Hentikan Pembodohan Anak Pada Bahasa Inggris

Mengenali beragam kosakata itu penting, tetapi membiarkan pembelajar pemula tersesat tanpa arah adalah bentuk pembodohan sistemik. Tahukah kita kata apa yang paling penting dalam sebuah kalimat? Dalam bahasa Inggris, kata itu adalah verb (kata kerja). Tanpa verb, sebuah kalimat utuh tidak akan pernah terbentuk. Hal ini karena waktu dan kejadian—baik saat ini, lampau, maupun yang akan datang—seluruhnya ditentukan oleh verb, bukan oleh tujuh kelas kata yang lainnya.

Para pelajar dapat difokuskan khusus untuk menguasai perubahan verb saja, atau langsung ke dalam bentuk perubahan kalimat yang tetap berpusat pada verb. Langkah pertama memudahkan para pelajar untuk lebih cepat menghafal verb itu sendiri. Sementara itu, langkah kedua memudahkan mereka mengenali lebih banyak kosakata baru sekaligus memahami cara perubahan kalimat. Metode mana yang lebih efektif? Mari kita telaah lebih jauh.

Alika dan Faika adalah contoh dua orang pelajar yang telah (hampir) menguasai nominal dan verbal tenses di luar kepala. Mereka lebih tertarik menguasai perubahan verb secara langsung tanpa perlu mendapatkan contoh kalimat. Hal ini terjadi karena mereka sudah sangat terbiasa melakukan ribuan simulasi perubahan kalimat melalui latihan lisan. Mereka telah sampai pada kesadaran bahwa dengan memperkaya penguasaan verb, terdapat kepercayaan percaya diri yang lebih besar terbangun dalam mengekspresikan pendapat mereka serta tidak salah menempatkan konteks kalimat yang ingin disampaikan. Berdasarkan usulan guru, keduanya sepakat secara bergantian melatih diri dengan saling menanyakan perubahan verbs.

Kondisinya berbeda dengan para pelajar pemula yang jumlahnya sekitar sepuluh orang. Mereka justru lebih tertarik belajar melalui kalimat yang tertulis. Kelompok ini sebenarnya pernah berlatih secara lisan sebagaimana Alika dan Faika. Latihan tersebut tetap berkesan, namun rentang fokus belajarnya jauh lebih singkat. Efeknya, setelah memahami beberapa kosakata, mereka cenderung langsung meminta keluar untuk bermain. Ketika keinginan tersebut tidak terpenuhi, mereka mulai membuat keributan di kelas, seperti mengobrol sesama teman, berpura-pura mengabaikan penjelasan guru, atau tiba-tiba ‘menghilang’ tanpa seizin guru.

Berangkat dari tantangan tersebut, sebuah ide baru pun muncul. Metode 40—yakni pembelajaran berbasis 40 soal pada tiap materi yang menargetkan pemahaman tersistematis perubahan kalimat hingga mampu dikuasai di luar kepala—yang berisi ribuan kalimat menjadi pilihan. Pada awalnya, anak-anak pemula ini hanya mau menyelesaikan 40 soal saja, lalu langsung meminta keluar bermain. Namun tak berselang lama, beberapa anak justru kembali ke dalam kelas meskipun waktu bermain belum habis. “Saya mau mengerjakan latihan lagi,” ujar Nabila. Anak-anak yang lain, entah karena sepemikiran dengan Nabila, dipicu rasa penasaran, atau ingin mengerjakan lebih banyak soal setelah menuntaskan 40 soal pertama sebagai bentuk kompetisi terselubung, akhirnya melakukan hal yang sama. Hasilnya luar biasa: dalam durasi 90 menit, waktu bermain yang mereka gunakan ternyata hanya sekitar sepuluh menit saja. Hebatnya lagi, aktivitas ini mereka lakukan murni atas pilihan sendiri tanpa ada paksaan dari teman atau guru kelas.

Ketika proses belajar mandiri ini berjalan dengan baik, satu hal paling penting yang perlu diperhatikan adalah keberadaan guru di kelas untuk bersedia melayani pertanyaan. Anak-anak selalu mengangkat tangan untuk meminta penjelasan bagaimana cara mengerjakan pada bagian yang mereka belum mengerti. Di sisi lain, anak yang terlambat mendapatkan perhatian biasanya merajuk (ngambek) yang beresiko merusak suasana hati (mood), menurunkan minat belajar. Karena itu, guru harus pandai memberikan alasan yang masuk akal agar para pelajar itu mau bersabar ketika pertanyaan bertubi-tubi datang dalam waktu yang bersamaan. Ketika negosiasi yang komunikatif itu tercapai, fokus belajar mereka tidak akan buyar, tidak ada pertanyaan terabaikan dan semuanya mendapatkan petunjuk untuk menemukan jawaban. Sesekali, guru meminta kepada anak yang pintar untuk membantu teman baiknya yang kewalahan menemukan solusi agar waktu belajar lebih efisien.

Di balik semua itu, terdapat ide besar yang diwujudkan. Penguasaan tenses di luar kepala bagi anak-anak SD yang meskipun masih pemula selalu ingin dibuktikan agar terdapat bekal yang cukup dalam melakukan pendalaman literasi, mampu membaca buku-buku berbahasa Inggris dan terbiasa berbicara dengan struktur yang teratur. Pada tahapan ini, bahasa itu bukan lagi sekadar alat pergaulan internasional saja melainkan bertransformasi menjadi sarana utama untuk mengejar dan menyerap ilmu pengetahuan dari luar. Sebuah terobosan baru yang sangat jarang dilakukan pada anak usia dini dengan dalih otak anak-anak belum sanggup menyerapnya.

Verb memang kosakata yang asing bagi bahasa Indonesia. Tetapi, tahukah kita bahwa bahasa besar seperti Arab, Prancis dan Jerman mengalami perubahan verb, sangat berbeda dengan bahasa Indonesia? Dengan mengenali verb dalam bahasa Inggris sejak dini, itu adalah landasan kokoh untuk tidak berpikir ‘aneh’ lagi pada bahasa-bahasa lainnya yang ingin dipelajari. Sedikitnya, para pelajar itu tidak kaget dengan banyaknya ragam perubahan kata kerja yang jauh lebih kompleks pada bahasa-bahasa asing itu.

Oleh karena itu, jurus menguasai perubahan verb pada kalimat adalah kunci utama. Sebab dengan menguasai jantung kalimat ini, aspek kebahasaan lainnya dengan sendirinya akan mengikut, urusan jauh lebih mudah dan menjadi bagian dari solusi dari persoalan pelajar kita yang masih sangat kesulitan belajar bahasa Inggris, meskipun diajarkan di sekolah yang sebagian kita temukan hanya mengajarkan sebatas kosakata kata hingga tamat SD karena memasang guru yang bukan pada keahliannya, bukan guru berlatar belakang bahasa Inggris atau memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Senin, 12 Oktober 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *