Kwalitas English SD Meragukan

Bahasa Inggris pelajaran wajib mulai tahun 2027/2028 merupakan Wujud komitmen pemerintah untuk menyiapkan profil lulusan yang produktif dan berdaya saing global. Pernyataan Abdul Mu’ti Menteri Mendikdasmen (Pendidikan Dasar dan Menengah) dalam Konferensi Internasional TEFLIN (Teaching English as a Foreign Language) ke-71 digelar di Universitas Brawijaya, Malang, 2025. Kini, buku pelajaran Bahasa Inggris telah tersebar di SD (sekolah Dasar) se-Indonesia. Menggembirakan.

Masalah muncul ketika guru-guru SD yang bukan sarjana Bahasa Inggris atau tidak punya dasar-dasar Bahasa Inggris mengajar. Kontan saja, meteri pelajaran seperti anak TK saja, sekedar penegenalan kosa-kata. Para guru itu juga takut khawatir banyak bicara Inggris manakala ada murid-muridnya di kelas yang ikut kursus telah sampai pada kemahiran tertentu.  Guru jadi kurang percaya diri—Sebuah fakta berkebalikan dengan target Abdul Mu’ti yang ingin anak-anak punya kepercayaan diri berkomunikasi dengan penekan literasi. Mana bisa literasi English dibebankan pada guru yang bukan ahlinya. Cara penyebutan bahasa inggis sangat jauh berbeda dengan Bahasa Indonesia sehingga ide besar mulia ini tidak boleh memasang sembarang orang saja. Apakah itu semata-mata salah guru? Bukan. Itu kesalahan penerapan kebijakan.

Sebenarnya pemerintah pusat itu sudah dapat mengurangi ‘pengangguran terdidik’ dengan merekrut para sarjana Bahasa Inggris mengajar. Dinas Pendidikan Daerah cukup mencari cara cerdas saja cara memberdayakan pemuda pemudi Indonesia yang terdidik itu. Membuat program pelatihan untuk (calon) para guru Bahasa Inggris harus benar-benar punya niat mencerdaskan. Dalam arti, berhenti mengadakan pelatihan yang sekedar menghabiskan anggaran.

Ada contoh yang menggelikan. Terdapat pelatihan untuk Program Sekolah Berbahasa Inggris para guru SD dan SMP pada 2025. Pelatihannya sekejap saja. Anggaran untuk investasi sumber daya manusia disulap jadi seremonial. Mana  mungkin mencetak guru yang berkwalitas yang pelatihannya hanya sehari atau dua hari? Kalau dibilang ada hasil, coba cek perubahan apa yang terjadi pada anak-anak sekolah di daerah yang mengadakan tersebut dan kemudian, bandingkan berapa besar dana yang dihabiskan.

Ketika ditanya lebih lanjut, kenapa ini tidak tercapai? Jawaban klasik adalah keterbatasan anggaran. Biarpun anggaran selangit bila tidak punya pemetaan penggunaan anggaran pendidikan secara yang benar, pasti kurang. Butuh keselarasan antara ide dan tindakan praktis dalam mempersiapkan generasi yang punya daya saing global sebagaimana yang didengungkan oleh Abdul Mu’ti. Tugas berat Menteri Pendidikan kita adalah harus bekerja ekstra agar anggaran pendidikannya tepat sasaran agar idenya itu tidak berakhir laksana pepatah; tong kosong, nyaring bunyinya.

Apakah rencana Mendikdasmen tetap kokoh mau melatih sekitar 90.000 hingga 150.000 guru SD untuk siap mengajar pada 2027? Itu bukan pekerjaan mudah mempersiapkan manusia pintar untuk siap mengajar. Atau apakah Mendikdasmen mau membuka lapangan kerja untuk mengurangi pengangguran dengan merekrut sarjana Bahasa Inggris? Itu tugas pemerintah untuk memberikan jawaban tepat sasaran.

Solusi pembenahan bahasa Inggris dari Abdul Mu’ti adalah pilihan terbaik yang dimiliki Indonesia saat sekarang. Kita ingat, betapa beratnya pelajar mengerti Bahasa Inggris ketika kurikulum mewajibkan pelajaran Bahasa Inggris di SMP, sungguh menakutkan. Itu karena tidak ada sama sekali dasar-dasar pembelajaran semasa SD. Hancur lebur. Yang selamat adalah pelajar yang ikut kursus atau orang tuanya yang mengajarkan Bahasa Inggris di rumahnya. Akankah kita menghancurkan? Atau ide kritis Rocky Gerung, menyelamatkan bangsa dengan cara membunuh elit?

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Selasa 5 Mei 2026

Sumber:
https://www.kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/13897-perkuat-kompetensi-global-bahasa-inggris-akan-wajib-pada-sekolah-dasar-mulai-ta-20272028
https://edukasi.kompas.com/read/2025/10/22/210316471/bahasa-inggris-jadi-mapel-wajib-sd-mendikdasmen-tidak-banyak-grammar.
https://www.instagram.com/reel/DRdiVc0k_Bc/

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Teror Pencerdasan Bahasa Inggris

Bahasa Inggris ataupun bahasa asing apapun juga pasti terasa asing dilidah bila tidak dibiasakan. Mengulangi…

11 jam ago

Tragedi 8 x 3 di SMK Menampar Wajah Kurikulum Kita

Kejeniusan Mr. Crack, B. J. Habibie, tentulah turut mengharumkan nama baik Indonesia, disegani di dunia…

1 hari ago

Menghapus Sekat Belajar

Salah eja atau ucap seringkali dialami para pelajar bahasa inggris. Fokus kebanyakan orang adalah kemahiran…

2 hari ago

Di RBB, Pelajar yang Paling Pintar Pun Jadi Biasa Saja

Para pelajar yang menguasai perubahan seluruh kalimat tenses dengan segala bentuk perubahannya bukanlah jaminan bahwa…

3 hari ago

Memoar Kak Madi: Pepaya Matang WME Kembali ke Pemilik-Nya

Ahmadi Hatta adalah mahasiswa jurusan Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 87. Pada tahun 2000-an,…

5 hari ago

Terbaik: Setiap Tempat Adalah Belajar

Suatu pembelajaran akan terasa sangat mudah dipelajari apabila para pelajar tidak asing dengan lingkungan kehidupan…

5 hari ago