Akhir-akhir ini, anak-anak seringkali membuat kelas belajar sendiri di waktu keluar main. Kita sebut saja kelas tandingan. Materi dan guru cilik terlebih dahulu mereka tentukan dari hasil kesepakatan diskusi. Bermodalkan sebuah spidol yang di bawa dari rumah atau pinjaman guru dewasa dan papan tulis yang telah tersedia, itu cukuplah untuk memulai. Semua yang berada di lingkungan belajar boleh bergabung, termasuk pendatang baru dengan syarat tidak membuat keributan atau mengacaukan pelajaran. Bahkan, guru kelas pun mereka ajak untuk menjadi murid. Inilah yang mungkin dikatakan pepatah, berdiri sama tinggi, duduk sama rendah.

Fenomena ini muncul karena anak-anak ini ingin mengekspresikan diri dengan cara mereka sendiri. Sebegitu menariknya, ketika waktu jam keluar main telah habis, mereka selalu berkata, “Tunggu dulu. Tugas kami belum selesai.” Karena ada keseriusan dalam belajar untuk memecahkan soal yang meskipun agak rumit, mereka tidak akan membiarkan pelajaran berlalu begitu saja. Di akhir pelajaran, mereka saling menanyakan nilai yang berhasil diperoleh. Pamer juara tanpa hadiah tidak mengurangi kebahagiaan.

Proses belajar yang unik ini membuat kita bertanya, mengapa anak-anak di waktu keluar main memilih belajar? Apakah belajar dengan guru orang dewasa membosankan? Pada awalnya, kegiatan ini hanya diikuti oleh satu dua orang saja. Perlahan-lahan, jumlah bertambah hanya karena pelajar yang lain ikut-ikutan saja. Kemudian, karena materi yang diberikan itu terlihat seru dan menantang kemampuan imajinasi dan berpikir, kumpulan kecil itu semakin membesar. Ekosistem kelas tandingan pun terbangun.

Dilihat dari cara pemaparan materi, sesekali guru cilik meniru gaya gurunya—kadang dengan wajah serius dan kadang juga dengan wajah senda gurau yang diikuti gelak tawa oleh seluruh murid. Namun, hal paling nyata mendominasi adalah gaya mengajar anak itu sendiri. Tidak ada rekayasa, mengalir apa adanya.

Satu hal yang paling penting dari kelas tandingan ini yaitu kebebasan dalam berekspresi. Anak yang sengaja membuat keributan akan segera diusir. Bayangkan saja, keributan yang dibuat sang pengganggu bisa mencapai tiga kali lipat kegaduhan yang ditimbulkan karena hampir seluruh peserta berteriak untuk keluar dari kelas mereka. Ributnya minta ampun, serasa suporter sepak bola yang sedang memprotes gol yang dibatalkan oleh wasit.

Namun, perlakuan berbeda mereka terapkan pada gurunya. Tidak ada yang berbuat kasar. “Tolong, soal-soalnya jangan terlalu susah. Ubah saja itu soal karena beberapa nomor tidak bisa dijawab,” pinta seorang anak yang diamini oleh anak-anak yang lain. Gurunya terkadang menerima, kadang juga menolak. Tergantung suasana hati. Bila usulan diterima, guru itu akan dielu-elukan dengan pujian kata-kata manis, tetapi bila ditolak, mereka hanya diam dengan wajah cemberut sambil terus bekerja. Anak-anak yang benar-benar kewalahan karena tidak tahu atau tidak dapat contekan, biasanya mundur dari kelas. Ada dua bentuk perilaku yang terekam. Pertama, anak itu secara jujur mengatakan, “Saya berhenti. Saya tidak tahu jawabannya.” Ada juga yang diam saja dan secara tiba-tiba sudah tidak berada di kelas lagi. Tapi, teka-teki bermain ini tidak berhenti sampai di situ saja. Anak-anak itu biasanya masuk ke kelas dan merayu rekannya untuk membantu menjelaskan cara menjawab soal. Seru kan!

Lingkungan yang sehat murni tumbuh dari kreativitas anak-anak ini tidak pernah diintervensi oleh orang dewasa, termasuk guru. Kelas tandingan ini sesungguhnya merupakan alarm atau antitesis dari penjara kelas. Mereka tidak bergembira ketika waktu habis. Tidak mau berhenti belajar adalah bukti bahwa kelas tandingan jauh lebih hidup. Belajar itu sendiri adalah aktivitas bermain yang menyenangkan. Bagaimana dengan bel keluar main di sekolah? Hore! Anak-anak sangat bergembira.

Orang dewasa sudah waktunya berpikir ekstra lebih kreatif mencari dan menemukan cara belajar terbarukan, tidak terpaku lagi pada kurikulum yang mengejar target yang tuntutannya menyelesaikan semua materi dalam satu semester. Tuntutan utama paling mendesak sekarang ini adalah bagaimana anak-anak senang belajar yang mengantarkan pada selesainya kurikulum semester tanpa perlu merasa terbebani.

Apakah orang dewasa ingin juga membuat kelas tandingan baru yang proses belajarnya melebihi kenyamanan bermain di waktu keluar main? Otoritas tunggal yang membosankan, menakutkan, dan kaku telah terkubur dalam kelas tandingan. Bahkan, hantunya pun dibiarkan tertidur lelap yang panjang dan diharapkan tidak pernah bangun untuk menakut-nakuti anak-anak.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Selasa, 3 November 2026

.

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Menyederhanakan Kerumitan Olimpiade Nasional SD

Benarkah anak-anak itu peniru yang ulung? Itu berlaku dalam meniru cara bicara, perilaku, dan sederetannya.…

18 jam ago

Standar Akademik Universitas Dinikmati Pelajar Sekolah

Apakah Anda pernah membayangkan pelajar SD dan SMP yang belajar mau mengerjakan buku latihan setebal…

2 hari ago

Kolaborasi Menembus Kebuntuan Kurikulum

Di sebuah ruang kelas terbuka beratap pohon mangga yang rindang, empat orang pelajar sedang asyik…

2 hari ago

Rahasia Hari Lahir di Balik Lesson 70

Tiada suatu kejadian kebetulan. Sesuatu terjadi karena telah memenuhi syarat terjadinya sesuatu. Siapa yang menyangka…

3 hari ago

Madu Manis pada Bahasa Inggris

Pernahkah Anda membayangkan game dimulai dari kumpulan kata menjadi kalimat dan kemudian menjadi pertanyaan dalam…

3 hari ago

Nilai Merah Soal Olimpiade Disambut Nyanyian Anak SD

Ketika jam belajar kelas malam bahasa Inggris telah mulai, anak-anak mengambil inisiatif sendiri untuk membuat…

4 hari ago