Penulis: Zulkarnain Patwa

  • Perputaran Makna Mengabadi

    Perputaran Makna Mengabadi

    Tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari (novi sub sole). Ungkapan berbahasa latin ini berhasil menjelaskan dengan bahasa yang sangat sederhana dan ringkas tentang teori sejarah yang berulang, atau melingkar. Kalau pun ada perubahan, hanya waktu dan pelaku saja yang berubah. Tapi bagaimana kita memahami hal tersebut bila kita tidak mecoba mengenal hal hal yang baru? Perulangan itu memang membosankan dan yang baru pun akan jadi tua mengikuti siklus sejarah yang melingkar. Begitulah!

    Pertemuan dengan Mariella Kempen bersama Mr. Belanda–Kesulitan melafalkan dengan benar, penulis menyebut Mr. Egbert dengan Mr. Belanda. Beruntung, dia tidak keberatan. Ide ini muncul karena Mariella lebih dahulu menyebut penulis Mr. Karate–saat menjemputnya di Bira penuh dengan kehangatan. Dalam pandangan Aris Irfan dan penulis, sama-sama asing: kami adalah orang asing di mata mereka dan mereka juga menganggap kami orang asing tapi karena sama sama ingin tahu tentang perbedaan budaya, terbangunlah komunikasi yang diniatkan untuk saling memahami. Ini berdasarkan pemikiran terbuka sehingga pembicaraan yang sangat serius pun dapat menjadi hiburan dimana perjalanan dari Bira menuju kota Bulukumba terasa singkat.

    Saat melintasi Desa Bira dan Darubia, Mariella bertanya tentang kegiatan orang orang desa. Tentu saja kebanyakan masyarakatnya adalah nelayan dan pelaut. Anak muda suka melaut ke berbagai pulau di Indonesia dan bahkan ikut bekerja di kapal besar yang membuat mereka bisa melihat negeri-negeri terjauh.

    Dalam membangun keluarga, biasanya orang orang desa tersebut menikah semasa kampung atau keluarga sendiri sehingga wajar bila sistem kekerabatan itu sangat kuat.

    Para pelaut muda bila pulang kampung, mereka pun masih patuh pada orang tuanya saat dijodohkan sesama keluarga dekatnya. Kepatuhan yang baik kepada orang tua dipercaya sebagai sebagai bagian dari jalan menuju kesuksesan.

    Mr. Egbert membandingkan dengan negaranya. Ia menjelaskan bahwa anak bebas memilih siapapun yang mereka suka dan orang tua tidak campur tangan. Mereka bisa memilih hidup dengan siapapun yang mereka suka.

    Penulis pun memberikan dukungan. Beberapa para pelaut saat berlayar menikah di luar dan membawa pulang istri dan sekaligus anaknya. Mariella langsung menyambung, “Pelaut adalah orang bebas’, katanya sembari senyum ramah. Seisi mobil sepakat, tiada bantahan.

    Penulis sekedar menambahkan bahwa seiring dengan perkembangan zaman, menikah sesuai pilihan hati pemuda pemudi pun itu tidak seketat seperti dahulu. Para orang tua di daerah pesisir pun pada dasarnya cenderung punya pemikiran terbuka disebabkan oleh interaksinya dengan dunia luar melalui jalur perdagangan laut antar pulau.

    Saat tiba di Tanah Beru, kami mengusulkan untuk sedikit berbelok agar dapat melihat pusat pembuatan perahu tradisional terkenal dengan sebutan Pinisi yang menjadi simbol bahari Indonesia di dunia dan telah ditetapkan oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) pada 2017. Itu memang mengalihkan perhatian dimana kayu besi yang terkenal kuat dan keras mampu dibengkokkan dengan dengan peralatan sederhana. Jumlah pekerja pun cukup dengan empat atau sepuluh orang untukmembuat perahu yang sangat besar seperti yang dilihatnya secara langsung.

    Rasa penasaran pun muncul. ‘Bagaimana bisa terbentang begitu banyak perahu yang sedang dibuat?’ Mr. Egbert dan Mariella bertanya. ‘Orang orang lokal dan orang dari berbagai penjuru dunia terlebih dahulu memesan sebelum dibuatkan’, jawab penulis. Lagi pula tradisi pembuatan perahu ini telah diwariskan oleh nenek moyang kami dari generasi ke generasi beratus ratus lamanya.

    Satu hal membuat kepala saya pusing dan butuh waktu lama untuk menjawab. Pertanyaan sederhana, tak pernah kubayangkan dan tidak ada yang pernah menanyakan sebelumnya. ‘Apa yang paling anda sukai di Sulawesi?’, tanya Mariella. Sebenarnya penulis ingin menjawab ‘Saya mencintai tanah kelahiran saya dan tempat dimana saya dibesarkan’. Itu cukup namun tidak terucapkan. Penulis menginginkan jawaban sedikit lebih intelek dan tetap mengandung kejujuran. Pada akhirnya penulis bilang, ‘Sebenarnya saya ingin keliling dunia juga seperti anda tapi saya memilih mengikuti saran ayahku untuk pulang kampung. Jadi, ilmu yang saya peroleh sewaktu sekolah dan kuliah sebisa mungkin bermanfaat untuk lingkungan sekitarku’.

    Menjelang masuk kota Bulukumba dimana kami hampir berpisah, suasana pun makin akrab. Umur, pekerjaan, lajang atau menikah, jumlah anak dan hal privasi lainnya bukanlah obrolan yang perlu disembunyikan.malahan, ini bagaikan bumbu penyedap rasa yang membuat makanan jadi super lezat. Yang menarik kami sampaikan kesediaan Mariella menjelaskan bahwa dirinya sebenarnya adalah seorang manajer pada sebuah taman yang luas nan indah bernama Garden De Lage Orsprong di desa Oortesbek dibangun sebelum perang dunia kedua.

    Taman itu terlihat alami dipadukan dengan imajinasi dan kreativitas kecerdasan manusia memasukkan desain tata ruang artistik, beragam seni musik dan karya yang selaras dengan alam membuatnya terlihat sempurna. Sang manager ini memimpin sekitar enam puluh orang termasuk Mr. Egbert. Wajarlah orang ramai tertarik melaksanakan kegiatan di tempat itu. Anda bisa melihat linknya di sini: https://tuindelageoorsprong.nl

    Ketika hendak berpisah di kota Bulukumba, kami tanpa sengaja sempat bertemu dengan Andi Ayatullah Ahmad, Humas (Hubungan Masyarakat) Pemerintah Daerah Bulukumba. Dia pun menyapa dan saling berinteraksi dalam Bahasa Inggris dan mendapatkan pernyataan tentang bagaimana humas bekerja. Penulis tahu ada beberapa tafsir yang berbeda yang ditangkap oleh Mariella dari penjelasan Kak Ayatullah. Namun semua itu hanya karena persoalan bahasa saja dan dapat saling memaklumi dan diakhiri dengan canda tawa dan salaman yang ramah dan Mariella pun bersiap menuju Makassar.

    Begitulah. Semua kisah di atas bukanlah sesuatu yang baru di bawah matahari. Kami yakin apa yang kami lakukan ini telah dilakukan oleh orang orang sebelum kami. Pilihan untuk mencatatkan perjalanan kehidupan saat bertemu dengan orang orang asing betapapun singkat itu mengikat makna dan mungkin saja berguna bagi orang lain karena bila tidak ditulis, itu akan berlalu bersama angin. Scriptamanent.

    Zulkarnain Patwa
    * Penulis Bebas
    * Pengajar di RumahBelajar Bersama

  • The Eternal Cycle of Meaning

    The Eternal Cycle of Meaning

    There is nothing new under the sun (novi sub sole). This Latin expression successfully explains in very simple and concise language the theory of history repeating itself, or circling. Even if there are changes, only time and the actors change. But how can we understand this if we don’t try to learn new things? Repetition is indeed boring, and even the new will become old, following the circular cycle of the history. That’s how it is!

    The meeting with Mariella Kempen and Mr. Belanda—having difficulty to pronounce the name correctly, the writer calls Mr. Egbert as Mr. Belanda (Read: Netherland). Luckily, he didn’t mind. This idea arose because Mariella previously called the writer Mr. Karate—when picking them up in Bira. It was filled with warmth. In Aris Irfan’s and the writer’s perspectives, we are both strangers: we are strangers in their mind, and they also consider us strangers. But because we both had a curiosity about cultural differences, communication was aimed to have mutual understanding. This is based on open mindedness so that even it was very serious conversations, it could become joyful discussion.

    While passing through Bira and Darubia villages, Mariella asked about the villagers’ activities. Naturally, most of the people are fishermen and sailors. Young people enjoy sailing to various islands in Indonesia and even working on large ships sailing them to see many countries

    Beside that, when starting a family, villagers typically marry within their own village or family, so it is natural for the kinship system to be very strong.

    When young sailors return home, they still obey their parents when they are arranged marriage with someone within their immediate family. Obedience to believed to be part of the path to success.

    Mr. Egbert compared this to his country. He explained, ‘Men or women are free to choose whomever they like, and their parents do not interfere. They can choose to live with whomever they are pleased’. The writer also supported his idea. Some sailors married abroad while sailing and bringing home their wives and children. Mariella immediately added, “Sailors are free men,” she said with a friendly smile. The entire car agreed and laughted without any objection.

    The writer simply added that with the changing times, marrying according to one’s own choice is no longer as strict as it once was. Parents in coastal areas also tend to be more open-minded due to their interaction with the outside world through inter-island sea trade routes.

    Arriving in Tanah Beru, we suggested a slight detour to see the famous traditional boat-making center known as Pinisi, a symbol of Indonesian maritime heritage worldwide and it was designated by UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) in 2017. It was indeed a sight to behold, as the renowned ironwood, known for its strength and hardness, could be bent with simple tools. As information, to build an enormous boat, it just need four to ten workers. Maybe you don’t believe it but it is true.

    Curiosity arose. ‘How can there be so many boats being built?’, Mr. Egbert and Mariella asked. ‘Locals and people people from all over the world order before boats are made’, the writer replied. After all, this boat-building tradition has existed from our ancestors for hundreds of years.

    As we approached Bulukumba district, where we were about to say goodbye, the atmosphere grew more friendly. Age, job, single or married, number of children, and other private matters were no longer private conversation to be kept as secrets. In fact, all of them were like spices that enhance the flavor of a meal. The interesting thing that we could share is Mariella’s job. She is a manager of a vast and beautiful garden called Garden De Lage Orsprong in the village of Oortesbek built before World War II.

    The garden’s natural beauty, combined with the imagination and creativity of human intelligence, incorporates artistic spatial design, a variety of musical forms, and work of art that harmonize with nature, creating a perfect atmosphere. The manager has been leading a group for about sixty people, including Mr. Egbert. It is no wonder that people love to make events there. You can find the link here:  https://tuindelageoorsprong.nl

    When we arrived in Bulukumba, we accidentally met Andi Ayatullah Ahmad, Public Relations Officer. He greeted us and interacted in English, receiving a briefing on how public relations works, I understand that Mariella had several different interpretations of Ayatullah’s explanation. However, it was simply a language barrier, and we were able to reach a mutual understanding. The conversation ended with laughter and a friendly handshake, and Mariella prepared to go to Makassar.

    That’s how it is! All of the stories above are nothing new. We believe that what we are doing has been done by people before us. The choice to write our short life journey, even brief encounters with strangers, holds meaning and may be useful to others, for if not written down, they will simply be forgotten. Scripta manent: spoken words fly away, written ones remain.

    Zulkarnain Patwa
    * Independent Writer
    * Teacher at Rumah Belajar Bersama

  • Enjoying Togetherness

    The exhaustion of a long night of karate training didn’t have to make me reluctant to get up early. Aris Irfan  invited me to accompany him to pick a guest up at 8:00 a.m. at the  tourism area in Bira heading to Sultan Hasanuddin Airport in Makassar. I’m always excited to meet new people and see a window of the world through conversations with knowledgeable foreigners without having to set foot in a foreign country.The exhaustion of a long night of karate training didn’t have to make me reluctant to get up early. Aris Irfan invited me to accompany him to pick a guest up at 8:00 a.m. at the  tourism area in Bira heading to Sultan Hasanuddin Airport in Makassar. I’m always excited to meet new people and see a window of the world through conversations with knowledgeable foreigners without having to set foot in a foreign country.

    Wow! that was truly interesting. In Bira, we met a cheerful young girl who is on vacation with her father and mother. We briefly chatted with the family, who seemed happy about their vacation. We saw the way they communicated with each other, exuding positive energy, as we witnessed the girl saying goodbye to her parents.

     

    When we were in the car, Tessa told us that she is a student in a five-month exchange from her university in the Netherlands to Gadjah Mada University in Yogyakarta. She is going to return to her university in the Netherlands next month.

    Tessa’s curiosity about the vast world has driven her to travel the world. Because she has visited so many countries, she lost count. Being in Indonesia, where she has time to study and explore the beauty of islands like Bira, the vast and enchanting expanse, has greatly supported her hope and education, as she is majoring in International Relations.

    Indonesian students, especially those with at least English language skills, are also encouraged to follow iTessa’s footsteps. This opportunity is abundant because student exchange relationship is built on good relations between countries and then followed by a collaboration between universities. Therefore, it is important for students to become proficient in foreign languages by enrolling in alternative educational institutions like Rumah Belajar Bersama or other similar institutions to develop themselves before entering university.

    Being in a foreign country, Tessa has a positive impression of the Islamic world. She believes that Indonesians have a strong social awarness. She has learned this from her experience, witnessing how even people living in poverty still think of others by helping others. This is rare in her country which has highly individualistic lives in Europe.

    The world is full of color and diverse daily activities. Karate, however tiring, strengthens the mind and body. Meeting new international people enriches our perspective and ties the bonds of brotherhood, like those of Mr. Irfan and others like him, making life more meaningful.

    Zulkarnain Patwa
    * Independent Writer

  • Menikmati Kebersamaan

    Menikmati Kebersamaan

    Kelelahan latihan panjang bela diri karate di malam hari tidaklah mesti membuat saya malas bangun pagi. Aris Irfan mengajak saya menemaninya untuk menjemput seorang tamunya jam 08.00 pagi di kawasan wisata Bira yang mau ke Airport Sultan Hasanuddin di Makassar. Saya pun selalu bersemangat bertemu dengan orang orang baru melihat jendela dunia yang luas berdasarkan obrolan dengan orang asing yang punya wawasan tanpa saya harus menginjakkan negeri orang.

    Wah, sungguh menarik. Di Bira kami bertemu dengan seorang gadis muda periang yang ternyata liburan bers0ama ayah dan ibunya. Kami sempat saling bercerita sejenak dengan keluarga yang terlihat berbahagia liburan di Indonesia itu. Hal itu kami lihat dari cara berkomunikasinya sesama keluarga yang memancarkan energi positif dengan menyaksikan bagaimana gadis itu pamit kepada kedua orang tuanya.

    Setelah berada di mobil, Tessa memberitahukan bahwa dirinya mahasiswi yang sedang memperoleh pertukaran pelajar dari kampusnya di Belanda ke Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta selama lima bulan. Satu bulan ke depan ia akan kembali ke universitasnya di Belanda.

    Rasa ingin tahu mengenal dunia yang luas ini membuat Tessa berkeliling dunia. Sebegitu banyaknya negara yang pernah ia kunjungi, ia tidak sempat lagi menghitungnya. Dan berada di Indonesia dimana ada waktu belajar dan berkeliling menikmati keindahan pulau-pulaunya semisal Bira yang terbentang luas dan mempesona sangat mendukung harapan dan pendidikannya yang memilih jurusan Hubungan Internasional.

    Para pelajar Indonesia khususnya yang telah mempunyai kemampuan berbahasa asing minimal Bahasa Inggris penting juga untuk mengikuti jejak Tessa. Kesempatan ini sangat terbuka karena relasi pertukaran pelajar tersebut atas dibangun atas hubungan baik antar negara dan kemudian diikuti oleh kerjasama antar universitas. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi pelajar sekolah untuk mahir berbahasa asing dengan cara bergabung di lembaga pendidikan alternatif semisal RumahBelajar Bersama atau lembaga apapun itu untuk mengembangkan diri sebelum masuk ke jenjang universitas.

    Mi

    Berada di negeri orang, Tessa punya kesan positif terhadap dunia Islam. Ia memandang bahwa orang Indonesia itu punya kepekaan sosial yang tinggi. Hal itu ia baca dari pengalamannya menyaksikan dimana orang bahkan hidupnya miskin sekalipun masih sempat memikirkan orang lain dengan membantu. Kejadian ini jarang terjadi di negaranya karena kehidupan di Eropa yang sangat individualis.

    Dunia penuh dengan warna warni dengan beragam kegiatan harian. Karate yang betapapun melelahkan, itu memperkuat mental dan fisik, berkenalan dengan orang baru memperkaya cara pandang kita dan mempererat ikatan persaudaraan seperti Pak Irfan dan orang sederetannya membuat hidup ini jadi lebih bermakna.

    Zulkarnain Patwa
    * Penulis Bebas

  • Orang Dewasa pada Bahasa Inggris

    Orang Dewasa pada Bahasa Inggris

    Orang dewasa biasanya hadir belajar Bahasa Inggris karena alasan yang sangat penting. Yang paling lazim kita temui adalah alasan lanjut kuliah S 2 di dalam atau luar negeri atau tuntutan kerja di luar negeri.

    Uswatun Khazana A. adalah lulusan Kebidanan S 2 di Universitas Hasanuddin dan D 4 di Megarezki pada jurusan yang sama, Sulawesi Selatan memilih belajar Bahasa Inggris karena ingin bekerja sebagai tenaga kerja kesehatan di Arab Saudi. Alasannya sederhana, gaji yang layak bisa ia peroleh.

    Sejak jam 13.00 hingga jelang malam hari, Uswa duduk di tempat yang sama. Ia hanya bergeser sejenak untuk urusan makan atau shalat. Menurut keterangan ayahnya, semasa kuliah, ia meraih predikat cum laude (mahasiswa lulusan perguruan tinggi yang prestasi akademiknya yang luar biasa). Jadi tidaklah mengherankan bila ia punya ketekunan belajar di atas rata rata.

    Mengapa Uswa begitu gigih belajar Bahasa Inggris? “Saya memang ingin ke luar negeri tapi saya mau tahu ilmunya”, terangnya. Dari penjelasan singkat sini, kita dapat menangkap bahwa selain urusan pragmatis pekerjaan, ia memang termasuk orang yang suka menuntut ilmu. Dan ia punya peluang besar untuk itu karena cara belajarnya selama lebih dari satu bukan sekedar untuk tahu melainkan paham secara detail dari tiap bab yang dipelajari.

    Dua orang guru kelasnya pun punya kwalifikasi yang meyakinkan dengan pengalaman bertahun-tahun pernah belajar hingga materi tingkat tinggi selama bertahun-tahun di Kampung Inggris Pare, Kediri Jawa Timur. Mr. Ancha mengajar Uswa di kelas Reading (membaca teks Inggris disertai kewajiban menjawab soal-soal cerita) dan Mr. Agung pada Grammar (Tata Bahasa). Uswa berpikir bahwa meskipun berbeda materi pada tiap kelas, apa yang semua dipelajari saling terhubung dan itulah yang membuatnya lebih tertantang. ‘Apa yang selama ini yang semasa sekolah dan kuliah, baru saya mengerti sekarang’, jelasnya. Ia percaya inilah jalan yang ia tempuh untuk membuatnya punya keahlian berbahasa asing yang selama ini ia impikan.

    Cara berpikir dari perempuan dewasa seperti Uswa yang memilih berkarir dengan terlebih dahulu mengedepankan menuntut ilmu sangat kita butuhkan untuk meningkatkan kwalitas hidup masyarakat. Pekerjaan yang akan ia dapatkan pun tentulah bukanlah rendahan. Selain mampu menuntaskan persoalan ekonomi, ia juga juga punya keluasan pengetahuan yang dapat ia oleh jauh lebih baik dalam anak-anaknya di rumah yang mana ini adalah pondasi paling utama dalam mendidik dan mencetak generasi yang lebih punya daya saing di masa akan datang.

    Zulkarnain Patwa
    Pengajar Bahasa Inggris

  • Jurus Cerdik untuk Rajin Belajar

    Jurus Cerdik untuk Rajin Belajar

    Ada banyak cara untuk membuat orang itu mau dan bersemangat belajar. Khusus bagi dunia anak, kita sangat sering mengemas belajar itu dalam bentuk games tapi intinya bukan pada games tetapi pada kandungan ilmu harus serta merta mengikut di dalamnya.

    Foto ini adalah waktu keluar main pada kelas Bahasa Inggris. Anak anak ini suka saling kejar kejaran sambil teriak teriak tanpa mengerti bahwa itu mengganggu kelas lainnya yang sedang belajar. Dan untuk menyelesaikan masalah ini, kita buat permainan berhitung menggunakan kartu joker. Ya, berhitungnya dalam Bahasa Indonesia saja agar pelajar pemula bisa ikut bergabung dan mau ikut berlomba menjawab dengan cara cepat.

    Sekedar tambahan, sistem permainan ini diatur oleh anak anak sendiri. Ada yang jadi wasit, ada yang menghitung poin dan ada pula yang menunjuk siapa yang berhak menjawab. Jadi semua aktif. Ini adalah cara kita melatih membentuk sebuah team dan yang terpenting agar logika berpikirnya lebih tertata melalui jalan dasar dasar aritmatika (tambah, kurang dan kali, bagi).

    Yang jadi persoalan, takkala keasyikan pada permainan ini, anak anak ini tidak mau berhenti. Mereka begitu termotivasi untuk jadi nomer satu. Sang juara memang bergantian, tidak ada yang paling pintar sehingga wajarlah bila ada usaha untuk kembali menang bila kalah dalam satu babak.

    Tapi bagaimanapun juga, Bahasa Inggris tetap harus jalan. Target kita memanfaatkan waktu keluar main dengan kegiatan belajar yang menyenangkan telah tercapai. Tiap anak kita ajak kembali dengan lembaran kertas berbahasa asing. Dan agar tetap merasa tidak tertekan akibat kelelahan berpikir pada jelang akhir pelajaran, kita berlatih cara pengucapan yang benar pada kosa kata Inggris yang mirip saja. Semisal seat vs sit atau feel vs fill. Melalui penjelasan yang ringan nan logis disertai praktek bicara secara bersama, pelajaran ini jadi lebih gampang. Dan itu seru juga. Mereka berakting juga menampilkan intonasi atau irama suara yang terbaiknya yang enak didengar dan tentunya harus benar.

    Dunia belajar anak memang mestilah menyenangkan. Kemasan games memang terbukti punya daya tarik yang tinggi memotivasi anak anak kita untuk belajar. Kita hanya perlu membuat banyak games yang isinya menekankan pada cara agar anak anak dapat menyerap ilmu pengetahuan lebih banyak dalam bentuk games.

    Zulkarnain Patwa
    * Pengajar Bahasa Inggris

  • Kilasan INKADO Luwu Timur Jadi Perguruan Karate Bergengsi di Sul Sel

    Kilasan INKADO Luwu Timur Jadi Perguruan Karate Bergengsi di Sul Sel

    Rekan rekan perguruan karate INKADO (Institut Karate-Do Indonesia);Luwu Timur (Lutim) ini punya daya saing yang bagus. Perkenalan dengan suasana akrab mulai terjalin baik sejak Desember 2024 saat team INKAI (Institut Karate-Do Indonesia) Sulawesi Selatan (Sul Sel) langsung dipimpin oleh Ir. Abdul Djalil Razak, Ketua INKAI Sul Sel dimana penulis bertugas sebagai Manager INKAI Sul Sel bertandang ke kejuaraan yang mereka adakan di Bumi Batara Guru, Sorowako, Lutim, Sulawesi Selatan. Sekedar info saja, perjalanan dari Makassar ke Lutim itu sekitar 24 jam dengan naik bus.

    Waktu itu, kekuatan atlet Lutim terlihat sedang tumbuh disertai semangat bertanding yang tinggi. Dan INKAI Sul Sel tetap tidak menganggap remeh tuan rumah dengan tetap menurunkan sebagian besar atlet terbaiknya yang telah punya segudang pengalaman pada kejuaraan besar untuk menambah pengalaman tanding pada kunjungan daerah terjauh di Sul Sel. Hasilnya, INKAI Sul Sel untuk merebut juara Umum 1. INKADO Lutim berada pada posisi Juara Umum 2.

    Betapa mengejutkan, pada kejuaraan Kemenpora RI pada Nopember 2025 di GOR Sudiang, Sulawesi Selatan, INKADO Lutim tiba tiba berhasil merebut Juara Umum 3. Kali ia memang dua tingkat dari INKAI Sul Sel yang meraih Juara Umum 1 dimana kejuaraan sebelumnya ia berada di bawah satu tingkat saja. Tapi ini lebih berarti karena kejuaraan ini yang jauh lebih bergengsi dimana para atlet berbakat nan handal dari berbagai macam penjuru turun berlaga. Kita tahu bahwa tidakkah mudah bagi sebuah perguruan tiba tiba muncul sebagai juara, capaian kejuaraan terbaik bagi INKADO Lutim pasca teror Covid 19.

    Mari kita cek capaian medali dari rilis resmi pada ranking medals Piala Menpora RI, 2025.

    Juara Umum 1, INKAI Sul Sel
    25 Emas, 26 Perak, 13 Perunggu

    Juara Umum 2, Kodam XIV Hasanuddin
    16 Emas, 11 Perak, 12 Perunggu

    Juara Umum 3, INKADO Lutim
    11 Emas, 5 Perak, 18 Perunggu

    Dari sebaran media sosial, penulis tahu bahwa setelah menjadi tuan rumah kejuaraan pada 2024 itu, INKADO Lutim lebih aktif lagi melaksanakan latihan. Beberapa teknik gerakan sebaran video karatenya pun telah berubah dan lebih baik dari yang sebelumnya. Menyaksikan perkembangannya, hemat penulis ini bukanlah hal tiba tiba tapi hal wajar ia mampu merebut posisi ketiga. Seperti yang lazim disebut orang, usaha itu tidak mengkhianati hasil.

    Dalam kejuaraan, tiap perguruan saling berkompetisi untuk meraih juara tapi hubungan yang baik mestilah harus selalu terjalin sebagaimana yang kita lakukan. Selamat ya buat INKADO Lutim. Anda telah turut berhasil menyita perhatian dan masuk bagian dari perguruan karate yang diperhitungkan karena membuktikan telah meraih Juara Umum di kejuaraan yang bergengsi di Indonesia.

    Zulkarnain Patwa
    * Humas INKAI Sulawesi Selatan
    * Pelatih INKAI Bulukumba
    * Pengajar Bahasa Inggris di RumahBelajar Bersama

  • Kunci Kemajuan Bahasa Inggris

    Kunci Kemajuan Bahasa Inggris

    Muchtar Ali Yusuf, Bupati Bulukumba di Sulawesi Selatan, memberikan Piagam Penghargaan kepada Rumah Belajar Bersama (RBB) atas dedikasi RBB dalam jangka waktu yang panjang konsisten mengembangkan literasi di Bulukumba pada peresmian Bunda Leterasi dan sekaligus peresmian gedung perpustakaan terbaru dari Dinas Kearsipan Dan Perpustakaan Daerah Bulukumba.

    Ini adalah pertama kali penulis sempat menyapa Pak Bupati yang dikenal bisa berbahasa asing dan sering mengunjungi berbagai macam negara. Hal ini lazim kita ketahui karena pidatonya sering kali menyebut negeri negeri jauh yang ia percaya dapat dijadikan contoh yang baik untuk memajukan perekonomian Bulukumba.

    Karena titik perhatian penulis pada pendidikan untuk memajukan daerah, tentu beberapa gagasan tersampaikan semisal pentingnya kwalitas pendidikan Bahasa Inggris buat pelajar SD (Sekolah Dasar) ditekankan, bukan hanya sebatas slogan bahwa anak SD wajib berbahasa Inggris setiap hari Rabu di sekolah. Yang paling utama adalah kwalitas guru bahasa Inggris yang benar-benar berkompetisi unggul. Bila di SD kacau, hampir dapat dipastikan, Bahasa Inggris di SMP, SMA dan Universitas juga turut berantakan. Tidak ada yang bisa dibangun bila tidak punya fondasi. Ini seperti yang dialami oleh kebanyakan pelajar Indonesia sebelum diterapkannya Bahasa Inggris di SD.

    Perbaikan Bahasa Inggris di SD adalah kunci keberhasilan. Terlebih peluangnya besar karena Bulukumba dengan segala kekayaan wisatanya yang mendunia adalah salah satu pusat perhatian dan kunjungan wisata mancanegara di Sulawesi Selatan dimana para wisatawan tersebut dapat dimanfaatkan untuk praktek lapangan secara langsung. Kita semua tahu bahwa banyak turis bertebaran di daerah kita tapi siapa yang pernah merancang memberdayakan dengan tepat sasaran untuk menambah khazanah intelektual para pelajar sekolah dan pemuda pemudi kita?

    Gagasan ini dengan sepenuh hati kami sampaikan agar dampak pencerdasan tersebut punya jangkauan lebih luas dibandingkan apa yang telah dan terus dikerjakan oleh RBB selama ini mengingat Pemerintah Daerah punya kebijakan dan doi (uang) untuk mempercepat perubahan. Dan satu hal penting lagi, sebagaimana Kampung Inggris di Kediri, Jawa Timur ataupun bangsa bangsa lain yang telah maju, kita harus siap berinvestasi untuk mengedepankan kwalitas pekerjaan yang benar benar berbobot agar hasilnya tidak sekedar aman di atas lembaran kertas laporan tapi juga manusia yang dikelola punya hasil yang mampuni yang siap mengisi dan membuka lapangan pekerjaan nantinya.

    Terakhir, kami tidak pernah berpikir untuk mendapatkan Piagam Penghargaan namun kami sangat menghargai cara kerja yang benar dari Perpustakaan Daerah Bulukumba dalam mendeteksi pegiat Literasi Bulukumba yang punya kerja konsisten dimana ternyata di dalamnya ada juga nama RBB. Karena Anda, pertemuan sejenak dengan Pak Bupati dan beberapa pejabat daerah untuk menyampaikan saran yang berharga pun dapat terlaksana.

    Zulkarnain Patwa
    * Pemerhati Pendidikan

  • Akrab karena Bahasa Inggris

    Akrab karena Bahasa Inggris

    Ayla mendapat kunjungan dari Maurizio dari Italia untuk praktek Bahasa Inggris. Kontan saja, setelah kenalan, Ayla bertanya “How old are you?” Sebuah pernyataan yang dianggap tidak sopan menanyakan umur. Tapi karena melihat Ayla dengan wajah ceria, Mariozio tanpa sungkan menjawab bahwa umurnya 67 tahun. Ayla lalu “maggolla” (memuji), “You look young. I think you are 40 years old.” (Saya pikir 40 tahun). Keduanya tertawa.

    Sejurus kemudian, Ayla bertanya lagi, “Do you have Instagram (IG)?”. Maurizio kaget lagi dan tersenyum. Setelah saling tukar IG, di sini Ayla tahu bahwa Maurizio seorang ahli desain kapal modern yang sering berkeliling dunia.

    Ayla tidak berhenti menanyakan kehidupan pribadi Bapak ini. “Do you have a wife, children? (Apakah Anda punya istri, anak?) Hal hal pribadi lainya pun ditanya terus. Maurizio tidak merasa terusik dan dengan senang hati dan penuh menjelaskan panjang lebar tentang kehidupan keluarganya.

    Maurizio lalu bertanya, “Do you understand?” (Apakah Anda mengerti?” Alya dengan wajah lugu bilang, “No.” (Tidak)😀. Ayla kemudian meminta Maurizio untuk bicara agak perlahan. Cerita kembali diulang dan barulah Ayla paham.

    Bagi dunia anak, pertanyaan pertanyaan tabu kepada orang asing itu menyenangkan. Orang seperti Ayla sama sekali tidak peduli betapa pun telah diingatkan bahwa sebaiknya tidak menanyakan hal hal seperti di atas saat pertama kali bertemu. Ayla enjoys aja.

    Dan orang asing yang terdidik seperti Maurizio tahu betul bahwa Ayla sedang berusaha menyampaikan pertanyaan apapun yang terbetik di hatinya. Dan karena sama sama mengeluarkan energi positif, mereka jadi akrab.

    Selamat terus belajar Ayla. Bukalah jendela dunia dengan Bahasa Inggris dan ilmu pengetahuan lainnya.

    Terima kasih banyak Om Aris Irfan di Villa Malomo Bira yang membantu sehingga diskusi dengan nuansa pendidikan ini dapat terlaksana. Sukses selalu buat Villa Malomo.

    Foto pada November 2022

    Zulkarnain Patwa

  • Pelatih Masa Kecil

    Pelatih Masa Kecil

    ‘You should not forget who you are and where you come from’, kata Raja Jepang pada film The Last Samurai. Terjemahan bebasnya bilang, kamu tidak boleh lupa siapa dirimu dan darimana kamu berasal.

    Masa kecil saya berlatih karate di INKAI Kodim Bulukumba dan salah satu pelatihnya adalah Senpai Hj. Rahma yang kini tidak tinggal lagi di Bulukumba melainkan di Gowa. Alhamdulillah, dalam berbagai kejuaraan dia selalu hadir karena dia menjadi bagian dari pengurus inti INKAI Sulawesi Selatan. Seluruh kebutuhan makan dan pengurus dan atlet berada dalam tanggung jawabnya. Dia harus memastikan semua atlet yang biasanya berterbangan kemana mana telah cukup energi sebelum turun berlaga.

    Di sela sela kesibukan Senpai Aji–panggilan akrabnya, saya selalu bergembira menyapa dan bertemu dengannya. Entah apa, saya bahagia saja. Ya, dia adalah guru, pelatih yang telah turut banyak berjasa melatih para karate ka Bulukumba pada masanya. Dan saya adalah bagian yang tentu tidak melupakannya.

    Dan sepertinya, meskipun saya sudah tumbuh dewasa, Senpai Aji masih menganggap saya anak anak. Minimal sebagai anak didiknya. Dan apapun itu, aku bangga dilatih olehnya.

    Foto saat INKAI Sulawesi Selatan Juara Umum 1 pada Kejuaraan Karate Piala Menpora RI pada 16 Nopember 2025 di GOR Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan.

    Zulkarnain Patwa
    * Humas INKAI Sulawesi Selatan