Menjadi seorang moderator adalah aktivitas yang paling saya hindari. Trauma ini muncul ketika pertama kali saya mempertemukan Muhidin M. Dahlan yang namanya sudah booming dengan bunga rampai pada buku Sosialisme Religius:pemikiran kritis mengenai perkembangan sosialisme dan perbandingannya dengan konsep Sosialisme Islam di Indonesia yang digagas oleh tokoh seperti Mohammad Hatta. Nama Muhidin sudah sangat populer di kalangan aktivis pergerakan mahasiswa dan Zainal Arifin Muchtar, aktivis muda yang menurutku mempunyai pemikiran yang kritis yang sangat tajam. Itu adalah masa jauh sebelum dirinya dinobatkan sebagai guru besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM).
Waktu itu, saya masih terlalu mudah terpukau pada keahlian kedua pembicara cerdas itu sehingga diriku terpaku. Akibatnya, saya tidak mampu mengolah forum sehingga saat memasuki sesi tanya-jawab, tidak ada seorang pun peserta yang bertanya. Heran juga. Sebenarnya, saya sudah lulus Intermediate Training (Latihan Kepemimpinan 2) dan telah berdebat dengan tokoh-tokoh yang jauh lebih besar. Entah apa yang merasuki diriku. Tak pernah terpikirkan bahwa saya akan mengalami nasib sesial ini.
Pembicaraan memang terus berjalan lancar. Kedua pembicara ini tidak kehabisan bahan untuk terus memberikan pencerahan kepada para peserta Basic Training (Latihan Kepemimpinan 1) di HMI-MPO ISIPOL UMY (Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) itu, tetapi menjelang akhir acara, Muhidin ‘menampar’ saya dengan kalimat yang tidak pernah kulupakan. “Moderator itu semestinya lebih cerdas daripada pembicara. Ia harus tahu kapan ia bisa mengambil celah: ssst, ssst, ssst,.” terang Muhidin. Pemikiran anti tesaku tidak muncul. Saya benar-benar bonyok, mati kutu. Pikir-pikir, benar juga kata Muhidin itu. Moderator itu bahkan bisa berbuat lebih, menghentikan pembicara. Tapi, apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur. Saya tidak perlu menyesali kenapa saya terlalu berani mempertemukan kedua orang hebat itu di mana saya berada di tengahnya hanya jadi patung bernafas.
Kalau Kak Uceng, panggilan akrab Zainal Arifin Muchtar, ia tidak menyinggung sama sama sekali. Ia hanya tersenyum, memaklumi saya yang masih berproses, tergolong pemula. Saat mengantarnya pulang dengan motor, ia sama sekali tidak membahas kelemahan saya. Malahan, ia bilang, “Saya lagi mempersiapkan menulis sebuah buku untuk mengenang ayah saya.” Pengalihan obrolan ini membuat suasana hati saya jadi lega. Saat itu, saya tidak menyambung banyak obrolannya. Padahal, ayahnya merupakan salah satu tokoh agama ternama yang sesungguhnya menarik untuk disimak sepanjang perjalanan. Yang saya ingat hanya kalimat Kak Uceng telah menyelamatkan mental saya yang lagi ambruk.
Pertemuan perdana kedua tokoh intelektual muda ini di kemudian hari bersama-sama menulis satu buku Kronik Otoritarianisme Indonesia: Dinamika 80 Tahun Ketatanegaraan Indonesia. Kak Uceng menulis dari sudut pandang hukum ketatanegaraan, sedangkan Bang Muhidin memperkokoh narasi tersebut berbasis kekayaan data kliping koran bersejarah klasik hingga pembaca tidak buta dan mampu membaca peralihan sejarah otoritarianisme itu dengan jelas.
Di masa ketika saya sudah mampu menjadi pembicara juga, saya tidak pernah mengambil peran sebagai moderator. Bila ada yang mengundang, saya memilih menjadi peserta saja. Kapasitas saya adalah pembicara atau peserta. Menjadi peserta selalu lebih menyenangkan karena menurutku, itu hampir tidak ada beban: sekedar datang duduk manis. Bila ada ide, saya bisa bertanya dengan bebas. Pertanyaan remeh temeh atau pun kritis, tiada yang melarang. Sekedar lempar masalah saja. Tugas selanjutnya ada pada moderator untuk mengarahkan dan pembicara harus berpikir lebih kreatif dalam menjawab persoalan-persoalan yang pelik dari para peserta yang cerdas dan nakal dalam berargumen.
Perjalanan waktu mengantarkan saya kembali ke kampung halaman, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.. Saya turut menyibukkan diri dalam gerakan literasi dan seringkali berhubungan dengan Dinas Perpustakaan Daerah Bulukumba. Ibu Rismayani menghubungi dan meminta saya untuk menjadi moderator pada Festival Literasi ke 3 pada 27 Oktober 2026. “Siapa pembicaranya?,” tanyaku. “Prof. Dr. Muhlis Hadrawi, pakar filologi dari Universitas Hasanuddin dan Idris, S. Pd., M.Pd., pemilik naskah kuno,” jawab Bu Risma. “Ah! Matilah saya ini. Saya ini kan alumni jurusan Hubungan Internasional dan tiap hari mengajarkan literasi buku-buku berbahasa Inggris. Dalam hal literasi kuno, kedua orang itu pasti lebih cerdas,” pikirku dalam hati. Pikiranku dengan segera membantah. Bukankah cerita hebat Yunani kuno itu juga awalnya kisah lokal yang kemudian menginternasinal? Iya. Tetapi, dalam sekejap kalimat “Mestinya moderator itu lebih cerdas daripada pemateri” tiba-tiba tergiang kembali menghantui pikiran.
Saya sebenarnya merasa sungkan saja menolak secara langsung tawaran itu. Namun, jejak rekam hubungan baik antara Perpusda Bulukumba dengan Rumah Belajar Bersama (RBB), tempat di mana saya bekerja, sangat erat. Setiap kali kunjungan super penting dari Dinas Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan termasuk kunjungan Kepala Dinasnya, rujukan utama Perpusda selalu ke RBB. Bantuan hibah buku dan segala hal yang berhubungan dengan pencerdasan selalu terkait dengan RBB. Satu fakta bahwa lebih dari satu dekade, RBB konsisten membangun gerakan literasi yang biasanya disiarkan secara live (langsung).
Saya pun berkilah. “Sebaiknya ibu mencari pembicara yang lain saja lebih dahulu. Kalau tidak ada, saya bersedia,” kataku berusaha menghindar. Saya juga menjelaskan kejadian di atas. Ibu Risma tersenyum ramah dan kemudian berkata, “Ah. Anda itu bisa.” Saya memang tidak bisa sembunyi karena saya sudah lama akrab dengannya. Ia banyak tahu jejak rekam kegiatan saya di Bulukumba yang menurutnya berdampak positif. Andi Baso Maskur, mantan Kepala Perpusda, juga pernah menjelaskan bahwa video-video RBB yang dimuat di TV seringkali dia sampaikan di pertemuan Perpustakaan Nasional sebagai bukti bahwa literasi Bulukumba tumbuh.
Saya kemudian berselancar di internet menjejaki Muhlis Hadrawi. Ternyata, ia penulis buku Assikalaibineng. Karyanya ini sudah kudengar sejak mahasiswa dari Chiara Formichi, seorang peneliti dari Italia yang menelusuri sejarah Islam, pluralisme agama, dan dinamika politik di Asia Tenggara, khususnya Indonesia yang waktu itu biasanya berkunjung ke Rausyan Fikr melihat aktivitas para pemuda-pemudi yang aktif kajian Filsafat Islam. Chiara menyediakan satu bab khusus pada Alid Piety in Bugis Texts on Proper Sexual Arts’ (Penghormatan kepada Keluarga Nabi dalam Teks Seni Seksual Bugis) di mana Assikalaibineng menggunakan personifikasi Sayyidina Ali dan Fatimah sebagai simbol ideal dalam relasi spiritual dan biologis antara suami-istri.
Muhlis aktif di Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA) bersama Dr. Husnul Fahimah Ilyas (peneliti BRIN), seorang rekan kerja pelestarian perahu tradisional di Kec. Bonto Bahari, Bulukumba.
Sementara itu, Irhyl R. Makkatutu yang akrab dengan nama pena Idris Makkatutu yang menjadi sumber utama dan pembawa naskah kuno relatif membuat saya lebih lega setelah mendapatkan beberapa informasi dari rekan Alfian Nawawi. Ia mengelola Taman Baca Masyarakat (TBM) bernama Tanda Baca, mirip dengan gerakan RBB. Bedanya, bila RBB literasi berbahasa Inggris, TBM Tanda Baca murni berbahasa Indonesia.
Dengan menggali latar belakang pengetahuan para pembicara disertai pengalaman mengisi materi di berbagai macam forum, dan kematangan usia, sudah semestinya menjadi moderator itu bukan lagi hal yang menakutkan. Kritik tempoe doeloe dari Muhidin itu membangun, bukan hujatan karena hujatan itu menjatuhkan.
Sekarang, dengan segenap energi yang kita punya, mari kita mensukseskan Festival Literasi Bulukumba ke 3 ini. Kata Habibie, “Kalau bukan kita sendiri yang memulai, siapa lagi? Jangan harapkan orang-orang luar itu datang membantu Anda.” Oleh karena itu, mari kita bergandengan tangan memberdayakan segala potensi internal kita sendiri. Siapa tahu, naskah kuno yang kita gali itu suatu saat jadi kajian internasional.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Minggu, 25 Oktober 2026

Tinggalkan Balasan