Membaca seperti burung beo yang sekadar bersuara indah harus segera dihentikan, khususnya bagi para pelajar yang telah menyelesaikan tahapan dasar. Beban hafalan yang membosankan pun sudah sepatutnya dibuang jauh-jauh karena semua itu hanya mengunci perkembangan otak.
Apakah jalan baru yang harus kita tempuh? Kini saatnya beralih ke arah yang lebih progresif. Semua bacaan berbahasa Inggris—yang dahulunya menjadi tanggung jawab guru untuk menerjemahkannya—kini harus ditinjau ulang. Para pelajar harus mengambil alih tanggung jawab tersebut dengan menerjemahkan sendiri bacaan mereka. Pelafalan dalam pengucapan pun harus berubah; tidak boleh lagi sekadar mengekor gaya guru. Sebaliknya, pelajar harus berlatih menemukan cara membaca yang sesuai dengan karakter pribadi mereka sendiri.
Ada sebagian pelajar yang awalnya menolak perkembangan ini. Mereka tidak menyadari bahwa di dalam diri mereka sebenarnya sedang terjadi pertumbuhan. Manusia lahir sebagai bayi, beralih menjadi anak-anak, lalu tumbuh menjadi remaja. Fase itu alamiah dan tidak dapat ditolak. Oleh karena itu, mereka harus dicerahkan agar mau beradaptasi dengan perubahan, lalu turut bergabung menciptakan gerakan belajar yang lebih dahsyat. Pendekatan logis serta pemaksaan yang terukur menjadi pilihan yang tidak terhindarkan bagi mereka yang berpikiran statis. Percepatan pencerdasan ini harus dilaksanakan sesegera mungkin.
Para pelajar yang awalnya merasa terpaksa mungkin akan tetap bermalas-malasan demi menggugurkan kewajiban belaka. Namun, seiring berjalannya waktu, ketika mereka mulai merasakan dan memikirkan perubahan positif yang menginternalisasi dalam diri mereka, pola pikir itu pun perlahan akan berubah. Mereka pada akhirnya bersyukur karena mampu meraih lompatan belajar yang melampaui sesamanya. Rasa syukur tersebut kemudian diwujudkan dengan belajar lebih giat, membuang rasa malas, dan berinisiatif untuk mengeksplorasi lebih banyak hal.
Dampak positifnya, jam belajar mereka otomatis bertambah. Para guru pun menyusun jadwal khusus bagi mereka yang masuk dalam daftar pelajar berbakat. Materi di kelas tambahan ini sama sekali tidak berbenturan dengan kelas utama, melainkan berfungsi untuk memperdalam ilmu pengetahuan yang telah diperoleh. Bedanya, di kelas ini terdapat internalisasi nilai untuk selalu menjadi bagian dari pelajar yang memberikan usaha terbaik. Setelah fondasi itu kuat, materi untuk olimpiade tingkat nasional hingga persiapan kejuaraan internasional mulai diberikan—sebuah pencapaian yang tidak pernah dibayangkan oleh anak-anak sekolah itu sebelumnya.
Berdasarkan hasil pengamatan, mayoritas anak dan remaja yang sanggup mengikuti proses ini mendapatkan dukungan penuh dari orang tua masing-masing. Sementara itu, bagi mereka yang minim dukungan keluarga, keberhasilan semata-mata bertumpu pada optimalisasi potensi diri, solidaritas rekan sekelas, dan bimbingan guru. Di satu sisi, mereka adalah rekan belajar yang saling mendukung; namun di sisi lain, mereka tetap berkompetisi secara sehat untuk menjadi yang terbaik.
Saat ini, beberapa anak telah berhasil berkreasi mengembangkan metode penerjemahan cerita pada buku menggunakan gaya bahasa mereka sendiri, termasuk dalam hal membaca nyaring. Tidak dapat dimungkiri bahwa ketergantungan terhadap guru tetap ada untuk mengonsultasikan bagian-bagian yang sulit. Kendati demikian, sang guru selalu konsisten mengingatkan agar para pelajar tersebut tetap menjadi diri mereka sendiri.
Dengan demikian, pendidikan dengan segala aturan kaku yang memenjarakan pikiran tidak akan berlaku lagi. Inilah wujud nyata dari pendidikan yang membebaskan.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Kamis, 5 November 2026
Seorang anak kecil dengan segudang prestasi lokal dan nasional dalam kejuaraan karate juga menjuarai Olimpiade…
Ust. Das'ad Latief tergolong ulama yang sangat berani mengkritisi kebobrokan pada pejabat. Dari berbagai macam…
Gerakan literasi tidak harus berdiri sendiri, membaca seorang diri. Anak-anak yang telah lancar membaca dalam…
Akhir-akhir ini, anak-anak seringkali membuat kelas belajar sendiri di waktu keluar main. Kita sebut saja…
Benarkah anak-anak itu peniru yang ulung? Itu berlaku dalam meniru cara bicara, perilaku, dan sederetannya.…
Apakah Anda pernah membayangkan pelajar SD dan SMP yang belajar mau mengerjakan buku latihan setebal…
Leave a Comment