Kolaborasi

Negara Finlandia menggemparkan dan menjadi rujukan dunia pendidikan karena berhasil menjadi top one melampaui Amerika. Orang Scandinavian itu tidak menerapkan sistem kompetisi melainkan kolaborasi. Kompetisi memang mencetak seseorang menjadi terbaik sedangkan kolaborasi mengajak kerjasama, saling mengisi kelebihan dan kekurangan, pintar bersama.

Azdra (jilbab abu-abu) dan Ifa (jilbab merah ) pelajar kelas 1 SMPN 1 Bulukumba, tidak bisa dipisahkan meskipun mereka suka saling menyalahkan. Azdra anak yang tidak pusing dengan urusan pelajaran. Ia hanya tidak ingin ditafsirkan oleh ibunya tidak belajar. Sedangkan Ifa, ia punya target, kerja tugas dan rajin membaca. Azdra akan rajin bila tahu bahwa pelajarannya tertinggal dari Ifa. Ifa yang meskipun sering marah ke Azdra terlihat senang hati bila Azdra butuh bantuan. Mereka ingin sukses bersama.

Apa yang perlu kita tindak lanjutkan adalah para pelajar yang sudah terbiasa saling membantu tidak diarahkan pada menyontek, kecerdasannya semu. Anak anak yang biasa menyontek akan merasa aman karena mendapatkan nilai rapor yang bagus. Orang tua murid yang sekedar melihat nilai rapor anak-anaknya pasti akan terkecoh. Pada akhirnya, generasi yang tercipta tidak ada bedanya dengan mesin foto copy.

Dari cerita di atas, Ifa berlatih menjelaskan agar Azdra memperoleh proses belajar hingga tahap tahu. Dengan demikian, derajatnya sama sama terangkat. Di kemudian hari, Azdra bisa menolong pelajar lainnya yang pernah senasib dengan dirinya. Dan bagi orang seperti Ifa, ia tidak akan kekurangan ilmu sedikit pun, malahan ilmunya makin bertambah.

Dalam beberapa hal, Azdra sesekali membantu rekan kelasnya untuk membaca dengan atau menjawab soal-soal latihan dengan benar. Di sini, Azdra tanpa ia sadari dirinya telah menerapkan sistem kolaborasi, bukan kompetisi. Ia menjadi bagian orang yang penting di kelas, dibutuhkan oleh rekan-rekannya

Long life education. Pendidikan itu memang investasi jangka panjang. Perubahan dan pengembangan cara pandang itu butuh proses belajar yang berkelanjutan. Kesuksesan sistem kolaborasi belajar yang dibangun oleh Finlandia terjadi karena mereka terus berbenah diri dimana para pelajar, lingkungan, orang tua dan sistem pemerintahan saling mendukung satu sama lain. Terdengar sederhana tapi itulah kenyataan yang mengagetkan dunia pendidikan.

Sebenarnya sih, Indonesia itu juga punya Tut Wuri Handayani (dari belakang memberikan dorongan), saling mendukung. Kalau tidak dibilang sama dengan Finlandia, paling sedikit, ada kemiripan. Tapi kenapa hasil penelitian PISA (Programme for International Student Assessment) literasi membaca, matematika dan sains pada 2022 dari pelajar Indonesia itu masih di bawah standar? Akankah PISA pada 2025 yang rilis terbaru diumumkan 2026 ini mengalami perubahan?

Zulkarnain Patwa

Bulukumba, Senin, 21 April 2026

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Teror Pencerdasan Bahasa Inggris

Bahasa Inggris ataupun bahasa asing apapun juga pasti terasa asing dilidah bila tidak dibiasakan. Mengulangi…

13 jam ago

Tragedi 8 x 3 di SMK Menampar Wajah Kurikulum Kita

Kejeniusan Mr. Crack, B. J. Habibie, tentulah turut mengharumkan nama baik Indonesia, disegani di dunia…

2 hari ago

Menghapus Sekat Belajar

Salah eja atau ucap seringkali dialami para pelajar bahasa inggris. Fokus kebanyakan orang adalah kemahiran…

3 hari ago

Di RBB, Pelajar yang Paling Pintar Pun Jadi Biasa Saja

Para pelajar yang menguasai perubahan seluruh kalimat tenses dengan segala bentuk perubahannya bukanlah jaminan bahwa…

4 hari ago

Memoar Kak Madi: Pepaya Matang WME Kembali ke Pemilik-Nya

Ahmadi Hatta adalah mahasiswa jurusan Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 87. Pada tahun 2000-an,…

5 hari ago

Terbaik: Setiap Tempat Adalah Belajar

Suatu pembelajaran akan terasa sangat mudah dipelajari apabila para pelajar tidak asing dengan lingkungan kehidupan…

5 hari ago