Apple terkenal dengan kecanggihan teknologi smartphone. Steve Jobs, think tank sekaligus pendiri Apple, berdalih bahwa ia sengaja tidak memberikan smartphone kepada anaknya dengan alasan agar tidak merampas masa kecilnya. Ia tidak menjelaskan betapa besarnya bahaya yang ditimbulkan dari efek dampak psikologis kepada otak anak.
Coba kita perhatikan sebagian besar anak-anak yang memakai smartphone. Isinya games. Ternyata, masalah ini juga terjadi pada orang dewasa. Bila kita ke warkop ((warung kopi) tak jarang sekolompok manusia kita temui sibuk games dan bahkan hingga judi online dikemas dalam bentuk games. Waktu habis duduk di depan layar.
Perubahan sosial apa yang kita harapkan dari generasi yang seperti itu? Sebagian orang berpikir, peduli amat. Itu urusan pribadi mereka. Sebagian lagi prihatin menyaksikan fenomena sosial yang mengubah cara hidup manusia zaman sekarang ini. Keprihatinannya itu mendorong untuk berbuat sesuatu.
Dunia bermain anak harus kita dekatkan dengan permainan rakyat, memperbanyak interaksi sosial yang secara otomatis mengurangi jadwalnya dengan smartphone. Peran utama untuk mengelola pengaturan jadwal tersebut berada dalam tanggungjawab orang tua. Tapi tak jarang kita menemui alasan dimana orang tua merasa sibuk sehingga tidak punya cukup waktu untuk mengontrol anak-anaknya sehingga jalan singkat dengan memberikan smartphone sebagai solusi agar anak-anaknya tidak ngambek. Dan ya, anak-anak tidak bikin repot lagi bila keinginannya terhadap smartphone terpenuhi.
Oh, justru dari situlah masalah besar dimulai. Anak-anak akan kecanduan games, menghabiskan waktu tanpa guna dan tidak perhatian lagi untuk mengisi bekal ilmu pengetahuan berharga yang mempengaruhi masa depannya. Kalaupun ada, keinginan belajar dan memorinya sangat pendek. Kenapa? Anak yang kecanduan tidak memikirkan lagi selain games. Belajar adalah musuh karena merebut waktunya untuk bersenang-senang. Titik.
Rantai masalah ini harus diputus, tidak peduli apapun resikonya. Bila tidak berani bersikap dari sekarang, masalah yang jauh lebih besar pasti datang. Kita melahirkan generasi konsumtif, minus kreativitas. Kita juga menyia-nyiakan dan bahkan membuang potensi satu generasi penerus ummat manusia yang seharusnya dapat ditangani sejak masa usia dini.
Era digitalisasi ini yang mempunyai daya rusak yang dahsyat kepada anak-anak dapat dibendung melalui pendidikan dalam keluarga–anak anak paling dekat dengan keluarganya sendiri. Kalaupun tidak bisa menghindari smartphone, orang tua mesti punya sikap tegas terhadap jadwal penggunaan smartphone secara terbatas.
Cara bijak berikutnya adalah menyibukkan anak-anak dengan mengikuti kegiatan yang sesuai minat dan bakatnya: mengaktifkan pada kegiatan olahraga, bermain dengan pernainan anak-anak untuk menumbuhkan keceriaan bersama, dan atau membawanya pada lingkungan belajar yang cocok untuk menumbuhkan kreativitas berpikir.
Apakah perlu mengikuti langkah Steve Jobs yang tidak memberikan smartphone kepada anaknya? Keputusan berada pada kendali orang tua dalam mengarahkan jalan kehidupan masa depan anak-anaknya. Life is a choice, hidup adalah pilihan.
Zulkarnain Patwa
Kamis, 28 Mei 2026
Peraih emas Olimpiade Bahasa Inggris di NSMAO (National Science and Mathematics Olympiad) Februari 2026 ini…
Sehari sebelum hari raya Idul Adha (26/05/2026), banyak pelajar memilih libur di kegiatan belajar informalnya…
Memasuki bulan kedua belajar Bahasa Inggris secara intensif, Lulu telah mengerjakan banyak latihan Reading dan…
Pernahkah kita membayangkan ada anak kelas 4 SD dapat dengan mudah mengerti seluruh struktur perubahan…
Seorang anak pendiam mengikuti kelas Bahasa Inggris. Bisa? Bisalah. Hal yang pertama kami ingatkan adalah…
Orang yang datang tepat waktu itu menggembirakan. A. Zafira Aeesyaputri punya cara cerdas untuk tidak…
Leave a Comment