oppo_2
“Apa pelajaran, Mister?” tanya Faika saat baru saja tiba di kelas pagi Kampung Belajar.
“Kamu pimpin saja kelas anak-anak SD,” kata guru. “Pelajarannya bebas. Mau membaca bersama atau bercakap, atur sajalah”.
Faika terlihat senang. Sejurus kemudian, ia pun meminta lima orang anak SD membuka buku Basic Reading (Bacaan Dasar) yang berisi conversation (percakapan). Faika mendisiplinkan rekan-rekannya dengan “menyita” handphone agar penjelasannya diperhatikan. Selanjutnya, ia meminta membuka lesson (pelajaran) yang agak sulit dibaca. Listen and repeat (Mendengarkan dan mengulangi) dimulai. Setiap Faika selesai bicara, seluruh peserta mengulang kalimat yang baru saja didengarkan.
Aul, kelas 3 SD, kesulitan mengikuti bacaan.
“Faika lesson 1 (pelajaran 1) saja,” harapnya.
Heri, rekan duduk Aul, menyambung, “Iya. Lesson 2 juga.”
Faika tertawa. “Tidak! Semakin kalian minta lesson 1 dan 2, semakin kalian tidak saya berikan lesson yang gampang itu.”
“Ayolah, Faika. Saya janji saya akan buatkan kamu satu gedung mengatasnamakan namamu.”
Faika hanya mendengarkan, tidak menanggapi.
Kemudian, pelajaran terus berlanjut. Faika menentukan lesson baru meminta tiap pelajar berpasangan bercakap. Percakapan berjalan normal, tidak ada kendala yang berarti karena semua kosakata yang sulit diucapkan diperbaiki oleh rekan bicaranya sendiri atau Faika yang bertindak mengawasi secara langsung memberi tahu tiap kesalahan.
Saat materi kembali lagi ke listen and repeat, Aul sesekali mendahului bacaan Faika sehingga suasana kelas terlihat tidak kompak.
“Hei, jangan melambung. Saya kasih nanti pelajaran yang sulit,” protes Faika ke Aul. Aul terdiam sejenak, takut dengan ancaman Faika. Dia tidak berani lagi menentang.
Tidak lama kemudian, Aul berhasil memutar otaknya. Ia pun kembali menebar janji.
“Faika, lesson yang gampang saja,” terang Aul. “Betul ini. Nanti, saya buatkan dua gedung atas namamu,” lanjutnya.
Kali ini Faika tertawa. “Tidak usah. Nanti kamu menghilang,” balas Faika.
Aul tidak berkutik. Ia harus rela mulutnya komat-kamit tanpa pengucapan yang baik pada isi bacaan lesson yang serba sulit.
Aul menampakkan wajah yang hampir tak berdaya, namun Faika tetap fokus pada lesson yang hampir berada di tengah halaman buku. Tidak ada tanda-tanda ia akan mengarahkan lesson 1 sampai 10.
Namun, setelah pelajaran sudah cukup lama berlangsung, keadaan tiba-tiba berubah–tanpa alasan, tanpa iming-iming janji yang bertambah. Faika memperkenankan agar lesson 1 dan 2 dibaca. Aul dan Heri dan semua anak-anak senang. It bacaan paling mudah. Semuanya unjuk kebolehan juga, terlihat fasih melafalkan tiap kata.
Lalu, pelajaran beralih ke lesson 20, bacaan andalan untuk semua. Kalimat pada lesson tersebut, dapat dibuat seperti games, diikuti dengan gerakan akting gerakan tubuh, terlihat seru dan menggembirakan.
“Aul,” kata Faika. “Kamu yang pimpin mengucapkan look at them (lihatlah mereka).” Pelajar yang lain akan menindaklanjuti dengan pernyataan disertai gerakan tubuh tiap kali “look at them” disebut.
Betapa girang hatinya Aul. Ia tidak menyangka mendapatkan kesempatan untuk jadi pusat perhatian teman kelas meskipun itu hanya sesaat.
“Terima kasih banyak, Faika,” ungkap Aul. Pada bacaan tersebut, Aul sangat lancar berbicara, seolah-olah ia bukan pelajar pemula lagi. Ia bangga, tersenyum, dan menepuk dada.
Setelah itu, Faika kembali memimpin kelas dan meminta rekan-rekannya membaca beberapa lessons lagi. Sebelum lanjut, ada beberapa peserta mengusulkan keluar main tapi itu tidak ditanggapi karena menurut Faika, beberapa bacaan penting belum selesai. Lembaran buku kembali dibuka.
“Ulangi! Ulangi lagi! Saya belum puas,” kata Faika. Cara membaca rekan kelasnya dianggap tidak sesuai standar, tidak enak pula didengar. Semua pun berusaha sebaik-baiknya dengan harapan usulan untuk istirahat yang dari tadi mereka usulkan segera diberikan. Beberapa perbaikan diberikan dan diucapkan lagi secara bersamaan. Irama suara terdengar kompak dan sesuai standar pengucapan. Istirahat pun diberikan.
Faika, anak 9 tahun, telah memperoleh pengalaman dalam hal cara mengelola kelas dengan baik dan berhasil membangun kepercayaan dirinya lewat micro teaching. Ia kini tahu bahwa menjadi pemimpin itu harus berilmu pengetahuan dan pandai membuat management kelas agar orang yang dipimpin tersebut dapat diarahkan dengan benar guna mencapai tujuan bersama.
Aul yang meskipun mendapatkan banyak lesson yang sulit, ia tidak menyerah. Ia menerapkan cara berpikirnya sendiri, negosiasi. Biarpun segala iming-imingnya tidak mempan, pada akhirnya ia memperoleh lesson yang ia inginkan tanpa harus berjanji menambah jumlah gedung yang ia akan buat atas nama Faika.
Dari cerita di atas, Kampung Belajar di Rumah Belajar Bersama (RBB) tersebut memang berisi pelajaran bahasa Inggris, tapi di situ tergambarkan bahwa banyak hal dicapai memanfaatkan ketertarikan pelajar mempelajari bahasa. Bahasa dijadikan alat untuk membangun mental kepemimpinan, literasi dan kreativitas lainnya.
Apakah pendidikan kita berani dan siap membuka kebebasan berpikir dan berekspresi? Bukankah pendidikan itu membebaskan?
Zulkarnain Patwa
Selasa, 30 Juni 2026
Ketika melihat atau mendidik orang dewasa belajar bahasa Inggris yang tidak tahu alasan penempatan verb…
Andi Kalimbara Aulian AF. alias Aul seorang anak kelas 3 di SDN 193 dari Kec.…
Indonesia adalah serpihan surga yang diturunkan ke bumi (qit'atun min al-jannah), ungkap Syekh Mahmud Syaltut…
Dua orang pelajar SD asal Bulukumba yang meraih emas olimpiade bahasa Inggris membuktikan bahwa anak-anak…
Ketika kelas baru saja mulai, guru ingin mengetahui sejauh mana pelajar berminat mengerti arti bacaan…
Adeeva Syakila Zulfikar adalah satu-satunya pelajar SD di Sulawesi Selatan yang meraih emas pada olimpiade…
Leave a Comment