Akhir-akhir ini, kita sering mendengar istilah Kampung Inggris untuk menarik perhatian publik. Berbagai lembaga pendidikan dengan sengaja menggunakan frasa ini untuk meyakinkan publik bahwa apa yang mereka tawarkan itu sepertinya sama dengan Kampung Inggris yang telah teramat populer itu.
Tapi, tahukah kita spirit Kampung Inggris di Desa Tulungrejo, Kec. Pare, Kab. Kediri di Jawa Timur dibangun? Itu adalah pendidikan berbasis kerakyatan. Karena harga yang terjangkau dengan kualitas yang sangat bagus, orang dari berbagai macam kalangan datang belajar. Ada yang sekali, dua dan bahkan sampai lima kali belajar dalam sehari. Waktu belajar mulai dari Senin sampai Jum’at, Sabtu dan Minggu libur. Mengenai materi, itu sudah lengkap—segala tingkatan pelajaran tersedia.
Salah seorang perantau ilmu yang pernah ke Pare adalah Fajar Hamzah alias Mr. Ancha. Pemuda terdidik ini sebelum menamatkan kuliahnya di UIN (Universitas Islam Negeri) jidan Muhammadiyah Makassar, ia pernah tinggal di Kampung Inggris itu di Jawa Timur selama dua tahun di sekitar tahun 2000-an ke atas. Ia berguru mulai dari nol hingga tahapan terumit seperti TOEFL (Test of English as a Foreign Language) dan IELTS (International English Language Testing System). Ilmu itulah yang ia gunakan untuk lulus TOEFL saat mengikuti kuliah S-2 di UGM Yogyakarta serta memberikan bantuan pelatihan TOEFL kepada rekan-rekan kuliahnya yang terkendala pada TOEFL.
Setelah meraih gelar master di jurusan Filsafat, Mr. Ancha kembali ke Sulawesi Selatan. Saat ini, ia sedang mengajar di Bulukumba, tepatnya di Rumah Belajar Bersama (RBB) di kota Bulukumba bersama rekan-rekannya yang juga alumni Pare. Seperti halnya di Pare, ia mengajar dari Senin sampai Jum’at. Di sela-sela waktu libur yaitu Sabtu dan Minggu, ia pulang ke kampung halamannya di Barugae di Kec. Tanete, Kab. Bulukumba untuk mengunjungi keluarga dan berbagi ilmu kepada anak-anak.
Memori ketika ia sekolah di kampung masih terekam baik dalam ingatannya. Mr. Ancha sadar bahwa masih sangat banyak anak di pelosok desa yang tidak mempunyai akses belajar yang berkualitas mumpuni. Bermodalkan papan tulis dan spidol, ia mengumpulkan anak-anak kampung untuk diajak belajar. Bagaimana dengan tempat belajar? Layaknya Pare, semua tempat adalah belajar. Ancha mengajak mereka belajar di sebuah teras rumah dikelilingi pohon yang rindang di mana tiap anak membawa sendiri kursi dari rumahnya masing-masing. Kelas belajar ini menyatu dengan alam.
Anak-anak yang di bawah umur seperti TK dan kelas 1 SD menyanyikan lagu ABC dalam bahasa Inggris. Karena anak-anak SD lainnya juga suka dan belum mahir alphabet bahasa Inggris, mereka semua bernyanyi dengan riang gembira. Ini terdengar seperti paduan suara, tetapi orang tahu bahwa ini pelajaran bahasa Inggris. Menyenangkan, kan?
Anak-anak yang sedikit lebih besar kemudian berlatih simple present sebagai bekal untuk bahan percakapan. Nama-nama hari dan kejadian berhubungan dengan kehidupan sehari-hari lainnya juga dikenalkan. Melalui pendekatan sederhana ini, bahasa Inggris terasa tidak asing, tidak memusingkan kepala sebagaimana yang mereka dapatkan di pendidikan formal.
Setelah beberapa kali latihan, anak-anak itu merasa sanggup mengucapkan dengan baik. Mereka pun terlihat percaya diri tampil di depan rekaman video siaran langsung di akun Facebooknya RBB. Wajah, senyum dan nada suara mereka sangat menggemaskan. Penonton tersentuh dengan semangat belajarnya. Pembelajaran ini seakan menjawab akan kebutuhan mereka terhadap hadirnya pendidikan alternatif yang telah lama mereka nantikan di kampung halamannya.
Di balik senyum ceria anak-anak di layar kaca media sosial tersebut, tersimpan sebuah ironi besar tentang ketimpangan pendidikan formal kita. Kita tahu, tindakan kecil yang sangat berharga dari Mr. Ancha ini adalah tindak lanjut dari pendidikan kerakyatan ala Kampung Inggris; ada kesadaran untuk membantu orang lain. Ia tahu kampungnya tidak pernah tersentuh pelajaran seperti yang ia ajarkan. Ia juga mengerti bahwa pelajaran bahasa Inggris di SD tidak bisa diandalkan karena kebanyakan guru yang diminta mengajar di sekolah itu bukan berlatar belakang jurusan bahasa Inggris. Buktinya, anak-anak menyebut alphabet saja masih sangat kewalahan. Ini adalah akibat dari keputusan pemerintah untuk tidak merekrut sarjana bahasa Inggris mengajar di SD.
Spirit berbagi pengetahuan ala Kampung Inggris inilah yang mesti perlu terus hidup di hati di kalangan orang terpelajar kita sekaligus mengambil langkah nyata agar dapat memberikan manfaat di lingkungan terdekatnya. Kesederhanaan, semangat belajar yang tidak pernah padam, dan kualitas pengetahuan yang handal mesti terus dijaga. Para alumninya yang mengerti spirit ini pasti tidak melupakan sisi humanisme yang mereka telah dapatkan, sebisa mungkin tidak berjarak dengan rakyatnya dengan jalan turut aktif mencerdaskan.
Nah, siapa yang akan peduli pada rakyat yang mempunyai kemampuan ekonomi terbatas untuk mengakses pendidikan alternatif yang berkualitas itu? Siapa yang bertugas bila pendidikan itu bila hanya dapat diakses oleh orang yang berduit saja? Ke mana rakyat itu mengadu? Mengutip pemikiran Ali Syariati, itu adalah tugas dan tanggung jawab kaum intelektual yang tercerahkan. Mr. Ancha adalah salah seorang yang mengambil jalan sunyi tersebut.
Akankah Kampung Inggris itu tetap melekat di hati rakyat?
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Minggu, 26 Juli 2026
Dalam sebuah diskusi, Fathy Cayadi menginginkan para pelajar Rumah Belajar Bersama (RBB) di Tanete berprestasi…
Miss Fathy Cayadi yang mendidik pelajar Rumah Belajar Bersama (RBB) di Tanete mengombinasikan pembelajaran bahasa…
Sebuah kelas yang terdiri dari pelajar kelas 3 sampai 6 SD sedang didesain menguasai struktur…
Mumtazah Al Hakim anak yang telah lama belajar Reading (bacaan) di Rumah Belajar Bersama (RBB)…
Kebersihan pantai adalah masalah utama yang dihadapi Bulukumba yang kaya dengan beragam keindahan pantai. Persoalan…
Irregular Verbs (Kata kerja yang tidak beraturan) adalah kelas kata yang menarik, sesuatu yang tidak…
Leave a Comment