Jalan Sunyi Mencetak Intelektual Global

Para pelajar bahasa asing memberikan rasa hormat tersendiri kepada para peminat grammar (tata bahasa). Ini bukan atas dasar kemampuan berbicara dan akting, melainkan kecerdasan otak. Orang yang pandai speaking (berbicara) terlihat mengagumkan dengan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain, sedangkan orang yang pandai grammar terlihat mengagumkan karena diam.

Kesalahan dalam speaking dapat dimaklumi asalkan pembicara dimengerti. Bahkan, sign language (bahasa dalam bentuk gerakan tubuh) akan sangat membantu untuk memahamkan. Semua itu tidak berlaku di grammar: tiap kesalahan harus diperbaiki dengan pembenaran, harus berpikir. Itulah mengapa banyak orang yang mengambil jalan pintas dengan memotong grammar sebagai pelajaran yang tidak penting. Sikap ini adalah pembelaan dari efek malas berpikir. Rata-rata orang yang berpendapat seperti ini adalah orang-orang yang tidak tahu grammar. Padahal, dalam kesehariannya ber-speaking alias apa yang diucapkannya umumnya mengikuti kaidah grammar. Hanya saja, mereka tidak sadar telah membuat kontradiksi yang logis.

Kerumitan pada grammar itu sebenarnya sederhana. Fenomena di sekitar kita sudah mengajarkan berpikir logis. Ada laki-laki dan perempuan, ada siang dan malam, ada orang pintar dan orang tolol. Selain itu, memisahkan speaking dengan grammar secara radikal membuat orang-orang tidak mengambil pelajaran besar dari speaking sebagai basis data yang luar biasa untuk diolah. Bayangkan saja, mereka menganggap bahwa mereka harus mempelajari sesuatu yang baru, beranjak dari nol. Padahal, semua pembicaraan yang terjadi dalam speaking dapat dianalisis. Contoh kalimat-kalimat yang benar dan salah terhampar dengan sangat luas dalam kehidupan sehari-hari. Kita tinggal menyandingkannya saja layaknya pasangan suami istri yang saling mencintai.

Persoalan utama yang menjadi tragedi kebuntuan yang dampaknya sangat buruk adalah ketidakpedulian pada Basic Grammar (Tata Bahasa Dasar). Para pelajar kita tidak mau belajar apa itu parts of speech, phrase, dan sentences (kelas kata, frasa, dan kalimat): tiga hal yang paling sederhana. Padahal, setinggi apa pun suatu materi, pasti tidak bisa lepas dari ketiga hal itu, minimal salah satunya dijadikan bahan jebakan.

Oleh karena itu, kegagalan itu berantai. Sarjana bahasa Inggris yang tidak mapan pada kajian ini dan kemudian mengajar di sekolah atau lembaga mana pun pasti mewariskan ketidaktahuan dan ketidakpedulian. Maka jangan heran, kalangan terdidik dengan beragam gelar dari kesarjanaan yang menempel di nama mereka itu tidak bisa berbahasa Inggris: alih-alih speaking, grammar sebagai acuan akademis dalam pembuatan jurnal internasional mengalami kebuntuan total.

Masa sih, hanya karena jurnal ilmiah buntu, inovasi dan riset hebat manusia Indonesia menjadi tertutup di panggung internasional hanya karena masalah teknis tata bahasa? Kontras dari kenyataan itu, kita pun turut malu pada berita viral di mana beberapa pemuda Indonesia terbukti membuat jurnal ilmiah yang menyerahkan sepenuhnya potensi kecerdasan otaknya kepada mesin generatif AI (Artificial Intelligence): efek malas berpikir kritis. Guncangan besar pertemuan akademik itu terjadi di Konferensi Internasional International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD), Perhimpunan Internasional untuk Pneumonia dan Penyakit Pneumokokus 2026 di Kopenhagen, Denmark (17–21 Mei 2026).

Guna mengantisipasi cara berpikir instan, kampus terbaik seperti Universitas Indonesia (UI) menerbitkan regulasi khusus (melalui Peraturan Rektor No. 16 Tahun 2025) menegaskan bahwa AI dilarang keras bertindak sebagai penulis, hanya diizinkan sebagai asisten pembantu saja, dan setiap penggunaan wajib diverifikasi. Setiap karya ilmiah yang melanggar, otomatis dibatalkan.

Padahal, pendidikan Indonesia telah mengunci melalui ujian ketat pada TOEFL (Test of English as a Foreign Language/Tes Bahasa Inggris sebagai sebuah standar bahasa asing) atau tes semacamnya yang berstandar internasional sebelum gelar kehormatan itu diberikan. Parahnya lagi, lembaga pendidikan informal juga ikut-ikutan: bukan mengajarkan cara berpikir benar dalam bahasa Inggris, melainkan cara menembus skor. Ini adalah kapitalisme gombal yang terwujud dalam bentuk komersialisasi trik instan yang membunuh kemampuan produktif (menulis/berbicara). Lengkaplah penderitaan ketidakmampuan berbahasa asing pelajar dan mahasiswa Indonesia yang dikritik selama puluhan tahun.

Kita tidak bisa banyak berharap pada hal-hal yang telah terjadi. “Yang berlalu, biarlah berlalu. Yang akan datang, datanglah,” kata sebuah pepatah Arab. Para pelajar anak-anak dan remaja adalah aset berikutnya yang tidak boleh kita biarkan mengalami nasib yang sama. Para orang tua, para pelajar, dan para pendidik perlu sadar untuk tidak terburu-buru mengejar skor mentereng palsu. Oleh karena itu, generasi pelajar zaman sekarang harus kita arahkan untuk belajar sejak dini untuk menguasai basic grammar yang meliputi kelas kata, frasa, dan kalimat dengan sangat baik sebelum mereka dihadapkan dengan TOEFL dan tantangan ujian berkala internasional lainnya. Tanpa menafikkan kreativitas berpikir manusia—dan itulah yang semestinya harus berlaku—ini adalah salah satu langkah konkret untuk “memperganteng dan mempercantik” klaim wajah buruk rupa dari pendidikan kita.

Pelajaran Basic Grammar itu kecil, tetapi jangan pernah menganggap remeh. Bom atom itu juga partikel yang sangat kecil. Ledakannya yang sangat dahsyat. Ketidakpedulian pada hal kecil pada bahan Inggris itu juga menghancurkan. Hanya dengan kepedulian, kita bisa mencetak pemuda-pemudi intelektual berdaya saing global.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Kamis, 29 Oktober 2026

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Menyalakan Energi Dahsyat Belajar

Membuat empat puluh soal pertanyaan bersumber empat puluh kalimat berbahasa Inggris telah tuntas. Berikutnya, anak-anak…

18 jam ago

Bahaya Nilai Seratus Sekolah: RBB Membongkar Rasa Aman Palsu

Para pelajar grammar (tata bahasa) terlihat terlalu santai belajar. Santai sih boleh, tetapi mana mungkin…

2 hari ago

Membalik Rapor Merah PISA dari Festival Literasi Bulukumba

Sejak Indonesia bergabung Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2020 hingga 2025, literasi…

3 hari ago

Patung Bernafas Harus Jadi Manusia

Menjadi seorang moderator adalah aktivitas yang paling saya hindari. Trauma ini muncul ketika pertama kali…

4 hari ago

Merawat Rasa Ingin Tahu dan Kemerdekaan Berpikir

Rencana yang sudah matang dari guru yang hendak membuat cerita aktivitas keseharian para pelajarnya tiba-tiba…

5 hari ago

Menyemai Emas di Lingkungan Belajar

Afwa Afiza Arsi, gadis kecil berusia tujuh tahun, kini bersekolah di SD Negeri 128 Turungan…

6 hari ago