Kategori: Olahraga

  • Parents’ Happiness Through Their Children

    Parents’ Happiness Through Their Children

    Attraction and Resistance. Gentleness creates attraction. Harshness creates resistance. A mother, by her natural disposition, is often believed to possess greater emotional sensitivity than a father and to be more rational when making decisions. This perspective exists within society, including in family education. But is it truly correct? Let us examine it more deeply.

    A very precious moment: attending the inauguration ceremony of Nur Azizah Patwa, accompanied by her father and oldest sister.

    Two of the writer’s nieces, Aliyah and Azizah, had spoken freely with their father, Daeng Uttang, since childhood. They were raised to express their feelings, opinions, and freedom of thought openly. Their mother, Daeng Ida, was actually no different; she also encouraged dialogue about what her children wanted. However, behind that openness, she remained firm in teaching discipline and decisiveness. Was that harshness? No. It was firmness. Discipline indeed requires firmness. This became the main foundation for strengthening mental resilience from an early age—a preparation for navigating life’s winding paths.

    The oldest sister, Nur Aliyah Patwa, warmly greeted her beloved youngest sister during the inauguration ceremony.

    As time passed, both children grew up. In the residential area where they lived in Makassar, Aliyah became a Qur’an recitation champion. Her beautiful voice also made her talented in singing.

    “If Aliyah sings first, no one else’s voice sounds good afterward,” said Daeng Fatwa. “She has to sing last whenever there’s a family gathering,” continued that Daeng Uttang’s sister.

    Aliyah’s talent did not stop there. Among the competitions and achievements the writer remembers are:

    1. First Winner, Tourism Ambassador of Bulukumba
    2. Runner-Up, Miss Indonesia Selection at the South Sulawesi Provincial Level
    3. Runner-Up, Provincial Tourism Ambassador Selection in South Sulawesi
    4. Runner-Up, Open Karate Tournament held in Bone Regency
    5. Winning multiple Taekwondo championships

    Through the harmony between talent and hard work, opportunities in life opened widely for her, eventually leading to a banking career after graduating from Universitas Negeri Makassar.

    “Why does winning seem so easy for Aliyah?” asked Daeng Fatma.

    No one responded immediately.

    “Perhaps because her parents are kind to others, and that kindness flows to their children,” she said based on her own observations.

    “That makes sense too. Children have their own fortune already guaranteed by God,” the writer replied. “Daeng Fatma, as a pesantren graduate, surely knows the verses better—the original sources in the Qur’an. I only understand the Indonesian interpretations about the positive impact on those who are grateful and the consequences for those who turn away.”

    Two siblings with different talents and achievements, yet they continue to bring happiness to one another and support each other wholeheartedly.

    The writer then added, “Why haven’t I become a great person yet? Perhaps because I am still not truly grateful, since I waste so much of my time.”

    “That’s why you should wake up early regularly,” advised Daeng Fatma.

    “I already wake up for dawn prayers,” the writer answered apologetically, trying to justify himself.

    Meanwhile, Azizah was quieter by nature. She understood one extraordinary power: high discipline.

    “With discipline, she had already become successful even before success attached itself to her,” the writer thought.

    One day, there was a plan for a family gathering from her mother’s side. Azizah wanted to attend, but it coincided with her regular training schedule. Without hesitation, and with a confident expression, she chose her running practice instead.

    “Daeng, this child will become great,” the writer said to Daeng Uttang and Daeng Ida.

    They smiled happily, allowing Azizah to stand by her decision.

    Azizah’s dream eventually came true—she became a soldier. Her acceptance into the Indonesian Navy was a recognition from the Government of Indonesia for her achievements in rowing at the ASEAN Games. Before that, she had already won two gold medals at the South Sulawesi Provincial Sports.

    Being a soldier, a national athlete, and a university student at Makassar State University  at the same time is both a trust and a responsibility now resting on Azizah’s shoulders. It is not easy, especially because her beloved mother—who taught her firmness and discipline through countless sacrifices—has returned to the embrace of the Divine.

    Azizah is not alone. Her older sister Aliyah and her father Daeng Uttang attended her inauguration ceremony as a member of the Indonesian Navy in Surabaya on Tuesday, May 13, 2026. It was a joyful moment, yet behind that happiness lay immeasurable sorrow because the mother who had struggled tirelessly to educate and raise her children to the point of success could not be there. Naturally, supporting one another became the best path for this small family.

    Did Daeng Uttang and Daeng Ida combine attraction and resistance in raising their children?

    “Father used to punish me often because I bullied Fatma or behaved badly,” said Daeng Uttang. “But it felt different when punishment came from an uncle or aunt. When parents punished me, I cried but quickly forgot. But if it came from relatives, I remembered it for a long time.”

    That may be true. Perhaps resistance—what we call punishment in the form of harshness—can also become part of attraction when it teaches a person to discipline themselves. Does anyone understand this more deeply?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Thursday, April 14, 2026

     

  • Kebahagiaan Orang Tua pada Prestasi Anak

    Kebahagiaan Orang Tua pada Prestasi Anak

    Daya tarik dan daya tolak. Kelembutan meciptakan daya tarik. Kekerasan menciptakan daya tolak. Seorang ibu dengan kodrat yang dimilikinya memiilki perasaan yang lebih peka dibandingkan seorang ayah, cenderung lebih rasional dalam mengambil sebuah keputusan. Pandangan ini berlaku di masyarakat termasuk dalam pendidikan keluarga. Apakah itu benar? Mari kita telaah lebih jauh.

    Sebuah memontum yang sangat berharga menghadiri pelantikan Nur Azizah Patwa didampingi oleh ayahnya dan kakaknya.

    Dua orang kemenakan penulis Aliyah dan Azizah sejak masa kecil sangat berbicara bebas dengan ayahnya, Daeng Uttang. Mereka memang dilatih untuk bebas mengutarakan perasaan, pendapat dan kemerdekaan berpikir. Sementara sang ibu, Daeng Ida sebenarnya sama saja; anak anaknya diajak berdialog terhadap apa yang mereka inginkan. Dibalik itu, ia tegak lurus dalam mengajarkan ketegasan dan kedisiplinan. Apakah itu keras? Bukan! Itu tegas. Untuk kedisiplinan, itu memang butuh ketegasan. Ini adalah bekal utama pembelajaran penguatan mental sejak usia dini, bekal mengarungi kehidupan jalannya penuh liku.

    Sang Kakak, NUr Aliyah Patwa, menyapa lebih dekat kepada adiknya yang tersayang pada acara pelantikan sang adik.

    Seiring waktu berjalan, kedua anak ini tumbuh. Aliyah di area kompleks tempat tinggalnya di Makassar jadi juara mengaji. Suaranya yang merdu itu membuatnya pandai bernyanyi. “Kalau Aliyah menyanyi duluan, tidak bagusmi suaranya orang lain yang menyanyi”, kata Daeng Fatwa. “Dia harus terakhir yang menyanyi kalau ada arisan keluarga”, lanjut saudari Deng Uttang itu.

    Apakah kalian siap melakukan hal yang lebih baik dari yang terbaik? Sumber Foto: Sulthan Rasyid Patwa.

    Bakat Aliyah tidak berhenti sampai di sut saja. Beberapa lomba atau kejuaraan yang sempat teringat:

    1. Juara 1 Duta Wisata Bulukumba
    2. Runner Up Pemilihan Putri indonesia Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan
    3. Runner Up Pemilihan Duta Wisata Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan
    4. Runner Up Open Tournament Karate dilaksanakan di Kab. Bone
    5. Beberapa kali Juara pada Taekwondo

    Berkat bakat dan usahanya yang sejalan, itulah membuat kehidupannya terbuka lebar untuk berkarir di bank setelah ia sarjana di UNM (Universitas Negeri Makassar).

    “Kok, Aliyah meraih juara itu mudah ya baginya?”, Tanya Daeng Fatma. Tidak ada yang merespon. “Mungkin karena ibu dan bapaknya baik sama orang sehingga kebaikan itu mengalir pada anaknya”,  katanya berdasarkan pengamatan pribadinya. “Iya juga. Kan, anak anak itu punya rezekinya sendiri yang telah dijamin oleh Tuhan”, kata penulis. “Daeng Fatma alumni pesantren pasti lebih tahu ayatnya, sumber utamanya dalam Al Qur’an. Saya cuma mengerti tafsirnya dalam Bahasa Indonesia tentang dampak positif bagi orang-orang bersyukur dan pukulan balik bagi orang-orang yang berpaling”. Penulis kemudian menambahkan, “Kenapa saya belum jadi orang hebat? Saya ini belum termasuk bersyukur karena masih banyak waktuku yang kusia-siakan.” Makanya “Rajin bangun pagi”, saran Daeng Fatma. “Saya rajin bangun subuh”, kata penulis berapologi, mencari alasan pembenaran.

    Nur Azizah Patwa yang jadi tentara.

    Sementara itu, Azizah lebih banyak diam. Ia mengenal satu kekuatan dahsyat; disiplin tingkat tinggi. “Dengan disiplin, ia sudah sukses sebelum kesuksesan itu melekat pada dirinya”, pikir penulis.  Suatu waktu, ada sebuah rencana kegiatan berkumpul bersama keluarga ibunya. Ia mau ikut tapi karena itu bertepatan dengan jadwal latihan regularnya. Tanpe berpikir panjang, ia dengan wajah meyakinkan memutuskan bahwa ia memilih latihan lari. “Daeng, anak ini pasti akan hebat”, kata penulis ke Daeng Uttang dan Daeng Ida. Mereka tersenyum senang, membiarkan Azizah dengan keputusannya.

    always do great things, Azizah.

    Cita-cita Azizah terkabulkan jadi tentara. Lulus di TNI AL (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut) adalah penghargaan Pemerintah RI kepada Azizah atas pretasinya di olahraga dayung di Asean Games. Sebelumnya, ia terlebih dahulu merebut dua emas pada Porprov Sul-Sel (Pekan Olahraga Provinsi Sulawesi Selatan).

    Keep doing great work.

    Menjadi tentara, atlet nasional dan mahasiswa UNM (Universitas Negeri Makassar) dalam satu waktu adalah kepercayaan dan tanggungjawab yang ada di pundak Azizah sekarang. Ini tidak mudah karena sang ibu tercinta yang banyak mengajarkannya tentang ketegasan dan kedisiplinan telah dipanggil kembali ke pangkuan Ilahi.

    Dua orang bersaudara dengan bakat dan prestasi berbeda namun tetap membahagiakan dan saling mendukung.

    Azizah tidak sendiri. Kakaknya Aliyah dan Ayahnya Daeng Uttang menghadiri pelantikannya sebagai anggota TNI AL di Surabaya pada Selasa, 13 Mei 2026. Ini adalah moment bahagia namun dibalik itu, ada rasa haru yang tidak terkira karena sang ibu yang dengan segala jerih payahnya mendidik dan membesarkan anak-anaknya hingga bisa sampai ke tangga sukses sekarang ini tidak bersamanya. Tentu saja, ketiga orang keluarga kecil ini saling menguatkan adalah jalan terbaik yang ditempuh.

    Dicipline is the key to better in life.

    Apakah Daeng Uttang dan Daeng Ida dalam mendidik anak anaknya mengkombinaksikan daya tarik dan daya tolak? “Tetta dan Ummi dulu sering menghukum saya karena sering menghukum Fatma atau karena nakal” kata Daeng Uttang. “Namun itu beda rasanya kalau dihukum oleh paman atau tante. Kalau orang tua yang menghukum, saya memang menangis tapi cepat lupa. Bila paman atau tante, lama diingat.” Iya juga. Mungkin saja daya tolak yang disebut hukuman dalam bentuk kekerasan bagian dari daya tarik untuk mendisipkan diri sendiri. Ada yang tahu lebih jauh tentang daya tarik dan daya tolak? Sekian.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 14 April 2026

     

  • Nur Azizah Patwa, Atlit Peraih Medali Perak Sea Games

    Nur Azizah Patwa, Atlit Peraih Medali Perak Sea Games

    Tidak semua perjuangan lahir dari keadaan yang mudah. Ada yang tumbuh dari kehilangan, dari air mata, dari rindu yang tidak pernah benar-benar selesai. Namun justru dari situlah lahir perempuan-perempuan kuat seperti Nur Azizah Patwa.

    Prestasi Azizah meraih medali perak cabang olahraga dayung pada Asean Games di Thailand pada 2026 membawa jalan indah dalam hidupnya. Pemerintah memberinya kesempatan untuk menjadi bagian dari TNI (Tentara Nasional Indonesia) dan mempersilahkannya memilih angkatan yang diinginkan. Seakan sudah berjodoh dengan laut, Azizah menjatuhkan pilihannya pada TNI Angkatan Laut (AL)

    Perjalanan itu tentu tidak mudah. Mulai dari pendaftaran, latihan, hingga berbagai rangkaian tes dijalani dengan penuh kesungguhan. Lelah, takut, dan tekanan pasti pernah datang silih berganti. Namun Azizah membuktikan bahwa mimpi besar hanya akan datang kepada mereka yang mau bertahan.

    Dan hari ini Rabu 13 Mei 20626, kabar bahagia itu akhirnya tiba. Azizah resmi menjadi bagian dari TNI AL.

    Di balik senyum bangga itu, ada tetesan air mata yang kembali jatuh. Karena di momen sebesar ini, satu sosok yang paling ingin ia peluk, namun tak lagi bisa hadir menyaksikan langsung keberhasilannya. Sosok yang membesarkannya dengan kasih sayang yang selalu menjadi tempat pulang, sekaligus motivator terbaik dalam hidupnya, ibunya, Nur Wahidah Bakkas Tumengkol.

    Tetapi mungkin, dari tempat terbaik di sisi-Nya, Sang Ibu sedang tersenyum bangga melihat putrinya berhasil sampai di titik ini.

    Selamat, Nak, Nur Azizah Patwa.

    Langkahmu hari ini adalah bukti bahwa doa, perjuangan, dan ketulusan tidak pernah sia-sia. Tetap rendah hati, tetap kuat, dan teruslah menjadi kebanggaan banyak orang.

    Fatmawati Patwa
    Bulukumba, Rabu, 13 Mei 2026

  • Karena Perjuangan dan Cinta

    Karena Perjuangan dan Cinta

    “Eh. Jadi tentara anakku”, kata Daeng Uttang sambil menatap foto anaknya berseragam tentara. Saya turut senang tapi merespon dengan biasa saja. “Coba lihat fotonya Deng?” kataku. Ia mengarahkan handphone ke wajahku. Saya girang. “Wah, itu langsung mengingatkanku pada wajahnya yang persis sama sewaktu dia masih anak anak, masa ketika ia bebas bermandikan matahari dengan bermain, tertawa riang ataupun ngambek.

    Pendidikan Pratama Bintara (Dikmaba) TNI AL (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut) bukan dunia bermain. Itu sungguhan dan nyawa taruhannya. “Mengapa wajah Azizah bisa kembali seindah anak kecil tanpa dosa?” tanyaku dalam hati. Daeng Uttang tiba tiba bilang, “Dulu Azizah setelah tamat SMA daftar tentara, tidak lulus”, kenangnya. “Sekarang ia dimudahkan.” Cita citanya terwujud dengan terlebih dahulu meraih Juara 2 Lomba Dayung untuk Indonesia pada Asean Games di Thailand, 2025. Pemerintah memberikan “tiket” untuk atlet berprestasi tanpa biaya. Allah SWT menunjukkan jalan kemudahan bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.

    “Azizah itu bisa renang?”, tanyaku. “Untungnya di masa anak anak ia kursus renang bersama Aliyah, kakakknya di Mattoanging”, kenang Daeng Uttang. “Pelatihnya bilang anak anak saya berbakat jadi atlet nasional. Sebagai bapak, saya tambah semangat mengantar mereka”, tambahnya sembari tersenyum. “Iya ya. Coba dia nda tahu renang, setengah hidup dia di TNI Angkatan Laut. Dan mana berani dia mau jadi pedayung”, tambahku menguatkan rasa senangnya.

    Daeng Uttang kini bersiap-siap mengunjungi anaknya di Surabaya yang dalam waktu dekat karena masa pendidikan Azizah akan selesai. Pertemuannya akan berlangsung sangat singkat karena Azizah akan kembali jadi atlet dayung Pelatnas (Pelatihan Nasional) untuk memperjuangkan dan mengharumkan nama baik Indonesia di kejuaraan yang lebih tinggi.

    Ada momen tertentu di mana Daeng Uttang ingin berkumpul bersama kedua anaknya Aliyah dan Azizah di rumah, Makassar. Mengingat kesibukan, itu sulit tapi bukan berarti tidak mungkin. Sang Kakak, Aliyah, sedang pelatihan di Jakarta untuk peningkatan kariernya di Perbankan tidak lama lagi akan selesai dan Azizah yang terdaftar sebagai mahasiswa di UNM (Universitas Negeri Makassar) tentu punya urusan dengan kampus yang sesekali membuatnya bisa pulang kampung. Pada momen kebersamaan berharga itulah, kedua anak membahagiakan ini dapat berziarah ke makam ibunya Nur Wahidah Bakkas Tumengkol bersama sang ayah, Daeng Uttang.

    Ketika sang anak mencapai cita-cita, orang tua bahagia. Apakah orang tua menuntut anak anaknya untuk dapat membahagiakan orang tuanya? Sekilas mengutip Murtadha Muthahhari, sama sekali tidak. Kebahagiaan orang tua ketika melihat anak anaknya bahagia. Itu cukup. Itu adalah cinta, anugerah yang tanpa perlu diperjuangkan oleh manusia diberikan oleh Allah SWT yang dikhususkan kepada orang tua tepat ketika anak itu lahir ke bumi, menyanyangi anak tanpa batas.

    Zulkarnain Patwa
    Makassar, Jum’at 8 Mei 2026

  • Ditte and the Sea

    Ditte and the Sea

    The Real Vacation of a Danish Diving Instructor
    Caoralia Liveaboard became an introduction to the diving world of Ditte Spanggaard, a Danish diving instructor working aboard the luxurious Pinisi sailing boat built in Bira, Bulukumba Regency, South Sulawesi Province in 2019. According to its official description, the name “Carolia” is inspired by the word “coral” and the Latin suffix “-ia,” expressing the idea of a “Nation of Corals.” Ditte seems to work in a place perfectly suited to her expertise. She appears not to work in order to go on vacation, but rather to vacation together with guests who have worked hard to afford a journey aboard Coralia.

    Together with Coralia, Ditte has been exploring diving destinations and marine tourism routes across eastern Indonesia, including Raja Ampat, Komodo National Park, Banda Islands, Alor, and Cenderawasih Bay.

    If you are accustomed to diving, you will know how to be as relaxed as in this photograph.
    Photo source: Ditte.

    “Last year, I worked in Una-Una in the Togean Islands of Central Sulawesi,” Ditte explained. It was an extraordinary underwater destination. “So, I want to come back to Indonesia,” the Danish woman continued.

    Based on her personal experience, Una-Una occupies the top place among her favorite diving destinations, followed by Raja Ampat, the Banda Islands, Alor, and even Timor-Leste, although it is not part of Indonesia.

    For divers, marine creatures are part of the beauty that delights the eyes. As you can see, the jellyfish drift freely through the water.
    Photo source: Ditte.

    As a diving instructor working aboard a ship, does Ditte spend more of her life at sea than on land?
    For a moment, she paused in thought. “I don’t know,” she answered.
    “Her life is on the boat. It is understandable that her vacation time at Cosmos Bungalow in Bira is relatively short,” the writer thought. A moment later, she smiled warmly and said honestly, “Every two months on the boat, one month off. That’s the cycle.”

    Notice her hands. Underwater, it is impossible to communicate by speaking, so divers use sign language through hand gestures to communicate. Photo source: Ditte.

    “I like Indonesia, the people, and working in Indonesia,” Ditte added.
    Her presence in Bira was part of her life journey to experience natural beauty different from anything she had seen before. She also admired local culture. Unfortunately, she did not have the opportunity to visit Kajang during her stay in Bulukumba.
    The indigenous Ammatoa Kajang Indigenous Community live in harmony with nature: walking barefoot, wearing black clothing, and protecting their customary forest without electricity or excessive modernization. In their tradition, anyone who cuts down one tree must plant two trees in return.

    The underwater world also has its own forests in the form of colorful coral reefs.
    Photo source: Ditte.

    According to Imam Shamsi Ali, a prominent figure from Kajang now known in New York City, the Kajang people’s commitment to environmental conservation has drawn international attention. They are recognized as guardians of tropical forests and as an inspiration showing how humanity and nature can live in harmony rather than in conflict.

    What else makes people want to explore the world?
    “I could travel the world for food,” Ditte said. “I love trying different kinds of food.”
    Among Indonesian dishes, her favorite is Gado-Gado. Since she was visiting South Sulawesi, the writer suggested she try Coto Makassar—a traditional beef soup with thick spiced broth and roasted peanuts from Makassar. Ditte seemed interested in trying it.

    As for Denmark, anyone familiar with the country would certainly know The Little Mermaid, the most famous statue in Copenhagen. Ditte also briefly explained the idea of a “half flat,” a small beautiful house in the Danish countryside. She then mentioned a unique tower in Copenhagen surrounded by larger buildings. Since there was no more time to ask further questions, the tower she referred to was perhaps The Round Tower, or Rundetårn, an iconic 17th-century structure famous for its panoramic 360-degree view of Copenhagen and its spiral ramp leading all the way to the top.

    Ditte with the diving life that brings happiness to her world.
    Photo source: Ditte.

    The car from Bulukumba to Makassar was scheduled to depart exactly at nine in the morning. Aris Irfan, Manager of Cahaya Bone from Kalla Travel, invited Ditte to get ready.As a memory, we took a photograph together and promised to preserve this simple yet meaningful conversation in writing—a remembrance of a brief but pleasant friendship.

    Ditte, Irfan, and the writer at the Cahaya Bone Travel office of Kalla Transport in Bulukumba. This photo serves as a memory for someone far away, preserving a meaningful moment of friendship. Photo source: Aris Irfan, Monday, May 11, 2026.

    Ditte tried to make the most of her limited time on land by visiting famous places that were not included in Coralia Liveaboard’s itinerary. Perhaps this was her real vacation before returning once again to the diving world—a world that many people would consider a dream holiday in itself.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Wednesday, May 13, 2026

  • Ditte dan Laut Indonesia Timur

    Ditte dan Laut Indonesia Timur

    Coralia Liveaboard adalah sebuah pengantar untuk mengenali dunia selam DitteSpanggaard, instruktur selam di kapal pesiar mewah dibuat dengan layar Pinisi di Desa Bira, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan pada 2019. Merujuk situs resminya, kata “coral” (Karang) dan akhiran Latin “-ia,” yang mengekspresikan gagasan tentang Bangsa Karang. Ditte bekerja di tempat yang tepat yang sesuai keahliannya. Ia seolah tidak perlu bekerja untuk pergi berlibur tapi berlibur bersama para tamu yang telah mencari duit untuk dapat berlibur di Coralia.

    Bersama Coralia, Ditte menikmati destinasi diving dan wisata bahari di Indonesia timur dengan rute Raja Ampat, Taman Nasional Komodo, Kepulauan Banda, Alor dan Teluk Cenderawasih.

    Bila anda terbiasa menyelam, anda akan tahu bagaimana cara untuk bisa serileks mungkin seperti pada foto ini. Sumber Foto: Ditte.

    “Tahun lalu, saya bekerja di Una-Una di kepulauan Togean, Sulawesi Tengah” terang Ditte. Itu adalah destinasi wisata bawah laut yang menakjubkan. “Jadi, saya ingin kembali lagi ke Indonesia”, lanjut orang Denmark ini. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia Una-Una sangat spesial ditempatkan di urutan pertama dan kemudian diikuti Raja Ampat, Kepulauan Banda, Alor dan juga Timur Leste meskipun itu bukan Indonesia.

    Bagi penyelam, makhluk laut itu adalah bagian dari keindahan untuk memanjakan mata. Ubur ubur bergerak dengan bebas. Sumber Foto: Ditte.

    Sebagai intruktur selam yang bekerja di atas kapal, apakah Ditte perempuan yang kehidupannya lebih banyak di laut daripada di darat? Sejenak ia merenung. “Saya tidak tahu”, jawabnya. “Hidupnya di atas kapal. Wajarlah bila waktu berliburnya di Cosmos Bungalow di Bira relatif singkat”, pikir penulis. Sejurus kemudian, ia tersenyum manis dan berkata dengan terus terang, “Setiap dua bulan saya di kapal, satu bulan istirahat. Begitulah perputarannya”.

    Perhatikan tangannya. Di dalam laut, anda tidak akan mungkin menggunakan mulut untuk bicara sehingga komunikasi yang dibuat dalam bentuk bahasa isyarat dengan gerakan tangan: Sumber Foto: Ditte.

    “Saya suka Indonesia, orang-orangnya dan bekerja di Indonesia”, tambah Ditte. Keberadannya di Bira adalah bagian dari perjalanan hidupnya untuk menikmati keindahan alam yang berbeda yang ia pernah lihat sebelumnya. Ia juga mengagumi budaya. Sayangnya, ia tidak sempat mengenal Kajang pada kunjungannya ke Bulukumba. Masyarakat adat Amma Toa di Kajang hidup menyatu dengan alam, dengan berjalan dengan kaki telanjang, berpakaian serba hitam, tanpa listrik atau modernisasi apapun juga tidak diberlakukan oleh Amma Toa (Kepala Adat Kajang) untuk menjaga kelestarian alamnya. Setiap orang yang menebang satu pohon harus menanam dua pohon.

    Alam bawah laut juga punya hutan dalam bentuk karang yang berwarna warni. Akankah kita merusak alam bawah laut yang indah ini? Sumber Foto: Ditte.

    Menurut pemahaman Imam Syamsi Ali, orang asli Kajang yang kini jadi tokoh New York AS, komitmen orang Kajang kini dikenal penjaga hutan tropis terbaik, inspirasi untuk melestarikan alam. Manusia dan alam hidup selaras dan bersinergi, bukan bertentangan.

    Apa lagi hal yang membuat orang mau menjelajahi dunia? “Saya bisa berkeliling dunia untuk makanan”, terang Ditte. “Saya suka mencoba berbagai macam makanan”. Untuk makanan Indonesia, makanan favoritnya adalah Gado-Gado. Karena dia sedang berada di Sulawesi-Selatan, penulis menyarankan untuk mecoba Coto Makassar—Sup daging sapi dengan kuah kental berbumbu rempah dan kacang tanah sangrai. Ia mengerti dan sepertinya tertarik untuk mencobanya.

    Sedangkan mengenai Denmark, Orang yang mempelajari Denmark tentu tahu, The Little Mermaid, patung paling terkenal di Copenhagen. Ditte tertarik sedikit menjelaskan tentang Half Flat, semacam rumah kecil yang indah di tanah pertanian. “Hal yang spesifik, kami mempunyai menara special yang dikelilingi menara yang tinggi. Karena waktu untuk bertanya lebih jauh tidak ada lagi, menara yang ia maksudkan mungkin saja Rundetårn (The Round Tower) yang merupakan arsitektur abad 17 yang sangat ikonik, view 360° kota Copenhagen dan spiral ramp berputar 7½ kali sampai puncak.

    Ditte dengan kehidupan dunia selamnya yang membahagiakan hidupnya. Sumber Foto: Ditte

    Mobil dari Bulukumba ke Makassar akan berangkat tepat jam 9 pagi. Aris Irfan, Manager Cahaya Bone of Kalla Travel, mempersilahkan Ditte bersiap siap. Untuk kenangan, kami foto bersama dan berjanji akan merekam pembicaraan sederhana yang berkesan baik di hati ini untuk dijadikan tulisan sebagai sebagai kenangan persahabatan yang singkat yang menyenangkan.

    Malomo Villa yang merupakan salah satu tempat beristirahat terbaik ketika Anda berkunjung ke pantai Bira. Sumber Foto: Aris Irfan.

    Oh iya, Irfan juga terlibat aktif dalam dunia bahari dan punya Malomo Villa di Bira yang bangunannya semi modern yang dekorasinya hasil kombinasi jiwa seninya bersama para ahli pengrajin kayu yang handal.

    Ditte, Irfan dan Penulis saat berada di kantor Travel Cahaya Bone of Kalla Transport di Bulukumba. Foto adalah kenangan pada orang jauh untuk mengingat moment persahabatan yang berharga. Sumber Foto: Aris Irfan pada Senin, 11 Mein 2026.

    Ditte berusaha menikmati waktunya yang sangat terbatas berada di darat sebaik-baiknya dengan mengunjugi tempat wisata yang terkenal yang tidak masuk daftar kunjungan Coralia Liveaboard. Ini adalah liburannya yang sesungguhnya sebelum ia kembali bekerja di dunia selam di mana orang lain menganggapnya sebagai liburan.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu 13 Mei 2026

  • Dunia Belajar Afwa

    Dunia Belajar Afwa

    Keistimewaan anak ini adalah di umurnya lima tahun, ia sudah lancar membaca dalam bahasa Indonesia, mengaji dan Bahasa Inggris. Berhitung sudah menjadi bagian kesehariannya karena ibunya guru Matematika. Olahraga yang ia suka adalah karate.

    Namanya Afwa. Sekarang ia sudah enam tahun. Tiap kali ketemu, ia selalu minta untuk diajar. Ia suka bawa bukunya sendiri tapi kadang juga lupa. Jadi ia sering ke perpustakaan Rumah Belajar Bersama, ambil buku bacaan dan kemudian mengatakan, “Siapma Mister” (Saya sudah siap Mister). Bacaannya sudah pertengahan Basic Reading tapi kalau ia capek atau penulis lagi sibuk dimana sulit untuk mengoreksi bacaannya secara langsung, Lesson 1 sampai 10 akan jadi hiburannya. Ia sudah sangat mahir bacaan itu. Yang terpenting, setiap datang ke RBB, ada waktu untuk membaca.

    Urusan berhitung, Afwa sudah sampai perkalian tujuh tapi ia merasa belum terlalu lancar. Jadi ia menawar untuk latihan lisan perkalian dua dan tiga saja. Tak mengapa ia mengikuti the law of repetition (Hukum perulangan). Perlahan lahan ia pasti akan suka perkalian tujuh, delapan dan sembilan. Bila itu tuntas, urusan matematikanya pasti terasa sangat ringan saat masuk SD nanti.

    Kalau karate, sekarang Afwa agak jarang latihan setelah sakit. Mungkin ia perlu banyak nonton video karate untuk mengembalikan semangatnya. Soalnya, ia tertarik gabung karena sering nonton latihan karate.

    Tahun ini, Afwa kemungkinan akan masuk SD dan akan tinggal di kampung halaman neneknya di Turungan Beru di Kec. Herlang, Kab. Bulukumba. Suasana pedesaan dekat laut akan membuatnya akrab dengan alam. Semoga orang orang yang mendidiknya nanti di sana bisa memaksimalkan bakat anak yang luar biasa ini.

    Paling sedikit, bacaan buku cerita anak anak berbahasa Inggris, Indonesia dan Matematika selalu tersedia untuk Afwa. Sedangkan mengajinya cenderung aman karena neneknya sendiri adalah guru mengaji di Masjid. Bagaimana dengan hobi karate? Karena tidak ada dojo (tempat latihan) karate hobby itu sepertinya akan beralih ke berenang di laut dekat rumah neneknya.

    Zulkarnain Patwa
    Rabu 13 Mei 2026

  • Pendidikan di Jerman dan Alam Indonesia

    Pendidikan di Jerman dan Alam Indonesia

    Prof. Dr. Ing. B. J. Habibie, Presiden Indonesia ketiga, memperkenalkan kepada kita bahwa pendidikan di Jerman itu sangat rasional, disiplin dan melatih kemandirian pelajar. Otak Habibie yang super cerdas itu juga dikenal dengan slogan German’s Mind, Medina Heart. “German’s mind” merujuk pada pengetahuan yang sangat rasional dari orang Jerman dan “Medina Heart” merujuk pada kota Madinah (peradaban) di Arab Saudi, sebuah kota yang aman di mana Nabi Muhammad SAW mendapat perlindungan dari serangan orang-orang Mekah pada masanya. Pemahaman ini pertama kali penulis dapatkan dari Cak Maksun dan kemudian jadi judul buku oleh Kristian Morville. Dalam usaha mengikuti perkembangan teknologi, Habibie dikenang banyak mengirim pelajar untuk kuliah ke Jerman. Bahkan, beberapa sekolah unggulan di Indonesia termasuk di Makassar memasukkan pelajaran Bahasa Jerman di kelas 2 SMA.

    Penulis pernah sekali bertemu dengan Habibie dan merasa beruntung juga berkenalan dengan orang Jerman terdidik yang berkunjung ke Bulukumba, Verena Schubert. “Jika anda tidak belajar, anda sebaiknya tidak usah jadi pelajar”. Sebuah kalimat sederhana yang mempunyai makna yang padat dari Verena ketika menggambarkan pendidikan di Jerman. Siapapun juga tekun, dan punya motivasi yang tinggi berhak mendapatkan pendidikan layak di universitas dibiayai penuh oleh pemerintah. Untuk beberapa jurusan seperti kesehatan dan teknik, para calon pelajar akan mendapatkan beberapa ujian tambahan untuk membuktikan bahwa mereka layak di jurusan tersebut. Dan bila sudah kuliah, ada kesempatan beberapa kali untuk mengulangi ujian namun bila tetap gagal, mereka pasti DO (Drop Out). Jadi, menjadi mahasiswa di Jerman harus mempersiapkan otak bekerja maksimal dan bermental baja. Begitulah penjelasan Verena sewaktu penulis bertanya padanya. Dalam pikiran orang Indonesia, ” Wajar ya, peralatan dan mesin buatan Jerman yang ada di Indonesia terkenal bagus kwalitasnya”, pikir penulis.

    Asse Nur Izza Maharani, pelajar RBB (Rumah Belajar Bersama) yang pernah bertemu Bapak B. J. Habibie di Yogyakarta, 2013. Sumber Foto: Zulkarnain Patwa

    Tapi, kuliah tidak sebatas itu saja, Fergusso! Seorang rekan semasa di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di Indonesia bernama Cita Deny melanjutkan kuliahnya Universität Viadrina Frankfurt di Jerman pernah mengeluhkan biaya hidup yang sangat tinggi di Jerman. Itu sudah pasti karena nilai mata uang Rupiah masih sulit bersaing dengan mata uang Euro. Dia beruntung, terlahir dari keluarga yang cukup mapan dan punya semangat belajar yang tinggi hingga mampu menyelesaikan S 2 master-nya di sana. Setelah kembali ke Indonesia, ia malah turut mempromosikan kuliah ke Jerman dengan aktif bekerja ke salah satu pusat pengembangan bahasa Jerman di Jakarta.

    Cita Deny mengisi penjelasan tentang kuliah di Jerman via zoom kepada para pelajar di Bulukumba; Sumber Foto: Rumah Belajar Bersama.

    Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang mempunyai keterbatasan ekonomi? Verena menjelaskan bahwa biaya tempat tinggal, makanan dan kebutuhan hidup lainnya yang mahal tersebut menjadi pertimbangan pemerintah untuk meminjam sejumlah uang yang tidak terlalu besar di mana para mahasiswa dapat membayarnya kembali secara mencicil setelah bekerja.

    Dan bila ingin mendapatkan uang tambahan, Verena yang kini seorang manager di sebuah perusahaan besar tidak merasa sungkan menceriterakan masa lalunya. “I works a waitress at the restaurant” (saya bekerja sebagai pelayan di restoran), ungkapnya sembari tersenyum manis. Kuliah S 1 di kampus bergengsi jurusan BWL Bachelor (Business) at The Johann Goethe University in Frankfurt Am Main di Jerman sama sekali tidaklah membuatnya malu atau gengsi untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan dianggap rendahan. Sebenarnya, tidak ada pekerjaan rendahan. Setiap pekerjaan itu mulia, asalkan halal.

    Kemandirian hidup di Jerman telah dilatih sejak masa muda di mana orang tua tidak lagi membiayai kehidupan anak-anaknya ketika beranjak dewasa. Di Indonesia, orang tua bertanggungjawab membiayai anak-anaknya hingga menikah. Namun, ide kreatifitas cari duit dengan bekerja di paruh waktu ini juga banyak dilakukan oleh pelajar Indonesia di Yogyakarta—jantung kota pelajar dan wisata—dengan membuka lapak buku atau jual minuman dan makanan bermodalkan gerobak pusat keramaian di sore hari. Sebagian mahasiswa juga memilih masuk bekerja pada orang lain seperti yang dilakukan Verena. Jumlah uang tentu yang dihasilkan tidak banyak tapi sedikitnya mampu mengakali keterbatasan uang yang lazim ditemui oleh para mahasiswa. Kegiatan yang sama juga tentu terjadi di kota-kota lain di Indonesia tapi tidak sebanyak di Yogyakarta.

    Alam dan Keramahtamahan di Indonesia

    Tubuh yang menawan dan sehat adalah konsekuensi logis yang diperoleh bagi olahragawan yang konsisten. Verena berkeliling dunia dan berada di Indonesia selama lima bulan menyalurkan hobinya dengan olahraga pada tempat-tempat yang menurutnya menarik. Ia terlihat lincah dalam bergerak. Ia memilih dua minggu untuk snorkeling, diving dan bermandikan matahari di Bira. Orang yang betah di suatu tempat pastilah punya alasan. Menurutnya, pantai pasir putih menawan, air laut jernih, perawatan terumbu karang dan manusia yang tidak ramai dan ramah melengkapi kehidupannya yang ingin hidup tenang dan damai.

    Lumba-lumba menyambut dan melengkapi kebahagiaan Verena dengan berenang tepat di belakang saat diving di laut Bira. Sumber Foto: Verena Schubert, 2026.

    Kisah yang lain yang sangat Verena suka adalah pebedaan agama.  Dalam pandangannya, orang-orang menggunakan agama untuk tujuan yang salah. Ada peperangan dan mereka berperang atas dasar keyakinan agama. Di sini (maksudnya di Bulukumba) dan Nusa Tenggara Timur tempat yang ia pernah kunjungi orang-orang Islam dan Kristen hidup berdampingan. Kita bisa melihat masjid dan gereja dimana-mana. Tidak ada konfik. Mereka percaya pada suatu keyakinan yang baik, saling menghargai. Sedangkan di Jerman, ada masalah di mana orang-orang khawatir. Ada perang yang terjadi sekarang ini dan banyak hal buruk terjadi. Dan orang berlawanan satu sama lain. Tidak peduli budaya mana yang Anda miliki, itu tidak masalah. Pada akhirnya, kita semua adalah manusia.

    Salam cinta damai dari laut Bira. Sumber Foto: Verena Schubert, 2026

    Penulis tergugah dengan penjelasan Verena dan memberikan pujian manis terhadap kecerdasannya menyederhanakan pengalamannya yang luas dalam kalimat tidak boros kata, mudah dipahami. Ia menjawab, “Thank you. I am a manager”. Kami tertawa lepas. Istilah “manager” mangacu pada kemampuannya yang memimpin, memahamkan dan mengarahkan secara tepat pada sekumpulan banyak orang yang ia pimpin pada perusahaan yang sengaja tidak disebut namanya di sini.  Belakangan penulis tahu ia lulusan S 2 (master) di International Innovation Strategy, Católica University in Lisbon, salah satu institusi pendidikan terbaik di Portugal.

    Pilihan Verena traveling dalam waktu yang cukup lama dengan sekedar membawa dua tas yang sangat kecil menyadarkannya pada barang. Di rumahnya di Jerman, dia punya banyak barang. Dengan pengalaman berkeliling,  kini ia percaya bahwa sebenarnya ia tidak butuh banyak barang. Ia mudah bergerak kemanapun dia suka tanpa beban dan bahagia.

    Kunjungan ke Rumah Belajar Bersama

    Merupakan kebahagiaan tersendiri bagi penulis ketika Verena berkenan mampir sejenak untuk berbicara dalam bahasa Inggris depan pelajar nonformal kami di RBB (Rumah Belajar Bersama). “Ya. Itu sama sekali bukan masalah bila waktu memungkinkan”, kata Verena ketika kami dalam perjalanan dengan mobil pribadi dari Bira menuju kota Bulukumba.  Aris Irfan, manager Cahaya Bone of Kalla Travel berkata, “Masih ada sedikit waktu sebelum mobil travel di Bulukumba mengantar Verena ke Makassar”.

    Waktu telah menunjukkan hampir jam 5 sore. Para pelajar RBB telah banyak pulang namun beruntung masih ada segelintir pelajar di kelas intensif masih sibuk otak atik pelajaran grammar (tata bahasa) dan reading (bacaan). Dengan ramah Verana menyapa dan bersenda gurau layaknya seorang guru yang akrab dengan muridnya. Ia pun jadi pusat perhatian. Beberapa tanya jawab yang membangun komunikasi berkelanjutan terlaksana namun sayangnya, waktu sangat terbatas.

    Kunjungan Verena memang sangat singkat tapi ini memberikan kesan mendalam bagi para pelajar. Mereka jadi lebih termotivasi untuk belajar. Mereka jadi lebih tahu tidak ada kesempatan untuk berbahasa Indonesia dengan orang asing untuk mengkonfirmasi hal-hal yang ingin diketahui. Mereka juga harus punya wawasan untuk menanyakan sesuatu untuk membuat pembicaraan jadi lebih menarik. Dan karena bertemu dengan orang asing adalah hal yang belum lazim mereka dapatkan, itu adalah pengalaman berharga yang membangun kepercayaan diri bertemu dengan orang-orang baru.

    Sekilas tentang Perspektif Penulis

    Apa yang penulis gambarkan tidaklah mengambarkan secara utuh apa itu German’s Mind, terlebih lagi “Medina Heart” karena itu memang tidak disinggung mendalam di sini. Kalau pun ada gambaran, hanya secuil saja. Itupun berkat kesediaan Verena yang berkenan hati untuk wawancara dalam bentuk percakapan tidak resmi tentang pendidikan di Jerman. Hanya saja, patut disayangkan bila ada cerita atau pemikiran yang mungkin yang bisa saja berguna bagi orang lain. Karena itu penting bagi penulis untuk merangkai ulang dalam bentuk tulisan. Oh, iya. Dalam dua jam dua puluh menit bersama Verana, ia bertemu berbagai macam orang, ia selalu disambut hangat. Ia merasa sangat dihargai layaknya seorang supertar. That’s all.

    Zulkarnain Patwa
    Independent Writer

    Bulukumba, Minggu, 26 April 2026

  • Karate: Bela Diri dan Olahraga

    Karate: Bela Diri dan Olahraga

    Andrew Bertel seorang ahli bela diri yang menganggap karate itu seperti universitas. Dialah yang mempertahankan karate dengan jurus-jurus yang mematikan, bukan olahraga sebagaimana yang kita kenal di kejuaraan dunia.

    Sewaktu Achmad Sjairodji ke Bulukumba pada 2012 memberikan ujian Kenaikan Sabuk Penurunan Kyu di INKAI (Institut Karate Do Indonesia) untuk ranting INKAI Kodim 1411 Bulukumba, penulis terhenyak kaget dengan gerakan Uchi Uke, Chudan Tsuki dan Giyaku Tsuki–Istilah gerakan tangan dalam karate. Bahasa Jepang. Terdapat kecepatan gerakan, enerjik dan powerful. Ada hentakan di ujung gerakannya. Belakangan penulis tahu bahwa untuk menciptakan gerakan seperti itu harus bisa seringan mungkin di awal bergerak, tanpa mengunci tenaga dan diakhiri dengan kekuatan penuh. Tak heran bila gerakan tangan bergetar disebabkan adanya ledakan kekuatan.

    ‘Wah, ini mirip Andrew Bertel’, pikir penulis dalam hati. Sebagian orang mungkin menganggap berlebihan tapi setidaknya teknik yang dipakai sama dan keahlian diperoleh dari hasil latihan selama berpuluh-puluh tahun. Andrew Bertel dan Achmad Sjairodji keduanya berlatih sejak masa kecil dan terus ditekuni hingga dewasa dengan membuka do jo (tempat latihan). Ijazah kelulusan ‘kuliah di universitas’ karate diperoleh dengan ujian kenaikan DAN di sabuk hitam.

    Seiring waktu, penulis akrab dengan Sensei Odji (Sensei: Guru. Dalam karate kata Sensei dipakai bagi orang yang minimal di DAN IV) membuat penulis menanyakan berbagai macam hal tentang karate. Maka berlakulah istilah populer, karate itu seperti air yang dipanaskan. Bila tidak berlatih, dingin kembali. Tidak pernah berhenti latihan dan kesabaran adalah kuncinya. Orang yang demikian akan menemukan gaya khas bertarungnya.

    Hal yang melengkapi adalah Sensei Odji juga mengerti Kata (Jurus-jurus karate). Bahkan, ia tidak hanya dapat membuat anak di bawah lima tahun menghapal Kata yang rumit tapi juga mampu membuat anak itu bergerak secara memukau mengikuti prinsip dasar hukum gerakan karate. Tidakkah mengherankan bila banyak atletnya jadi juara dalam berbagai kompetisi di Kata dan terlebih lagi Kumite (pertarungan).

    Pada kegiatan di foto 13 April 2026 ini, kami bertemu kembali dalam rangka Ujian Wasit Juri Karate FORKI (Federasi Olahraga Karate Do Indonesia) Sulawesi Selatan untuk menguji kecerdasan otak para pelatih karate dengan tes ragam aturan kejuaraan karate, kecendrungan sih karate mengarah ke olahraga. Ujian mencakup Kumite dan Kata.

    Ujian rumit itu tidaklah begitu sulit bagi Sensei Odji karena sebagai seorang pelatih dan praktisi bela diri, ia tahu mana gerakan karate yang tidak dikategorikan sebagai olahraga. Ia juga telah banyak membaca teori karate yang berhubungan dengan olahraga yang dikeluarkan oleh aturan WKF (World Karate Federation) yang memudahkannya menghadapi ujian tulis dan praktek. Hasil sudah tentu dapat ditebak, lulus dengan nilai meyakinkan.

    Modernitas memang berhasil merubah arah bela diri karate menjadi olahraga yang dipertontonkan dengan bumbu juara. Segi positifnya, banyak orang terpengaruh ikut kejuaraan sehingga karate makin mudah dikenal di dunia. Dari sini, para karate ka (ka: ahli. Ahli karate) juga dapat mengukur seragannya untuk tidak merusak, mencerai lawan. Sistem keamanan lebih diperketat.

    Tapi jangan lupa, karate itu pada dasarnya bukan olahraga tapi sejatinya adalah bela diri. Bila anda berselancar di internet menonton video Andrew Bertel, anda akan menemukan gerakan yang mematikan, jauh dari kesan olahraga. Dan jurus jurus tersebut tetap diajarkan di Do Jo karate. Dan bila anda ingin menikmati bela diri dan olahraga karate, anda bisa bergabung berlatih bersama Sensei Odji di Indonesia, tepatnya di Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia.

    Zulkarnain Patwa
    * Humas INKAI Sulawesi Selatan
    * Pelatih INKAI Bulukumba

    Bulukumba, Sabtu, 18 April 2026.

  • Perseturuan

    Perseturuan

    Sejak kecil kami berdua sudah sering berantem karena perbedaan paham. Tidak ada yang mengalah dan mau kalah. Ia hebat dalam berhitung dan menganalisa masalah dengan terstruktur. Bakat itu ia peroleh dari Ummi (ibu, terjemahan khas Indonesia) kami. Sedangkan penulis terbiasa membaca buku yang diperoleh dari kebiasaan ayah kami.

    Karena Saiful Patwa adalah kakak dan badan lebih tinggi dan besar, penulis lebih banyak tertindas semasa kecil. Penulis cuma pernah memberinya tendangan Mawashi Geri (istilah karate yang berarti roundhouse kick, tendangan melingkar) ke arah punggungnya dengan keras dan ia tidak sempat membalas karena ayah dan ibuku segera melerai. Ia tidak pernah membalasnya dan menganggapnya persoalan itu sudah lama berlalu, marahnya sudah kadaluarsa.

    Sebenarnya sih, perkelahian itu tidak berhenti. Benturan fisik tidak pernah terjadi lagi tapi berlanjut ke perang pemikiran. Kecerdasan Kak Iful telah dikenal sejak SD 234 Kalumpang, Kec. Bonto Tiro, Bulukumba. Ia selalu saja dapat nilai sepuluh dan akrab dengan panggilan Sampulo (sepuluh)–Itu pujian tapi dirinya sepertinya kurang tertarik. Penulis pernah memanggilnya ‘Sampulo’ dan dibalas ‘Kujaguruko intu’, (Kutinju kamu) balasnya. Mungkin saja itu ditafsirkan ejekan karena ia punya nama panggilan, Iful. Heran juga. Orang lain yang bicara, tidak diapa apain namun kalau ke penulis kena ancaman.

    Di SMPN 1 Bulukumba, sebagian guru memanggil penulis dengan nama Iful padahal nama panggilan penulis Nain. Di SMAN 1 Bulukumba, ia pelajar terbaik lagi, mewakili Bulukumba untuk sekolah khusus di Makassar. Lagi lagi nama Iful pun melekat pada penulis padahal saya kurang tertarik dengan pelajaran sekolah sebagaimana Kak Iful. Bacaan penulis kebanyakan bukan buku sekolah. Pelajaran sekolah itu penting dipelajari kalau mau ujian saja.

    Wasit Juri Karate
    Kak Iful lebih dahulu masuk karate di INKAI Kodim 1411 Bulukumba. Berkat dirinya, penulis tertarik.gabung. Kebiasaan sipatappasa (Saling membanting semacam gulat,) kalau berkelahi di kampung berubah pada kecepatan pukulan dan tendangan. Namun kebersamaan tidaklah berlangsung lama karena ia sudah harus sekolah di Makassar sebagaimana disebutkan di atas.

    Saling tes kecerdasan di karate mulai muncul sejak kami ikut Ujian Wasit Juri Karate, 2023 di FORKI (Federasi Karate Do Indonesia) Sulawesi Selatan. Ia lulus sebagai bagian dari peserta ujian tulis terbaik pada Kumite dan poinnya sedikit lebih tinggi dari penulis. Kak Iful bilang, ‘Tidak usah lawan saya. Kamu kalah’, katanya sambil tertawa. ‘Saya bisa membalas pada ujian berikutnya’. Pada 2024, kami sama-sama telah belajar serius ke Jakarta untuk ujian Wasit Juri Nasional INKAI. Sayangnya, entah karena apa, hasil tidak keluar. Tidak ada pemenang.

    13 sampai 15 April 2026, FORKI Sulawesi Selatan kembali mengadakan ujian Wasit Juri Karate. Pada ujian tulis Kumite (Pertarungan), Kak Iful menang angka, penulis kalah angka tapi pada Kata (Jurus), penulis menang angka, Kak Iful Kalah angka. Skor berimbang, satu sama.

    Selanjutnya, kesialan mulai tampak. Pada praktek Kumite, kami sama sama lulus. Pada ujian praktek praktek Kata, Kak Iful lulus, penulis tidak lulus. Lagi lagi ia memang satu. Ujian lain yaitu Sertifikasi Pelatih, kami sama sama lulus. Penilaiannya hanya bersandar pada ujian tulis Kumite atau Kata.

    Penulis dengan lapang hati memberinya selamat sembari mengingatkan bahwa untuk ujian tingkat Daerah sampai Nasional, dirinya bolehlah tersenyum lebar, soal soalnya masih dalam Bahasa Indonesia. Kalau sudah luar Indonesia, nah kusarankan agar ia mau belajar ke penulis menghadapi trik soal soal berbahasa Inggris. Dengan percaya diri ia mengatakan, ‘Saya bisa Bahasa Inggris’. Maksudnya, ia tidak aktif komunikasi Inggris di rumah semasa ayah kami masih hidup namun ia cukup punya pemahaman saat membaca teks Inggris. Apa iya? Pada waktunya nanti, ia pasti akan bertanya.

    Perseturuan ini asyik untuk dipelihara. Kami suka dan terbiasa perbedaan ‘berantem pendapat’ dan berjuang dengan cara sendiri. Dari perseturuan positif ini, kami malahan tambah semangat belajar untuk menambah pengetahuan dan untuk saling meledek.

    Zulkarnain Patwa
    Makassar, Kamis, 16 April 2026