Merawat Rasa Ingin Tahu dan Kemerdekaan Berpikir

Rencana yang sudah matang dari guru yang hendak membuat cerita aktivitas keseharian para pelajarnya tiba-tiba saja berubah. Setelah kelas dibuka, seorang anak mengusulkan sesuatu. “Mister, bagaimana kalau kita buat cerita halusinasi?” usul Adeeva. “Maksudmu, cerita seperti dongeng?” tanya guru untuk memperjelas imajinasi apa yang diinginkan. Adeeva masih sedang berpikir ketika pelajar yang lain menjawab, “Iya, kita buat cerita yang lucu-lucu,” balas Belva yang diaminkan semua anak di kelas.

Aspirasi mereka diterima. Guru pun dengan segera menanggapi, “Baiklah! Itu ide yang sangat bagus. Tapi, ada syaratnya. Setiap pelajar wajib menyetor satu kalimat secara bergiliran. Nisa menyambung. “Iya. Ceritanya harus nyambung dengan kalimat sebelumnya.” Sejurus kemudian, ide lanjutan menyertai. “Kalimat yang dibuat nanti boleh dimasukkan ke dalam cerita jika pelajar yang lain sepakat. Sepakat?” tanya guru. “Sepakat,” jawaban anak-anak terdengar secara serempak.

Setelah menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit yang disertai perdebatan ala anak-anak, berikut ini cerita singkat yang berhasil mereka rangkum:

Our Imagination

Yesterday, my tree was eaten by a goat.
Suddenly, the goat became a tree.
The tree was very big and tall.
Many animals climbed it except the cat.
The cat flew to the tree.

There was a mouse attacking the cat.
The cat called its friends to help.
A turtle, a rabbit, and a squirrel came.
The cat won the fight.

Terjemahan:

Imajinasi Kami

Kemarin, pohon saya dimakan oleh seekor kambing.
Tiba-tiba, kambing itu berubah menjadi sebuah pohon.
Pohon itu sangat besar dan tinggi.
Banyak hewan memanjatnya kecuali seekor kucing.
Kucing itu terbang ke pohon tersebut.

Ada seekor tikus yang menyerang sang kucing.
Kucing itu memanggil teman-temannya untuk meminta bantuan.
Seekor kura-kura, seekor kelinci, dan seekor tupai pun datang.
Kucing itu memenangkan pertarungan tersebut.

Anak-anak ke depan kelas tepatnya berhadap-hadapan dengan papan tulis untuk membaca dengan suara nyaring yang dilakukan secara berpasangan dan perorangan.

Anak-anak sudah tahu konsekuensi dari sebuah cerita yang dibuat. Sebelum guru meminta untuk menghafal di luar kepala, Belva sudah dahulu berpendapat. “Saya tidak mau menghafal,” katanya. Para pelajar yang lainnya memberikan dukungan. “Saya juga tidak mau menghafal,” ucap mereka satu per satu. Ini seperti protes para demonstran yang bila tidak dipenuhi, kelas belajar terhenti. “Okelah,” kata guru. “Kalian berpasangan saja membaca. Sebagai ganti hafalan, kalian harus menerjemahkan sendiri cerita bahasa Inggris itu ke dalam bahasa Indonesia,” lanjut guru mencari jalan tengah. Tulisan yang tertera di papan hanya dalam bahasa Inggris saja. “Oke. Itu gampang,” balas seorang anak. Anak-anak yang lain sependapat.

Tiap kelompok secara bergantian maju membaca teks bahasa Inggris. Kemudian, seorang anak membaca lagi dalam bahasa Inggris, sementara rekannya menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Untuk membuat mereka lebih serius, terdapat rekaman video yang dikirimkan ke grup WhatsApp dan akun Facebook Rumah Belajar Bersama (RBB) di mana orang tua mereka ataupun anak itu dapat menonton penampilannya masing-masing. Langkah terakhir adalah mereka tampil secara perorangan membaca dan menerjemahkan sendiri sesuai kemampuannya. Guru memandu memperbaiki setiap kesalahan yang dibuat.

Keluar Main dengan Pilihan Belajar
Pada sesi keluar main, anak-anak ini membuat kelas sendiri. Pilihannya adalah belajar Matematika. Maklum, mayoritas anak-anak di kelas bahasa Inggris ini juga mengikuti kelas Matematika yang hari belajarnya selang-seling dengan bahasa Inggris. Belva didaulat menjadi seorang guru. Perannya sebagai guru sangat meyakinkan. Semua anak patuh dan tidak ada yang membantah. Awalnya ia memberikan soal perhitungan yang ringan. Semua anak senang dan mampu menjawab dengan benar. Sesekali, angka yang disebut dalam bahasa Inggris. Mungkin saja, mereka mengondisikan bahwa malam ini mereka sedang berada di kelas bahasa Inggris.

Lalu, entah apa yang dipikirkan Belva. Ia kemudian membuat soal perhitungan yang ia sendiri tidak tahu jawabannya. “Mister, bisa pinjam hp Anda? Saya mau pakai kalkulator untuk menghitung,” tanya Belva. “Oh! Tidak boleh, Belva. Itu tidak adil. Murid-muridmu tidak menggunakan kalkulator, sedangkan kamu mau pakai kalkulator,” jawab guru secara lugas diperdengarkan kepada seluruh anak. Belva berpikir mencari solusi lain, sedangkan murid-muridnya sibuk menghitung dengan membuat cakaran di kertas kosong. Mereka tidak tertarik menanggapi pertanyaan gurunya.

Beberapa saat kemudian, Belva tersenyum. Ia berhasil menemukan kalkulator yang ia pinjam dari kelas Matematika. Ia tidak khawatir lagi untuk mengoreksi jawaban murid-muridnya. Perilaku yang unik adalah tidak ada seorang pun anak yang protes terhadap tindakan Belva itu. Mereka tetap fokus mencari jawaban secara manual yang hasilnya disetor ke Belva dan tahu bahwa jawaban dapat ditemukan tanpa bantuan kalkulator. Sebenarnya, menurut pemahaman guru yang menyaksikan ‘drama’ ini, Belva juga sanggup, tetapi kali ini ia memilih jalan yang lebih singkat karena sangat khawatir didahului menyelesaikan kumpulan soal itu.

Guru juga tidak terlibat karena itu adalah jam keluar main. Itu adalah waktu di mana hak anak-anak untuk mengekspresikan secara bebas keinginannya. Cuma saja, waktu istirahatnya sedikit lebih lama dari biasanya karena guru pun berkepentingan agar setiap anak mampu menyelesaikan perhitungannya. Barulah setelah selesai, perhatian kembali ke pelajaran bahasa Inggris.

Guru bahasa Inggris dari RBB ini menyadari bahwa bila anak-anaknya mampu berpikir logis dan terstruktur yang dibangun melalui fondasi Matematika, cara berpikir itu sangat berguna pada pelajaran grammar (tata bahasa) yang juga membutuhkan kemampuan berpikir logis dalam mendeteksi dan menyusun struktur kata, frasa, dan kalimat dengan benar. Tanpa kemampuan berpikir logis, grammar akan sangat sulit dimengerti.

Hal yang menarik kita temukan dari pola belajar yang berbasis kemerdekaan berpikir ini menumbuhkan rasa ingin tahu yang tinggi. Kebebasan yang dimaksudkan di sini adalah kecerdasan guru RBB dalam mengelola kelas di mana desain kelas itu berada dalam genggaman para pelajar. Guru menyediakan ‘rel’ yang bernama ‘kebebasan’ untuk dilalui setiap anak. Tanpa ini, kebebasan dalam belajar itu akan salah arah karena anak-anak itu pada umumnya lebih banyak mau bermain daripada belajar. Oleh karena itu, kebebasan yang diberikan adalah cara belajar yang mencerdaskan otak dan membahagiakan hati mereka.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Sabtu, 24 Oktober 2026

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Menyemai Emas di Lingkungan Belajar

Afwa Afiza Arsi, gadis kecil berusia tujuh tahun, kini bersekolah di SD Negeri 128 Turungan…

24 jam ago

Dari Olimpiade hingga Kemandirian Berpikir

Dua orang anak mendapatkan kelas tambahan untuk persiapan lomba. Faika Qhinara Putri Ridwan (Faika) hobinya…

2 hari ago

Sakkar Menaklukkan Badai dan Logika

Sakkar adalah the young sailor man (sang pelaut muda) dari Turungan Beru, Herlang, Kab. Bulukumba.…

3 hari ago

Amuk Marxisme dan Jalan Damai Pendidikan Alternatif

Jika dalam satu kelas terdapat 40 orang pelajar, ada dua atau tiga orang anak yang…

3 hari ago

Keajaiban Metode 40

Sebelum jam belajar mulai, satu per satu anak-anak sudah datang dan langsung bertanya, "Dimana kertasku?"…

5 hari ago

Tragedi Pragmatisme pada Bahasa Inggris

Kalangan orang-orang terdidik tidak bisa hanya menguasai satu elemen berbahasa Inggris saja. Untuk ujian Test…

5 hari ago