Kebiasaan yang punya daya ledak yang tinggi butuh konsistensi. Kenapa seorang penulis memilih menulis setiap hari?

Menurut Anjar, rekan perjalanan dari kota Bulukumba ke Tanah Beru, menulis seperti obat yang bisa membantu menguraikan permasalahan di diri sendiri yang barangkali tidak bisa didiskusikan dengan orang lain.

Rakyat di pulau Liukang yang membutuhkan listrik.

Anjar bercerita. Menurutnya, kemarahan disampaikan ke orang lain, itu malah membuat hubungan menjadi buruk. Tetapi dengan menguraikan kemarahan melalui tulisan, kemarahan tersalurkan tanpa harus memperburuk hubungan. “Dan ketika saya kembali membacanya, saya merasa punya sisi kebijaksinian dalam hidup–bukan kebijaksanaan” terang Anjar.

Anda boleh sepakat atau tidak. Yang jelas, dengan alasan yang ia jelaskan di atas, ia terbiasa menulis. Konsistennya dalam menyuarakan kebutuhan listrik yang berkeadilan yang akses 24 jam untuk rakyat di Pulau Liukang di Bulukumba mendapatkan respon positif. PLN telah menyalurkan bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap. Ini karena ia tidak hanya turun langsung ke lapangan tetapi juga karena narasi kampanye yang ia sebarkan di media sosial secara masif.

Sementara itu, penulis sendiri masih dalam tahap dalam upaya mencari daya ledak. Dengan cara menulis, proses perjalanan hidup dicatat setiap hari. Dari sini, penulis dapat mengecek apakah perpindahan dari hari ke hari tersebut mengalami perkembangan atau penurunan. Itu adalah data sejarah yang dapat digunakan membaca masa depan.

Beberapa hal penting juga yang dipikirkan pada hari menulis, entah terwujud atau tidak dituangkan. Pembaca dapat mengambil manfaat dari ide-ide yang dianggap cocok untuk diterapkan. Yang tidak cocok dikritisi yang memungkinkan untuk diubah. Dengan demikian gagasan yang lebih baik bisa lahir.

Namanya juga menulis hal-hal sederhana, semacam catatan harian. Orang bilang, itu biasa saja. Tidak ada yang luar biasa. Cuma saja, patut diingat bahwa catatan harian pernah punya daya ledak di Indonesia. Ingat buku Pergolakan Pemikiran Islam, Catatan Harian Ahmad Wahib? Buku yang terbit pada 1981 punya daya ledak yang luar biasa. Kejaksaan Agung memang tidak melarangnya tapi Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan buku itu berbahaya dan sesat.

Apakah Anda punya daya ledak yang tidak sesat?

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Minggu 5 Juli 2026

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Menyemai Emas di Lingkungan Belajar

Afwa Afiza Arsi, gadis kecil berusia tujuh tahun, kini bersekolah di SD Negeri 128 Turungan…

19 jam ago

Dari Olimpiade hingga Kemandirian Berpikir

Dua orang anak mendapatkan kelas tambahan untuk persiapan lomba. Faika Qhinara Putri Ridwan (Faika) hobinya…

2 hari ago

Sakkar Menaklukkan Badai dan Logika

Sakkar adalah the young sailor man (sang pelaut muda) dari Turungan Beru, Herlang, Kab. Bulukumba.…

3 hari ago

Amuk Marxisme dan Jalan Damai Pendidikan Alternatif

Jika dalam satu kelas terdapat 40 orang pelajar, ada dua atau tiga orang anak yang…

3 hari ago

Keajaiban Metode 40

Sebelum jam belajar mulai, satu per satu anak-anak sudah datang dan langsung bertanya, "Dimana kertasku?"…

5 hari ago

Tragedi Pragmatisme pada Bahasa Inggris

Kalangan orang-orang terdidik tidak bisa hanya menguasai satu elemen berbahasa Inggris saja. Untuk ujian Test…

5 hari ago