Bangkitkan Energi Positif

Seorang anak pendiam mengikuti kelas Bahasa Inggris. Bisa? Bisalah. Hal yang pertama kami ingatkan adalah banyak membaca. Ia mengangguk sebagai tanda menerima. Ketikan membaca suara kecil, mungkin masih pemalu dan takut ketahuan salah. Berkali-kali bacaannya diminta diulang hingga ia cukup percaya diri. Volume suaranya mulai beranjak naik.

Penulis sengaja mengajak Sopan untuk duduk berdua saja, tiada pelajar lain di dekatnya. Ia perlu kenyamanan tanpa ada gangguan dari rekan yang bisa meledek bila ia salah. Sekitar lima belas menit ia membaca dengan suara nyaring. Lalu, suaranya mulaii melemah. Dia pasti capek. “Sopan, bisa terus melanjutkan bacaan tanpa suara saja?” Jawabannya “ya” dengan anggukan kepala. “Okay. Kita sama-sama membaca sampai puasa”, kata penulis.

Lima belas menit berlalu. Terlihat wajah Sopan lelah.
“Mau istirahat?” tanya guru.
Kali ini ia berbicara, “Iya”. Ia menutup bukunya dan tetap duduk di tempatnya.

Penulis terus membaca sembari sesekali menatapnya. Saat wajahnya sudah mulai terlihat segar kembail,
“Sopan, intinya rajin membaca saja. Kamu pasti bisa”, kata penulis menyemangati.
“Cara kamu membaca lebih bagus sekarang dari yang sebelumnya kan?’ pertanyaan ini membuatnya tersenyum.
“Iya”, jawanya lagi.

Di sini, Sopan sudah berubah. Ia sudah mulai akrab dan suka membaca karena kepercayaan dirinya terbangun dengan membaca. Ia tahu bahwa ia sanggup membaca dengan benar dan perulangan dilakukan untuk kemahirannya sendiri. Dan yang berkesan, ia tidak protes. Dan haknya untuk istirahat pun terpenuhi.

Di waktu bersantai, Sopan juga berkesempatan untuk memperhatikan keadaan di lingkungan belajarnya di mana para pelajar sibuk menuntut ilmu. Energi positif sedikit banyak terserap dalam dirinya. Terlebih, ia tidak diperkenankan membawa handphone karena ibunya memberitahu bahwa ia banyak main games android. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain selain melihat keadaan sekelilingnya.

Kita semua berproses untuk berubah yang penekanannya terletak pada ilmu pengetahuan lewat literasi. Orang yang aktif berbicara akan punya lebih banyak bahan berbobot untuk dibicarakan, tidak asal bunyi . Siapa tahu, orang yang pendiam seperti Sopan dan anak-anak yang senasib dengannya suatu saat akan jadi pembicara yang hebat?

Overall, keep working hard.

Zulkarnain Patwa
Senin, 25 Mei 2026

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Spirit “Kampung Inggris” di Jalan Sunyi Bulukumba

Akhir-akhir ini, kita sering mendengar istilah Kampung Inggris untuk menarik perhatian publik. Berbagai lembaga pendidikan…

4 jam ago

Peluang Emas Pelajar RBB Tanete Menuju Prestasi Nasional

Dalam sebuah diskusi, Fathy Cayadi menginginkan para pelajar Rumah Belajar Bersama (RBB) di Tanete berprestasi…

1 hari ago

Sentuhan Magis Miss Fathy Menghadapi Kebuntuan Berbahasa Inggris

Miss Fathy Cayadi yang mendidik pelajar Rumah Belajar Bersama (RBB) di Tanete mengombinasikan pembelajaran bahasa…

1 hari ago

RBB Meruntuhkan Kemustahilan Tenses Sejak SD

Sebuah kelas yang terdiri dari pelajar kelas 3 sampai 6 SD sedang didesain menguasai struktur…

2 hari ago

Perjalanan Alika Menembus Kotak Kosong Tenses

Mumtazah Al Hakim anak yang telah lama belajar Reading (bacaan) di Rumah Belajar Bersama (RBB)…

3 hari ago

Sampah Plastik Merusak Keindahan Pantai Bulukumba

Kebersihan pantai adalah masalah utama yang dihadapi Bulukumba yang kaya dengan beragam keindahan pantai. Persoalan…

4 hari ago