Madu Manis pada Bahasa Inggris

Pernahkah Anda membayangkan game dimulai dari kumpulan kata menjadi kalimat dan kemudian menjadi pertanyaan dalam bentuk tanya-jawab? Beberapa tahapan telah disusun dengan sangat rapi dan penuh dengan keceriaan tanpa sedikitpun menghilangkan nilai edukasi. Game yang melampaui kesenangan semu ini telah berubah menjadi senjata yang ampuh untuk memahamkan bahasa Inggris yang mendobrak dan meruntuhkan ketakutan pelajar pada bahasa Inggris.

Pertama, anak-anak menulis beragam kosakata bahasa Inggris di papan tulis. Guru kemudian menyebut kosakata bahasa Indonesia. Ketika kata “pergi” disebut, dua orang anak berlomba mencari kata “go” untuk dilingkari. Banyak kosakata yang lain pun dihadirkan—hal yang tidak pernah terpikirkan bahwa itu adalah kumpulan kata yang akan diolah menjadi kalimat. Sebelum beralih ke game yang lainnya, anak-anak secara bergantian membaca di depan kelas untuk memastikan penyebutan dengan benar termasuk dalam terjemahannya.

Kedua, game bola tangkas. Bola dilemparkan ke seorang rekan. Sebuah pertanyaan mengikuti. “Do you like…?” atau “Where do you come from?” (Apakah kamu menyukai…? atau dari mana kamu berasal?). Otak mereka sudah mulai diajak untuk berinteraksi dengan komunikasi minimal dua arah. Mereka sudah mulai berpikir untuk menjawab, bukan sekadar mengulangi bacaan seperti di tahap pertama.

Ketiga, setelah puas dengan dunia bermain, literasi berbasis buku pun dihadirkan dengan penuh semangat. Basic Reading (Bacaan Dasar) di lesson 66 (pelajaran 66) mengajarkan tentang waktu. What’s the time? (Jam berapa?) Kemudian, ini diikuti oleh perkenalan tentang diri yang berhubungan dengan nama lengkap, tempat, tanggal lahir, dan hobi serta cita-cita. Tiap anak tampil di depan agar pembicaraannya disaksikan dengan jelas oleh seluruh rekan-rekan kelas.

Apakah itu cukup sampai di situ saja? Oh, tidak. Latihan tulis pada lesson 66 itu berisikan titik-titik kosong yang harus diisi dengan benar untuk memastikan kumpulan kalimat telah tersusun dengan sempurna. Kegiatan ini pun kembali diperkuat melalui pembacaan dengan suara nyaring bukan secara berkelompok, melainkan perorangan guna melatih kepercayaan diri sendiri.

Barulah setelah beranjak ke lesson 67. Itu cerita tentang dua orang ibu yang saling menanyakan kabar dan kemudian pembicaraan beralih kepada seorang anak bernama Jimmy. Bocah ini tidak pergi ke sekolah pada Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis. Ibunya pun menambahkan bahwa Jimmy akan pergi ke desa bersama dengannya pada Jumat, Sabtu, dan Minggu.

Setiap hari adalah hari libur. Anak-anak mana yang tidak suka liburan? Jimmy adalah sosok anak paling ideal dalam menikmati petualangan di luar sekolah, tidak belajar. Anak-anak tidak sadar bahwa ini adalah bacaan yang membuat anak-anak belajar. Dunia Jimmy hanya ada dalam khayalan. Betapa pun demikian, cerita ini adalah imajinasi yang membebaskan dari aturan pakaian seragam dan semacamnya.

Itulah gambaran Rumah Belajar Bersama (RBB) Tanete tanpa seragam sekolah yang dengan cerdas berhasil diramu dengan sangat baik oleh Miss Fathy Cayadi. Jika belajar itu adalah obat untuk melawan kebodohan, maka obat “cara belajar” ini bukan ramuan pahit. Ia adalah penawar berupa madu manis yang tidak mempunyai efek samping, terlebih efek belakang. Madu pahit juga ada dan itu juga sehat, tetapi anak-anak cenderung menolak pahit dan lebih suka manis. Lalu, haruskah ada efek depan? Kalau pun harus ada, anak-anak ini adalah wajah masa depan generasi penerus yang saat ini menikmati pelajaran bahasa Inggris semanis madu murni.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Minggu, 31 Oktober 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *