Tidak usah diganggu. Biarkan saja. Saat Icha berada di dalam kelas, itu sudah menjadi tanggung jawab saya. Kalau dia tidak paham, saya ikutkan dengan doa.” Kata “doa” langsung menyadarkan penulis bahwa guru tersebut menggunakan dimensi spiritual dalam mengamalkan ilmunya. Ia menciptakan kondisi senyaman mungkin buat pelajarnya. Dan Icha merasa betah.

    Kelancaran Nisa dalam membolak-balikkan kalimat Future Progressive tersebut tentu tidak terjadi begitu saja. Memotret pengalaman berharga dari Pare, penulis sebelumnya telah mengantisipasi kendala belajar anak-anak dengan membuatkan kotak tenses berisi perubahan kalimat dalam bentuk kertas tebal di-laminating plastik agar tidak mudah rusak–sebelumnya hanya kotak kosong–guna memudahkan pelajar yang catatannya berhamburan. Cara ini efektif. Malahan, hampir semua anak meminta agar kotak tersebut bisa dibawa untuk dipelajari di rumah masing-masing.

    Usaha itu memang tidak mengkhianati hasil. Manusia kadang kala lupa sehingga berhenti pada saat selangkah lagi menuju sukses. Karena umumnya tidak tahu “selangkah menuju sukses” itu, berjuang itu tidak boleh berhenti. Urusan lainnya, kita serahkan kepada Allah SWT. Siapa yang dapat memprediksi Nisa tiba-tiba saja berniat menguasai tenses yang merupakan pelajaran tingkat SMP dan SMA?

    Sejatinya, tugas kita sebagai pendidik hanyalah terus bergerak tanpa henti—menyediakan kotak-kotak tenses baru atau alat peraga yang sesuai materi pelajaran, menciptakan kenyamanan, dan merawat niat belajar anak—hingga langkah kecil mereka tiba-tiba menjelma menjadi loncatan sukses yang tak terduga.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at 31 Juli 2026

  • Catatan Dua Jendela

    Catatan Dua Jendela

    Semasa mahasiswa, Catatan Pinggir (Caping) pernah saya beli mulai dari jilid 1 sampai 7. Saya baca, tidak semuanya, mayoritas. Namanya juga Caping, tulisan itu bebas ke mana-mana, tanpa beban memasukkan informasi yang penulis suka, memberitahu cerita lampau yang terlupakan. Menyambung rangkaian paragraf yang entah bagaimana caranya bisa terhubung. Mengagumkan.

    Namun, saya pikir itu bacaan santai saja. Sesekali tulisan dahsyat Goenawan Mohamad itu saya kejar di akun Facebook-nya. Dapat. Daya kejutnya tidak pernah hilang. Justru, yang membuat saya terkejut adalah buku yang saya beli dahulu hilang. Saya anggap biasa saja. Ada yang suka, silakan. Silakan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk pencerdasan diri dan orang di sekitar.

    Masalah hadir ketika saya melatih diri fokus menulis setiap hari, minimal satu esai. Tulisanku bebas, suka-suka saja. Yang penting, ada tulisan. Kalau pas lagi ada inspirasi, bagus. Kalau tidak, saya buat sendiri inspirasi agar konsistensi menulis tidak putus. Ini telah berjalan selama empat bulan. Saya pikir, kok saya merasa penting membaca lagi Caping itu. Saya kembali mengejarnya, membeli Caping 13, 14, dan 15.

    Apa yang ingin saya cari? Saya pun masih tidak tahu. Saya ingin membacanya saja. Saya memang ingin mengumpulkan tulisanku itu menjadi buku, tidak sehebat Catatan Pinggir. Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku, betapapun saya cukup rajin membaca, saya merasa masih sangat miskin kosakata dan ingin memperkaya melalui pendekatan Caping. Siapa tahu, saya bisa juga menuliskan hal-hal sederhana dengan untaian kata yang menawan.

    Semalam jelang dini hari, saya membaca Caping 15 selama hampir dua jam. Pada bagian awal yang biasanya disebut Kata Pengantar didahului Kata Penutup. Goenawan menulis, “46 tahun, 2.027 tulisan, 15 jilid buku—dan rubrik Catatan Pinggir di majalah Tempo pun beristirahat. Saya memutuskan untuk tidak menulis lagi setiap minggu.” Caping memang telah ditutup tetapi esai penulis kesohor kita ini tidak berhenti meskipun tidak panjang lagi. Kita tetap bisa menikmatinya tanpa harus menuntut beragam ide dihamparkan dalam satu esai. Semoga semua itu juga dapat terdokumentasikan seperti Caping.

    Saya sendiri pun sedang berjuang untuk mampu menggenapkan tulisan menjadi sebuah buku. Catatan harian berserakan mungkin saja dapat berguna bagi orang lain. Tidak ada niat untuk menyusun alur sistematika penulisan layaknya buku resmi yang dibagi dalam beberapa bab. Bagiku itu cukup seperti Caping, kumpulan judul dalam satu buku. Karena keseharianku bergelut dengan dunia pembelajaran bahasa Inggris, banyak hal yang kutulis erat kaitannya dengan pembelajaran bahasa Inggris. Jadi, sepertinya itu lebih tepat bila buku itu diterbitkan dalam versi dwibahasa: Indonesia dan Inggris. Satu buku cukup untuk memulai.

    Masa mahasiswa menikmati Caping 1 sampai 7 telah lama berlalu. Caping 15 pun berakhir. Para penulis yang lebih muda terinspirasi, bukan dengan niat untuk melampaui Goenawan Mohamad namun mengikuti jejaknya mengabadikan sesuatu yang berharga dalam kehidupan ini. Kehidupan dicatat, pelajaran untuk kita semua.

    Zulkarnain Patwa
    Kamis, 30 Juli 2026