Ketika guru sedang asyik duduk santai menyaksikan seorang pelajar bernama Nabila menyetor pemahaman tenses di luar kepala pada materi perfect progressive, Audrey, anak yang baru saja tiba di kelas tiba-tiba berkata, “Mister, saya juga mau ikut olimpiade bahasa Inggris.” Guru menyambut, “Itu bagus, Audrey,” balas guru, “tapi ada syaratnya, kuasai tenses di luar kepala lebih dahulu. Setelah itu, kamu bisa dapat materi olimpiade.”

Audrey kemudian mendekati Adeeva yang pernah meraih emas pada Olimpiade Bahasa Inggris KOMPAS pada Juni 2026. “Apa yang perlu dipelajari kalau mau ikut olimpiade?” tanya Audrey ke Adeeva. “Kuasai saja tenses,” jawab Adeeva. Adeeva, yang saat ini baru naik kelas 5 SD, telah memahami seluruh struktur tenses sewaktu kelas 4 SD.

Sebenarnya, tenses itu hanyalah syarat yang dibuat agar pelajar lebih peduli pada akar-akar pengetahuan yang paling mendasar. Ini adalah standar aman untuk memudahkan memahami teks bacaan dan soal jebakan grammar (tata bahasa). Tenses tentu saja tidak cukup tetapi itu adalah pengantar utama untuk mengerti materi lainnya. Misal, bagaimana memahamkan conditional sentences, question tag atau dasar-dasar clauses yang menjadi bahan soal olimpiade bila tidak mengerti tenses? Itu pasti sangat sulit.

Nabila, Audrey dan rekan-rekan kelasnya pun fokus pada materi tenses. Adeeva bertindak membantu pelajar yang kesulitan menyusun perubahan kalimat. Hal ini memudahkan guru dalam mengajar karena tidak semua kebingungan pelajar ditimpakan ke guru. Sebagian anak bertanya ke Adeeva sehingga pelajaran berjalan lebih efektif.

Dari sekitar sepuluh orang, mayoritas saat ini masih berada pada setoran pemahaman materi simple. Melihat kondisi kelas yang sedang kondusif karena semuanya tertarik berlatih tenses, dibuatlah langkah percepatan di mana tiap pelajar menyetor minimal dua tenses. Cara ini efektif membuat mereka lebih banyak belajar daripada bermain. Waktu mereka lebih banyak digunakan untuk mengejar target yang diberikan.

Karena tenses bukanlah hal yang mudah bagi pelajar SD, guru memberikan pilihan: setoran dapat dilakukan secara perorangan atau berpasangan. Maksudnya, anak-anak yang masih sulit membayangkan perubahan kalimat dengan benar dapat berlatih dengan pasangannya. Strategi ini cukup jitu. Sebagian kecil memilih belajar sendiri, percaya diri bisa tanpa bantuan orang lain. Anak-anak yang merasa belum lancar memilih rekan yang mereka anggap lebih pintar agar bisa mengikuti atau mengajak best friend-nya untuk belajar bersama karena merasa lebih nyaman. Belajar sesama rekan sebaya pun berlaku.

Dalam lima belas menit, mereka berlomba-lomba mengacungkan tangan untuk tampil lebih awal di depan kamera live (siaran langsung) di akun Facebook RBB. Alasannya, mereka ingin cepat keluar main dan menyatakan diri sebagai bagian dari anak yang sanggup mengerti satu bagian tense. Mereka lupa bahwa mereka masih harus menyetor satu tenses berikutnya. Tapi paling tidak, mereka mempunyai spirit, kemauan, dan bukti kemajuan belajar. Anak-anak SD sekarang ini berpeluang besar memahami tenses.

Keyakinan terhadap pembelajaran ala RBB ini bukan sekadar cara mengamankan agar para pelajarnya lebih banyak berprestasi di tingkat nasional melainkan sebuah cara agar terdapat pondasi yang kokoh sehingga bekal bahasa Inggris yang mereka pelajari dapat digunakan di berbagai macam dimensi kehidupan sesuai kebutuhan dari pelajar tersebut. Dari tenses, itu bisa, pengetahuannya bertanggung-jawab. Percayalah!
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Rabu, 29 Juli 2026

Tinggalkan Balasan