Pelajar tidak tertarik menjawab soal karena tidak tahu cara menjawabnya, terlebih bila aturan menjawab itu harus diikuti dengan struktur tata bahasa yang benar. Peristiwa ini terjadi pada anak-anak yang telah tamat bacaan Basic Reading (Bacaan Dasar) yang sudah terbiasa membaca, tetapi tidak mau menjawab soal bacaan, betapapun isi bacaan telah dimengerti.
Audrey Naiara Vaiezt, anak berumur sembilan tahun, dan rekan-rekan sekelasnya mengalami nasib sulit di atas. Mereka ini suka teks bacaan percakapan juga dan sangat aktif berbicara secara berpasangan—bekal berbicara diperoleh dari kebiasaan membaca dengan suara nyaring. Sebaliknya, bila diminta menjawab hasil bacaan, minat mereka sangat rendah, mereka seakan-akan tidak tertarik. Kemampuan otak belum mampu mencerna cara menjawab sesuai kaidah tata bahasa, meskipun berkali-kali dijelaskan. Mereka tahu bila diberi tahu dan itu harus selalu diberi tahu pada setiap nomor soal.

Atas dasar mencetak anak-anak yang bisa menamatkan buku bacaan berbahasa Inggris tidak mudah, anak-anak ini adalah aset yang berharga yang tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. Karena itu, solusi pemahaman tenses di luar kepala diberikan. Audrey termasuk anak yang baru saja menamatkan seluruh perubahan kalimat tenses secara teratur dan sekarang, ia berlatih tenses acak.
Ini sungguh aneh, tetapi nyata. Tenses di luar kepala itu adalah materi sangat susah dibandingkan dengan menjawab soal-soal bacaan sederhana. Bagi Audrey dkk, itu malahan bahan pelajaran yang jauh lebih sederhana dan menarik perhatian. Menyadari ketertarikan mereka ini, fokus penguasaan tenses secara utuh menjadi fokus utama saat ini.

Ketika rekan-rekan kelas Audrey yang telah tamat buku Basic Reading itu telah menyelesaikan materi tenses di luar kepala, pembelajaran akan dikembalikan ke literasi, bacaan cerita dan percakapan berbasis akademis. Dalam artian, keseimbangan kelas terjaga sekaligus menghindari kebuntuan menjawab soal. Itu hampir dapat dipastikan bahwa mereka mampu menikmati pembelajaran karena mereka telah mempunyai bekal yang cukup untuk memikirkan pola kalimat yang tepat dalam menulis jawaban.
Anak-anak ini tidak menyadari bahwa tujuan yang ingin dicapai adalah bagaimana mereka kembali tertarik pada literasi. Apa yang telah diajarkan di atas ditargetkan untuk mudah menjawab soal-soal bacaan. Bahasa Inggris ingin dijadikan alat untuk mengejar ilmu pengetahuan. Kemampuan membaca, tata bahasa dan bercakap dalam bahasa Inggris adalah pemantik agar pelajar mudah mengakses ilmu pengetahuan dari luar, bukan bersumber dari bahasa ibu.

Tahapan selanjutnya yang ingin dicapai adalah anak-anak mampu membaca buku-buku cerita berbahasa Inggris yang lebih panjang. Selama ini, judul cerita yang mereka baca masih dalam bentuk lesson (pelajaran), sekitar satu atau dua lembar tiap lesson, meskipun itu berisi banyak lesson. Ke depan, mereka akan dilatih untuk membaca esai, novel, atau cerpen yang tulisannya cukup panjang. Itu adalah suatu bentuk pembelajaran yang menuai hasil, bukan target meraih nilai sekolah yang baik. Toh, pembelajaran bahasa Inggris hingga tamat SD itu belum melewati materi tenses.

Segala masalah pembelajaran yang dituangkan dalam tulisan ini tidak dengan serta-merta membuat kita menurunkan kualitas pembelajaran. Bagi pembaca yang berkecimpung dalam jurusan bahasa Inggris atau semacamnya tentu tahu bahwa materi pada kasus di atas justru ditingkatkan. Yang membedakan adalah terdapat strategi yang jitu untuk tidak lepas dari jalur pembelajaran yang ingin dicapai. Malahan, dengan menerapkan strategi belajar tersebut, lompatan pembelajaran yang tingkat tinggi sangat mungkin tercapai kepada para pelajar SD.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Rabu, 19 Agustus 2026
Tinggalkan Balasan