Coralia Liveaboard adalah sebuah pengantar untuk mengenali dunia selam DitteSpanggaard, instruktur selam di kapal pesiar mewah dibuat dengan layar Pinisi di Desa Bira, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan pada 2019. Merujuk situs resminya, kata “coral” (Karang) dan akhiran Latin “-ia,” yang mengekspresikan gagasan tentang Bangsa Karang. Ditte bekerja di tempat yang tepat yang sesuai keahliannya. Ia seolah tidak perlu bekerja untuk pergi berlibur tapi berlibur bersama para tamu yang telah mencari duit untuk dapat berlibur di Coralia.
Bersama Coralia, Ditte menikmati destinasi diving dan wisata bahari di Indonesia timur dengan rute Raja Ampat, Taman Nasional Komodo, Kepulauan Banda, Alor dan Teluk Cenderawasih.

“Tahun lalu, saya bekerja di Una-Una di kepulauan Togean, Sulawesi Tengah” terang Ditte. Itu adalah destinasi wisata bawah laut yang menakjubkan. “Jadi, saya ingin kembali lagi ke Indonesia”, lanjut orang Denmark ini. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia Una-Una sangat spesial ditempatkan di urutan pertama dan kemudian diikuti Raja Ampat, Kepulauan Banda, Alor dan juga Timur Leste meskipun itu bukan Indonesia.

Sebagai intruktur selam yang bekerja di atas kapal, apakah Ditte perempuan yang kehidupannya lebih banyak di laut daripada di darat? Sejenak ia merenung. “Saya tidak tahu”, jawabnya. “Hidupnya di atas kapal. Wajarlah bila waktu berliburnya di Cosmos Bungalow di Bira relatif singkat”, pikir penulis. Sejurus kemudian, ia tersenyum manis dan berkata dengan terus terang, “Setiap dua bulan saya di kapal, satu bulan istirahat. Begitulah perputarannya”.

“Saya suka Indonesia, orang-orangnya dan bekerja di Indonesia”, tambah Ditte. Keberadannya di Bira adalah bagian dari perjalanan hidupnya untuk menikmati keindahan alam yang berbeda yang ia pernah lihat sebelumnya. Ia juga mengagumi budaya. Sayangnya, ia tidak sempat mengenal Kajang pada kunjungannya ke Bulukumba. Masyarakat adat Amma Toa di Kajang hidup menyatu dengan alam, dengan berjalan dengan kaki telanjang, berpakaian serba hitam, tanpa listrik atau modernisasi apapun juga tidak diberlakukan oleh Amma Toa (Kepala Adat Kajang) untuk menjaga kelestarian alamnya. Setiap orang yang menebang satu pohon harus menanam dua pohon.

Menurut pemahaman Imam Syamsi Ali, orang asli Kajang yang kini jadi tokoh New York AS, komitmen orang Kajang kini dikenal penjaga hutan tropis terbaik, inspirasi untuk melestarikan alam. Manusia dan alam hidup selaras dan bersinergi, bukan bertentangan.
Apa lagi hal yang membuat orang mau menjelajahi dunia? “Saya bisa berkeliling dunia untuk makanan”, terang Ditte. “Saya suka mencoba berbagai macam makanan”. Untuk makanan Indonesia, makanan favoritnya adalah Gado-Gado. Karena dia sedang berada di Sulawesi-Selatan, penulis menyarankan untuk mecoba Coto Makassar—Sup daging sapi dengan kuah kental berbumbu rempah dan kacang tanah sangrai. Ia mengerti dan sepertinya tertarik untuk mencobanya.
Sedangkan mengenai Denmark, Orang yang mempelajari Denmark tentu tahu, The Little Mermaid, patung paling terkenal di Copenhagen. Ditte tertarik sedikit menjelaskan tentang Half Flat, semacam rumah kecil yang indah di tanah pertanian. “Hal yang spesifik, kami mempunyai menara special yang dikelilingi menara yang tinggi. Karena waktu untuk bertanya lebih jauh tidak ada lagi, menara yang ia maksudkan mungkin saja Rundetårn (The Round Tower) yang merupakan arsitektur abad 17 yang sangat ikonik, view 360° kota Copenhagen dan spiral ramp berputar 7½ kali sampai puncak.

Mobil dari Bulukumba ke Makassar akan berangkat tepat jam 9 pagi. Aris Irfan, Manager Cahaya Bone of Kalla Travel, mempersilahkan Ditte bersiap siap. Untuk kenangan, kami foto bersama dan berjanji akan merekam pembicaraan sederhana yang berkesan baik di hati ini untuk dijadikan tulisan sebagai sebagai kenangan persahabatan yang singkat yang menyenangkan.

Oh iya, Irfan juga terlibat aktif dalam dunia bahari dan punya Malomo Villa di Bira yang bangunannya semi modern yang dekorasinya hasil kombinasi jiwa seninya bersama para ahli pengrajin kayu yang handal.

Ditte berusaha menikmati waktunya yang sangat terbatas berada di darat sebaik-baiknya dengan mengunjugi tempat wisata yang terkenal yang tidak masuk daftar kunjungan Coralia Liveaboard. Ini adalah liburannya yang sesungguhnya sebelum ia kembali bekerja di dunia selam di mana orang lain menganggapnya sebagai liburan.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Rabu 13 Mei 2026

Tinggalkan Balasan