oplus_0
Afwa Afiza Arsi, gadis kecil berusia tujuh tahun, kini bersekolah di SD Negeri 128 Turungan Beru di Kecamatan Herlang, Bulukumba. Di hari Jumat setelah pulang sekolah, ia mengunjungi ibunya, Ms. Uci, yang sedang mengajar Matematika. Bagi Afwa, berhitung sudah menjadi aktivitas kesehariannya. Sore itu, ia menginginkan sesuatu yang berbeda.
Saat bertatap muka dengan guru bahasa Inggris di sana, sang guru terkejut karena sudah lama tidak berjumpa dengannya. Ibunya yang sedang mengajar kemudian meminta Afwa untuk bergabung di kelas bahasa Inggris. Afwa tersipu malu. Agar ia tidak merasa canggung, sang guru pun menggandeng tangan Afwa sambil mengajaknya berjalan masuk ke kelas. Seketika, wajahnya berubah girang. Guru tersebut tahu betul bahwa anak kelas 1 SD seusia Afwa belum mendapatkan pelajaran bahasa Inggris di sekolah formal.
Langkah pertama yang dilakukan Afwa adalah bercakap-cakap merujuk pada buku Basic Reading (Bacaan Dasar). Itu adalah buku bahasa Inggris yang paling sering ia baca sewaktu masih di Taman Kanak-Kanak. Afwa terlihat sangat senang karena ia tidak harus mengeluarkan energi baru untuk bisa aktif berbicara. Saat ia mempraktikkan percakapan secara berpasangan dengan Arrumi, murid kelas 4 SD, pembicaraan di antara kedua anak ini mengalir sangat lancar. Sesekali, guru terlibat langsung ketika bahan percakapan membutuhkan tiga orang peserta. Hari itu, sekitar 10 pelajaran berhasil diselesaikan dengan baik.
Pada tahap kedua, Afwa dipasangkan dengan Alika, seorang siswi kelas 2 SMP. Alika banyak tersenyum karena sangat menikmati percakapannya dengan Afwa. Barangkali, Alika belum pernah bertemu anak lain yang masih sangat belia namun sudah begitu lancar membaca dan bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Bagi sang guru sendiri, kekaguman terdalam terletak pada kemampuan memori Afwa yang masih mengingat pelajarannya dengan sangat baik. Di desa, Afwa tidak mempunyai seorang rekan pun untuk melatih bahasa Inggrisnya. Namun tak kala berada di kota, ia mampu beradaptasi dengan cepat bersama para pelajar yang hampir setiap hari belajar bahasa tersebut.
Dari contoh kecil ini, kita dapat menganalisis bahwa kecerdasan anak yang cepat berkembang sangat erat kaitannya dengan peran sang ibu. Ms. Uci begitu pandai menyediakan ruang belajar yang sesuai dengan bakat anaknya. Afwa selalu ditempatkan berada di lingkungan belajar yang positif, baik di kelas Matematika maupun bahasa Inggris. Motivasi yang kuat untuk belajar bahasa Inggris ini salah satunya terpantik saat ia berada di Rumah Belajar Bersama (RBB).
Bahkan, ketika ibunya telah selesai mengajar Matematika, Afwa yang masih asyik belajar tetap dinanti hingga kelasnya usai. Si kecil yang imut ini pun tidak terburu-buru. Ia menyelesaikan semua tugas yang telah diukur oleh guru tepat tuntas sesuai dengan jam pelajaran. Bagi RBB, anak seperti Afwa adalah permata yang langka. Mayoritas pelajar berusia tujuh tahun di lingkungan sekitar masih berjuang belajar membaca dan menulis dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, guru di sana selalu memutar otak dan mencari cara agar anak yang masih tergolong di bawah umur ini tetap merasa nyaman belajar bersama orang-orang yang usianya jauh lebih tua.
Dalam jangkauan yang lebih luas, mencetak generasi emas seperti yang kerap didengung-dengangkan oleh para ahli dan pembuat kebijakan pendidikan memanglah hal yang sulit karena melibatkan banyak faktor. Namun, di balik segala macam perdebatan teori pencerdasan anak bangsa, hal yang paling mendasar dan terpenting adalah niat serta tindakan yang konsisten.
Kita harus menjadikan pendidikan sebagai tulang punggung, prioritas nomor satu. Perlu ada usaha yang terus-menerus untuk memperbaiki kualitas pendidikan secara nyata, bukan sebatas menggembirakan di atas lembaran kertas laporan belaka. Fasilitas pendidikan yang berwujud materi sudah sepatutnya diprioritaskan demi meningkatkan kualitas sumber daya manusia, di atas kepentingan keuntungan pribadi. Keunggulan dalam mengerjakan proyek pendidikan memang penting, dan tentu setiap orang yang bekerja ingin mendapatkan nilai lebih. Namun, kadarnya haruslah sewajarnya saja. Segala hal yang berlebihan pasti merusak.
Bila kebiasaan pola pikir ini tidak segera diubah, entah sampai kapan kita akan terus berjalan di tempat dan tertinggal. Padahal, apabila kita telusuri lebih mendalam, banyak anak-anak Indonesia berbakat seperti Afwa baik di desa maupun di kota juga perlu memperoleh perhatian dan dukungan untuk menemukan ruang tumbuhnya, agar permata-permata tersembunyi ini tidak redup sebelum sempat bersinar.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Jum’at, 23 Oktober 2026
Dua orang anak mendapatkan kelas tambahan untuk persiapan lomba. Faika Qhinara Putri Ridwan (Faika) hobinya…
Sakkar adalah the young sailor man (sang pelaut muda) dari Turungan Beru, Herlang, Kab. Bulukumba.…
Jika dalam satu kelas terdapat 40 orang pelajar, ada dua atau tiga orang anak yang…
Sebelum jam belajar mulai, satu per satu anak-anak sudah datang dan langsung bertanya, "Dimana kertasku?"…
Kalangan orang-orang terdidik tidak bisa hanya menguasai satu elemen berbahasa Inggris saja. Untuk ujian Test…
Manusia takkan pernah lepas dari masalah. Dari masalah itu, pikiran berfungsi baik untuk mengatasi masalah.…
Leave a Comment