Karena Perjuangan dan Cinta

“Eh. Jadi tentara anakku”, kata Daeng Uttang sambil menatap foto anaknya berseragam tentara. Saya turut senang tapi merespon dengan biasa saja. “Coba lihat fotonya Deng?” kataku. Ia mengarahkan handphone ke wajahku. Saya girang. “Wah, itu langsung mengingatkanku pada wajahnya yang persis sama sewaktu dia masih anak anak, masa ketika ia bebas bermandikan matahari dengan bermain, tertawa riang ataupun ngambek.

Pendidikan Pratama Bintara (Dikmaba) TNI AL (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut) bukan dunia bermain. Itu sungguhan dan nyawa taruhannya. “Mengapa wajah Azizah bisa kembali seindah anak kecil tanpa dosa?” tanyaku dalam hati. Daeng Uttang tiba tiba bilang, “Dulu Azizah setelah tamat SMA daftar tentara, tidak lulus”, kenangnya. “Sekarang ia dimudahkan.” Cita citanya terwujud dengan terlebih dahulu meraih Juara 2 Lomba Dayung untuk Indonesia pada Asean Games di Thailand, 2025. Pemerintah memberikan “tiket” untuk atlet berprestasi tanpa biaya. Allah SWT menunjukkan jalan kemudahan bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.

“Azizah itu bisa renang?”, tanyaku. “Untungnya di masa anak anak ia kursus renang bersama Aliyah, kakakknya di Mattoanging”, kenang Daeng Uttang. “Pelatihnya bilang anak anak saya berbakat jadi atlet nasional. Sebagai bapak, saya tambah semangat mengantar mereka”, tambahnya sembari tersenyum. “Iya ya. Coba dia nda tahu renang, setengah hidup dia di TNI Angkatan Laut. Dan mana berani dia mau jadi pedayung”, tambahku menguatkan rasa senangnya.

Daeng Uttang kini bersiap-siap mengunjungi anaknya di Surabaya yang dalam waktu dekat karena masa pendidikan Azizah akan selesai. Pertemuannya akan berlangsung sangat singkat karena Azizah akan kembali jadi atlet dayung Pelatnas (Pelatihan Nasional) untuk memperjuangkan dan mengharumkan nama baik Indonesia di kejuaraan yang lebih tinggi.

Ada momen tertentu di mana Daeng Uttang ingin berkumpul bersama kedua anaknya Aliyah dan Azizah di rumah, Makassar. Mengingat kesibukan, itu sulit tapi bukan berarti tidak mungkin. Sang Kakak, Aliyah, sedang pelatihan di Jakarta untuk peningkatan kariernya di Perbankan tidak lama lagi akan selesai dan Azizah yang terdaftar sebagai mahasiswa di UNM (Universitas Negeri Makassar) tentu punya urusan dengan kampus yang sesekali membuatnya bisa pulang kampung. Pada momen kebersamaan berharga itulah, kedua anak membahagiakan ini dapat berziarah ke makam ibunya Nur Wahidah Bakkas Tumengkol bersama sang ayah, Daeng Uttang.

Ketika sang anak mencapai cita-cita, orang tua bahagia. Apakah orang tua menuntut anak anaknya untuk dapat membahagiakan orang tuanya? Sekilas mengutip Murtadha Muthahhari, sama sekali tidak. Kebahagiaan orang tua ketika melihat anak anaknya bahagia. Itu cukup. Itu adalah cinta, anugerah yang tanpa perlu diperjuangkan oleh manusia diberikan oleh Allah SWT yang dikhususkan kepada orang tua tepat ketika anak itu lahir ke bumi, menyanyangi anak tanpa batas.

Zulkarnain Patwa
Makassar, Jum’at 8 Mei 2026

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Teror Pencerdasan Bahasa Inggris

Bahasa Inggris ataupun bahasa asing apapun juga pasti terasa asing dilidah bila tidak dibiasakan. Mengulangi…

11 jam ago

Tragedi 8 x 3 di SMK Menampar Wajah Kurikulum Kita

Kejeniusan Mr. Crack, B. J. Habibie, tentulah turut mengharumkan nama baik Indonesia, disegani di dunia…

1 hari ago

Menghapus Sekat Belajar

Salah eja atau ucap seringkali dialami para pelajar bahasa inggris. Fokus kebanyakan orang adalah kemahiran…

2 hari ago

Di RBB, Pelajar yang Paling Pintar Pun Jadi Biasa Saja

Para pelajar yang menguasai perubahan seluruh kalimat tenses dengan segala bentuk perubahannya bukanlah jaminan bahwa…

3 hari ago

Memoar Kak Madi: Pepaya Matang WME Kembali ke Pemilik-Nya

Ahmadi Hatta adalah mahasiswa jurusan Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 87. Pada tahun 2000-an,…

5 hari ago

Terbaik: Setiap Tempat Adalah Belajar

Suatu pembelajaran akan terasa sangat mudah dipelajari apabila para pelajar tidak asing dengan lingkungan kehidupan…

5 hari ago