Membalik Rapor Merah PISA dari Festival Literasi Bulukumba

Sejak Indonesia bergabung Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2000 hingga 2025, literasi pelajar Indonesia belum pernah mamasuki level aman di tingkat dunia. Dari rilis PiSA 2025, delapan negera-negara tetangga di ASEAN bercokol di posisi yang lebih tinggi daripada Indonesia.

Akibatnya, pendidikan Indonesia terkenal label tertinggal jauh betapapun sample penelitian itu sangat dekat dengan over generalisation (melebih-lebihkan) karena beberapa contoh yang diteliti diklaim menjadi representasi suatu negara. metode stratified random sampling itu memang secara ilmiah benar, tetapi secara logika tetap saja mengandung celah generalisasi.

Festival Literasi Bulukumba yang ketiga diadakan oleh Dinas Perpustakaan Daerah (Perpusda) Bulukumba kali ini memang tidak sedang berpikir besar untuk menaklukkan PISA. Ia hadir untuk menumbuhkan minat membaca pada pelajar and pemuda-pemudi daerah dan menghadirkan tokoh-tokoh lokal yang telah menghasilkan karya dalam sebuah diskusi terbuka yang dihadiri oleh para pelajar, kepala desa dan guru-guru sekolah. Sudah tentu, berbagai pengalaman pahit terseok-seok menghidupkan perpustakaan masyarakat di pelosok desa masing-masing menjadi kisah heroik para pembicara di tengah rendahnya minat baca, hampir tidak dipedulikan menjadi sesuatu yang berharga. Mereka tetap berkembang di tengah himpitan keterbatasan. ditambah lagi semua pembicara itu telah menghasilkan berbagai karya dalam bentuk buku, bukti yang tidak terbantahkan sebagai relawan yang tangguh. Perpusda cerdas dalam menghadirkan mereka.

Pada sesi tanya-jawab, penulis tertarik untuk turut menyalurkan ide dengan menerangkan bahwa sampai hari ini kita masih berkutat pada pertanyaan bagaimana menumbuhkan minat baca para pelajar. PISA itu bukan lagi mempertanyakan hal itu, melainkan minimal pemahaman terhadap isi bacaan. Kalau para pelajar malas membaca, bagaimana kalau mereka diajak menulis buku saja? Mereka diajak berimajinasi dan menceritakan kisah hidup yang berkesan. Itulah pengantar yang kemudian diolah dalam bentuk tulisan. Kalau mereka menulis, mereka pun akan lebih mudah memahami isi buku yang dibuat. Dengan adanya pengarahan dan pendampingan yang tersistematis, mereka akan terlatih mencari bacaan yang erat kaitannya dengan buku yang sedang dibuat. Ide dari lokal ini dapat berdampak global karena ada syarat kemajuan literasi dari PISA dapat terpenuhi.

Ini bukan hal mustahil. Penulis memberikan contoh pada kelas bahasa Inggris berumur delapan dan sembilan tahun di Rumah Belajar Bersama (RBB) yang secara perorangan membuat cerita, menyambung satu kalimat yang telah dibuat oleh rekannya. Imajinasi mereka luar biasa. Sepenggal paragraf pun tersampaikan.

Our Imagination

Yesterday, my tree was eaten by a goat.
Suddenly, the goat became a tree.
The tree was very big and tall.
Many animals climbed it except the cat.
The cat flew to the tree.
Terjemahan:
Imajinasi Kami
Kemarin, pohon saya dimakan oleh seekor kambing.
Tiba-tiba, kambing itu berubah menjadi sebuah pohon.
Pohon itu sangat besar dan tinggi.
Banyak hewan memanjatnya kecuali seekor kucing.
Kucing itu terbang ke pohon itu.

Ini mirip dengan cerita ‘A Modern Picture’ yang diabadikan oleh L. G. Alexander, penulis dari Inggris. Sally Jones berumur lima tahun yang menunjukkan lukisannya kepada ibunya dan membayangkan sebuah pohon berada di langit serta sebuah pesawat terbang yang berada di langit adalah ibunya, ibunya adalah pesawat terbang itu sendiri.

Pendekatan imajinatif ini memang bukan target PISA. Namun, jangan lupa bahwa 1001 cara untuk menumbuhkan literasi. Setelah mereka para pelajar akrab dengan bacaan, mereka bisa didekatkan pada membaca manual alat digital, memahami grafik data, mendeteksi berita bohong (hoax), dan mengambil kesimpulan logis dari teks non-fiksi ilmiah.

Bagaimana cara agar para pelajar mempunyai karya? Triple helix: ada pemerintah dalam hal ini Dinas Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan, kaum intelektual seperti para pembicara Daeng Mapata sebagai penulis senior, Hadi Sakty, dan Irhyl R. Makkatutu sebagai penulis muda, dan CSR-nya swasta yang dimanfaatkan dengan membangun symbiosis mutualisme melalui pencantuman nama dalam buku pada perusahaan yang terlibat.

Kaharuddin, kepala perpustakaan provinsi Sul-Sel, yang menjadi pembicara mendengarkan ini tentu selalu berpikir keterbatasan anggaran terlebih sebagian besar anggaran sekarang ini telah ditarik ke pusat.
Di sini lah fungsi triple helix itu. Hal yang terpenting dari pemerintah dalah kebijakan yang memberikan payung hukum agar ada kombinasi antara gerakan struktural pemerintah dan kultural dari para pemerhati pendidikan dalam mencapai tujuan bersama. Pergawai perpustakaan sekolah dengan Perpusda menaikkan awalnya relasinya lebih banyak pada hubungan pinjam meminjam atau hibah buku ke arah yang lebih dekat karena para pelajar akan turut mendapatkan pelatihan menulis yang pematerinya dari relawan pustaka–istilah yang disebut oleh Basmawati Haris, rekan-rekan jurnalis, dan pemerhati pendidikan lainnya yang menjadi rekan kerja sama.

Kaharuddin menanggapi gagasan ini dengan menyebutkan istilah kolaborasi. Mungkin ia masih perlu berkoordinasi dengan jajarannya untuk dapat membaca plus dan minus dari gagasan tersebut, sedangkan Daeng Mapata langsung menyambut gembira. “Saya siap saja. Apalagi tahun depan saya sudah pensiun. Saya mempunyai waktu luang yang lebih banyak untuk mendidik,” katanya mantap. Sakty dan Irhyl juga berpendapat yang sama.

Kesiapan penulis senior Daeng Mapata dan energi dahsyat dari para penulis muda yang mendapat dukungan dari peserta kini tinggal menanti dukungan pemerintah provinsi dan pihak swasta. Kolaborasi wacana ini sebaiknya tidak terhenti sebatas seremonial festival, melainkan diwujudkan menjadi perpaduan gerakan struktural dan kultural yang menggetarkan panggung literasi lokal, nasional, dan bahkan internasional. “Menerbangkan kucing ke atas pohon” dan “melihat ibunya Sally sebagai pesawat di langit” adalah karangan yang membuktikan bahwa karya pikir manusia mampu menerobos kemustahilan.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Senin, 26 Oktober 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *