Hari ketiga pada kelas pagi Kampung Belajar diisi dengan literasi dan percakapan. Para pelajar didampingi guru membaca bersama dengan suara nyaring sebanyak tujuh lessons (pelajaran). Setiap selesai membaca satu lesson, mereka memilih pasangan untuk mempraktikkan ulang materi tersebut melalui percakapan. Setiap pergantian lesson, pasangannya berganti juga agar keakraban sesama pelajar terjalin lebih kuat.

Strategi ini awalnya berjalan lambat karena kesalahan dalam membaca kosakata secara tepat masih sering terjadi. Beruntung, sesama pelajar dan guru kelas selalu mengingatkan dan membantu memperbaiki pengucapan yang salah tersebut. Misal: kata late, name, dan typist yang seharusnya dibaca leit, neim, dan taipist tapi dibaca let, nem, dan tipis. Hal-hal kecil tersebut sangat diperhatikan. Kesalahan dalam pengucapan mengakibatkan pendengar salah tafsir.

Selain itu, mereka juga diminta untuk tidak terburu-buru dalam membaca dan tidak takut salah karena pelajar yang terburu-buru sering kali buat banyak kesalahan dan yang takut salah tidak berani bicara dengan suara lantang. Untuk mewujudkannya, tidak seorang pun diperkenankan meledek pelajar yang salah.

Karena tidak ada yang mem-bully, mereka saling menghargai. Keakraban pun terbangun. Pelajar yang mendapatkan masalah dalam memahami materi tidak sungkan bertanya kepada temannya. Hubungan baik ini harus terus dijaga agar suasana belajar tetap terasa nyaman.

Merasa cukup dengan percakapan, seorang pelajar mengusulkan pelajaran yang lebih ringan, parts of the body (bagian-bagian dari tubuh). Materi ini jauh lebih mudah—menyebut kosakata yang ada di tubuh sembari memegang benda yang disebut. Misalnya, hair, head, dan forehead (rambut, kepala dan jidat). Puluhan kosakata mampu dipraktikkan tanpa kendala yang berarti. Lagi pula, Faika yang lebih dahulu mengerti pelajaran tersebut tampil di depan kelas melakukan praktik bersama rekan-rekannya. Ini terlihat seru, seolah mereka sedang bermain.

Ketika waktu jam belajar hampir selesai, tiap orang maju satu per satu mempraktikkan di depan camera melalui siaran langsung (live) di Facebook. Ternyata, satu dua orang lupa beberapa kosakata sehingga membutuhkan bantuan guru. Tapi itu sudah lebih baik karena mereka telah berjuang dan berani tampil.

Sebagai penutup, guru menyampaikan pentingnya parts of the body. “Jangan kalian dianggap pandai bercakap tapi ketika mendapatkan pertanyaan tentang apa bahasa Inggris dari lubang hidung, bulu mata, dan bola mata, kalian tidak tahu.” kata guru kelas tersebut. “Apa guna belajar banyak hal bila hal-hal yang melekat di diri tidak diketahui?” tutupnya. Pelajar sepakat tanpa perlu menjawab. Kelas pagi yang mulai dari 9 pagi hingga 12 siang pun selesai.
Zulkarnain Patwa
Rabu, 17 Juni 2026

Tinggalkan Balasan