Seni Mengajar dan Belajar Bahasa Inggris

Anak-anak baru saja mendapatkan pelajaran serius berupa simple present pada verbal tense dengan menggunakan subjek I, you, they, we dan he, she, it. Pelajaran ini cukup menguras energi karena kedua penggolongan subjek tersebut mempunyai struktur kalimat yang berbeda. Terlebih, mereka diminta tampil satu per satu setelah melakukan praktik secara bersama-sama.

Begitu materi melelahkan itu usai, permintaan keluar main pun bergema. Guru menanggapi dengan sangat baik, memberikan waktu istirahat selama lima belas menit. Cuma saja, mereka tidak dibolehkan lagi bermain-main sambil berlari ke mana-mana. Selain bisa mengganggu kelas lain yang sedang belajar, mereka seringkali berlari sambil berteriak-teriak. Mereka sepakat dan membuat permainan yang tidak menciptakan kebisingan berlebihan.

Sewaktu jam bermain selesai, guru bertanya, “Apakah kalian masih mau belajar tenses?” Dengan serentak, anak-anak menjawab, “Tidak.” Pertanyaan lain menyusul, “Kalian mau membaca?” Jawaban mereka tidak berubah, “Tidak.”
“Baiklah kalau begitu,” balas guru yang tidak ingin memberikan beban pelajaran. “Apa yang kalian inginkan?”
“Main games,” ungkap anak-anak itu dengan semangat.
“Boleh,” kata guru menanggapi. “Kalian bermain kartu. Belajar penjumlahan dalam bahasa Inggris.”
Anak-anak sepakat.
Aturannya, “Dua kartu ditaruh di meja. Orang yang menaruh di meja wajib menyebut tiap angka di kartu itu. Peserta yang ingin menjawab harus menjumlahkan kedua kartu itu dan wajib menyebut jawabannya dalam bahasa Inggris.”
Singkat cerita, aturan ini disepakati.

Tanpa terasa, mereka kembali belajar angka dalam bahasa Inggris. Kemampuan dasar-dasar berhitung sederhana pun lebih terasah. Terkadang anak-anak menjawab dalam bahasa Indonesia. Sang pemberi soal menolak untuk membenarkan meskipun jawabannya benar. Ini adalah kelas bahasa Inggris, bukan kelas Matematika.

Seiring berjalannya waktu, menyaksikan keseruan bermain ini, guru tidak terlibat secara langsung lagi. Semua yang bermain sudah mengetahui aturan permainan dan saling mengingatkan atau menegur bila terjadi kesalahan. Kelas ini berjalan lancar.

Sekelompok kecil pelajar lain yang masih sangat pemula turut menonton dan penasaran. “Mau ikut bermain?” tanya guru. “Tidak, Mister.” Guru mengerti bahwa anak-anak itu kurang bisa mengikuti ritme permainan karena mereka melihat kakak-kakak kelasnya itu menjawab soal dengan cepat, sementara mereka sendiri belum terlalu menguasai angka satu sampai dua puluh dalam bahasa Inggris.

Ide membuat kelompok baru pun lahir. Para penonton itu diajak membuat kumpulan baru dan guru itu langsung turun tangan melakukan pendampingan. “Kalian sebut saja angka yang saya taruh di atas meja.” Mereka mengerti. Saat bermain, ternyata, mereka tidak butuh waktu yang lama untuk mengerti angka satu sampai sepuluh.

Kemudian, permainan sedikit ditingkatkan. Dua buah kartu ditaruh di atas meja dan harus disebut dalam bahasa Inggris juga. Jawaban mereka lumayan bagus. Seorang pelajar yang paling cepat dalam menjawab diminta memimpin kelas. Ia setuju, memegang kartu dan menirukan cara menurunkan kartu di atas meja seperti yang dilakukan guru sebelumnya. Anak-anak pun berlomba-lomba menjawab.

Dari dua kelas yang berbeda tersebut, semuanya mampu membuat ruang bermain dan belajar di mana mereka sendiri yang mengelolanya. Guru hanya sesekali menjadi penengah manakala terjadi keributan atau persoalan yang sulit mereka selesaikan. Karena keasyikan bermain dan tidak mau mengganti permainan ataupun pelajaran yang lain, mereka terus bermain hingga jam belajar selesai.

Dari kejadian di atas, pembelajaran serius seperti tenses itu memang banyak menguras otak atau energi namun tidak boleh ditinggalkan karena itu adalah bahan dasar percakapan yang terstruktur serta sangat berguna untuk bacaan. Pembelajaran “tidak serius” dalam bentuk bermain telah berhasil didesain bukan sebatas bermain. Konsep yang diberikan memang dalam bentuk bermain agar belajar itu terasa lebih dinikmati, tetapi isinya adalah pelajaran bahasa Inggris plus berpikir logis yang ujungnya diucapkan dalam bahasa Inggris.

Pada akhirnya, semuanya adalah belajar. Apakah Anda termasuk pelajar serius atau “tidak serius” alias bermain? Temukanlah cara belajar yang membahagiakan.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Selasa, 28 Juli 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *