The inauguration of Nur Azizah Patwa as a member of the Indonesian Navy was attended directly by her eldest sister, Nur Aliyah Patwa, and her father, Sulthan Rasyid Patwa, in Surabaya on Wednesday, March 13, 2026. Photo Source: Sulthan Rasyid Patwa.
Daya tarik dan daya tolak. Kelembutan meciptakan daya tarik. Kekerasan menciptakan daya tolak. Seorang ibu dengan kodrat yang dimilikinya memiilki perasaan yang lebih peka dibandingkan seorang ayah, cenderung lebih rasional dalam mengambil sebuah keputusan. Pandangan ini berlaku di masyarakat termasuk dalam pendidikan keluarga. Apakah itu benar? Mari kita telaah lebih jauh.
Dua orang kemenakan penulis Aliyah dan Azizah sejak masa kecil sangat berbicara bebas dengan ayahnya, Daeng Uttang. Mereka memang dilatih untuk bebas mengutarakan perasaan, pendapat dan kemerdekaan berpikir. Sementara sang ibu, Daeng Ida sebenarnya sama saja; anak anaknya diajak berdialog terhadap apa yang mereka inginkan. Dibalik itu, ia tegak lurus dalam mengajarkan ketegasan dan kedisiplinan. Apakah itu keras? Bukan! Itu tegas. Untuk kedisiplinan, itu memang butuh ketegasan. Ini adalah bekal utama pembelajaran penguatan mental sejak usia dini, bekal mengarungi kehidupan jalannya penuh liku.
Seiring waktu berjalan, kedua anak ini tumbuh. Aliyah di area kompleks tempat tinggalnya di Makassar jadi juara mengaji. Suaranya yang merdu itu membuatnya pandai bernyanyi. “Kalau Aliyah menyanyi duluan, tidak bagusmi suaranya orang lain yang menyanyi”, kata Daeng Fatwa. “Dia harus terakhir yang menyanyi kalau ada arisan keluarga”, lanjut saudari Deng Uttang itu.
Bakat Aliyah tidak berhenti sampai di sut saja. Beberapa lomba atau kejuaraan yang sempat teringat:
Berkat bakat dan usahanya yang sejalan, itulah membuat kehidupannya terbuka lebar untuk berkarir di bank setelah ia sarjana di UNM (Universitas Negeri Makassar).
“Kok, Aliyah meraih juara itu mudah ya baginya?”, Tanya Daeng Fatma. Tidak ada yang merespon. “Mungkin karena ibu dan bapaknya baik sama orang sehingga kebaikan itu mengalir pada anaknya”, katanya berdasarkan pengamatan pribadinya. “Iya juga. Kan, anak anak itu punya rezekinya sendiri yang telah dijamin oleh Tuhan”, kata penulis. “Daeng Fatma alumni pesantren pasti lebih tahu ayatnya, sumber utamanya dalam Al Qur’an. Saya cuma mengerti tafsirnya dalam Bahasa Indonesia tentang dampak positif bagi orang-orang bersyukur dan pukulan balik bagi orang-orang yang berpaling”. Penulis kemudian menambahkan, “Kenapa saya belum jadi orang hebat? Saya ini belum termasuk bersyukur karena masih banyak waktuku yang kusia-siakan.” Makanya “Rajin bangun pagi”, saran Daeng Fatma. “Saya rajin bangun subuh”, kata penulis berapologi, mencari alasan pembenaran.
Sementara itu, Azizah lebih banyak diam. Ia mengenal satu kekuatan dahsyat; disiplin tingkat tinggi. “Dengan disiplin, ia sudah sukses sebelum kesuksesan itu melekat pada dirinya”, pikir penulis. Suatu waktu, ada sebuah rencana kegiatan berkumpul bersama keluarga ibunya. Ia mau ikut tapi karena itu bertepatan dengan jadwal latihan regularnya. Tanpe berpikir panjang, ia dengan wajah meyakinkan memutuskan bahwa ia memilih latihan lari. “Daeng, anak ini pasti akan hebat”, kata penulis ke Daeng Uttang dan Daeng Ida. Mereka tersenyum senang, membiarkan Azizah dengan keputusannya.
Cita-cita Azizah terkabulkan jadi tentara. Lulus di TNI AL (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut) adalah penghargaan Pemerintah RI kepada Azizah atas pretasinya di olahraga dayung di Asean Games. Sebelumnya, ia terlebih dahulu merebut dua emas pada Porprov Sul-Sel (Pekan Olahraga Provinsi Sulawesi Selatan).
Menjadi tentara, atlet nasional dan mahasiswa UNM (Universitas Negeri Makassar) dalam satu waktu adalah kepercayaan dan tanggungjawab yang ada di pundak Azizah sekarang. Ini tidak mudah karena sang ibu tercinta yang banyak mengajarkannya tentang ketegasan dan kedisiplinan telah dipanggil kembali ke pangkuan Ilahi.
Azizah tidak sendiri. Kakaknya Aliyah dan Ayahnya Daeng Uttang menghadiri pelantikannya sebagai anggota TNI AL di Surabaya pada Selasa, 13 Mei 2026. Ini adalah moment bahagia namun dibalik itu, ada rasa haru yang tidak terkira karena sang ibu yang dengan segala jerih payahnya mendidik dan membesarkan anak-anaknya hingga bisa sampai ke tangga sukses sekarang ini tidak bersamanya. Tentu saja, ketiga orang keluarga kecil ini saling menguatkan adalah jalan terbaik yang ditempuh.
Apakah Daeng Uttang dan Daeng Ida dalam mendidik anak anaknya mengkombinaksikan daya tarik dan daya tolak? “Tetta dan Ummi dulu sering menghukum saya karena sering menghukum Fatma atau karena nakal” kata Daeng Uttang. “Namun itu beda rasanya kalau dihukum oleh paman atau tante. Kalau orang tua yang menghukum, saya memang menangis tapi cepat lupa. Bila paman atau tante, lama diingat.” Iya juga. Mungkin saja daya tolak yang disebut hukuman dalam bentuk kekerasan bagian dari daya tarik untuk mendisipkan diri sendiri. Ada yang tahu lebih jauh tentang daya tarik dan daya tolak? Sekian.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Kamis, 14 April 2026
Attraction and Resistance. Gentleness creates attraction. Harshness creates resistance. A mother, by her natural disposition,…
Students who possess greater intelligence than their classmates should be given trust and responsibility. Teachers…
Pelajar yang mempunyai kecerdasan lebih di atas rekan-rekan kelasnya sebaiknya diberi kepercayaan. Guru dapat menunjuknya…
Tidak semua perjuangan lahir dari keadaan yang mudah. Ada yang tumbuh dari kehilangan, dari air…
"Eh. Jadi tentara anakku", kata Daeng Uttang sambil menatap foto anaknya berseragam tentara. Saya turut…
The Real Vacation of a Danish Diving Instructor Caoralia Liveaboard became an introduction to the…
Leave a Comment