Kategori: Wisata

Program dan mata pelajaran Wisata dari Rumah Belajar Bersama

  • Jembatan Kehidupan

    Jembatan Kehidupan

    ‘Guten tag’ (Selamat siang). Oh! Itu salah. Guten abend’, (Selamat malam) itu lebih salah lagi. Kalimat yang pertama penulis ucapkan lewat telepon saat Mr. Irfan, manager Cahaya Bone Travel of Kalla Group di Bulukumba, memberikan telponnya kepada untuk berbicara kepada seorang tamu dari Jerman yang hendak ke Makassar. Kontan saja, ucapan disambut tawa oleh gadis muda itu di telepon karena penulis seharusnya mengucapkan, ‘Guten morgen’. Hari memang menjelang siang tapi matahari belum tergelincir, penanda pagi belum berlalu.

    Setelah berbicara dalam beberapa kalimat dalam Bahasa Jerman, penulis tidak tahu mau bilang apa lagi. Akhirnya, dengan baik hati, ia menjelaskan dalam Bahasa Inggris. Yang kami tahu kami akan menjemputnya pada 3.45 sore karena ia terlebih dahulu akan pergi diving (menyelam) di hari terakhir di laut Bira, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan, Indonesia.

    Saat bertemu, faktor ‘Wow!’ pun hadir. Seorang gadis bule dengan tinggi 185 cm–sebuah ukuran yang menakjubkan bagi orang Indonesia–punya keramah-tamahan dalam berbicara dilengkapi dengan kecerdasan komunikasi yang memukau dalam mengungkapkan pendapat. Hal ini mengingatkan penulis pada Johann Wolfgang von Goethe, sastrawan kesohor Jerman era Neoklasisme dan Romantisisme Eropa di akhir abad 18 dan awal abad 19.

    Namun, kita hidup di abad 21. Orang Jerman yang dalam dunia nyata kami temui adalah Verena Schubert, perwujudan kecerdasan manusia abad modern, berpendidikan dan pandai bergaul. Ia mengungkapkan bahwa keindahan dan kekayaan alam Indonesia layaknya surga yang harus dijaga. Apa bedanya dengan Soerkarno, sang proklamator kita? Soekarno juga pernah bilang, “Indonesia adalah sepotong surga”. Statement mereka sama saja.

    A glace for Verena with Indonesian local students practicing English at Rumah Belajar Bersama in Bulukumba District. Picture taken on April 22, 2026.

    Selama minggu berada di Bira, selain setiap hari Verena menyalurkan hobby diving-nya menikmati keindahan terumbu karang bawah laut, ia pun turut aktif kegiatan Dego Dego Na Bira dan Tevana yang berkonsentrasi menanam dan merawat terumbu karang. Pada saat yang sama, ia mengkampanyekan stop buang sampah plastik ke laut dan pembakaran sampah plastik sembarangan di biasa ia temui dalam perjalanannya berkeliling dunia. Tak lupa, Verena pun tidak tutup mata bahwa pencemaran akibat industrialisasi di barat juga terjadi.

    Ajakan kesadaran bersama ini kemudian ditindaklanjuti dengan mengungkapkan, “Kita akan menghancurkan rumah kita sendiri. Kita akan membuat rumah kita sendiri terbakar api. Pilihan kata yang halus tanpa harus menyalahkan orang lain. Kalau bukan diri kita sendiri yang memulai, siapa lagi?

    Ajakan Verana tidak dibatasi oleh timur saja tapi juga barat juga, seluruh ummat manusia. Kepedulian manusia yang tidak dibatasi oleh kutub ini pernah juga disampaikan dalam West-Ostlicher Diwan (Diwan Barat-Timur) oleh Goethe:

    Wer sich selbst und andre kennt,
    Wird auch hier erkennen:
    Orient und Okzident
    Sind nicht mehr zu trennen.

    Sinnig zwischen beiden Welten
    Sich zu wiegen lass’ ich gelten;
    Also Zwischen Ost und Westen
    Sich bewegen, sei’s zum Besten!
    (Zum Diwan, West-Ostlicher Diwan)

    Yang kenal diri juga sang lain
    Di sini pun kan menyadari:
    Timur dan Barat berpilin
    Tak terceraikan lagi.

    Arif berayun penuh manfaat
    Di antara dua dunia;
    Melanglang timur dan barat
    Mencapai hikmah mulia!
    (Mukadimah Diwan Barat-Barat)

    Guten morgen, Guten tag dan Guten abend adalah harapan keselamatan sesama manusia dalam menjalani perputaran kehidupan. Kegagalan memaknai “Gooten” dapat diselamatkan dengan menerjemahkan ke bahasa yang kita pahami. Bumi yang luas ini kita tapaki untuk melihat dan membaca prilaku manusia. Tidakkah kita mau merenungkannya dan menyampaikan kepada sesama hal hal yang baik dari negeri yang pernah kita kunjungi?

    Pertemuan dengan Horst Liebner
    Orang Sulawesi Selatan terkenal sebagai pelaut ulung dan pembuatan perahu kayu yang paling populer di Indonesia. Mayoritas perahu dipesan dari Kecamatan Bonto Bahari, Bulukumba yang tersebar di berbagai desa. Dan saat itu, kami berada di pusat galangan perahu, Tanah Beru.

    Merupakan suatu keberuntungan di mana kami dapat bertemu Dr. Horst Liebner, seorang pakar perahu tradisional Indonesia khususnya Sulawesi Selatan, Verena dan kami dapat bertemu dengan Pak Horst yang sedang duduk bersantai di salah satu galangan kapal miliknya Pak Najib, teman akrab Pak Horst.

    Karena sesama berkebangsaan Jerman, Verena tidak merasa asing dengan Pak Horst. Sebelum berakrab ria, “Tunggu dulu”, sambil berdiri di dekat Verena. “Tinggi kan. Ah! Tingginya orang Jerman seperti ini”, sembari Pak Horst menatap Verena. Pak Horst yang sudah hampir menetap selama 40 tahun di Indonesia sengaja bercanda karena mengerti bahwa tinggi badan hal yang selalu jadi perhatian di Indonesia.

    Selebihnya Horst berbicara dalam Bahasa Jerman dengan Verena sembari memperlihatkan beragam foto perahu tradisional Indonesia dari generasi ke generasi. Penulis hanya menikmati betapa asyiknya mereka berbicara. Paling sedikit, Verana tahu ada orang Jerman yang punya dedikasi dan berpengetahuan luas di negeri yang ia kunjungi. Indonesia memang bukan kampung halamannya namun dengan adanya Pak Horst, ia tidak merasa sendiri.

    Doctor Horst Liebner showing some boat pictures to Verena.in Tana Beru Sub-District.

    Sejurus kemudian, Pak Horst mengalihkan pandangan, “Sudah kamu perlihatkan Perla Anugerah Ilahi?” Itu mengacu perahu tradisional tanpa mesin yang ia buat. “Saya kira perahu itu sedang berlabuh di sini”, jawab penulis. “Tidak. Perahu itu berada di pelabuhan Bira”. Tempat itu telah kami lewati, tidak mungkin untuk kembali. “Di kesempatan lain, perahu itu akan kami tunjukkan ke Verena”, kata penulis. Pak Horst mengerti. Kami kemudian pamit karena Verena mobil yang akan membawanya ke Makassar telah menunggu di Bulukumba.

    Kesan yang muncul adalah Verena disambut baik oleh Pak Horst. Jika dia mau dan ada kesempatan, ia tentu bisa ikut berlayar di Pinisi Perla Anugerah Ilahi, satu-satunya perahu layar Indonesia yang hanya mengandalkan angin. Tanpa deru mesin yang ribut dan asap menghitam, Perla menyatu dengan alam. Yang kita dengarkan adalah suara angin berhembus, desiran ombak dan keheningan di malam hari menatap bulan dan bintang penuh kedamaian. Ya, itu sedikit pengalaman yang penulis temukan saat ikut berlayar bersama Pak Horst dari Bulukumba ke Makasar.

    Dalam bayangan Verena, itu seperti Yoga. Iya, bila dengan Yogya orang menemukan kedamaian. Verena mengerti Yoga sedangkan penulis adalah pelatih karate, tentu berbeda. Pengalaman itu adalah pengetahuan partikulat di mana ukurannya sangat subjektif, kembali kepada orang yang mengalaminya.

    It was the time when we said goodbye to Verena at Cahaya Bone Travel of Kalla Group in Bulukumba District, South Sulawesi Province, Indonesia. Picture taken on April 22, 2026.

    Perjalanan kehidupan adalah langkah langkah. Ada pertemuan, ada perpisahan. Aris Irfan, sang manager Cahaya Bone Travel dan Villa Malomo Bira telah menjamu tamunya, Verena Schubert, dengan sangat baik. Orang orang akan terus berjalan di muka bumi. Kita berharap suatu saat kita semua dapat bertemu kembali dalam keadaan lebih baik. Jembatan kehidupan. Guten! 😀

    Zulkarnain Patwa

    Bulukumba, 23 April, 2026
     

  • Enjoying Togetherness

    The exhaustion of a long night of karate training didn’t have to make me reluctant to get up early. Aris Irfan  invited me to accompany him to pick a guest up at 8:00 a.m. at the  tourism area in Bira heading to Sultan Hasanuddin Airport in Makassar. I’m always excited to meet new people and see a window of the world through conversations with knowledgeable foreigners without having to set foot in a foreign country.The exhaustion of a long night of karate training didn’t have to make me reluctant to get up early. Aris Irfan invited me to accompany him to pick a guest up at 8:00 a.m. at the  tourism area in Bira heading to Sultan Hasanuddin Airport in Makassar. I’m always excited to meet new people and see a window of the world through conversations with knowledgeable foreigners without having to set foot in a foreign country.

    Wow! that was truly interesting. In Bira, we met a cheerful young girl who is on vacation with her father and mother. We briefly chatted with the family, who seemed happy about their vacation. We saw the way they communicated with each other, exuding positive energy, as we witnessed the girl saying goodbye to her parents.

     

    When we were in the car, Tessa told us that she is a student in a five-month exchange from her university in the Netherlands to Gadjah Mada University in Yogyakarta. She is going to return to her university in the Netherlands next month.

    Tessa’s curiosity about the vast world has driven her to travel the world. Because she has visited so many countries, she lost count. Being in Indonesia, where she has time to study and explore the beauty of islands like Bira, the vast and enchanting expanse, has greatly supported her hope and education, as she is majoring in International Relations.

    Indonesian students, especially those with at least English language skills, are also encouraged to follow iTessa’s footsteps. This opportunity is abundant because student exchange relationship is built on good relations between countries and then followed by a collaboration between universities. Therefore, it is important for students to become proficient in foreign languages by enrolling in alternative educational institutions like Rumah Belajar Bersama or other similar institutions to develop themselves before entering university.

    Being in a foreign country, Tessa has a positive impression of the Islamic world. She believes that Indonesians have a strong social awarness. She has learned this from her experience, witnessing how even people living in poverty still think of others by helping others. This is rare in her country which has highly individualistic lives in Europe.

    The world is full of color and diverse daily activities. Karate, however tiring, strengthens the mind and body. Meeting new international people enriches our perspective and ties the bonds of brotherhood, like those of Mr. Irfan and others like him, making life more meaningful.

    Zulkarnain Patwa
    * Independent Writer

  • Bahasa Inggris untuk Kita

    Bahasa Inggris untuk Kita

    Oleh : Taufiqurrahman Muslim

    ‎Era globalisasi sekarang, Bahasa Inggris berperan penting sebagai bahasa internasional. Hampir semua bidang kehidupan, seperti pendidikan, teknologi, dan komunikasi, memakai Bahasa Inggris sebagai sarana utama.

    Bagi saya, alasan belajar Bahasa Inggris tidak hanya demi kepentingan pribadi atau karier, tetapi juga agar bisa memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama masyarakat kampung halaman saya di Desa Tanah Towa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba.

    ‎Saat ini, saya masih belajar Bahasa Inggris di Rumah Belajar Bersama (RBB), sebuah tempat belajar yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang ingin meningkatkan kemampuan bahasa dan pengetahuan.

     

    Di RBB, saya belajar berbagai hal seperti tata bahasa, cara mengucapkan kata, dan kosa-kata. Selain itu, saya juga belajar nilai-nilai penting seperti saling membantu, serta semangat untuk terus belajar dan berkembang. Lingkungan belajar yang positif di RBB membuat saya semakin termotivasi untuk terus memperbaiki kemampuan berbahasa Inggris.

    ‎Belajar bahasa Inggris bukanlah hal yang mudah. Ada banyak rintangan, seperti kesulitan mengerti cara menyusun kalimat dan rasa gugup saat berbicara. Namun, setiap tantangan mengajarkan saya pentingnya sabar dan terus belajar. Saya tahu bahwa belajar bahasa tidak hanya tentang menghafal teori, tetapi juga tentang berani mencoba dan tidak takut salah. Dari proses itu, saya belajar bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan dengan tekun pasti akan mendatangkan hasil.

     

    ‎Bahasa Inggris memberi banyak peluang baru. Jika seseorang bisa menguasainya, dia bisa mengetahui informasi dari berbagai belahan dunia, memahami perkembangan ilmu pengetahuan, dan memperluas pengetahuan. Bagi saya, manfaat terbesar dari kemampuan ini adalah kesempatan untuk memberi tahu orang-orang di kampung halaman tentang ilmu yang saya ketahui. Saya ingin suatu hari nanti bisa mengajar anak-anak di Desa Tanah Towa, agar mereka juga bisa belajar Bahasa Inggris seperti yang saya alami di RBB.

    ‎Desa Tanah Towa terkenal sebagai desa yang memiliki budaya dan keunikan wisata. Di sini tinggal masyarakat adat Kajang yang menghargai nilai kesederhanaan serta kearifan lokal mereka. Budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat membuat desa ini menarik perhatian banyak wisatawan, termasuk dari luar negeri. Karena banyak wisatawan asing yang berkunjung, kemampuan berbahasa Inggris menjadi sangat penting, terutama untuk berkomunikasi dengan orang asing. Banyak wisatawan membutuhkan bantuan penerjemah, dan hal ini memberi kesempatan bagi warga lokal untuk lebih aktif dalam memperkenalkan budaya Kajang kepada dunia.

    ‎Dengan berbahasa Inggris, masyarakat Desa Tanah Towa bisa bantu wisatawan paham adat istiadat, mempromosikan produk kerajinan lokal, serta memperkuat citra desa sebagai tempat wisata budaya. Di sini saya sadari bahwa belajar Bahasa Inggris punya arti sosial yang besar, tidak hanya untuk perkembangan pribadi, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan melestarikan budaya setempat.

    ‎Akhirnya, saya menyadari bahwa menguasai Bahasa Inggris bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari sebuah perjuangan. Ilmu yang saya pelajari di Rumah Belajar Bersama menjadi bekal berharga untuk berkontribusi bagi desa kelahiran saya. Saya yakin, meskipun ilmu yang dimiliki sangat kecil, nilainya akan besar jika digunakan untuk kebaikan dan kemajuan bersama. Dengan Bahasa Inggris, saya berharap dapat membawa nama Desa Tanah Towa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, ke kancah nasional bahkan internasional.

  • Kamus Pinisi

    Kamus Pinisi

    Pak Rusli adalah orang yang turut punya peranan besar hingga Pinisi dikenal lebih luas dengan keterlibatannya pada pelayaran Pinisi 11.000 mil laut dinakhodai Kapten Gita Ardjakusuma ke Vancouver, Kanada pada 1986. Wajahnya masih terlihat segar bugar, tetap aktif dalam pembuatan layar Pinisi dan sesekali aktif berlayar dengan angin di Pinisi Perla Anugerah Ilahi.

    Kehadiran Prof. Antonia Soriente sebagai seorang dosen senior di Universitas Orientale di Neplas, Italia yang saat ini konsentrasi menulis kamus Bahasa Konjo terkhusus pada segala macam penyebutan istilah di Pinisi menjadi berharga dalam menguak kekayaan pengetahuan Pinisi. Ini adalah bagian dari penyelamatan Bahasa Konjo klasik yang hampir punah karena istilah-istilah tersebut jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh penutur orang Konjo sekali pun. Di samping itu, buku ini menembus batas karena orang orang dari berbagai macam latar belakang dapat mempelajarinya dimana mereka berada.

    Dalam beberapa pelatihan pelayaran Pinisi, orang luar yang ikut pelatihan cenderung kelimpungan mengenal kosa kata tersebut. Betapa tidak, ketika kita berada di tengah laut, Pak Horst Liebner, sang kapten di Pinisi Perla Anugerah Ilahi, tidak pernah memerintahkan pergeseran layar dalam Bahasa Inggris, Jerman atau Indonesia. Semua kembali ke asalnya, bahasa Konjo. Kalau para crew tidak mengerti, pastilah pening kepala untuk bertindak. Ini bukan karena tidak mau bekerja tapi tidak tahu mau berbuat apa.

    Beruntung, ibu Antonia telah beberapa kali mengadakan kunjungan ke Tanah Beru di Kab. Bulukumba Sulawesi Selatan untuk menghimpun data terpenting guna menuntaskan kamus Konjo tersebut dan Pak Rusli adalah salah satu rujukan penting yang ia temui. Pak Rusli pun selalu menyambut dengan hangat karena kehidupannya memang erat kaitannya dengan Pinisi, tidak kehabisan bahan menerangkan tentang tali temali, layar yang merupakan pekerjaannya membuat dan memasang dan dan segala hal istilah Pinisi. Betapapun ia kini lebih sering bertemu dengan Pinisi bermesin, ia tidak lupa tentang Pinisi klasik karena dirinya masih bagian dari crew Pinisi Perla Anugerah Ilahi, satu satunya perahu layar Pinisi tanpa mesin. Wajar bila otaknya masih segar menjelaskan.

    Kita berharap kamus pertama Pinisi tersebut dapat segera selesai dan dinikmati oleh generasi penerus sehingga pewarisan dan kekayaan pengetahuan yang tersembunyi di balik Pinisi itu dapat dikenal dan dicintai oleh generasi penerus kita. Dengan demikian, pelayaran ke Vancouver di Kanada yang pernah dilakukan oleh Pak Rusli dkk dapat ditindaklanjuti oleh anak muda mudi sekarang mengarungi samudra luas, negeri negeri terjauh. Siapa yang tahu tapi semoga!

    Sekian dulu. Nanti dilanjutkan lagi tulisannya karena saat ini saya ada tugas mengajar 😉

    Zulkarnain Patwa
    * Penulis Bebas

  • Be Smart!

    Be Smart!

    What you usually do in your childhood will have great influence to your future life. If a child is used to studying, he or she will smart enough to determine his or her life.

    Zulkarnain Patwa

  • Dua Orang Ahli Perahu

    Dua Orang Ahli Perahu

    Satu adalah Pak Najib yang mempunyai tradisi turun temurun dari nenek moyangnya dari Lemo-Lemo sebagai ahli pembuat perahu kayu Pinisi dan perahu kayu sesuai pesanan pembeli. Dia juga sarjana Matematika di Universitas Hasanuddin, Makassar sehingga cara pembuatan perahunya sedikit banyak dipengaruhi ilmu hitung mendalam selain insting.

    Kedua Horst Liebner. Ia pakar Pinisi yang berhasil menyerap pengetahuan lokal cara pembuatan perahu Pinisi dan perahu kayu lainnya di Indonesia. Keilmuannya bukan saja diakui dalam dunia akademik dengan gelar doktor tapi dia diakui oleh para panrita lopi (ahli pembuat perahu). Horst mengenal baik pembuatan perahu tradisional Indonesia dan tekun menulis tentang maritim. Keberadaannya di Tanah Beru sekarang untuk Pinisi Perla Anugerah Ilahi yang sedang dalam tahapan pembenahan untuk pelayaran selanjutnya.

    Dan ketiga yang di tengah adalah orang yang sekedar numpang foto. 😀

    Senin, 19 Agustus 2024 di Pusat Pembuatan Perahu di Tanah Beru, Bulukumba, Sulawesi Selatan.

    Zulkarnain Patwa
    * Pengajar Rumah Belajar Bersama
    * Pemerhati Pinisi

  • Pemuda, Laut dan Pinisi Perla Anugerah Ilahi

    Pemuda, Laut dan Pinisi Perla Anugerah Ilahi

    Terlahir sebagai anak pelaut dengan dengan keseharian hidup berada di laut, Rumahnya tepat tepi laut di Kec. Herlang, Turungan Beru, Bulukumba,  Sulawesi Selatan.

    Sakkar namanya. Seorang pemuda yang punya minat belajar yang tinggi. Itu penulis temukan saat dia belajar intensif bahasa Inggris dan inisiatifnya membantu anak anak kecil untuk rajin membaca buku. Dia jadi mengerti membagi ilmu itu tidaklah membuat ilmunya berkurang tapi malah bertambah.

    Waktu luang Sakkar banyak diisi dengan membaca buku-buku sumbangan donatur Pustaka Bergerak Indonesia sebuah inisiasi Kak Nirwan Ahmad Arsuka (Almarhum) kepada perpustakaan Rumah Belajar Bersama dan tidak lupa secara jujur penulis katakan bahwa dia bermain games android–sebuah hobby digital kids dan pemuda zaman now.

    Sakkar berada di atas perahu Pinisi Perla Anugerah Ilahi ini berdasarkan pengumuman yang dibuka oleh Doktor Horst Liebner–Pakar Maritim Pinisi Indonesia–akan melakukan pelayaran tanpa mesin sebagai bagian dari upaya pelestarian pengetahuan Pinisi yang telah hampir punah karena telah dikepung oleh modernisasi.

    Pinisi apa sekarang yang tidak pakai mesin? Seandainya Perla Anugerah Ilahi sebagai satu satunya Pinisi yang mengandalkan angin saja untuk berlayar itu pakai bermesin, entah dimana lagi orang harus belajar. Tidak ada. Sebuah kemungkinan yang (hampir) pasti tidak ada.

    Setelah mengurus kapal di pagi hingga siang di Bantilang (baca: pembuatan perahu) Pak Najib, Horst tertarik dengan ketekunan Sakkar dalam bekerja saat berada di Perla Anugerah Ilahi dan pemahamannya yang cukup baik tentang perahu dan laut. Horst yang tentunya ahli mengenal potensi Sakkar menawarkan untuk bergabung. Sakkar memang sangat berminat karena sebenarnya dunianya memang laut ditambah lagi dia sebenarnya pernah bertemu Horst pada Pelatihan Pelestarian Pinisi diadakan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan XIX Sul Sel dan Tenggara pada Maret 2024 di Bira dan telah sedikit banyak tahu latar belakang Horst melalui kabar mulut dan berselancar di internet.

    Tapi entah mengapa, tiba tiba saja, Sakkar bilang ‘Saya pikir-pikir dulu’.

    Sakkar mengalami konflik bathin dihadapkan pada pilihan antara melaut bersama Horts dkk atau tetap belajar Bahasa Inggris di darat.

    Di satu sisi, dia sadar betul bahwa peluang berlayar seperti di atas super langka ditambah lagi, dia sangat percaya bahwa ilmu dan pengalaman melaut yang dimiliki Horst dan beberapa orang seperti Ridwan Alimuddin dan Guswan adalah matang dalam mengelilingi lautan luas. Dia paham betul bahwa banyak ilmu baru yang bisa diperoleh dari nama nama orang orang penting disebut di atas yang reputasinya telah melayarkan perahu Pa’dewakang tanpa mesin ke Australia dan punya segudang pengalaman berlayar.

    Di sisi lain, Sakkar merasa akan banyak ketinggalan pelajaran bila kehidupannya kembali di laut, setidaknya itulah pemikirannya saat ini. Ini karena dia telah cukup mengerti peta pelajaran Inggris dan ingin memahaminya sebelum kembali ‘terjun bebas’ di laut. Dia telah menetapkan  target untuk menjadi orang yang mahir berbahasa asing dalam waktu tertentu dan ditambah lagi dirinya telah berhasil mengembangkan bakat dalam dunia literasi. Beberapa buku yang cukup serius telah dia selesaikan. Terdapat sebuah rencana yang cukup matang tentang rancangan hidup masa depan yang cerah tertancap baik dalam kepalanya.

    Untungnya, rencana pelayaran Perla Anugerah Ilahi ini ada dalam sebulan atau beberapa bulan saja sehingga peluangnya untuk memahami ilmu pelayaran tanpa mesin terbuka lebar.

    Horst memberikan waktu beberapa hari buat Sakkar untuk memilih jalan terbaik.

    Pemahaman penulis, tinggal cerdas cerdas saja memanfaatkan waktu. Horst itu kan orang bisa bahasa Konjo, Indonesia, Inggris, Jerman sebagaimana negeri asalnya dan entah bahasa apa lagi. Semua itu berharga. Kalau cuma urusan bahasa, pastilah banyak istilah istilah baru yang bermunculan selama dalam pelayaran. Saat berlabuh, itu bisa dikaji secara detail dan dijadikan minimal kumpulan jadi buku saku istilah berdasarkan pengalaman pelayaran Pinisi.

    Selamat merenung Sakkar dalam menentukan langkah ke depan. Rumahmu yang di tepi laut itu dimana tempat bermainmu adalah laut menawarkan pandangan luas, terlihat tanpa batas. Bahkan, sebegitu luasnya laut itu seolah bersambung ke langit. Alam tempat kelahiranmu itu cukup membantu berpikir terbuka untuk membuktikan bahwa anak pelaut Turungan Beru, bisa juga. Dan itu memang bisa. Toh, nenek dan kakek moyangmu, pelaut.

    Zulkarnain Patwa
    * Pengajar Bahasa Inggris di Rumah Belajar Bersama
    * Pemerhati Pinisi

  • Petualangan Gadis Spanyol di Sulawesi Selatan. Part 1

    Petualangan Gadis Spanyol di Sulawesi Selatan. Part 1

    Keinginan untuk mengenal dunia luas ini membuat manusia berani untuk melangkah. Natalia, seorang pemudi periang dari Bilbao, Spanyol berkunjung ke Bira. Seorang diri berkeliling tanpa ada rasa takut sedikit pun yang terpancar di wajahnya. Alasannya sederhana. Kebaikan berbalas kebaikan. Tak heran, dia suka tersenyum yang membuatnya mudah diterima kemana pun dia pergi.

    Sebagai seorang pelancong, Natalia suka berjalan kaki sepanjang kawasan wisata Bira. Ia menemukan pantai yang sangat indah, airnya yang sangat jernih dan hangat, sesuatu yang sangat berbeda dengan di pantai utara di Spanyol yang dingin. Pantai Bira itu berpasir putih yang cukup bersih dimana hal itu dia tidak temukan di tempat dimana dia tinggal. Pantai juga menawarkan ketenangan karena tidak ramai tidak seperti di Bali yang penuh keramaian.

    Itulah mengapa Natalia betah dan memilih untuk tinggal selama seminggu. Sebagai konsekuensinya, dia akan lebih banyak menikmati diri bermandikan matahari di pantai dan jalan-jalan melihat pepohonan rindang yang tumbuh liar di atas batu karang dan sesekali beruntung melihat monyet-monyet berekor pendek khas sulawesi selatan dikenal dengan istilah Macaca Maura, keluar dari hutan semak-belukar mencari makanan ke daerah pemukiman tanpa pernah mengganggu manusia. Sedikitnya, itu menjadi nilai tambah yang jarang terpublikasikan ke media sebagai bagian dari objek wisata. Dia tertarik dengan semua itu. ‘Bila tidak, dengan segera dia akan pergi’, katanya.

    Natalia pun juga sempat berkunjung di Kajang dimana kehidupannya masyarakatnya menyatu dengan alam. Dia sangat tertarik melihat cara hidup orang-orang Kajang yang sungguh berbeda dengan membandingkan kehidupan di Eropa yang serba modern dimana hal ini tidak bisa ditemukan di Eropa. Menurutnya, beberapa tempat di Indonesia kehidupannya modern tapi beberapa tempat hidup dengan cara tradisional seperti di Kajang.

    Kesannya. Natalia harus berjalan dengan kaki telanjang tanpa sendal atau sepatu memasuki kawasan adat Kajang di Amma Toa yang membuatnya kesakitan untuk berjalan karena semua orang yang masuk tidak boleh memakai alas kaki guna sebagai bagian mendekatkan diri kepada alam. Hal ini untuk mengingatkan bahwa manusia terlahir dari tanah dan akan kembali ke tanah. Rasa sakit yang jarang dialami Natalia ini membuatnya punya ingatan panjang namun itu seolah terobati saat dia melihat anak-anak berjalan kaki dengan riang gembira dan berjalan dengan cepat, tanpa beban sama sekali. Itu manakjubkan!

    Di kawasan Amma Toa, Orang-orang terlihat bahagia menjalani kehidupannya masing-masing karena tiap orang berhak punya pilihan. Bagi yang ingin hidup tanpa peralatan seperti listrik, mesin, handphone dan segala peralatan modern, bisa tinggal menetap di kawasan. Tapi bila ingin kehidupan modern, silahkan keluar dan saat mereka ingin kembali, segala kehidupan modern itu harus ditinggalkan. Begitulah Amma Toa bersama rakyatnya menjaga kelestarian alam ini.

    Maka tidaklah mengherankan, senyum sumringah biasa kita temukan terpancar dari wajah-wajah orang desa karena selain mereka hidup dengan penuh kesederhanaan tanpa banyak kepentingan materi atau kekuasaan, mereka juga menyakini bahwa hubungan baik sesama manusia itu perlu dijaga agar manusia dapat hidup di alam ini dengan bahagia.

    Natalia sempat mengunjungi rumah Amma Toa, Sang Kepala Adat yang rumahnya yang berlantai dan berdinding dari bambu dan bertemu. Karena orang-orang Kajang berpakaian hitam dan tiap pengunjung juga wajib berpakaian hitam menarik perhatian Natalia untuk bertanya. ‘Mengapa orang-orang berpakaian hitam?’, tanya Natalia.  Amma Toa mengatakan, ‘Ketika manusia lahir, semuanya yang dia lihat hitam.’ Warna adat Kajang ini juga sebagai bentuk persamaan dalam segala hal; kesederhanaan, kekuatan dan persamaan derajat manusia di hadapan Sang Pencipta.

    Sisi lain yang mengagumkan buat Natalia saat bertamu ialah sebuah keluarga dari pulau Kalimantan jauh-jauh berkunjung agar berkenan diobati oleh Amma Toa. Baginya, itu mengagetkan melihatnya secara langsung karena itu sepertinya tidak ditemukan Natalia di negaranya. Sebenarnya, bagi masyarakat Sulawesi Selatan, pengobatan tradisional disertai dengan ramuan dedaunan adalah tradisi yang bertahan lama. Pilihan rakyat ke Amma Toa karena dipercaya bahwa Amma Toa adalah orang yang tidak banyak tergantung pada kehidupan materi dimana doa-doanya membuat pintu langit lebih mudah terbuka untuk diterima oleh Sang Pencipta.

    Yang terakhir dikisahkan oleh Natalia adalah kunjungannya di Sulawesi Selatan adalah Rantepao di Tanah Toraja. Dia turut serta pada acara kematian.  Dia menemukan makna bahwa semakin banyak kerbau yang dikorbankan untuk orang yang meninggal, semakin baik juga kehidupan orang yang telah meninggal tersebut di alam baka. Sisi lain adalah power. Orang yang punya status sosial di masyarakat yang tinggi merasa perlu melakukan pengorbanan yang lebih besar.

    Acara ini melibatkan banyak orang dan layaknya pesta yang panjang. Bersama dengan masyarakat setempat, Natalia juga turut diajak bergabung menikmati makanan dan ditawarkan untuk mencicipi beragam menu yang tersedia. ‘Coba ini, coba itu’, kata orang. Dan itu adalah keramahtamahan penduduk lokal dalam menyambut para tamu.

    Dibalik itu, hal utama yang Natalia pikirkan tentang bagaimana orang orang Toraja memberi penghargaan kepada orang meninggal. Seperti kebanyakan orang-orang di dunia, orang meninggal itu dikubur sedangkan di Toraja tidak dikubur. ‘Kita manusia tidak melupakan tapi tidak melihatnya lagi. Itu sulit membayangkan bagaimana orang yang meninggal dikeluarkan dan dibersihkan sebagaimana orang-orang lakukan di Rantepao’, terangnya. Bila saja kejadian ini terjadi pada keluarga Natalia, ‘Saya tidak pernah membayangkan bagaimana saya membersihkan ibu saya’, tambahnya.

    Begitulah keragaman budaya itu berlaku. Perbedaan itu terus terbentang di sepanjang jalan kehidupan. Mari kita simak yang berikutnya. Toraja juga terkenal dengan bangunan rumahnya yang unik. Awalnya Natalia berasumsi bahwa rumah itu kecil sebagaimana yang dia lihat melalui foto namun pada kenyataannya itu adalah rumah yang besar yang mempunyai seni arsitektur yang khas berbeda.

    Begitulah! Betapa pentingnya manusia terus bertebaran di muka bumi agar dapat menambah pengetahuan dan pengalaman yang terkadang tidak semuanya tertera di dalam buku-buku. Kemampuan beradaptasi sebagaimana yang dilakukan Natalia gadis petualang berusia dua puluh empat tahun yang selalu tersenyum manis layaknya orang Indonesia yang ramah dan dengan pemikiran terbuka patut diikuti. Layaknya pepatah Melayu, ‘Dimana langit dijunjung, disitu bumi dipijak.’ And Natalia did it well.

    Zulkarnain Patwa
    Pengajar Bahasa Inggris di Rumah Belajar Bersama

    * Note: Tulisan ini berdasarkan hasil wawancara podcast di Villa Malomo, Bira, Sulawesi Selatan pada Rabu, 14 Agustus 2024. Video menyusul.

  • Dari Pantai ke Pantai

    Dari Pantai ke Pantai

    Deru ombak sudah seperti alunan musik yang selalu menyenyakkan tidur. Bermain pasir? Ah, jangan ditanya. Membuat rumah, gundukan pasir yang tidak pernah selesai karena tersapu terus oleh ombak. Bahkan masa kecil penulis biasa membuat lubang lalu ditimbun pasir yang menyisakan bagian wajah saja agar hidung masih bisa menghirup oksigen. Kebiasaan ‘dikubur pasir’ ini tak pernah berhenti hingga saat ini karena kami mengajak anak-anak juga melakukan hal yang sama.

    Adakah yang berbeda dengan pantai lain? Pastilah. Setiap pantai memiliki karakter masing-masing. Perbedaan inilah yang merangsang kita untuk selalu memantapkan langkah menuju pesisir yang berlainan. Apalagi kalau pantai yang sangat terkenal.

    Pantai Kuta, Sanur, Melasti dan Uluwatu misalnya sudah punya nama besar sehingga membuat semua orang penasaran ingin menyusuri setiap bagian dari pantai tersebut.
    Rasa-rasanya tidak sah jika tidak menginjakkan kaki saat secara kebetulan kita berada di Bali.

    Pantai yang ada di Bali memiliki keunikan tersendiri. Pasir yang tidak tersentuh air laut berwarna putih kecoklatan sementara yang tersapu air laut berwarna hitam. Hitam sekali dan halus. Demikian juga kemirigannya. Rata-rata miring sehingga jika air laut pasang, ini menyulitkan orang yang tidak bisa berenang mendekat ke pantai. Namun, ombak yang besar menjadi syurga para pencinta olahraga raga surfing. Kecuali Uluwatu, keindahan pantai itu hanya bisa disaksikan dari atas.

     

    Biaya yang dikeluarkan jika berkunjung termasuk murah. Pantai Sanur hanya kenakan biaya parkir Rp. 5000 per mobil. Pantai Melasti Rp. 7.000 per orang termasuk parkir mobil. Pantai Kuta malah gratis. Sedang Uluwatu dikenakan parkir Rp. 2000 per mobil ukuran sedang dan bus besar Rp. 5.000. Retribusi masuk Rp. 30.000 per orang dan disediakan kain khas Bali warna ungu dan selendang kuning yang diikatkan di bagian perut.

    Itulah Bali. Permainan ‘dikubur pasir’ memang tidak berubah dari waktu ke waktu tapi setiap berkunjung di waktu yang berbeda selalu ada pengembangan baru yang dibangun untuk memuaskan para wisatawan.

    Fatmawati Patwa
    Pemerhati Pantai


  • Nilai Maksimal pada Kelas Belajar

    Nilai Maksimal pada Kelas Belajar

    Pada bagian dekat kamera, banyak pelajar ini telah belajar bertahun-tahun di Rumah Belajar Bersama. Tidak ada masalah yang dihadapi sekolah karena nilai sekolahnya biasanya dapat nilai yang maksimal. Begitu lah pengakuan pelajar SMP dan SMA.

    Bagaimana dengan anak anak SD? Untuk Bahasa Inggris, mereka belum punya cerita karena sekolahnya belum belajar bahasa Inggris. Jadinya, mereka hanya jadi pendengar yang baik bila pelajar SMP itu saling membahas pelajaran sekolah. Untuk urusan Matematika, mereka baru ngobrol sama serunya tentang pelajaran dan nilai maksimal yang berhasil diraih.

    Untuk Baca Tulis, banyak anak anak TK bergabung dan dapat lancar membaca dalam dua sampai tiga bulan.

    Urusan mengaji juga demikian. Anak anak tidak mengalami kesulitan berarti dalam melafalkan ayat ayat. Malahan, kita telah mulai merancang untuk memberikan tambahan dasar dasar Bahasa Arab bagi yang sudah lancar mengaji.

    Apa yang membuat mereka terus belajar? Mereka tertantang untuk menuntaskan tahapan buku buku yang kita targetkan lolos pada tingkat advance sehingga perjalanan hidupnya lebih mudah saat berada di jenjang akademik yang lebih tinggi semisal universitas atau menggunakan ilmu untuk kuliah di luar negeri nantinya baik dalam bentuk beasiswa atau pun bukan. Untuk kepentingan lainnya pun dapat berguna. 

    Zulkarnain Patwa
    Pengajar Rumah Belajar Bersama