Sesuatu yang baru sungguh selalu menarik perhatian. Kehadiran Miss Ririn mengajar di kelas bahasa Inggris cukup membuat anak-anak penasaran dan bertanya di dalam hati yang membuat suasana kelas hening disertai rasa ingin tahu yang tinggi. Sebuah perkenalan singkat berupa alumni Rumah Belajar Bersama (RBB) dan Kampung Inggris Pare, Jawa Timur sudah cukup untuk meyakinkan anak-anak bahwa guru mereka telah mempunyai pengalaman belajar yang banyak. Tidak ada yang tidak tahu bahwa gadis muda ini lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
Ketika saling berkenalan, Miss Ririn menjajaki murid-murid barunya dengan berbicara total Inggris. Satu per satu anak-anak pun memperkenalkan diri dengan bahasa yang sama. Nama-nama itu kemudian digunakan dalam kalimat baik dalam bentuk pertanyaan maupun pertanyaan dan jawaban, sebuah bahan percakapan sederhana dalam bentuk dialog singkat. Mereka sangat suka mengikuti pelajaran ini, terlebih ketika mereka mendapatkan pertanyaan tentang arti kata yang hendak dimasukkan ke dalam kalimat. Dengan riang mereka menjawab dengan suara lantang. Kosakata yang lumayan banyak yang mengendap dalam pikiran mereka itu bukan karena hafalan, melainkan karena terbiasa membaca buku, literasi.
Miss Ririn menyambut hangat atas antusiasme dan wawasan anak-anak ini. Ia terus menikmati penjelasannya dalam bahasa Inggris—tentunya dengan pilihan kata yang dijangkau oleh pemahaman anak-anak—yang membuat seluruh anak lebih fokus, tidak sempat lagi mengobrol sesama teman dalam bahasa Indonesia. Mereka aktif listen and repeat (mendengarkan dan mengulangi) pada semua kalimat yang tersusun rapi di papan tulis.
Terhanyut dalam suasana belajar yang menggembirakan itu ditambah lagi dengan pengalaman Miss Ririn belajar tanpa keluar main, penulis tiba-tiba mengusulkan agar anak-anak itu diberi waktu untuk keluar main. “Oh, saya kira tidak ada keluar main,” katanya. Itu memang tidak berlaku di zaman dia menjadi pelajar di RBB dan Kampung Inggris. “Tak mengapa. Itu kebiasaan mereka sekarang di sini. Ada banyak kreativitas yang mereka suka buat,” kata penulis. Kalau bosan bermain kejar-kejaran, mereka biasanya membuat kelas belajar sendiri. Itu sangat menarik ditonton. Selain itu, keluar main diberikan agar ada waktu sejenak refreshing sehingga otak mereka lebih siap menerima pelajaran selanjutnya.
Pada akhir materi, seluruh tulisan di-review bersama. Suara anak-anak sangat nyaring seolah-olah masih berada di awal pelajaran. Namun, karena waktu belajar sudah hampir selesai, review itu hanya dilakukan lima menit saja.
Kebebasan Berekspresi
Kebahagiaan anak-anak belajar bersama Miss Ririn dengan cepat dibandingkan ke penulis. “Mister, kupecat maki kita (baca: saya pecat Anda),” kata Sirin. “Iya, Mister. Saya juga pecat ki (ki: Anda) karena suka marah-marah,” sambung Nabila disertai dukungan komentar yang mirip dari anak-anak lainnya. “Oh iya. Tidak apa-apa. Yang penting kalian rajin belajar. Kalau tidak belajar, tentulah dimarahi. Oh, iya. Guru kalian bagus, kan?” tanya penulis. “Bagus,” jawabnya serempak dengan wajah yang sangat ceria.
Keberanian anak-anak ini untuk bebas berpendapat sudah lama ditanamkan meskipun mereka sesekali mendapatkan teguran dengan istilah ‘marah-marah’ karena tidak menyelesaikan tugas yang diberikan. Bahkan ketika penulis mengkritik jam belajar yang kadang terhitung lebih sedikit dari jam bermain, mereka malah dengan sengaja diberikan waktu untuk mengutarakan alasan atau pembelaan atas ketidaksepakatannya.
Terdapat rancangan dialektika humanis di mana kebebasan menyampaikan pendapat sendiri tidak pernah dikekang. Mereka bebas berekspresi menyatakan ketidakpuasan ataupun ketidaksepakatan tanpa jarak sehingga wajar bila mereka spontan berbicara ke gurunya tanpa ada perasaan takut. Pernyataan polos anak-anak yang ingin ‘memecat’ gurunya tersebut bukanlah sekadar gurauan angin lalu, melainkan sebuah pemikiran kritis bahwa mereka menolak tunduk pada otoritas buta.
Pikiran mereka telah terlatih mengekspresikan pendapat ketika mendapatkan tantangan yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Ekosistem belajar yang sehat ini menekankan pada setiap pelajar tidak boleh tumbuh menjadi anak yang penurut secara buta (yes-Mister) karena terkekang oleh sistem pendidikan usang yang berlaku di luar sana membungkam, memenjarakan, dan bahkan membunuh kreativitas berpikir. Kini saatnya kita mendidik individu yang memiliki posisi tawar dan ruang negosiasi yang secara otomatis melatih kemampuan berpikir alternatif yang logis, imajinatif yang mengagumkan pikiran, dan mandiri. Itulah pendidikan merdeka.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Jumat, 6 November 2026
Seorang anak kecil dengan segudang prestasi lokal dan nasional dalam kejuaraan karate juga menjuarai Olimpiade…
Membaca seperti burung beo yang sekadar bersuara indah harus segera dihentikan, khususnya bagi para pelajar…
Ust. Das'ad Latief tergolong ulama yang sangat berani mengkritisi kebobrokan pada pejabat. Dari berbagai macam…
Gerakan literasi tidak harus berdiri sendiri, membaca seorang diri. Anak-anak yang telah lancar membaca dalam…
Akhir-akhir ini, anak-anak seringkali membuat kelas belajar sendiri di waktu keluar main. Kita sebut saja…
Benarkah anak-anak itu peniru yang ulung? Itu berlaku dalam meniru cara bicara, perilaku, dan sederetannya.…
Leave a Comment