Bahaya Nilai Seratus Sekolah: RBB Membongkar Rasa Aman Palsu

Para pelajar grammar (tata bahasa) terlihat terlalu santai belajar. Santai sih boleh, tetapi mana mungkin dapat menuntaskan buku tebal dengan cepat? Mereka seolah-olah tidak ada beban. Mengerjakan latihan sekadarnya saja. Bila tidak diingatkan untuk menggerakkan pena sambil memikirkan soal-soal, mereka akan lebih banyak mengobrolkan kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran.

Mengapa mereka begitu santai? Para pelajar yang hampir tamat dan telah tamat Basic Grammar menjelaskan bahwa pelajaran sekolah terlalu gampang. “Kalian ini menganggap remeh ya. Coba buktikan, seperti apa gampangnya?” tanya guru. “Pelajarannya masih simple present dan simple past serta narrative texts,” jawab seorang pelajar SMP dan diaminkan oleh yang lainnya. “Memangnya, kalian ini biasanya dapat nilai berapa?” tanya guru menggugat. “Kalau saya paling sering dapat seratus,” jawab seorang anak yang sudah tamat Basic Grammar. “Kalau saya Mister, biasanya dapat nilai sembilan puluh ke atas,” kata seorang anak yang hampir tamat buku basic-nya. Seorang anak pemula juga nimbrung, “Saya rata-rata dapat nilai delapan puluh.”

Ini kebanggaan mereka, tetapi sesungguhnya itu adalah masalah. Kebanyakan pelajar ini memang diminta kursus karena untuk mengatasi pelajaran sekolah. Ketika berhasil jauh melampaui pelajaran sekolah, mereka pun belajar sekadarnya saja. “Dengar baik-baik,” kata guru. “Kalian di sini dididik bukan untuk menyelesaikan pelajaran sekolah saja. Kalian dipersiapkan untuk mampu menghadapi kompetisi pelajar se-Indonesia dan bahkan internasional. Semua buku yang kalian pelajari bersumber dari buku asing berstandar internasional yang fondasi materinya diujikan hingga tingkat universitas dan kompetisi global. Kalau kalian masih berpikir untuk mengatasi pelajaran sekolah, sesungguhnya itu sudah teratasi, tidak perlu belajar di sini lagi,” ungkap guru dengan nada suara yang serius. Setelah menghela napas sejenak, ia pun melanjutkan, “Lihat adik-adikmu yang masih SD dan belajar di sini. Mereka yang tekun itu bukan hanya mampu mengerjakan pelajaran bahasa Inggris SMP, tetapi juga telah meraih juara olimpiade bahasa Inggris tingkat nasional. Itu baru layak disebut kebanggaan.”

Suasana kelas menjadi hening. Setelah itu guru memprovokasi, “Kalian mau hebat atau tidak?” Pilihan yang membuat mereka terpengaruh untuk menjawab ‘hebat’. “Orang-orang yang hebat itu pemahamannya tidak dangkal. Mereka bekerja hingga pekerjaan mereka selesai. Nah, kalian harus mampu membuktikan pemahaman dengan menyelesaikan minimal tiga buku: Basic, Pre-Intermediate, dan Intermediate. Dengan demikian, kalian baru bisa diperhitungkan. Kalian sama sekali tidak layak dibandingkan dengan para pelajar sekolah yang tidak ikut pelajaran bahasa Inggris di luar sekolah,” terang guru yang menggugah ketajaman berpikir. Mereka pun kemudian terdiam lagi dan saling menatap satu sama lain.

Kemudian, guru bertanya lagi, “Apakah ada masalah pada latihan buku-buku itu?” para pelajar yang sudah sering latihan menyatakan tidak ada masalah. “Saya bisa kerja sendiri,” jawabnya. “Saya juga,” kata yang lainnya. “Bagaimana yang pemula, ada masalah?” tanya guru lagi. “Ada, Mister,” jawabnya singkat. “Baiklah kalau begitu. Kalian tetap boleh mengobrol, tetapi harus berhubungan dengan pelajaran. Apakah kalian yang sudah agak pintar mau membantu pelajar pemula?” guru menantang dan sekaligus kesempatan berbicaranya tidak hilang. “Mau,” jawabnya serentak. “Okay. Lakukanlah! Bawa pulang ilmu, bukan gosip,” terang guru. “Siap, Mister,” jawaban serempak pun terdengar. Guru tersenyum. Kedisiplinan dalam menghargai waktu jam belajar lebih terlihat. Mereka pun semuanya aktif belajar seperti hari-hari sebelumnya.

Investasi pendidikan jangka panjang tersebut telah dibuktikan oleh senior mereka. Andi Widya Maulidyah yang pernah belajar Basic Grammar hingga persiapan TOEFL semasa di Rumah Belajar Bersama kini membuktikan sebagai juara 1 pada kejuaraan grammar competition at English Fair, 2026 yang diadakan oleh Universitas Negeri Makassar. Widya sebenarnya masih mahasiswa baru, tetapi karena fondasi tata bahasa dan persiapan TOEFL-nya telah terbangun secara tersistematis di RBB semasa sekolah, ia memiliki kesiapan lebih dini untuk beradaptasi pada pelajaran tingkat tinggi di kampusnya. Ia pun akhirnya membuktikan diri sebagai mahasiswa terbaik dari yang terbaik. Fenomena langka ini sangat layak dijadikan inspirasi.

Sebenarnya, belajar sambil melakukan interaksi sosial tidak dilarang di RBB, melainkan dialihkan menjadi ruang kolaborasi yang produktif. Buktinya, ruang mengobrol selama jam belajar sesama rekan tidak pernah ditutup sebagaimana pada pembahasan di atas: disiplin belajar dengan sikap santai karena kita sedang membangun new lifestyle (gaya hidup yang baru) dalam belajar. Tetapi bagaimanapun juga, kebebasan dalam berekspresi di ruang kelas itu membutuhkan penjelasan yang logis dan menyentuh hati dan pemikiran agar proses belajar mereka lebih terarah sehingga mampu mencetak para pelajar dengan kualitas sumber daya manusia yang mempunyai daya saing dan unggul.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Selasa, 27 Oktober 2026

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Membalik Rapor Merah PISA dari Festival Literasi Bulukumba

Sejak Indonesia bergabung Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2020 hingga 2025, literasi…

1 hari ago

Patung Bernafas Harus Jadi Manusia

Menjadi seorang moderator adalah aktivitas yang paling saya hindari. Trauma ini muncul ketika pertama kali…

2 hari ago

Merawat Rasa Ingin Tahu dan Kemerdekaan Berpikir

Rencana yang sudah matang dari guru yang hendak membuat cerita aktivitas keseharian para pelajarnya tiba-tiba…

3 hari ago

Menyemai Emas di Lingkungan Belajar

Afwa Afiza Arsi, gadis kecil berusia tujuh tahun, kini bersekolah di SD Negeri 128 Turungan…

4 hari ago

Dari Olimpiade hingga Kemandirian Berpikir

Dua orang anak mendapatkan kelas tambahan untuk persiapan lomba. Faika Qhinara Putri Ridwan (Faika) hobinya…

5 hari ago

Sakkar Menaklukkan Badai dan Logika

Sakkar adalah the young sailor man (sang pelaut muda) dari Turungan Beru, Herlang, Kab. Bulukumba.…

6 hari ago