Dobrakan Literasi Bahasa Inggris

Gerakan penguasaan tenses di luar kepala sangat gencar dilakukan oleh Rumah Belajar Bersama (RBB). Jika ini diajarkan pada orang dewasa, itu hal wajar saja. Apa yang RBB lakukan itu jauh dari bayangan banyak orang. Lembaga pendidikan ini tidak hanya menyasar orang dewasa dan remaja, tetapi juga anak SD. Tidak main-main, sekitar 1.000 perubahan kalimat tenses tanpa melihat catatan dipraktikkan oleh anak-anak dan biasanya itu disiarkan secara live (siaran langsung) di akun Facebook-nya.

Terdapat tiga orang pelajar SD yang menamatkan verbal tenses secara teratur. Mereka adalah Belva, kelas 5 SD, Gavino, kelas 4 SD, dan Adam, kelas 5 SD.

Beberapa rekan sarjana pendidikan bahasa Inggris yang penulis ajak berbagi pemahaman heran mengapa anak-anak ini diajarkan materi yang tidak lazim bagi umurnya. Jangankan kurikulum pendidikan Indonesia, sekolah standar internasional pun masih enggan melakukannya karena kajian seperti ini biasanya khusus dibahas secara mendalam pada grammar (tata bahasa) atau karena mereka memiliki filosofi pendidikan yang berbeda. Mereka membahas tenses, namun tidak spesifik mengkaji secara khusus. Alasan paling umum adalah menyita waktu yang sangat banyak dan otak anak-anak belum tepat mendapatkan pelajaran yang berisi rumus kaku.

Pada awalnya, guru-guru RBB yang semuanya pernah belajar selama bertahun-tahun sebelum menjadi alumni Kampung Inggris Pare, Kab. Kediri, Jawa Timur itu juga berpikiran sama. Kendala mulai muncul ketika anak-anaknya yang sudah terbiasa dengan buku bacaan berbahasa Inggris kesulitan dalam memahami struktur bacaan dan menjawab soal-soal cerita. Mereka selalu merasa kewalahan dan hal yang membuat tambah repot, mereka tidak mau mengerjakan latihan bila tidak didampingi satu per satu oleh guru kelas. Target membangun kemandirian belajar menemui jalan buntu.

Menghadapi masalah besar ini, para guru RBB itu rapat, mengambil keputusan ekstrem. Menurut mereka, jalan paling singkat adalah pemahaman tenses di luar kepala. Mereka sadar bahwa ini sungguh pekerjaan yang tidak mudah. Pertimbangannya, para guru berpengalaman ini mengenang masa-masa belajar di Kampung Inggris, tempat belajar orang dewasa saja kewalahan menguasainya. Kemudian, karena ini dianggap jalan terbaik, mereka menggabungkan–lebih tepatnya mengombinasikan–teknik mengajar, membuat penyederhanaan rumus dan menciptakan berbagai variasi yang ramah anak. Hasilnya, anak-anak pun berlomba-lomba menguasai tenses tanpa pernah bertanya mengapa harus mempelajarinya.

Strategi ini berjalan mulus. Adam tiba-tiba tersadar, “Untuk apa belajar ini, Mister?” Ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Guru kelas tahu rasa ingin tahu Adam sedang berkembang. “Agar bacaan pada buku berbahasa Inggris-mu lebih baik,” jawab guru itu. “Adam kan sudah tamat satu buku, tetapi kamu masih selalu kewalahan dalam memahami teks bacaan dan menjawab soal-soal,” lanjut guru. Mendengarkan penjelasan yang melibatkan perjalanan belajar Adam itu, ia berpikir sejenak dan kemudian, menganggukkan kepalanya sebagai tanda sepakat.

Adam pun mengerti bahwa tidak lama lagi dirinya dan rekan-rekan kelasnya akan kembali pada gerakan literasi berbahasa Inggris, membaca buku dengan suara nyaring dan bercakap berdasarkan teks dialog. Ia juga berharap penjelasan gurunya itu terbukti. “Jadi nanti, saya membaca lagi?” tanya Adam. “Iya. Kamu harus rajin cari ilmu dengan membaca,” balas gurunya dengan singkat.

Berbeda halnya dengan Belva dan Gavino. Kedua anak bersaudara ini tidak menghiraukan cara berpikir Adam. Setiap datang belajar, sang kakak, Belva, menolak semua tawaran guru: tidak mau percakapan dan bacaan. Sang adik, Gavino, mengikuti kakaknya. Untuk bisa lekas paham dan tamat, Belva selalu memanggil sahabat karibnya, Adeeva, yang sudah mahir tenses di luar kepala dan juga pernah meraih Olimpiade Bahasa Inggris tingkat SD se-Indonesia. Belva dan Gavino hanya mau bermain bila tugas cicilan setoran tenses-nya selesai. Strategi belajar itu membuat kedua anak ini mudah menguasai tenses.

Fokus penguasaan satu materi dari Belva yang dipatuhi oleh pengikut setianya Gavino sangat baik dan terbukti mampu menyelesaikan tugas tenses teratur. Sekarang ini, mereka belajar tenses acak secara tertulis dan lisan–tahapan lanjutan bagi semua pelajar yang telah menamatkan tenses teratur.

Setelah itu, guru akan mencari momentum yang tepat agar cara berpikir Belva itu diperbincangkan, mencari jalan tengah agar bisa disandingkan dengan pemikiran Adam. Pendekatan yang akan digunakan mempertanyakan apa kegunaan mempelajari tenses. Belva tentu akan mencari jawaban dan kemungkinan besar ia akan sepakat menggunakannya untuk kebutuhan percakapan dan bacaan buku berbahasa Inggris, target literasi.

Kreativitas untuk meremukkan ketidakmampuan pelajar Indonesia dari RBB ini adalah salah satu contoh dari sekian banyak lembaga pendidikan alternatif di Indonesia. Kelompok kaum terdidik ini dalam kesehariannya selalu berusaha membaca dengan jeli persoalan pendidikan yang sedang dihadapi, menemukan akar masalah dan menawarkan solusi dalam bentuk tindakan. Gerakan mereka ini luar biasa karena hendak mendobrak kevakuman dan bahkan ketakutan pelajar dan ketidakpercayaan diri pelajar dalam berbahasa Inggris.

Sebagian orang mungkin menganggapnya biasa saja atau bahkan tidak peduli. Mereka tidak tahu bahwa desain ini adalah investasi jangka panjang. Tenses misalnya, itu sangat berguna untuk kepentingan akademis dan non akademis. Melalui proses belajar terus berkelanjutan disertai inovasi tiada henti, daya ledak dalam bentuk mencetak generasi terdidik yang mampu bersaing sesuai bidangnya pasti tercipta di masa yang akan datang. Itu karena mereka menemukan pembelajaran yang dapat dipertanggungjawabkan.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Jum’at 21 Agustus 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *