Jadwal Padat, Bukan Hambatan Belajar

Belva dan Gavino dua orang bersaudara yang selalu menyapa dalam Bahasa Inggris baik saat baru datang ke kelas ataupun mau pulang. Ini mereka lakukan sejak pertama kali bergabung di RBB (Rumah Belajar Bersama) dan terus bertahan sampai sekarang.

Hebatnya lagi, mereka selalu bertanya hal hal yang baru yang mereka dapatkan di luar kelas. Misalnya, secara tiba-tiba mereka bertanya, ‘What is the English of cicak?’ Kata ‘cicak’ tidak didapatkan dari kelas tapi dari rumahnya. Beragam kosa-kata baru digunakan untuk mengetes rekan kelasnya dan bahkan ke gurunya.

Ini menandakan bahwa dua orang bersaudara ini belajar di rumahnya. Orang tuanya nampaknya memberikan fasilitas tambahan seperti buku-buku dan mengajarkan hal-hal yang sederhana yang mampu dicerna oleh otak anak-anak.

Keunggulan lain yang Belva dan Gavino peroleh ialah meskipun keduanya tidak full masuk kelas yaitu lima kali belajar dalam seminggu karena ikut kelas Matematika di mana sebagian jamnya bertabrakan dengan kelas Inggris, mereka tidak ketinggalan materi, bersedia membaca lebih banyak yang membuatnya lekas tamat buku basic Reading (Bacaan Dasar). Cara membacanya pun cukup bagus dan jelas dimengerti. Hal yang wajar ketika gurunya memperkenannya masuk pada buku reading tahap kedua.

Kendala
Belva dan Gavino mengikuti kelas mengaji di siang hingga sore hari, jam yang tidak bisa diganggu gugat mengingat orang tua berpikir bahwa mengaji itu wajib. Di sini lain, orang tuanya juga sadar bahwa Bahasa Inggris dan Matematika juga sangat penting agar anak-anaknya nyambung pelajaran sekolah dan
bekal untuk punya daya saing dalam menempuh cita-citanya.

Matematika dan Bahasa Inggris pada akhirnya dipelajari di malam hari. Penulis seringkali mengajaknya untuk mengikuti kelas Bahasa Inggris setelah kelas Matematikanya selesai. Belva dan Gavino lebih sering menolak daripada menerima dengan alasan capek. Maklum, anak-anak juga punya keinginan untuk bermain dan haknya itu harus diberikan. Tapi tak jarang juga, saat bermain, mereka tiba-tiba bergabung di kelas Inggris karena melihat pelajarannya seru, seperti bermain.

Pada pembelajaran ala bermain itu, pengetahuan yang diperoleh sedikit. Bukan masalah, minimal menambah kosa-kata. Pada akhirnya, pemikiran sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit adalah pilihan terbaik.

Khusus untuk jam pelajaran Bahasa Inggris, tidak ada kendala yang berarti. Ketekunannya dalam membaca disertai menjawab soal-soal cerita bisa diandalkan. Dengan demikian, mereka punya peluang besar untuk tamat pada buku kedua.

Seiring dengan perjalanan waktu, kemampuan Belva dan Gavino menyapa di RBB dan di lingkungan orang berbahasa Inggris pasti akan berkembang. Mereka pasti akan bisa bercerita banyak hal, bukan lagi ‘what is the English of …?’ tapi pada hal yang berhubungan dengan pengembangan wawasan. Itulah harapan kita semua.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba,. Rabu 20 Mei 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *