Indonesia (Tidak) Emas 2045?

Gerakan literasi tidak harus berdiri sendiri, membaca seorang diri. Anak-anak yang telah lancar membaca dalam bahasa Indonesia yang tertarik belajar bahasa Inggris dimotivasi untuk rajin membaca dengan suara nyaring secara perorangan, agar guru lebih mudah mendeteksi kesalahan dalam berbicara dan dengan segera membantu memperbaiki pengucapan. Ini dilakukan hingga menamatkan satu buku tingkat dasar.

Lalu apa daya kejut yang muncul? Hampir semua anak-anak SD dan SMP di kelas bahasa Inggris tersebut mengaku bahwa itu adalah buku yang pertama mereka tamatkan, yang berisi 144 pelajaran tentang wawasan dunia luar yang diramu dalam percakapan dan cerita sederhana. Sebegitu parahkah literasi kita sehingga kampanye literasi itu masih terasa seperti slogan? Kita bersyukur anak-anak dan remaja memperoleh kebanggaan, tetapi kita tentu sedih bila masih banyak dari para pelajar kita itu sama sekali belum pernah menamatkan satu buku sekali pun.

Tingkatan yang lebih maju adalah buku cerita berbahasa Inggris dibaca sambil diterjemahkan tanpa bantuan modul terjemahan ataupun Artificial Intelligence (AI), memaksa pelajar berpikir mandiri untuk menghancurkan rasa tidak percaya diri akibat selalu tergantung pada yang lain. Otak para pelajar dilatih berimajinasi, menghubungkan arti satu kalimat ke kalimat hingga ke paragraf yang lainnya. Pendampingan guru masih sangat penting karena lazim kita temukan terjemahan yang mereka buat memakai ‘cocoklogi’ yang artinya jauh dari makna sebenarnya. Dalam satu teks cerita, itu memungkinkan dibaca beberapa kali yang jumlahnya tergantung dari seberapa cepat memahami. Menjawab soal-soal cerita yang telah tersedia menjadi ukuran pendalaman tindak lanjut. Untuk urusan literasi, satu buku juga wajib diselesaikan.

Bagaimana dengan literasi di sekolah? Pustakawan sekolah semestinya diberikan ruang gerak yang luas seiring dengan berkembangnya inovasi yang dilakukan Perpustakaan Nasional (Perpusnas), yang kemudian ditindaklanjuti oleh Perpustakaan Daerah (Perpusda) yang dibiayai oleh Perpusnas. Bila saja Dinas Pendidikan di setiap daerah membuat regulasi, kemajuan literasi negara-negara maju yang selalu jadi pembanding ketertinggalan literasi pelajar Indonesia pasti bisa ditepis. Memang sih, kekuatan struktural cenderung ‘memaksa’ anak-anak untuk cerdas. Tidaklah mengapa, obat itu kebanyakan pahit. Lebih baik menelan pil pahit daripada hidup sakit-sakitan, merana menanggung kebodohan.

Gerakan kultural yang membangun kesadaran dari para penggerak literasi tampak lebih percaya diri dengan caranya sendiri. Mereka tidak peduli dengan pendidikan formal, bukan karena tidak mau peduli, melainkan karena tidak ada regulasi dan akses yang memungkinkan mereka terlibat. Sekarang ini, terdapat kemajuan yang berarti di mana Perpusda telah membangun koneksi dengan para relawan literasi sehingga urusan pelik ini tidak berjalan sendiri-sendiri lagi. Apakah ini sintesis dari dua kutub berlawanan? Kemungkinan sebuah jalan tengah. Sekitar lima belas Perpusda yang mengadakan Festival Literasi Daerah di Indonesia tidak hanya mengundang sekolah-sekolah, tetapi juga penggerak literasi hadir mengisi berbagai macam acara. Sumbangan buku-buku dan bantuan sejenisnya mengalir setiap tahun sehingga titik terang akan kombinasi gerakan struktural dan kultural yang apik terlihat jelas dan terpercaya.

Hingga saat ini, kita masih terbuai dengan jargon-jargon yang enak diperdengarkan di telinga. ‘Pelajar yang mempunyai daya saing global’ atau ‘Indonesia Emas 2045’ dipompa sedemikian besar dan dibumbui pula dengan argumentasi yang manis di lidah, berbanding terbalik dengan merosotnya minat membaca di bagian paling dasar, akar rumput. Seolah-olah masalah itu telah selesai seiring dengan selesainya pidato para orang yang terhormat dan dimuliakan itu. Sayang sekali, mereka tidak mau melihat potensi yang besar yang dimiliki pemuda-pemudi. Frasa ‘relawan pustaka’ masih belum cukup menggugah. Meskipun para relawan ini sering kali menggelar lapak baca buku gratis di ruang publik: tempat-tempat yang dikunjungi banyak orang. Merogoh uang kantong sendiri, meluangkan waktu dan tenaga, dan tidak mendapatkan keuntungan materi. Dari aksi nyata itu, mereka pun tidak menuntut berbagai macam hal. Mereka menggugah satu hal terpenting: kesadaran.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Selasa, 3 November 2026

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Mengubur Hantu

Akhir-akhir ini, anak-anak seringkali membuat kelas belajar sendiri di waktu keluar main. Kita sebut saja…

13 jam ago

Menyederhanakan Kerumitan Olimpiade Nasional SD

Benarkah anak-anak itu peniru yang ulung? Itu berlaku dalam meniru cara bicara, perilaku, dan sederetannya.…

1 hari ago

Standar Akademik Universitas Dinikmati Pelajar Sekolah

Apakah Anda pernah membayangkan pelajar SD dan SMP yang belajar mau mengerjakan buku latihan setebal…

2 hari ago

Kolaborasi Menembus Kebuntuan Kurikulum

Di sebuah ruang kelas terbuka beratap pohon mangga yang rindang, empat orang pelajar sedang asyik…

2 hari ago

Rahasia Hari Lahir di Balik Lesson 70

Tiada suatu kejadian kebetulan. Sesuatu terjadi karena telah memenuhi syarat terjadinya sesuatu. Siapa yang menyangka…

3 hari ago

Madu Manis pada Bahasa Inggris

Pernahkah Anda membayangkan game dimulai dari kumpulan kata menjadi kalimat dan kemudian menjadi pertanyaan dalam…

3 hari ago