Ust. Das’ad Latief tergolong ulama yang sangat berani mengkritisi kebobrokan pada pejabat. Dari berbagai macam ceramahnya yang viral, ia pernah mengkritisi penjilat-penjilat. Latar belakang sebagai seorang dosen komunikasi di Universitas Hasanuddin (Unhas) membuat ia sangat paham mengolah kata-kata yang menusuk ke jantung para penjilat itu dalam balutan humor. Seisi ruangan malahan terhibur dengan gelak tawa.
Mari kita simak salah satu videonya:
“Hati-hati. Penjilat-penjilat ini yang banyak merusak negara kita. Berapa banyak pejabat terpaksa masuk penjara karena salah milih teman… Hati-hati milih teman, apalagi yang penjilat-penjilat. Biar salah, siap Pak. Pruuut (hadirin tertawa). Mestinya bapak harus yang selalu… ‘Eh, kau saya angkat kau. Sebagai penasehatku, nasehati saya. Ingatkan saya kalau saya salah. Kalau saya tahu saya salah, kau tidak ingatkan, saya pecat kau.’ Ah, itu baru pejabat yang bersahabat karena Allah.”
Ulama kondang itu menambahkan bahwa ciri-ciri penjilat itu seperti ini, “Mau tahu anak buah penjilat? Bapak coba-coba pidato. Biar tidak lucu, dia tepuk tangan juga, ah! Itu ciri-ciri penjilat.” Setelah menghela nafas, Das’ad melanjutkan, “Hati-hati cari muka. Rusak negara kalau banyak penjilat. Dia cuma tahu, ‘Iya Pak. Iya Pak. Biar orang masuk neraka, ‘Betul Pak.’ Lebih baik bapak punya teman yang banyak mengkritik daripada penjilat yang selalu membenarkan.”
Dalam versi yang lain, sosok penjilat itu juga dijelaskan oleh Ali Syariati yang menarik dihadirkan sebagai pembanding. Intelektual yang ulama—meminjam terminologi Jalaludin Rakhmat—menggunakan pendekatan yang berbeda: sosiologi-revolusioner yang membakar semangat. Gagasannya sangat digandrungi anak muda.
Haman adalah penasehat agung Fir’aun di masa Nabi Musa AS. Tiga poin penting dari pandangan Ali Syariati mengenai Haman:
Pertama, intelektual yang melayani kepentingan penguasa. Ia mempropagandakan segala tindakan Fir’aun untuk diyakini sebagai kebenaran.
Kedua, menidurkan kesadaran masyarakat. Haman rekayasa kesadaran masyarakat. Intelektual gadungan ini menggunakan segala kecerdasannya agar rakyat menerima penindasan itu sebagai takdir. Rakyat tertidur takkan pernah bangun dari tidur lelapnya.
Ketiga, pemalsu kebenaran demi status quo. Penindasan penguasa dikemas sedemikian rupa hingga terlihat tampak suci, seolah-olah benar. Dengan tegas Syariati mengutuk keras kelompok ini karena mereka memanipulasi agama atau ideologi yang seharusnya membebaskan berubah menjadi penjara.
Lawan dari intelektual gadungan di atas adalah Rausyanfikr (Intelektual tercerahkan) yang berani menyuarakan kebenaran kepada penguasa yang zalim dan pembela kaum mustadh’afin (orang-orang lemah dan tertindas). Penindasan politik (Fir’aun) dan penimbun harta (Qarun) ini tidak akan pernah bertahan tanpa legitimasi dan pemikiran Haman.
Ust. Das’ad Latief menelanjangi mereka dengan tawa, menghantam kepala tanpa pukulan, sedangkan Ali Syariati membongkarnya dengan ‘pedang’ analisis sosiologi. Negeri kita tidak kekurangan orang pintar, tetapi terancam oleh pelacuran intelektual dalam bentuk wajah Haman-Haman modern yang sangat gemar cari muka.
Urusan cari muka, pernah juga diselipkan ulama besar dalam bentuk humor satire. “Andai kata Pak Prabowo hari ini tidak datang, muka saya mau ditaruh di mana? Sekarang ini banyak orang cari muka. Orang yang tidak punya ijazah, cari ijazah. Orang tidak punya nama…. Orang yang tidak punya muka, cari muka,” ungkap K.H. Hasan Abdullah Sahal yang disambut tawa riuh saat memberikan sambutan atas kunjungan Presiden RI pada Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor pada Sabtu, 19 September 2026. Candaan itu menyentil orang-orang di sekitar presiden yang masih sangat kental dengan budaya ‘Asal Bapak Senang’ (ABS), idiom untuk menyindir perilaku birokrasi dan anak buah yang korup secara mental yang sangat populer pada zaman Orde Baru.
Di balik semua pendekatan yang mengingatkan kesadaran, ajaran Islam yang disampaikan dalam bentuk humor ataupun ledakan revolusi seperti di Iran pada 1979, semua itu sesungguhnya pengingat dari para ulama dan intelektual untuk mengajak umat manusia kembali ke jalan benar dan membebaskan belenggu mental pembodohan.
Zulkarnain Patwa
Rabu, 4 November 2026

Tinggalkan Balasan