Segera setelah belajar online dengan Salma Minasaroh, pendiri lembaga GAIA di Pati, Jawa Tengah, kepada lima pelajar yang terdiri dari tiga orang pelajar SD dan dua pelajar SMP di daerah Bulukumba, saya dilingkupi rasa penasaran untuk mengetahui apa saja yang menarik dicatat, diabadikan. Yang pertama saya dengarkan yaitu masalah jaringan yang kadang-kadang buruk sehingga suara tidak kedengaran dengan jelas. Idenya untuk memberikan pelatihan menjawab soal tenses secara acak yang sesuai dengan rencananya pun berubah, target yang ingin dicapai bersama.
Soal acak itu memang diberikan, tetapi tingkat kerumitannya masih dalam kategori sedang, bukan tingkat tinggi karena selain kendala teknik, ia tahu bahwa beberapa anak masih agak kesulitan melakukan perpindahan kalimat, bukan karena tidak memahami struktur, tetapi karena kesulitan mengingat perubahan kata kerja kalimat, syarat mutlak untuk menyatakan suatu kalimat dengan benar.

Dari hasil penelusuran Miss Salma, ia menilai bahwa Adeeva, pelajar kelas 5 SD, dan Alika, pelajar kelas 2 SMP, sangat cepat menjawab soal-soalnya. Perbendaharaan perubahan kata kerja yang mereka miliki sudah di atas rata-rata, sedangkan tiga pelajar lainnya: Azka, pelajar kelas 2 SMP, Faika dan Nabila yang sama-sama kelas 4 SD berada pada posisi yang kedua. Miss Salma sesekali mesti memberikan beberapa petunjuk agar mereka mampu menjawab dengan benar. Setelah sadar, barulah mereka menjawab secepat kilat, terselamatkan oleh pemahaman struktur yang lumayan kokoh.
Adeeva yang tergolong sebagai terbaik adalah wajar karena ia mempunyai jejak rekam pelajar yang sangat rajin datang belajar dan pernah juara Olimpiade Bahasa Inggris tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh KOMPAS pada Mei 2026.
Yang mengangetkan adalah Faika. Gadis kecil imut ini lebih dahulu meraih emas pada Olimpiade Bahasa Inggris diselenggarakan oleh National Science & Mathematics Academic Olympiad (NSMAO) pada Februari 2026 dan pernah mengikuti Kampung Belajar di mana ia belajar dari pagi hingga malam selama sebulan penuh. Bahkan, karena logika berpikirnya yang lumayan bagus, ia pun dengan percaya diri sering mengajari rekan-rekan kelasnya termasuk Alika yang digolongkan sejajar dengan Adeeva.
Mengapa Faika sedikit mengalami penurunan? Menurut Ancha, “Faika kurang mendengar dengan baik soal yang disampaikan oleh Miss Salma sehingga ia bertanya ke temannya. Temannya pun tidak tahu, tidak mendengar soal dengan jelas. Bahkan ia pun sempat bertanya ke saya. Saya tidak memberitahu karena ingin melatih kemandiriannya,” terang Mr. Ancha yang mengawasi para pelajar agar tidak ada yang melihat buku catatan dalam menjawab. “Hal lain adalah beberapa perubahan kata kerja yang ditanyakan, perubahannya tidak diingat oleh Faika,” lanjut Mr. Ancha. Ia tidak diperkenankan untuk membantu, sekedar mengawasi, titik. Para pelajar itu dididik untuk mengambil inisiatif untuk bertanya ke guru yang sedang mendidik guna memperjelas segala hal yang membutuhkan perulangan. Bila itu dilakukan, Faika kemungkinan besar bisa menjawab soal dengan benar.

Selain itu, hal lainnya yang cukup unik yang Salma deteksi adalah materi verbal tenses lebih mudah daripada nominal tenses bagi para pelajar itu. Secara teori dan berdasarkan fakta yang sering dialami pengajar bahasa Inggris, Nominal Tenses jauh lebih mudah daripada Verbal Tenses karena Verbal Tenses. Nominal tenses hanya mengubah satu kata kerja utama yaitu “be” ke dalam berbagai macam kalimat, sedangkan verbal tenses, semua kata kerja selain “be” digunakan sebagai kata kerja utama, terlalu banyak kata kerja yang harus dihapal. Bahkan, untuk menghindari soal nominal tenses, ada pelajar yang berkata, “Saya belum belajar Nominal Tenses.” Padahal, itu telah diajarkan. Ada juga pelajar yang berbeda pendapat, “Saya sebenarnya memahami dengan cukup baik pada nominal tenses, tetapi saat mendalami verbal tenses, nominal tenses agak terlupakan,” kata Azka. Ketika Miss Salma mengecek dengan pertanyaan, kemudahan pada nominal tense menjadi sulit, sedangkan kesulitan dalam verbal tense menjadi mudah. Aneh bin ajaib ini akan dideteksi alasannya.
Keganjilan itu terjawab ketika, Mr. Ancha, seorang pengajar juga yang mendidik lima orang anak itu di Rumah Belajar Bersama (RBB) di Bulukumba, mengatakan bahwa para pelajar lebih banyak latihan lisan dan tulis pada verbal tenses. Saya langsung sadar bahwa ada hal yang kecil dan remeh temeh yang luput dari perhatian. Hal kecil ini nampaknya akan membesar dan telah menjadi konsumsi publik hanya karena mengganggap pelajaran itu telalu mudah. Pada akhirnya pelajar harus berkelit lidah karena pemberlakuan pada pembelajaran nominal tenses tidak seimbang dengan verbal tense.

Di balik kisah yang dijelaskan secara jujur dan terang benderang ini, Miss Salma yang merupakan sarjana bahasa Inggris dari Universitas Ahmad Dahlan dan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta serta Basic English Courses (BEC) di Kampung Inggris Pare, Kediri Jawa Timur ini memberikan apresiasi kepada para pelajar. Ia menerangkan bahwa pelajar SMA yang ia didik sedikit saja mengetahui tenses. Itu karena sekolah tidak banyak mengajarkannya. Rumah Belajar Bersama (RBB) Bulukumba telah melangkah cukup jauh dengan memastikan bahwa itu sanggup diajarkan kepada anak-anak SD dan SMP serta berani mempublikasikan hasilnya sesuai dengan realitas, tanpa rekayasa mondongkrak nilai. Mitos tentang nilai bahasa Inggris yang hanya bagus pada lembaran nilai rapor harus diruntuhkan dengan membuktikan bahwa nilai tersebut sesuai dengan kapasitasnya.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Jum’at, 9 Oktober 2026

Tinggalkan Balasan