Menghapus Batas Dunia dari Kampung Belajar

Kisah Mr. Hill yang seorang pilot yang pernah bekerja di Royal Air Force (Angkatan Udara Kerajaan Inggris) terbang dari satu negara ke negara lainnya hingga hampir berkeliling ke seluruh dunia digambarkan sebagai seorang lelaki yang beruntung. Tetapi, istrinya dianggap tidak beruntung, hanya tinggal di rumah.

Para pelajar di Kampung Belajar seperti senasib dengan istri Mr. Hill. Semuanya tidak pernah ke luar negeri. Perbedaannya mereka anak sekolah dan pemuda-pemudi, belum menikah dan masih punya waktu yang cukup panjang untuk berproses. Penulis lantas tertarik mengenalkan mereka kota-kota besar yang cukup populer di dunia.

Karena kelas tersebut tentang bahasa Inggris, dibuatlah kalimat,
“Will you go to Accra?” (Akankah kamu pergi ke Accra?).

Kata “Accra” kemudian di ganti dengan Bombay, Athena, Berlin, Geneva, London, Madrid, Moscow, New York, Paris, Rome, Stockholm, Sydney, Teheran dan Tokyo.

Nama-nama tersebut memancing rasa ingin tahu di negeri mana kota tersebut. Pertanyaan berikutnya pun hadir.

“Where is Accra?” Dimana Accra?
Jawabannya, “Accra is in Ghana.” Accra di Ghana, sebuah negara di Afrika. Seperti halnya yang di atas, kata “Accra” diganti dengan nama-nama kota lainnya. Para pelajar mengenal kota-kota dan negara-negara di dunia yang luas ini. Wawasan tentang geografi bertambah.

Agar tidak mudah lupa, games dibuat, menanyakan kembali materi, tiap orang mendapatkan soal secara bergiliran secara acak. Games ini sepenuhnya dirancang oleh pelajar di mana guru tidak terlibat langsung agar tidak ada tekanan dan kreatif mengembangkan pola games yang sedang dijalankan. Imajinasi berkembang dan materi tersebut dapat dihapal bukan lewat hapalan tapi pemahaman dengan cara bermain.

Sebagian anak tertarik untuk mengenal lebih jauh. Apakah kota Stockholm itu di Swedia di benua Eropa atau Amerika? Pelajar yang tahu langsung menyebut Eropa. Ada juga yang kemudian bercita-cita untuk keliling dunia seperti Mr. Hill dan ada pula yang ingin tahu apa istimewanya kota-kota dan negara-negara tersebut.

Model pembelajaran bahasa Inggris ini sangat efektif meningkatkan rasa ingin tahu. Seorang guru yang berwawasan dapat memberikan sekilas pengantar dengan memberikan penjelasan langsung tentang negara-negara tersebut. Selanjutnya, para pelajar bisa diajak menggunakan smartphone-nya untuk berselancar lebih jauh di internet tentang berbagai hal yang ditanyakan. Jadi, mereka memanfaatkan smartphone bukan lagi sebatas main games.

Selain itu, buku-buku perlu disiapkan yang berhubungan dengan hal di atas sehingga literasi digital dan dunia nyata berimbang. Bila perlu, pelajar diajak membaca buku-buku yang sederhana dalam bahasa Inggris. Niat hati belajar bahasa Inggris dihubungkan langsung dengan ilmu pengetahuan.

Pelajar kita memang tidak seberuntung pelajar di negeri-negeri jauh seperti di Eropa dan Amerika yang berkeliling dunia. Bukan hanya Mr. Mill yang beruntung itu, para pemuda-pemudi mereka berkeliling dunia. Ini sangat mudah mendeteksinya. Kunjungi saja pusat-pusat wisata seperti Bira, Bali, Borobudur dan lainnya. Tanyakan saja negara-negara mana saja yang mereka pernah kunjungi. Tidak perlu kaget bila jawaban mereka ialah tidak terhitung.

Lalu, bagaimana caranya bisa beruntung juga? Bila menjadi bukan keturunan orang yang sangat kaya raya, sebaiknya menuntut ilmu sebanyak-banyaknya saja dan bercita-cita beruntung, keliling dunia juga layaknya Mr. Hill atau mencontoh orang-orang sukses lainnya.

Apakah Anda ingin juga seperti Mr. Hill atau istri Mr. Hill?

Lalu, pilihan mana yang Anda ambil? Menjadi penjelajah dunia seperti Mr. Hill, atau seperti istrinya?

Zulkarnain Patwa
Kamis, 2 Juli 2026

Menghapus Batas Dunia dari Kampung Belajar

Kisah Mr. Hill, seorang pilot yang pernah bekerja di Royal Air Force (Angkatan Udara Kerajaan Inggris), terbang dari satu negara ke negara lainnya hingga hampir berkeliling ke seluruh dunia digambarkan sebagai seorang lelaki yang beruntung. Tetapi, istrinya dianggap tidak beruntung karena hanya tinggal di rumah.

Para pelajar di Kampung Belajar seperti senasib dengan istri Mr. Hill. Semuanya tidak pernah ke luar negeri. Perbedaannya adalah bahwa mereka anak sekolah dan pemuda-pemudi, belum menikah, dan masih punya waktu yang cukup panjang untuk berproses. Penulis lantas tertarik mengenalkan kepada mereka kota-kota besar yang cukup populer di dunia.

Karena kelas tersebut tentang bahasa Inggris, dibuatlah kalimat, “Will you go to Accra?” (Akankah kamu pergi ke Accra?).

Kata “Accra” kemudian diganti dengan Bombay, Athena, Berlin, Geneva, London, Madrid, Moscow, New York, Paris, Rome, Stockholm, Sydney, Teheran, dan Tokyo.

Nama-nama tersebut memancing rasa ingin tahu di negeri mana kota tersebut. Pertanyaan berikutnya pun hadir.

“Where is Accra?” (Di mana Accra?) Jawabannya, “Accra is in Ghana.” Accra di Ghana, sebuah negara di Afrika. Seperti halnya yang di atas, kata “Accra” diganti dengan nama-nama kota lainnya. Para pelajar mengenal kota-kota dan negara-negara di dunia yang luas ini. Wawasan tentang geografi bertambah.

Agar tidak mudah lupa, games dibuat, guru menanyakan kembali materi, dan tiap orang mendapatkan soal secara bergiliran secara acak. Games ini sepenuhnya dirancang oleh pelajar di mana guru tidak terlibat langsung agar tidak ada tekanan dan kreatif mengembangkan pola games yang sedang dijalankan. Imajinasi berkembang dan materi tersebut dapat dihafal bukan lewat hafalan, tapi pemahaman dengan cara bermain.

Sebagian anak tertarik untuk mengenal lebih jauh. Apakah kota Stockholm itu di Swedia di benua Eropa atau Amerika? Pelajar yang tahu langsung menyebut Eropa. Ada juga yang kemudian bercita-cita untuk keliling dunia seperti Mr. Hill dan ada pula yang ingin tahu apa istimewanya kota-kota dan negara-negara tersebut.

Model pembelajaran bahasa Inggris ini sangat efektif meningkatkan rasa ingin tahu. Seorang guru yang berwawasan dapat memberikan sekilas pengantar dengan melontarkan penjelasan langsung tentang negara-negara tersebut. Selanjutnya, para pelajar bisa diajak menggunakan smartphone-nya untuk berselancar lebih jauh di internet tentang berbagai hal yang ditanyakan. Jadi, mereka memanfaatkan smartphone bukan lagi sebatas main games.

Selain itu, buku-buku yang berhubungan dengan hal di atas perlu disiapkan sehingga literasi digital dan dunia nyata berimbang. Bila perlu, pelajar diajak membaca buku-buku yang sederhana dalam bahasa Inggris. Niat hati belajar bahasa Inggris dihubungkan langsung dengan ilmu pengetahuan.

Pelajar kita memang tidak seberuntung pelajar di negeri-negeri jauh seperti di Eropa dan Amerika yang berkeliling dunia. Bukan hanya Mr. Hill yang beruntung itu, para pemuda-pemudi mereka juga berkeliling dunia. Ini sangat mudah mendeteksinya. Kunjungi saja pusat-pusat wisata seperti Bira, Bali, Borobudur, dan lainnya. Tanyakan saja negara-negara mana yang pernah mereka kunjungi. Tidak perlu kaget bila jawaban mereka ialah tidak terhitung.

Lalu, bagaimana caranya bisa beruntung juga? Bila menjadi bukan keturunan orang yang sangat kaya raya, sebaiknya menuntut ilmu sebanyak-banyaknya saja dan bercita-cita beruntung: keliling dunia juga layaknya Mr. Hill atau mencontoh orang-orang sukses lainnya.

Apakah Anda ingin juga seperti Mr. Hill atau istri Mr. Hill?

Lalu, pilihan mana yang Anda ambil? Menjadi penjelajah dunia seperti Mr. Hill, atau seperti istrinya?

Zulkarnain Patwa
Rabu, 1 Juli 2026

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Teror Pencerdasan Bahasa Inggris

Bahasa Inggris ataupun bahasa asing apapun juga pasti terasa asing dilidah bila tidak dibiasakan. Mengulangi…

13 jam ago

Tragedi 8 x 3 di SMK Menampar Wajah Kurikulum Kita

Kejeniusan Mr. Crack, B. J. Habibie, tentulah turut mengharumkan nama baik Indonesia, disegani di dunia…

2 hari ago

Menghapus Sekat Belajar

Salah eja atau ucap seringkali dialami para pelajar bahasa inggris. Fokus kebanyakan orang adalah kemahiran…

3 hari ago

Di RBB, Pelajar yang Paling Pintar Pun Jadi Biasa Saja

Para pelajar yang menguasai perubahan seluruh kalimat tenses dengan segala bentuk perubahannya bukanlah jaminan bahwa…

4 hari ago

Memoar Kak Madi: Pepaya Matang WME Kembali ke Pemilik-Nya

Ahmadi Hatta adalah mahasiswa jurusan Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 87. Pada tahun 2000-an,…

5 hari ago

Terbaik: Setiap Tempat Adalah Belajar

Suatu pembelajaran akan terasa sangat mudah dipelajari apabila para pelajar tidak asing dengan lingkungan kehidupan…

5 hari ago