Horst Liebner, Warisan Habibie, dan Kebebasan yang Bertanggung Jawab
Ketelitian dan musyawarah itu penting untuk membuat sesuatu hal berharga. Apa sulitnya Doktor Horst Liebner menulis tentang perahu? Karyanya bertaburan di mana-mana dan ia memang hidup di tengah masyarakat perajin perahu selama berpuluh-puluh tahun. Antropolog yang juga pecinta sastra ini kaya dengan struktur tata bahasa dan cita rasa bahasa dalam menulis.
Beberapa tulisan pendek telah Pak Horst sodorkan untuk saya baca, kami diskusikan, dan kami kritisi. Ia suka manambahkan kata tunjuk atau artikel (demonstrative adjective or article) seperti kata “itu” dan kata keterangan (adverb) yang membuat tulisannya lebih menarik. Menurutnya, ia sering menggunakan artikel karena dipengaruhi oleh bahasa Jerman, bahasa ibunya—memperjelas kata yang sebelumnya telah disebutkan. Saya mengakui penggunaannya pada kata keterangan untuk memperindah tulisannya.
Bagi saya, semuanya benar. Cuma saja, untuk sebuah tulisan yang harus pendek, sebaiknya itu dihapus saja. Diskusi kami kadang-kadang jadi tajam dalam mempertahankan pendapat masing-masing yang dianggap benar.
Dalam beberapa hal, ia bersedia mengubah pendapatnya, “Hapus saja,” katanya. Tapi, bagian lain, “Tidak. Itu penting,” lanjutnya.
Saya paham bahwa kekhasan dan gaya bahasa seorang penulis perlu tetap dijaga. Karena itu, saya tidak mendebat lagi.
Toh, menghapus kata atau tidak sama sekali tidak mengubah inti tulisan. Bila dihapus, tulisan lebih pendek, dan bila tidak dihapus, tulisan itu sudah pendek. Kami hanya sekadar berusaha mencari kosakata yang nyaman untuk pembaca. Itulah yang kami diskusikan panjang lebar selama berjam-jam untuk mendapatkan kualitas bahasa yang terbaik.
Secara pribadi, saya merasa sangat bersyukur bisa mengakrabkan pemikiran secara intelektual dengan Pak Horst. Layaknya diskusi akademik, tidak ada rasa sungkan untuk berbeda pendapat. Mendebatnya bukanlah sesuatu yang dipersepsikan merendahkan orang, tapi itu malah menjadi perhatian lebih untuk mengetahui sejauh mana ketajaman argumentasi. Kultur seperti inilah yang harus dibangun bila kita ingin memajukan ilmu pengetahuan.
Kebebasan Berpendapat di Indonesia
Kultur akademis yang mapan ini mengingatkan saya pada warisan intelektual terbesar yang pernah dibawa pulang oleh B.J. Habibie dari Jerman ke Indonesia. Ia menginspirasi bahwa manusia Indonesia harus punya kemerdekaan berpikir yang bertanggungjawab. Pernyataannya itu bukan sebatas slogan. Saat menjadi presiden, ia memerintahkan untuk melepaskan tahanan politik, termasuk orang-orang yang bertentangan dengannya.
Keberanian dan konsistensi Habibie tidak hanya berhenti sampai di situ saja. “I will never, never tolerate that the Indonesian government will interfere with the freedom of the press,” kata Habibie kepada Komite Perlindungan Jurnalis (Committee to Protect Journalists). Terjemahan bebasnya adalah: “Saya tidak akan pernah, tidak akan pernah mentoleransi bahwa pemerintah Indonesia akan mengintervensi kebebasan pers.”
Kebebasan pers lama dibredel oleh pemerintahan Soekarno dan dibuka oleh Soeharto selebar-lebarnya dengan mengesahkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999.
Bagaimana Anda mau mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi unggul kalau diberikan kendala-kendala yang tidak bisa bergerak? Pertanyaan Habibie ini kemudian Pak Horst lanjutkan dengan menyatakan bahwa ia selalu merencanakan dan membantu agar supaya Indonesia mandiri. Pembuatan proses nilai tambah suatu produk bisa dilaksanakan meskipun susah.
Doktor Kita Berani Didebat?
Indonesia dan Jerman pernah sama-sama melewati otoritarianisme. Jerman trauma dengan rezim Nazi dan Komunis di Eropa Timur, serta Indonesia di masa Orde Lama dan Orde Baru masih menganut paham feodalisme.
Zaman terus bergerak dan kita tentu tidak ingin kembali ke masa lalu itu. Mikrokultur dari potret pada budaya akademis seperti yang tergambarkan pada diskusi dengan Dr. Horst Liebner adalah kultur Jerman yang menghargai ketajaman argumentasi, lugas tanpa tedeng aling-aling, dan objektif. Berbeda pendapat bukanlah serangan personal dan merendahkan derajat orang lain. Berdebat dengan seorang doktor yang namanya sudah sangat terkenal sebagai pakar maritim, khususnya perahu tradisional Indonesia di Sulawesi Selatan, adalah hal biasa dan perlu dibiasakan.
Apakah doktor-doktor di Indonesia juga berpikir seperti itu juga? Masihkah Indonesia terjebak pada feodalisme intelektual?
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Sabtu, 4 Juli 2026
Berangkat dari sebuah pertanyaan berani, "Saya sudah hafal Tenses," kata Fifi, pelajar di Kampung Belajar.…
Pembelajaran pagi hari di Kampung Belajar adalah kelanjutan tentang kota-kota besar. Bila pada sehari sebelumnya…
Kisah Mr. Hill yang seorang pilot yang pernah bekerja di Royal Air Force (Angkatan Udara…
Ketika melihat atau mendidik orang dewasa belajar bahasa Inggris yang tidak tahu alasan penempatan verb…
Andi Kalimbara Aulian AF. alias Aul seorang anak kelas 3 di SDN 193 dari Kec.…
Leave a Comment