Menempa Pendidikan Layaknya Kayu Besi

Menamatkan buku Basic Grammar (Tata Bahasa Inggris Dasar) melahirkan kebanggaan. Kualifikasi jelas, tuntas 16 bab latihan tulis dan menguasai perubahan nominal tenses dan verbal tenses di luar kepala. Namun, itu bukan berarti pelajar langsung bisa naik tingkat, mendapatkan buku tahap kedua, yaitu Pre-Intermediate Grammar. Review materi wajib dilakukan sebagai pembuktian bahwa pelajar tersebut dikatakan layak menyandang status tamat Basic.

Gambaran pelajar didikan Mr. Agung Pratama Salassa di Rumah Belajar Bersama (RBB) ini adalah wujud pembelajaran yang mengedepankan kualitas. Pengetahuan yang diperoleh harus mampu dipertanggungjawabkan dengan bukti yang nyata. Pelatihan berulang dengan beragam soal mengacu pada 16 bab itu diolah kembali sembari mencari celah yang belum dimengerti dengan baik.

Muhammad Athar Al Gazi adalah satu dari sekian banyak pelajar RBB yang memperoleh pengalaman berharga itu. Dalam pandangan Mr. Agung, tiga hal penting yang menjadi perhatiannya buat Athar:

1. Athar adalah pelajar teliti dan rapi, tetapi lambat mengerjakan latihan.

2. Athar mudah menerima dan cepat memahami materi.

3. Karena Athar mengikuti dua kelas yaitu Matematika dan Bahasa Inggris, ia datang ke RBB saat ada pelajaran Matematika dan kemudian masuk ke kelas Bahasa Inggris. Ia sering tidak mengikuti jadwal kelas Bahasa Inggris bila tidak bertepatan dengan hari belajar Matematika.

Atas dasar mengatasi kelemahan lambat mengerjakan latihan dan kurang aktif memanfaatkan jam belajar yang disediakan, Mr. Agung memutuskan untuk melakukan pemantapan latihan untuk Athar.

Melalui izin dari Mr. Agung, penulis dapat berbagi ilmu dengan Athar. Dalam satu pertemuan, ia mengerti cara memindahkan semua kalimat pasif. Itu capaian yang luar biasa bagi anak kelas 2 SMP—mengutip Athar, di sekolah ia baru belajar simple present dan simple past tenses. Dalam latihan lisan bermodalkan kotak kosong untuk mengetahui arah perubahan kalimat pasif, penulis menangkap bahwa ia tahu jawaban dari tiap pertanyaan. Hanya saja, ia sedikit lambat merespons secara langsung dalam bentuk bicara karena keasyikan dalam berpikir. Solusinya, ia perlu lebih banyak latihan lisan saja.

Mengajarkan materi pasif adalah proses pengecekan apakah Athar paham tenses atau tidak. Karena ia telah mengerti pasif, itu adalah bukti bahwa ia memahami seluruh perubahan tenses. Athar juga menyadari bahwa dirinya tidak mungkin paham pasif bila tidak mengerti tense. Materi ini menjadi pengantar menuju grammar tahap kedua. Pembahasan detail ada pada buku latihan nantinya. Dalam pemahaman penulis, ia tergolong anak yang sudah siap menerima tantangan baru.

Bila mengikuti logika modal, pelajar yang naik level akan membayar lebih mahal. Alasannya adalah kualitas pelajaran juga meningkat. Namun, Athar harus bersabar lebih lama—hampir dua bulan menanti untuk bisa masuk tahap kedua. Pembayarannya pun masih terhitung pada tahap basic.

Pembelajaran ini juga bagian dari pembinaan mental. Pelajar diajak untuk merenungi dirinya sendiri, mencari bahan-bahan yang belum mereka kuasai untuk di-review. Setelah tuntas, kepercayaan diri pasti meningkat. Kapasitas pelajar yang diperkenankan masuk buku tahap kedua itu benar-benar meyakinkan.

Dari segi pembelajaran, mengedepankan pelajar yang terlebih dahulu mempunyai kualifikasi yang bagus akan jauh memudahkan menganalisis pelajaran yang sulit. Selain itu, guru juga akan sangat terbantu mengajarkan pendalaman dan percepatan materi. Itulah yang ingin digerakkan pada buku grammar (tata bahasa) tahap kedua.

Setelah kelas belajar selesai, penulis berbicara dengan Mr. Agung dan menyampaikan capaian yang diperoleh Athar. Mr. Agung berpendapat bahwa Athar sudah diperkenankan naik ke tingkat tahap kedua.

Model pendidikan ini adalah antitesis dari pendidikan instan yang sering hadir ditawarkan di era modern ini. Ciri pendidikan instan adalah mengejar target untuk memenuhi standar formalitas, pelajar yang tamat bisa langsung naik level, orientasi bisnis untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya, dan mencetak mentalitas pelajar yang rapuh atau manja.

Athar yang sedang berpikir menemukan jawaban yang tepat pada latihan pasif secara lisan.

Sedangkan metode RBB yang diterapkan kepada Athar dan kawan-kawan memang kurang populis di era modern ini, tetapi berdampak lebih besar untuk jangka waktu yang panjang. Karakteristiknya dapat dilihat dari target pemahaman hakiki, ada kewajiban mengikuti uji kelayakan, orientasi kualitas dan membentuk jiwa pelajar, dan membentuk mentalitas tangguh dan percaya diri.

Sejatinya, kita tidak boleh lupa siapa diri kita dan dari mana kita berasal. Kayu endemik Sulawesi adalah kayu besi dengan kualitas terbaik, tetapi pertumbuhannya lambat. Namun, untuk kebutuhan pasar yang ingin serba instan, orang Sulawesi mengimpor kayu jati putih yang kualitasnya tidak layak dibandingkan dengan kayu besi.

Kayu apa yang kita akan pilih? Maukah kita meluangkan waktu yang cukup dan melatih kesabaran dalam menuntut ilmu guna mendapatkan kualitas terbaik?

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Kamis, 20 Agustus 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *