Seorang anak kecil dengan segudang prestasi lokal dan nasional dalam kejuaraan karate juga menjuarai Olimpiade Bahasa Inggris yang perolehan medali Olimpiade Bahasa Inggrisnya jauh masih lebih sedikit dibanding medali karatenya. Faika Qhinara Putri Ridwan telah memperoleh satu emas, satu perak, dan tumpukan perunggu untuk kejuaraan tingkat nasional di Olimpiade Bahasa Inggris tingkat Nasional.
Sebagai seorang karate ka yang sangat terbiasa bertarung di kejuaraan-kejuaraan lokal hingga nasional, seperti Piala Presiden RI dan Menpora, Faika telah mendapatkan pembinaan yang baik sehingga rasa takut mengikuti kejuaraan sudah ia lampaui. Karate bukan sekadar mengajarkan kekuatan fisik, tetapi juga mental yang kuat tidak kenal menyerah, dan strategi mengenali serta membaca kekuatan diri dan lawan. Hubungan capaiannya dalam Bahasa Inggris, meskipun ia satu-satunya karate ka Bulukumba yang fokus di Bahasa Inggris, itu belumlah memuaskan dirinya sehingga ia, berkat dukungan kedua orang tuanya, selalu siap berjuang untuk terus mengembangkan bakatnya dengan tetap tidak meninggalkan karate. Siapa tahu, ketika ia menjadi atlet internasional karate, bahasa Inggris yang ia pelajari sejak kecil pasti akan sangat berguna.
Baru-baru ini, Faika aktif menambah jam belajar dengan maksud meraih emas. Gurunya mengalkulasi bahwa sebenarnya Faika sudah sampai pada pemahaman di atas rata-rata anak seumuran 9 tahun, kelas 3 SD. Kendala paling utama adalah tingkat pemahaman pada teks yang ia telah pelajari. Coba pikirkan, ia telah menamatkan buku Practice and Progress, pembelajaran tingkat Pre-Intermediate Students karya L. G. Alexander. Pertanyaan kemudian hadir, kenapa ia hanya mampu menembus perak pada November 2026 ini? Pasti ada hal-hal yang terpenting yang terlupakan.
Karena itulah, Faika kini kembali mendapatkan review pelajaran dimulai dari halaman pertama. Ia bertugas untuk membaca, menerjemahkan, dan memaknai isi cerita. Perlakuan khusus terjadi, satu murid dan satu guru. Perhatiannya untuk bermain berkurang. Dalam tiga pertemuan, ia pun berhasil menyelesaikan sepuluh pelajaran: suatu bukti bahwa ia memiliki daya fokus dan ketekunan yang tinggi. Karakter disiplin sebagai atlet karate membantunya tetap fokus meskipun waktu bermainnya berkurang. Target sembilan puluh empat pelajaran yang harus ia review bukan urusan mudah karena semakin jauh pelajaran, tingkat kerumitan juga semakin meningkat. Namun, ini bukan berarti tidak bisa. Pelajaran yang erat kaitannya dengan soal-soal olimpiade berada pada tahap itu dengan model soal esai—jauh lebih sulit dibandingkan pilihan ganda karena pelajar harus membangun argumentasi dengan struktur kalimat yang kompleks, bukan pilihan ganda.
Apakah ini tidak sanggup dipelajari Faika? Tentu saja ia sanggup. Sekadar pengingat, gadis cilik ini telah menamatkan buku itu. Ini bukan garansi, tetapi jalan pembuka yang sangat lebar, tidak mulai dari nol. Review dilakukan untuk mendeteksi semua materi secara detail yang belum dipahami secara utuh. Selain itu, contoh soal-soal olimpiade yang berkaitan akan dihubungkan dan dibahas sesuai dengan materi yang di dalam bukunya. Solusi ini akan membuatnya lebih tahu bahwa apa yang ia pelajari selama ini sangat berharga dan sebenarnya ia telah selesaikan. Faktor pendukung utamanya adalah keinginannya untuk meluangkan waktu untuk belajar lebih banyak dan lebih giat dari yang lalu.
Pengembangan pengetahuan berbasis literasi akan sangat memudahkan para pelajar bersaing dalam dunia akademik, selain berguna untuk pergaulan sehari-hari. Hanya saja, literasi yang diiringi dengan penalaran tingkat tinggi membutuhkan proses yang lebih lama, terdapat segudang masalah yang harus dikoreksi, namun hasilnya multiefek: sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.
Pada akhirnya, konsentrasi utama pendidikan pada kualitas. Itulah yang mampu bertahan, beradaptasi, dan memberikan peran yang sangat besar pada tuntutan perubahan zaman.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Kamis, 5 November 2026
Membaca seperti burung beo yang sekadar bersuara indah harus segera dihentikan, khususnya bagi para pelajar…
Ust. Das'ad Latief tergolong ulama yang sangat berani mengkritisi kebobrokan pada pejabat. Dari berbagai macam…
Gerakan literasi tidak harus berdiri sendiri, membaca seorang diri. Anak-anak yang telah lancar membaca dalam…
Akhir-akhir ini, anak-anak seringkali membuat kelas belajar sendiri di waktu keluar main. Kita sebut saja…
Benarkah anak-anak itu peniru yang ulung? Itu berlaku dalam meniru cara bicara, perilaku, dan sederetannya.…
Apakah Anda pernah membayangkan pelajar SD dan SMP yang belajar mau mengerjakan buku latihan setebal…
Leave a Comment