“Tolong Sampaikan ke Pak Bupati”: Lontarak Bulukumba Ditelan Zaman

Pada 27 Oktober 2026 lalu, saya menyambut hari pertama kali saya kembali menjadi moderator di sebuah forum resmi, Festival Literasi ke-3 Bulukumba yang diinisiasi oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas). Saya sengaja berpakaian kemeja putih rapi. “Dengan setelan jas andalan tanpa dasi, ini mirip pakaian para diplomat Iran yang bernegosiasi dengan penuh percaya diri,” pikirku.

Indonesia kan sekarang lagi dikelilingi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Para pelajar sekolah di Bulukumba di Sulawesi Selatan (Sulsel), pulau yang sangat jauh dari kebakaran di Kalimantan, saja diminta oleh Dinas Pendidikan pakai masker. Untuk apa pakai jas segala? Di tengah anomali cuaca yang membuat gerah dan menjengkelkan ini, keputusan saya memakai jas andalan sempat terasa berlebihan. Namun, karena kajian Naskah Kuno diadakan di dalam ruangan ber-AC, jas ini jadi pelindung. Kalau kedinginan, saya bisa pakai jas. Sebaliknya, kalau kepanasan, pakaian kemeja tanpa jas tetap terlihat keren. Kalau kajian tiba-tiba di luar ruangan, jas bisa dipakai menghambat partikel asap masuk ke tubuh.

Duduk berdampingan dengan tiga orang pembicara, saya pun memberikan pengantar tentang landasan hukum pembahasan naskah kuno itu. Pemerintah mempunyai kepentingan besar yang terwujud dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007. Untuk menggali sejarah besar kita, kita tidak selalu harus selalu membebek pada literatur asing. Bayangkan saja, ketika kita mau mengenali I La Galigo dan lainnya—naskah kuno kita yang lebih panjang dari Mahabharata di India, para peneliti kita harus bercermin ke Belanda, Inggris, atau memasuki situs internet perpustakaan asing. Digitalisasi naskah di seluruh Indonesia melalui perpanjangan tangan Perpustakaan Daerah bukan hanya menyelamatkan naskah yang belum terdata, tetapi juga akan menguak harta karun kekayaan sejarah pengetahuan kita sendiri. Bagaimana pemerintah mengorganisir semua ini? Itulah mengapa H. Syamsuddin, S.Sos., M.Mp. dari Dinas Perpustakaan Sulawesi Selatan (Sul-Sel) hadir membawakan materi Menjaga Warisan Intelektual Nusantara.

Pembicara kedua adalah Irhyl Makkatutu, pendiri komunitas literasi Tanda Baca dan penulis buku. Irhyl menunjukkan naskah kuno dari Kecamatan Kindang, Bulukumba, yang ditulis di atas kertas watermark buatan Inggris. Lima kitab dengan tulisan Lontarak Bugis, Makassar, dan Arab, berisi tentang hukum-hukum fikih (pemahaman) ajaran Islam, riwayat masa kelahiran dan wafatnya Nabi Muhammad SAW. Dua lainnya masih dalam tahap penelitian. Menurutnya, kemungkinan besar kitab itu berasal dari Datuk Tiro, salah satu tokoh awal mula penyebar agama menyejarah di Sulsel yang menyebarkan Islam di Kecamatan Bonto Tiro, Kabupaten Bulukumba, Sulsel. Ia sangat berharap bahwa dengan adanya dokumentasi digital dari pemerintah yang kemudian dapat diakses oleh publik, para peneliti dan pemerhati naskah kuno termudahkan melacak akar sejarahnya. Apakah naskah itu dipengaruhi oleh Datuk Tiro? Tugas selanjutnya berada di pundak para pemikir kita untuk berpikir kritis dalam melacak kebenarannya.

Selanjutnya, pembicara pamungkas pada Festival Literasi ke-3 ini diampu oleh Prof. Dr. Muhlis Hadrawi. Guru besar Universitas Hasanuddin (Unhas) ini membawa satu tim berjumlah empat orang yang langsung bekerja memotret semua kitab yang dibawa oleh Irhyl, sementara ia sendiri bergabung mengisi acara.

Ini adalah waktu di mana saya kembali berpikir apakah nasib saya menjadi moderator masih sial seperti ketika mendampingi Muhidin M. Dahlan dan Zainal Arifin Muchtar. Karena saya berhasil menjadikan kegagalan pahit di masa lalu itu sebagai pelajaran dan telah mempersiapkan diri lebih baik, saya dengan apik mampu menjelaskan kembali apa yang telah saya tulis pada esai tanggal 25 Oktober 2026 itu. (Link dapat dibaca  di : https://rumahbelajarbersama.org/2026/10/25/patung-bernafas-harus-jadi-manusia/

Satu tambahan penting adalah penjelasan kritik Sultan Hamengkubuwono X di Yogyakarta menyayangkan perlunya membayar 7 Poundsterling per lembar untuk mengakses sejarah Mataram Islam yang kini masih tersimpan di British Library, Yayasan Raffles, dan lainnya. Ini untuk mengingatkan peserta bahwa data sejarah itu sangat berharga. Kita perlu menghadirkan data sejarah kita sendiri. Kalau kita lalai, kita akan selalu tergantung penuh dari sudut pandang asing.

Satu-satunya kelemahan yaitu menyatakan bahwa baru kali ini Festival Literasi diisi oleh seorang Profesor. Padahal, pada Festival Literasi ke-2 tahun lalu, Muhlis juga datang sebagai pembicara. Maklum, saya hanya hadir di pembukaan acara dan diskusi terbuka lainnya, namun tidak terlibat pada urusan naskah kuno.

Dalam kajian Muhlis, ia menerangkan bahwa dua puluh tahun yang lalu, ia telah membaca manuskrip kuno dari Kecamatan Ujung Loe, Bulukumba, Sul-Sel yang menjelaskan tentang asal-usul manusia dan peradaban agraris. Selain itu, “Kenapa Raja Bone selalu singgah di Dannuang?” tanya Muhlis. “Arti kata Dannuang adalah dirindukan,” tambah prof.  kelahiran Kab. Bone ini. Ia mencoba mengajak para peserta berpikir bahwa data sejarah itu mempunyai keterkaitan erat dengan relasi kuasa yang harmonis.

Sebuah paradoks kebudayaan yang unik muncul dari Kecamatan Kajang. Sumbangan manuskrip terbesar sebanyak 21 justru datang dari daerah yang terkenal dengan Pasang Ri Kajang: tradisi pesan lisan atau tidak tertulis yang diwariskan secara turun-temurun tentang amanah leluhur, sistem nilai, hukum adat lisan yang menjadi pedoman hidup rakyat Kajang. Suatu bukti bahwa Kajang juga memiliki kesadaran dokumentasi yang sangat tinggi.

Ada juga Datuk Ri Tiro sebagai penyebar Islam seperti Datuk Ri Bandang di Gowa dan Datuk Patimang di Luwu. Ada Bira dengan pelayaran Pinisi. Dengan mengajukan pertanyaan, ia menggugah kesadaran peserta. “Mana dokumen literasi tentang pengetahuan Datuk Tiro dan perahu?” Ia percaya kekayaan literasi Bulukumba sangat besar yang terdiri dari tanah, gunung, dan laut yang mesti digali. “Tolong sampaikan ke Pak Bupati,” tambahnya agar lontarak Bulukumba itu tidak hilang ditelan zaman. “Kita perlu melakukan kampanye mengenali kekayaan kita sendiri,” lanjutnya.

Seperti biasanya, ketika semua pembicara telah menyampaikan gagasan terbaiknya, ada sesi tanya-jawab dengan peserta. Saya menawarkan ke para pemateri untuk menjawab pertanyaan satu per satu atau semua pertanyaan dikumpulkan menjadi satu. Mereka memilih mengumpulkan semua pertanyaan. “Ini gaya orang Indonesia,” kataku. “Pengalaman saya, kalau pembicaranya orang asing, mereka memilih langsung menjawab pertanyaan satu per satu.”

Dari lima orang yang bertanya, semuanya tertarik memberikan pandangan yang mendukung digitalisasi manuskrip kuno dan memberikan pertanyaan lebih lanjut. Rijal dari Kajang menyatakan bahwa ia mempunyai manuskrip silsilah keluarga Balla Lompoa di Kerajaan Gowa dan rekaman suara dari orang tuanya berupa pita kaset. Ia ingin sumber sejarah itu diselamatkan. Kategori naskah kuno dari pemerintah minimal berusia 50 tahun. Asalkan memenuhi syarat, kenapa tidak.

Sementara itu, Nurlawa, Kepala Desa Bira, memberikan usulan konkret agar desanya menggali semua yang telah dibicarakan. Ia malahan memandang bahwa banyak cerita rakyat mengenai pelayaran tradisional hingga masa Pinisi, tenun Bira, dan Puang Janggo yang kemungkinan besar datang bersama Datuk Tiro. Secara meyakinkan ia menegaskan bahwa Desa Bira menyiapkan pendanaan. Ide itu pun langsung disambut hangat oleh para pembicara. Prof. Muhlis yang juga menjabat sebagai Ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara Sulsel dan Barat memberikan dukungan penuh dengan menerangkan bahwa itu dapat dijadikan buku dan bahkan dijadikan film agar generasi zaman sekarang lebih mudah mengenalnya.

Menjadi moderator pada kajian naskah kuno di Festival Literasi ke-3 Bulukumba membuka secercah harapan di mana pemahaman naskah kuno sebagai jimat-jimat orang sakti matra guna perlahan-lahan beralih ke arah pengetahuan. Zaman yang terus bergerak ini tidak lepas dari masa lalu. Dengannya, kita tahu siapa kita, dari mana kita berasal sehingga dapat membaca lebih jeli menentukan arah masa depan yang lebih baik.

Masih pentingkah kemeja putih disertai jas tanpa dasi? Negosiasi dan kajian intelek Festival Literasi telah selesai. Karhutla pun perlu disikapi lebih serius sebelum ia membakar naskah kuno lainnya.

Zulkarnain Patwa

Bulukumba, Jum’at, 30 Oktober 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *