Menepis Kebohongan Wajah Pendidikan

Nilai bohong. Itulah yang sering kita temui untuk mengamankan nama baik institusi pendidikan. Para pelajar pun akhirnya berotak bulus dengan mengikuti pelajaran hanya untuk mendapatkan sertifikat atau ijazah sebagai tanda pernah belajar. Tokoh publik semacam Rocky Gerung melengkapi citra buruk ini dengan mengatakan, “Ijazah adalah tanda seseorang pernah sekolah, bukan tanda ia pernah berpikir.” Rocky biasanya menambahkan sindirannya itu dengan istilah “dungu”.

Dengan adanya swastanisasi pendidikan saat ini, sertifikat atau ijazah menjadi lahan bisnis yang dapat meraup keuntungan besar. Dari situ pula, lahirlah orang-orang pengejar sertifikat untuk kebutuhan kerja tanpa mengedepankan ilmu pengetahuan atau keahlian. Peluang buruk ini terbuka lebar bila institusi atau lembaga yang terkait tidak lagi mengepankan kualitas sumber daya manusia. Apakah masalah pelik ini juga terjadi dalam pendidikan formal? Jika ya, maka kita akan menciptakan generasi yang memanipulasi data. Pemberian nilai tinggi untuk menaikkan reputasi dan statistik kelulusan institusi, bukan kompensasi pelajarnya.

Disiplin RBB Tanete dan Jerman
Pengajaran di Rumah Belajar Bersama (RBB) Tanete yang meskipun tidak mempunyai kuasa dalam pendidikan formal menolak itu semua. Lembaga ini berjuang di jalur pendidikan rakyat. Para pelajarnya yang mayoritas SD itu diberikan ujian grammar yang hasilnya sesuai dengan fakta sebenarnya. Anak-anak dididik untuk berperilaku dan mengukur kemampuannya secara jujur. Pelajar yang memperoleh nilai rendah tahu bahwa dirinya butuh belajar lebih giat agar dapat meraih nilai tinggi, sedangkan pelajar yang memperoleh nilai tinggi derajatnya secara otomatis terangkat, kapasitasnya teruji. Begitulah ujian tulis yang diterapkan oleh Mr. Agung Pratama Salassa saat menguji simple present dan simple past tenses pada anak anak RBB Tanete pada ujian tenses.

Sementara itu, untuk melatih kemampuan berbicara yang sesuai kaidah tenses, Fajar Hamzah (Mr. Ancha) memberikan pelatihan lisan pada simple present dan simple past tenses juga. Karena setiap anak akan divideo secara live (siaran langsung), mereka terlebih dahulu mempersiapkan diri berlatih agar tidak mau tampil bodoh ditonton. Bila ada pelajar yang telah selesai menyetor, pelajar lain merasa tidak ingin tertinggal. Jadinya, satu per satu menyetor tugas hingga semuanya tuntas. Strategi ini sangat efektif memajukan semangat dan kualitas belajar.

Bila kita melirik negeri nun jauh di sana, model pendidikan seperti di atas juga berlaku di Jerman. Bahkan, sistem tersebut berlaku di pendidikan formal. Tamatan pelajar SMA yang nilainya tidak memenuhi standar tidak diperbolehkan kuliah: lebih layak bekerja. Saat kuliah pun, mahasiswa yang tidak bisa menyelesaikan mata kuliahnya akan terkena Drop Out (DO) tanpa kompromi, meskipun itu bukan satu-satunya standar ukuran. Tak mengherankan bila produk barang dari Jerman kualitasnya terkenal bagus. Itu karena tak lepas dari sistem pendidikan yang bertanggung-jawab.

RBB hanyalah lembaga kecil, bukan sesuatu yang sama sekali layak diperbandingkan dengan Jerman, tetapi lembaga ini bergerak dalam wilayah kultural dan mempunyai cita-cita besar turut berperan aktif mengubah wajah pendidikan kita dimulai dari hal-hal sederhana tanpa harus menanti wilayah struktural berubah: nilai tidak bohong dan membalikkan istilah ‘dungu’ menjadi cendekia. Semestinya, pendidikan formal dan nonformal berani merombaknya, bukan tugas RBB semata sehingga pada akhirnya kemajuan itu menjadi milik bersama.

Zulkarnain Patwa
Minggu, 6 September 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *