Oplus_131072
Ketika melihat atau mendidik orang dewasa belajar bahasa Inggris yang tidak tahu alasan penempatan verb (kata kerja) dengan benar, itu mengingatkan masa penulis belajar bahasa Inggris. Meskipun waktu itu tidak tahu banyak tentang seluk-beluk penamaan kata, penulis sedikit lebih beruntung karena pembicaraan Inggris itu sudah terbiasa dilakukan di rumah dan ditambah lagi majalah bulanan berbahasa Inggris dari Jerman dan buku-buku dari ayah penulis baca. No matter what it means, tanpa memedulikan artinya. Yang menarik adalah cara membuat irama naik turunnya suara dan cara pengucapan yang terdengar keren.
Kebiasaan tersebut ternyata membuat penulis lumayan fasih bercakap-cakap dengan orang asing. Zaman dahulu, banyak turis yang mau ke pantai Bira kesasar di kota Bulukumba di Sulawesi Selatan karena tidak mendapatkan mobil pete-pete (angkot) di sore hari. Mereka kebanyakan berdiri di pinggir jalan raya arah ke Bira, dekat Masjid Borong Kalukue di kota Bulukumba. Ayah penulis–(Alm.) Drs. H. Patiroi, yang biasanya shalat Magrib di Masjid Borong Kalukue seringkali bertemu para turis yang tidak tahu di mana harus menginap diajak bermalam di rumah, tanpa pernah bayar–kebiasaan masyarakat setempat.
Dari sini, terjadi keakraban dengan orang-orang penjuru dunia dan ayah saling kirim surat–awal tahun 90-an belum ada handphone. Bila turis itu mengirimkan hadiah, umumnya dalam bentuk buku. Mereka tahu ayah adalah pembaca dan rumah kami pun berisi banyak buku. Penulis kecipratan dapat bacaan, layaknya Dunia dalam Berita yang membahas isu internasional, tayang malam hari di TVRI. Otomatis bahasa Inggris itu akrab dalam pergaulan di rumah. Ayah pun menyediakan masing-masing satu koper kaset lengkap dengan bukunya–lupa judulnya–untuk bahasa Inggris dan Arab. Sayangnya, penulis hanya mau peduli Inggris saja.
Dibalik kemudahan tersebut, penulis abai pada satu hal, grammar (tata bahasa). Orang Indonesia lancar bicara Indonesia tapi tidak tahu struktur. Begitulah nasib. Jawaban ujian Inggris sekolah di SMP dan SMA bukan karena pintar, tapi karena merasa ini cocok di lidah–efek kebiasaan membaca teks berbahasa Inggris–atau tidak. Untungnya sih, mayoritas benar, tidak tahu alasannya apa.
Kebuntuan grammar tersebut membuat penulis mengunjungi Kampung Inggris di Pare. Ini bermula ketika gagal masuk kelas internasional di kuliah, tidak bisa menulis dengan struktur yang benar. Padahal syarat untuk mendaftar terpenuhi, dua semester mendapatkan minimal satu ada nilai A dan B pada bahasa Inggris. Mendapatkan nilai double A pada dua semester tidak cukup memghadapi ujian menulis esai dalam bahasa Inggris yang wajib memasukkan gerund, tiga bentuk clause dan lainnya untuk bisa lulus di kelas mentereng itu. Singkat kata, keok.
Kegagalan itu mendorong rasa ingin tahu. Kampung Inggris di Pare, Kediri Jawa Timur jadi pilihan. Dari basis pendidikan kerakyatan dengan pengetahuan super itulah yang menyadarkan bahwa betapa pentingnya memahami dasar-dasar grammar (tata bahasa). Bayangkan, pembagian kelas kata saja tidak dimengerti. Clause dan materi rumit lainnya sebenarnya itu biasa hadir dalam teks bacaan tapi karena tidak tahu asal pembentukannya, itu rumitnya luar biasa. Tapi enjoy aja. Pelajar Indonesia lainnya juga yang ada di sana kebanyakan tidak mengerti juga. Setelah paham dasar-dasar tersebut, penulis bisa sedikit melaju agak cepat, diuntungkan kebiasaan membaca teks Inggris semasa sejak kecil.
Setelah mempelajari banyak hal di berbagai macam kursus, barulah penulis punya kepercayaan diri yang cukup untuk menulis. Bekal itulah yang kemudian penulis rancang untuk turut terlibat mendesain para aktivis mahasiswa untuk ikut kejuaraan pidato dan debat antar mahasiswa dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Karena tradisi membaca dibangun, banyak rekan-rekan yang menyabet juara.
Dari pengalaman tersebut, jalan pintas pun diambil. Setiap pelajar yang belajar bahasa Inggris sebaiknya tidak hanya pandai bicara saja tetapi juga pandai grammar. Siapa tahu, pelajar tersebut aktif dalam dunia akademik. Jika itu terjadi, mereka tidak perlu lagi mengalami nasib yang seperti penulis alami. Jika tidak, minimal kemampuan berkomunikasi tertata baik, tidak terbalik-balik dan mudah dipahami orang lain. Kepercayaan diri berbicara pun lebih tinggi karena ada keyakinan bahwa apa yang disampaikan sudah tersusun dengan benar.
Mengkondisikan percakapan dan grammar bagi pemula itu tidak mudah. Terlebih, ada pemahaman bahwa ketika belajar bicara, bicara saja. Tidak perlu peduli grammar agar lekas lancar bercakap. Ketika belajar grammar, tidak usah mengurus percakapan. Grammar itu menjawab soal-soal tertulis, bukan bicara.
Tapi, bukankah orang bisa berbicara dengan tata bahasa yang baik? Itu dapat dipelajari sejak menjadi pelajar pemula dengan meniru kalimat baku (pattern drilling) atau lewat cerita pendek. Bila pembiasaan itu dimulai sejak awal belajar, itu akan terus terbawa hingga berada di tingkat atas. Agar lebih kokoh, semua itu semestinya diikuti dengan penjelasan argumentatif, ditujukan pada orang dewasa atau pelajar yang dianggap sudah mampu diajak berpikir logis. Penulis memilih jalan tersebut, tapi tidak menyalahkan pada orang lain yang memilih jalan yang berbeda.
Pengalaman perjalanan hidup sedikit banyak mempengaruhi cara berpikir dalam menentukan suatu jalan yang ditempuh. Apa yang diyakini terbaik, itulah yang semestinya dijalani dan diterapkan pada diri sendiri dan disebarkan pelajar yang lainnya. Sukses atau tidak atau mengalami perubahan metode atau tidak, perjalanan waktu yang akan membuktikannya.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Senin, 29 Juni 2026
Andi Kalimbara Aulian AF. alias Aul seorang anak kelas 3 di SDN 193 dari Kec.…
Indonesia adalah serpihan surga yang diturunkan ke bumi (qit'atun min al-jannah), ungkap Syekh Mahmud Syaltut…
Dua orang pelajar SD asal Bulukumba yang meraih emas olimpiade bahasa Inggris membuktikan bahwa anak-anak…
Ketika kelas baru saja mulai, guru ingin mengetahui sejauh mana pelajar berminat mengerti arti bacaan…
Adeeva Syakila Zulfikar adalah satu-satunya pelajar SD di Sulawesi Selatan yang meraih emas pada olimpiade…
Jam 9 di pagi hari, dua orang anak remaja dan satu orang dewasa lebih dahulu…
Leave a Comment