Melampaui Kurikulum Sekolah Lewat “Kotak Kosong”

Passive di luar kepala adalah konsekuensi logis bagi pelajar yang telah mengerti tenses di luar kepala. Alat peraga pun sama, kotak kosong. Yang membedakannya dengan tenses, kalimat pada future progressive, past future progressive, dan seluruh perfect progressive tidak dipakai dalam passive. Bahkan, dalam penjelasan karya Betty Scrampfer Azar, hanya present perfect yang digunakan.

Rumah Rumah Belajar Bersama (RBB) memasukkan past perfect, future perfect dan past future perfect karena hal ini akan sangat berguna pada materi tindak lanjut yaitu adverbial clause khususnya conditional sentences: type 3 di mana if past perfect bertemu dengan past future perfect.

Untuk membuktikan efektivitas kurikulum ini, RBB menerapkannya pada kelas penguatan lisan. Salah satu pelajar yang mendapatkan kesempatan ini adalah Muhammad Sandy Junandra dengan nama panggilan Andra. Ia diperkenankan berlatih pada penguatan seluruh perubahan passive karena ia telah memenuhi syarat, mengerti tenses secara utuh.

Andra dengan sigap menyelesaikan perubahan passive secara lisan. Puas dengan capaian itu, obrolan santai antara guru dengan pelajar pun terjadi.

Guru kelas bertanya, “Apakah Andra mau mengerti passive sepotong-potong atau seluruhnya?” Anak remaja tiga belas tahun ini berpikir sejenak. Sejurus kemudian ia menjawab, “Sepotong-potong saja Mister.” Guru mengerti bahwa anak ini sebenarnya mau istirahat. Guru lalu mengecek tingkat kelelahannya. “Apakah kamu masih sanggup melanjutkan materi?” Andra dengan jujur menjawab, “bisa.”

Tingkat kesulitan pelajaran dinaikkan. Andra terlebih dahulu mengucapkan satu kalimat aktif (baca: tenses) dan kemudian diubah ke passive. Begitulah yang ia harus lakukan hingga seluruh kalimat aktif dan passive pada kotak kosong diselesaikan. Awalnya, ia agak kewalahan karena logika pembalikan kalimat di mana subjek menjadi objek dan objek menjadi subjek dipikirkan pada setiap pergantian kalimat, namun seiring waktu ia dengan cepat beradaptasi, mampu mempraktikkan semua kalimat. Sesekali ia salah mengucapkan beberapa kata tetapi dengan cepat ia sadar dan memperbaikinya sendiri.

Strategi penguasaan materi di luar kepala ini berfungsi untuk dipakai dalam speaking (berbicara). Biasanya, orang yang hanya belajar grammar (tata bahasa ) tidak lancar dalam berbicara. Dengan memberlakukan tenses dan passive sebagai bagian dari praktik lisan, pelajar seperti Andra yang hanya memilih mengikuti kelas grammar ini mempunyai bekal yang baik dalam pengembangan speaking atau conversation (percakapan). Jadi, ia tidak hanya mempunyai bekal yang bagus dalam pembelajaran akademik dalam menjawab soal-soal tulisan tetapi juga mampu menggunakan struktur yang rapi dalam pergaulan berbahasa Inggris sehari-hari.

Andra dan pelajar lainnya di RBB yang mempunyai kapasitas seperti yang dijelaskan di atas sudah punya modal besar mendalami materi Pre-Intermediate Grammar. Tenses itu semacam kunci untuk memasuki pintu depan dari sebuah rumah. Setelah membuka pintu, pelajar akan mudah mengelilingi seisi rumah, termasuk sudut-sudutnya. Salah satu bukti kemudahannya ialah Andra dengan cepat memahami passive di luar kepala. Materi yang lainnya yang meskipun mungkin tidak semudah passive akan mengikuti.

Keberhasilan Andra membuka “pintu depan” grammar ini menjadi bukti nyata bahwa batasan usia bukanlah hambatan dalam belajar. Mampukah kita mencetak anak-anak Indonesia yang bisa mempelajari materi yang melebihi pelajaran sekolah? Andra anak kelas 1 SMP yang menurut kurikulum sekolah, passive nanti dipelajari di kelas 3 SMP.

Catatan:
Anda bisa menonton live (siaran langsung) Andra pada pelatihan passive di link:

http://Melampaui Kurikulum Sekolah Lewat “Kotak Kosong”

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Senin, 27 Juli 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *