Kategori: Bahasa Inggris

Program dan mata pelajaran Bahasa Inggris dari Rumah Belajar Bersama

  • Bhs. Inggris: Ujian Oral Tense secara Terbuka Sukses

    Bhs. Inggris: Ujian Oral Tense secara Terbuka Sukses

    Bulukumba, RBB (23/01)–Dalam mempelajari memahami perubahan kalimat berbahasa Inggris, yang terpenting dipelajari adalah adalah tense ( Baca: waktu). Kerumitan dari para pelajar Indonesia memahami tense karena dalam bahasa Indonesia tidak terdapat perubahan kata kerja sementara dalam bahasa Inggris terdapat perubahan kata kerja yang disesuaikan dengan waktu kejadian.

    Untuk memudahkan mengerti grammar (tata bahasa) Inggris, Rumah Belajar Bersama (RBB), khususnya pada kelas di malam hari, kini mewajibkan para pelajarnya untuk menguasai 124 perubahan tense yang disertai nonprogressives dan certain adjectives di luar kepala. Sebagai pembuktian kwalitas, RBB mengundang Agustina Dewi—Pendiri Bamboo Academy di Blitar, Jawa Timur dan juga Ex pengajar SMART International Language Colege di Kampung Inggris Pare, Jawa Timur (salah satu lembaga kursus terbaik di kampung Inggris)—guna memberikan ujian oral (lisan) tense secara online dan secara terbuka dapat disaksikan secara live (siaran langsung) di facebook pada Jum’at, 22 Januari 2021.

    Dari 7 pelajar dikategorikan layak ikut ujian, hanya 6 yang hadir karena seorang dari mereka sakit. Saat ujian, tiap pelajar maju satu persatu diuji dan mendapatkan 5 (lima) soal perubahan tense yang tergolong rumit karena terdapat jebakan pada verbal tense dan nominal tense. Beruntung, mereka telah dibekali latihan banyak soal tulisan dan oral sehingga meskipun nervous (gugup), mereka masih mampu menjawab dengan baik.

    Bagi orang yang mengerti bahasa Inggris dan mengikuti siaran langsung tersebut, sebenarnya tidak semua pelajar mampu menjawab dengan sempurna. 2 (dua) orang masuk dalam jebakan perangkap. Namun setelah Tina mengamati dengan teliti, ia memberikan apresiasi dengan menyatakan bahwa mereka sudah memahami struktur tense dan hanya perlu lebih banyak latihan lagi. Pemantapannya dapat dilakukan pada materi passive ke active ataupun active ke passive. Jadi Tina berkesimpulan bahwa semuanya lulus ujian oral tense. Keputusan tersebut disambut meriah sebagai tanda kebahagiaan bersama meraih kesuksesan setelah melalui proses belajar yang panjang.

    Berikutnya, agar tidak tereliminasi dari RBB, satu tahapan ujian lagi yang mereka harus lalui yaitu ujian tulisan. Bila mereka lulus, materi grammar selanjutnya akan jauh lebih mudah dijelaskan dan dipahami.

    Adapun untuk pengembangan reading (bacaan), para pelajar tersebut telah menamatkan 2 buku L. G. Alexander, penulis dari Inggris, berjudul Question and Answer dan Practice and Proggress.  Dan untuk speaking (berbicara), dalam waktu terdekat ini, tepatnya pada Rabu, 27 Januari 2020. Mereka akan berdialog dengan Cita Denni, seorang rekan RBB yang pernah kuliah di  Europa-Universität Viadrina, Jerman. Para alumnus RBB dapat bergabung. Info selanjutnya akan kita sampaikan di media sosial.

    Zulkarnain Patwa
    Staff Rumah Belajar Bersama

     

  • Pengembangan Bahasa Inggris kepada Pemuda untuk Kemajuan Pariwisata Bulukumba

    Pengembangan Bahasa Inggris kepada Pemuda untuk Kemajuan Pariwisata Bulukumba

    Petikan Diskusi di Radio Suara Panrita Lopi, 4 Desember 2020

    Pembicara
    1. Andi Ayu Cahyani, SH., MH. (Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata Dinas Pariwisata Bulukumba)
    2. Zulkarnain Patwa (Direktur Rumah Belajar Bersama)

    Host/Pesenter
    1. Whyna (Pegawai Suara Panrita Lopi FM Bulukumba)

    Berikut Diskusinya.

    Whyna: Bulukumba dikenal dengan pariwisata, bukan saja di Sulawesi Selatan tapi juga di dunia. Apa yang mendasari mengambil tema pengembangan bahasa dan apa kelebihan Bulukumba itu sendiri?

    Jawaban Andi Ayu Cahyani:
    Kabupaten Bulukumba kaya dengan potensi wisata mulai dari gunung, budaya, laut dan bawah laut sehingga kita punya  tagline Pesona Tanpa Batas. Kami ingin potensi tersebut terkelola dengan baik. siapa lagi yang yang akan mengelola kalau bukan kita? Tentunya SDM (Sumber Daya Manusia) kepariwisataan yang perlu kita tingkatkan sehingga mampu mengelola potensi tersebut.

    Kita memilih tema tersebut karena kita harap ini bisa didengarkan oleh adik-adik pemuda supaya mempunyai keinginan untuk belajar Bahasa Inggris agar dapat membantu pemerintah Bulukumba dalam melakukan pembangunan, khususnya di sektor pariwisata.

    Berangkat dari adanya potensi tersebut, maka sejak 3 (Tiga) tahun terakhir ini, Dinas Pariwisata (Dispar) fokus melakukan pengembangan SDM melalui pelatihan terhadap komunitas dan lembaga yang bergerak di bidang pariwisata. Ada Genpi, Duta Wisata, HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia), Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) yang ada di desa-desa dan karyawan hotel yang berinteraksi langsung dengan para pengunjung. Nah, itulah semua mendorong kita agar mereka mampu memberikan pelayanan prima.

    Sekaitan dengan tema, sudah cukup banyak wisatawan yang berkunjung ke Bulukumba. Sesuai data, khusus di Bira hampir setiap tahun itu 2.000 orang lebih wisatawan mancanegara. Karena pandemi, wisatawan mancanegara kita hanya sekitar 200 orang lebih.

    Menghadapi banyaknya pengunjung mancanegara ke Bira, kami berupaya melakukan pelatihan Bahasa Inggris selama 3 tahun terakhir ini Dinas Pariwisata bekerjasama dengan RBB (Rumah Belajar Bersama) pada 2018 dan 2019 di Bira. Di 2020, RBB tetap membuka kegiatan belajar bagi anak muda yang ingin mengembangkan skill  (keahlian) bahasa inggrisnya di kota.

    Whyna: Kegiatan apa saja yang telah dilakukan sampai saat ini untuk memperkenalkan pariwisata di Indonesia?

    Jawaban Andi Ayu Cahyani:
    Mereka bergerak di sektor kelembagaannya dimana mereka berada. Misalnya Genpi (Gerakan Pesona Wisata Indonesia) Bulukumba melakukan promosi wisata digital di seluruh indonesia. Sedangkan Pokdarwis di desa-desa yang mempunyai potensi wisata cukup besar membentuk sadar wisata. Demikian halnya juga karyawan dan karyawati hotel tentu tidak bisa kita lepas dari bagaimana mereka berinteraksi langsung dengan pengunjung.

    Bahkan tahun ini kita ada WTD (World Tourism Day) kita melibatkan 16 komunitas pariwisata yang tergabung melakukan kegiatan. Mereka membuat suatu destinasi di bawah laut. Terlaksana pada september 2020

    Whyna: Apa yang menjadi keinginan sehingga ada RBB? Apakah memang perlu ada terobosan di Bulukumba?

    Jawaban Zulkarnain Patwa:
    Awalnya dimulai di tahun 2012 bernama Masse’di. Akhir 2014 bernama RBB. Penggeraknya alumni SMA 1 Bulukumba yang gelisah melihat keadaan pendidikan. Di daerah, orang-orang agak sulit berbahasa asing; mulai dari SD sampai sarjana bahasa inggris sekalipun. Sarjana bahasa inggris juga bisa sedikit berbicara inggris tapi untuk menulis kewalahan. Di sisi lain , potensi wisata kita luar biasa.

    Pada 2012 itulah, kami membuat sebuah gerakan pendidikan kerakyatan seharga 40 ribu rupiah. Awalnya, kami menarget kelas unggulan SMA 1 ataupun mahasiswa. Kami uji kemampuannya. Alhamdulillah responnya bagus. Kemudian, inilah yang  terus berkembang  sehingga ada Matematika, Baca Tulis, insya Allah masuk ke Bahasa Arab dan Jerman.

    Whyna: Sampai saat ini, apakah pelajarnya melibatkan sekolah dalam kota saja saja atau atau melibatkan di luar kota juga?

    Jawaban Zulkarnain Patwa:
    Sederhananya begini. Saat ini, pelajar kita ada dari Tanete, Palampang, Menyampa, Bonto Tiro dan ada pernah kita kita yang bina pada 2019 di Bira datang yang secara rutin ke kota Bulukumba untuk belajar di RBB. Mereka menempuh perjalanan sekitar 30 sampai 60 menit.

    Whyna: Bagaimana pelibatan masyarakat?

    Jawaban Zulkarnain Patwa:
    Menurut saya, Dispar Bulukumba mampu membaca hal tersebut sehingga bekerjasama dengan RBB membuka kelas belajar yang melibatkan seluruh masyarakat di kawasan wisata di Bira. Pada 2018, program belajarnya selama 6 bulan. Pada 2019, belajarnya selama 3 bulan.  Rata-rata yang belajar lebih dari 100 orang dan yang lulus sekitar 70 orang tiap tahunnya.

    Bagaimana dengan kemajuannya? Dandi adalah seorang penjaga hotel di Bira. Sekarang ia sudah berada di Bali. Pada 2018, Dandi dan bersama 5 orang rekan-rekanya praktek pidato berbahasa Inggris pada HUT RI di Desa Bira, Darubia dan Tanah Beru. Fajar dan Melia orang merupakan orang warga setempat diberi kesempatan berpidato pada Festival Pinisi.

    dan pada 2019, secara beramai-ramai para pelajar tersebut membawakan teater berbahasa inggris di Festival Pinisi. Kami sebagai pengajar sangat berterima kasih pada Dispar yang memberikan kepercataan sehingga para pelajar mendapatkan panggung besar.

    Whyna: Apa yang menjadi program tahun 2021?

    Jawaban Andi Ayu Cahyani:
    Iya. Untuk pengembangan pariwisata memang membutuhkan strategi khusus. Untuk 2021, walaupun kita masih prioritaskan Bira karena telah menjadi andalan di Sulawesi Selatan tapi kita juga tidak melupakan potensi lain khusususnya di desa-desa. Kita mendorong desa aktif di kegiatan pariwisatanya dengan membentuk kelompok sadar wisata, membentuk Bumdes (Badan Usaha Milik Desa) dengan melibatkan pemuda di desa tersebut.

    Whyna: Selain melibatkan adik-adik, apakah tidak ada keinginan melibatkan masyarakat pesisir?

    Jawaban Zulkarnain Patwa:
    Kehadiran kita di di Suara Panrita Lopi ini untuk memberikan informasi kepada masyarakat Bulukumba dan sekitarnya bahwa Dispar sudah melakukan terobosan yang sangat bagus sekali. Saya berhubungan dengan teman-teman saya di Jawa. Di beberapa tempat semisal di Blitar, tempat dimana Bung Karno dikebumikan, ternyata Disparnya belum mengadakan kegiatan bahasa inggris sementara di sini Dispar telah menjalankannya. Itu luar biasa karena Dispar dan RBB mendidik masyarakat pesisir tersebut tidak jarang disentuh. Terlebih lagi, itu kan kawasan wisata.

    Kalau di kota Bulukumba, kebanyakan pelajarnya adalah anak sekolah.  RBB telah sampai pada tahapan untuk menyatakan bahwa bila Bahasa Inggris pelajar nilainya 8, berhenti saja di RBB. Mengutip inspirasi Pak Habibie bahwa kita menciptakan manusia-manusia yang mempunyai daya saing sehingga Indonesia itu sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya. Sumber saya manusia yang paling utama.

    Whyna: Sudah berapa persen dihasilkan dari generasi muda di Bulukumba?

    Jawaban Zulkarnain Patwa:
    Kami tidak tahu jumlah pemuda Bulukumba tapi sepertinya sekitar 0 sekian persen karena jumlah pelajar kami lebih seratus orang saja sekarang ini. Mari kita lirik hal lainnya.

    Agum Wahyudha Jur adalah pelajar yang kami didik selama 2 tahun yaitu pada 2015 sampai 2016 pernah menghadiri pertemuan para pemuda se-dunia yang diaadakan oleh PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) di Thailand pada 2018. Sekarang satu angkatannya Junila yang telah tamat kuliah di Universitas Hasanuddin saat ini mengikuti sebuah mengikuti program di Bali dan sedang mempersiapkan lanjut kuliah ke Amerika Serikat karena mendapatkan beasiswa.

    Mengenai kwalitas, kami tidak merasa khawatir. Selama pelajar itu fokus dan ditambah dorongan orang tua pelajar dan guru target yang ingin dicapai daoat terpenuhi. Tamat satu buku, lanjut lagi lah.

    Misalnya Zaky, anaknya Andi Ayu. Ia tamat buku Basic English Grammar dan kemudian lanjut buku Fundamentals of English Grammar karya Betty Scrampfer Azar. Buku Fundamentals adalah buku rujukan yag dipakai oleh UGM (Universitas Gadjah Mada) pada 2010 untuk pelajar TOEFL (Test of English as a Forreign Language) sebagai persiapan untuk  lanjut S 2. Zaky itu masih pelajar SMP kelas 2 tapi dia telah menamatkan buku tersebut.  Ia pun telah mengikuti latihan persiapan TOEFL. Jadi, untuk pelajaran Bahasa Inggris SMP, kita anggap ia bisa selesaikan sendiri.

    Whyna: oh! ada pelajar SD dan SMP ya?

    Jawaban Zulkarnain Patwa:
    Ada SD, SMA, mahasiswa dan umum kita layani. Mulai dari tingkat dasar sampai TOEFL, kita fasilitasi. Guru TOEFL kita bernama Leli yang meskipun akan berangkat ke Amerika untuk lanjut kuliah sampai sekarang masih bersedia mendidik TOEFL. Ada beberapa orang master di RBB.

    Whyna: Apakah Anda mengggap Bulukumba  tidak terlalu terkenal pariwisatanya? Dengan pengembangan Bahasa Inggris,  Apakah betul nantinya kemajuan pariwisata itu sendiri?

    Jawaban Andi Zulkarnain Patwa:
    Bulukumba dari generasi ke generasi sudah terkenal. Semenjak kecil saya sudah belajar bahasa inggris bersama ayah saya di Bira. Sekitar 90 sudah terlalu berdialog dengan turis. Itu artinya Bulukumba sudah dikunjungi oleh wisatawan mancanegara.

    Sekarang menjadi persoalan kita adalah bagaimana gerenarasi muda kita mau belajar Bahasa Inggris? Apa yang kita jalankan sekarang ini adalah mendidik para pemuda, termasuk para pegawai Dispar di RBB. Kita fokuskan untuk bisa daily speaking (percakapan sehari hari) agar saat bertemu orang asing, mereka bisa berdialog.

    Kita pun sedang memikirkan bagaimana bahasa yang lain bisa tampil. Saya baru bertemu dengan kawan yang alamnus sastra Jerman dan mau mengajar di RBB. Kami mau menginformasikan pada siapa pun juga yang punya ilmu dan ingin turut menyebarkan ilmunya, silahkan bergabung di RBB.

    Gerakan Bahasa Inggris untuk Wisata yang dilakukan Dispar perlu dikloning oleh desa-desa yang berkenan mengeluarkan sedikit saja dana desanya yang milyaran teharsebut dengan membuka rumah belajar dan memanfaatkan guru-guru dari desanya sendiri. Tentunya  potensi wisata dan sumber daya manusia desa akan dapat lebih cepat berkembang.

    Teman-teman yang semasa saya sekolah yang melihat informasi yang kami sebar di medsos, mereka berminat bergabung. Pemuda pemudi sudah mulai tertarik belajar. Mungkin bahasa inggris itu sudah seperti ‘hantu’ karena sudah terlalu lama kita dibelenggu oleh sebuah sistem. Belajar bahasa inggris itu seperti penjara. Utamanya kelihatannya guru-guru yang  masih muda melakukan kreasi agar bahasa inggris itu lebih ringanlah, tidak terlalu banyak mengurusi grammar (tata bahasa). Bicara saja lah. Senang senang saja lah

    Komentar Andi Ayu Cahyani
    Iya. Saya perlu tambahkan. Saya berbicara sebagai orang tua pelajar juga. Bahwa salah satu alasan kita bekerja sama dengan RBB ini di samping dimotori oleh pemuda yang semangatnya tinggi sekali dalam mengembangkan dan share ilmunya, metode yang dipakai bisa diterima oleh anak yang tidak serius seperti pelajaran di sekolah. Ada permainan, lagu lagu dan lainnya. Itu menarik.

    Memang saat ini kita bekerjasama dengan RBB. Harapannya ke depan, banyak lembaga-lembaga lain yang selama ini sudah bergerak duluan dalam pelatihan bahasa inggris di Bulukumba ini, kita bisa bekerja sama juga khususnya dalam pengembangan  kompetensi SDM para pelaku wisata di Bulukumba ini. Jadi kita tidak menutup pintu bahwa kerjasama hanya untuk RBB tapi semua bisa merapat ke Dispar.

    Whyna: Apakah Dinas pariwisata membantu memperkenalkan RBB?

    Jawaban Andi Ayu Cahyani:
    Selama ini, kalau dibilang membantu, sebetulnya kami yang terbantu dengan adanya RBB. Saling bantu lah. Karena dengan adanya lembaga yang fokus bekerjasama memajukan kepariwisataan, ini sangat bermanfaat bagi Dispar dalam pengembangan SDM dalam menghadapi wisatawan. Jadi selain program yang sudah paten, kegiatan bahasa inggris tiap tahun di Bira.

    Kita juga, misalnya ada mahasiswa magang di Dispar, kita pasti hubungkan juga dengan RBB sehingga bisa sharing (berbagi) ilmu dan pengalaman bagaimana memberikan pelajaran bagi anak anak. Bahkan saat ini ada beasiswa dari RBB untuk teman-teman pemuda yang giat di pariwisata. Mereka telah belajar selama 2 bulan lebih di RBB.

    Whyna: Bagaimana responnya?

    Jawaban Zulkarnain Patwa:
    Mereka masih dalam tahap belajar. Mereka belajar untuk mencintai bahasa. Kalau mengenai ilmunya, saya masih sulit untuk menjelaskan jangka panjangnya tapi mereka sudah lebih baik karena mereka mencoba. Memang bila kita mendidik anak-anak, itu akan lebih lama menjadikan promosi wisata meskipun mereka aman di tingkatan sekolah. Tetapi alangkah lebih cepat jika para pemuda pemudi yang terlibat, terutama yang aktif di dunia pariwisata sehingga mereka membantu memberi informasi pada orang asing. Sedikit-sedikit menulis dalam Bahasa Inggris di medsos sehigga informasi yang mereka sebar bisa dikenal dan ketahui di seluruh dunia. Harapan saya seperti itu.

    Whyna: Seperti apa dampak Pandemi Covid 19 pada kegiatan Dinas Pariwisata?

    Jawaban Andi Ayu Cahyani:
    Sektor Pariwisata dampaknya sangat berat pada program kami. Contohnya di bidang saya. Pada tahun sebelumnya bisa sampai  7 pelatihan tapi tahun ini hanya 3 pelatihan. Itu pun harus memakai protokol covid. Salah satunya yang tidak jadi tahun ini yaitu pelatihan Bahasa Inggris ini karena pelaksanaan Bahasa Inggris itu di luar, mobile. Itu sangat beresiko pada perkembangan covid. Kalau yang lain seperti latihan selam, tetap terlaksana. Katanya, kalau di laut, virus mati.

    Salah satu yang terkena dampak adalah Festival Pinisi yang sudah termasuk 100 wonderful indonesia. Tahun ini kita melakasanakannya di tengah laut. Kita batasi orang-orang yang datang. Bisanya kita mengundang seluruh kabupaten di Sulawesi Selatan, kali ini kita tidak mengundang kabupaten lain. Kita hanya mengundang Dinas Pariwisata Provinsi dan Kementrian Pariwisata.  Penyebarannya kita lakukan melalui video, siaran tunda. Bila live streaming bisa mengundang keramaian.

    Whyna: Apakah ada juga dampak Covid 19 di RBB?

    Jawaban Zulkarnain Patwa:
    Awal awal Covid pada bulan 3, kita tutup. Cuma ada 1 orang saja, Hanifah. Itupun karena kami bertemu orang tuanya yang mengharapkan ada kelas belajar dengan mengunakan standar protokol covid. Dan alhamdulillah, Hanifah sudah hampir selevel dengan anak Andi Ayu.

    Sebenarnya, Bulukumba itu yang pertama kali membuka kelas belajar tatap muka langsung menggunakan standar protokol covid. Informasi dari teman-teman saya di kampung inggris di Pare, Kediri, Jawa Timur, mereka tidak buka. Nanti setelah ada tayangan live Metro TV yang meliput Rumah Belajar, lembaga-lembaga yang lain buka. Kita bukan pahlawan tapi kita melihat ada masalah karena ada tuntutan orang tua pelajar bahwa semakin menurun kwalitas pendidikan. Dan kita buka sampai sekarang.

    Whyna: Closing statement. Mewakili Dinas Pariwisata Bulukumba, apakah harapan Andi Ayu ke depan?

    Jawaban Andi Ayu Cahyani:
    Dengan potensi wisata yang cukup besar, kita berharap agar seluruh lapisan masyarakat mau untuk turut serta pengembangan kepariwisataan, minimal di daerah masing-masing.  Ini tidak lepas dari peran generasi muda.  Yang saya tahu semenjak saya bergabung di Dispar, atensi pemuda untuk pengembangkan pariwisata sangat besar. Terbukti dengan adanya komunitas-komunitas yang terbentuk yang bergerak di bidang kepariwisataan. Keinginan mereka untuk bergerak tentunya tidak lepas dari upaya untuk peningkatan skill mereka. Misal di Bahasa Inggris. Mereka harus yakin bahwa ini tidak hanya digunakan dalam kepariwisataan tapi bahkan sangat bermanfaat ke depan bagi masa depan generasi muda Bulukumba.

    Harapannya, mari generasi muda untuk tidak berhenti meningkatkan skill-nya, bukan hanya bahasa inggris tapi semua skill yang bisa bermanfaat untuk memajukan Kabupaten Bulukumba.

    Whyna: Apa yang diberikan dengan wadah RBB. Apa yang bisa disampaikan pada generasi muda?

    Jawaban Zulkarnain Patwa:
    Kalau harapan saya, sederhana. Banyak intelektual di Bulukumba. Kaum intelektual itu, berkumpullah di desa Anda masing-masing. Kalau misalnya ada bantuan desa, laksanakan. Kalau tidak ada, swadaya saja. Dan kalau pun ada masalah, silahkan berhubungan dengan Rumah Belajar. Anda bisa membuat kegiatan atas nama Rumah Belajar ataupun lembaga yang Anda buat secara mandiri. Atau dibantu oleh rekan rekan Rumah Belajar sampai Anda berpikir mandiri. Saya kira itu bisa.

    Saya memang sangat berharap agar lebih banyak lagi para pemuda yang mau belajar bahasa Inggris. Program di Rumah Belajar ada. Ada yang gratis dan ada yang berbayar. Kalau mau yang gratis, Ada tugas yang harus anda lakukan. Anda harus turut mengiklankan pariwisata Bulukumba. Ini sebagai komitmen kami bekerja sama dengan Dispar yang perlu dicontoh oleh dinas-dinas lain di Indonesia sehingga kemajuan Bahasa Asing lebih cepat berkembang.

    Sekali lagi saya mau bilang, yang berkembang bagus itu, satu di Bali. Masyarakatnya banyak berbahasa Inggris. Kedua di Kampung Inggris di Jatim. Satu desa orang belajar Bahasa Inggris. Ketiga, di Borobudur di Kab. Magelang, Jawa Tengah. Mereka sudah menyediakan berbagai macam bahasa. Keempat, Insya Allah Bulukumba.

    Oh ya. Satu lagi. Kita sangat bersyukur di Bulukumba, anak-anak SD sudah mau belajar bahasa Inggris meskipun di sekolah tidak diajarkan. Memang ada beberapa sekolah tertentu yang mengajarkan bahasa Inggris tapi setelah kami mengecek beberapa sekolah, yang mereka ajarkan baru sekedar pengenalan.

    Pada video-video yang kami sebar, banyak anak-anak sudah praktek bahasa inggris. Bahkan ada seorang anak mampu membuat video sendiri saat liburan. Namanya Afif. Ia menjelaskan bahwa saya ada di makassar, di hotel. Saya berenang dan lainnya. Itu kita kaget menontonnya karena itu bukan PR-nya tapi inisiatifnya. Dan anak itu pernah dibina oleh Dispar Bulukumba pada 2019.

    Satu lagi. Kami membuka ruang bagi rekan-rekan yang mau menulis dalam bahasa asing lainnya. Rumah Belajar telah menyediakan website.

    Whyna: Mungkin alamatnya dimana? Belajarnya tiap hari ya? No teleponnya berapa?

    Jawaban Zulkarnain Patwa:
    Di Jalan Teratai no. 16, Kel. Caile, Kec. Ujung Bulukumba. Kita tidak pasang plang. Cukup lihat saja titik keramain belajar di teratai, itulah dia. Belajar 3 x seminggu; Senin, Rabu, Jum’at atau Selasa, Kamis, Jum’at. Belajar 90 menit. Semisal persiapan komptetisi, kita bisa memberikan kelas tambahan. No telp./Whats Ap:  0821-9632-9864.

    Target kita adalah menjadikan setiap rumah adalah tempat belajar. Terima kasih.

    Zulkarnain Patwa
    Penyadur

  • Homestay Training to Develop Tourism Villlages

    Homestay Training to Develop Tourism Villlages

    Bulukumba, RBB (30/11)— Bulukumba Tourism Department is now working on so that villages can develop their respective tourism potential. This is due to residential training that recruits young people who will turn their villages into tourist villages.

    The training was in three days, from November, 24 till 26 in Bira. Andi Aryono, Chief of PPTK (Technical Implementation Officer) revealed the contents of the activity. “The first day was about managing homestays according to ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) standards which discussed products, buildings and services. The second day was about the preparation of homestay packages and food and beverage services and practices. The third day of training was about introducing management, collaboration and promotion and homestay marketing,” he explained.

    The participants were able to understand the content of training well. Muhammad Arsyad explained, “I think this is good for refreshing. We get new knowledge and also know how to manage ourselves because this traninng is to build self-confidence. How to manage homestay and build relationships with others”. He then continued that how interesting this training was. “People are taught to think positively. I ever joined training like this. The participants were dominated  by junior high school, high school  graduations. And now, we can see fresh university graduations who have fresh ideas, ”continued Arsyad, who is also  as the Secretary of Bulukumba PHRI (Association of Indonesian Hotel and Restaurant).

    Wandi Salim, the speaker on the third day during the interview session, explained, “homestay is a breakthrough in promoting village improvement in the promotion of Indonesian tourism. He explained the need for standardization so that the development of Human Resources could be more focused by following ASEAN and international standards.”

    According to Wandi, “For the targets in Indonesia, they (Read; Training participants) should understand Sapta Pesona; security, cleanliness, order, beauty and memories. There is no doubt that foreigners can feel that staying in a homestay is the same as staying in a hotel. And it will continue to be developed with tourist attractions—especially Bulukumba—with their unique culture and local wisdom,” explained the Head of South Sulawesi PHRI.

    The advantage of homestay in villages is that it is not the time for the villages to have 5 (five) star hotels so that home stays improve the welfare of the UMKN (Micro, Small and Medium Unit) group. The community can manage their business at home only and can make money. The government certainly reduces unemployment and poverty.

    Furthermore, the success of this training was then closed through a speech from Andi Ayu Cahyani who represented the Head of the Bulukumba Tourism Department, hoping that the material provided could be implemented in each village. Ayu said, “Participants who have home stays who are included are new people in the world of tourism. So far, they only know how to rent out rooms. Now many things can be done. This training really helps homestay owners communicate better with guests to offer packages related to the daily lives of homeowners, ”explained the Head of the Tourism Resources Development Division of the Bulukumba Tourism Department.

    Ayu felt quite optimistic about the opportunities. “We have held home stay training 3 times for the last 2 years,” she said. As a step forward, “We have initiated a Kahayya Village to become a tourist village. And since 2020, we have provided assistance in developing tourist villages for the management of tourist destinations and home stays. So they escort tourism actors,” continued Ayu.

    On the other hand, Aryono added that Tamatto Village has village tourism potential in the form of natural scenery and swimming pools. The village also has a Bumdes (Village Owned Enterprise). For joint progress, “We need awareness from all parties, both from the village and community leaders to improve the community’s economy,” he added.

    Zulkarnain Patwa
    Rumah Belajar Bersama Staff

  • Homestay Management Training for Tourism Villages in Bulukumba

    Homestay Management Training for Tourism Villages in Bulukumba

    Bulukumba, RBB (25/11)–In supporting the progress of tourism, Bulukumba Tourism Department in South Sulawesi, this time conducted Homestay Management Training through Tourism Service Activities, precisely at Anda Hotel in Tanjung Bira, started from November 24 till November 26, 2020.

    The participants are 40 people who are from Kahayya, Tana Toa, Darubia, Tamatto, Bira, Bukit Harapan villages and members of Bulukumba PHRI (Indonesian Hotel and Restaurant Association).

    A short speech from Mr. Junaedi Abdillah who opened Homestay Management Training in Bira.
    Picture taken from Andi Aryono.

    This event was opened by Mr. Junaedi Abdillah–Assistant II representing the Bulukumba District Secretary. In his short speech, Mr. Junaedi really appreciated this Homestay Training by stating that it was expected to be able to provide excellent services to guests and maximize local products in the home stay. For example, in terms of culinary or tour packages. Other development ideas can be continued.

    Mr. Muh. Ali Saleng, as the Head of Bulukumba Tourism Department who was explaining about the importance of Homestay Training.
    Picture taken from Andi Aryono.

    Meanwhile, Mr. Muh. Ali Saleng as Head of the Bulukumba Tourism Department explained the importance of tourism development which was carried out in parallel both physically and non-physically–increasing human resources. Tourism will develop faster if these two things mutually support one another.

    Mrs. Andi Ayu Cahyani, The Head of the Tourism Resources Development Division at Bulukumba Tourism Departement was delivering a short speech as the Committee Chief Report.
    Picture taken from Andi Aryono.

    The same thing was also stated by Mrs. Andi Ayu Cahyani when delivering the Committee Chief Report by saying that the implementation of this homestay training was an effort to improve the competence of human resources of tourism actors with the hope that all were competent in providing tourism services so that the tourists who visited Bulukumba could feel more enjoyable.

    Meanwhile, Mr. Andi Aryono, the Chief of PPTK (Technical Implementation Officer for activities), said, “The quality of the training on the first and second days is explained by Makassar Polytechnic College trainers because they have competence and teaching to homestay participants. And on the third day, the speaker is from South Sulawesi PHRI because PHRI knows well how to manage the home stay.”

    The first step in developing home stay will be implemented in Kahayya Village. “There are 18 people from Kahayya—the largest number of participants.  Frankly, it is because there are 15 to 19 homes willing to make their homes as home stays,” said Aryono. In the future, Bulukumba which has a variety of tourism potentials in various villages can also create manys home stays to increase the attraction of visitors to feel more comfortable traveling.

    Related to the issue of the Corona pandemic terror, the Bulukumba Tourism Department is still able to carry out its training properly by complying with standard health protocols. “From 3 trainings, this is the last training in 2020; Dive Training, and Destiantion Management and Homestay Management “, continued Aryono.

    As additional information, several Pokdarwis (Tourism Awareness group) in Bulukumba have been formed by the The Heads of Villlages. According to Mr. Aryono, “Those Pokdarwis have already existed in Kahayya, Tana Toa, Bukit Harapan and Darubia villages.” Each Head of Villlage who is interested can also make Pokdarwis in their own villages. “Bulukumba Tourism Department will confirm with a Decree for each”, added Mr. Aryono who is also the Head of the Section for Institutional Tourism Relations at Bulukumba Tourism Department.

    Zulkarnain Patwa
    The Staff of Rumah Belajar Bersama

     

  • Kecerdasan Super Anak pada Ibunya

    Kecerdasan Super Anak pada Ibunya

    Bulukumba, RBB (29/8)—B. J. Habibie pernah menyampaikan bahwa super intelligent sofware (Perangkat lunak kecerdasan yang luar biasa) pada anak ada pada ibu. Seorang anak kelas 3 di SMP 4 Matekko bernama Andi Zaky Diryananda adalah satu-satunya anak remaja yang telah menamatkan buku Basic English Grammar dan Fundamentals of English Grammar karya Betty Scampfer Azar di Bulukumba. Dari bekal handal tersebut, Zaky mendapatkan “ticket” pelatihan basic TOEFL (Test of English as a Foriegn Language)—Sebuah pengantar  bila suatu saat ia ingin kuliah di kampus ternama atau sekolah ke luar negeri.

    Dari mana kemampuan anak 14 tahun ini?  Mari kita telusuri super intelligent sofware-nya. Andi Ayu Cahyani yang merancang anaknya ini memberi pengantar, “Tipe Zaky itu lebih gampang menerima pelajaran dalam situasi yang agak santai. Ia tidak suka pelajaran yang begitu serius seperti belajar di sekolah. Bila di tempat kursus serius lagi, kan membosankan. Saya putuskan untuk memilih lembaga yang mempunyai metode belajar yang yang tidak monoton, ada permainan dan rileks”, katanya.

    Langkah yang cerdas dari Ayu ini bukan tanpa masalah. “Awalnya Zaky agak malas. Saya memberi pertimbangan pentingnya belajar Bahasa Inggris.  Dia dan anak seumurannya suka main game yang kosa katanya rata-rata berbahasa Inggris. Nah, saya agak lebih mudah mempengaruhi pikirannya bagaimana pentingnya untuk belajar Inggris.” Zaky bergabung di Rumah Belajar dan sukses menyelesaikan buku tebal Basic English Grammar dalam 7 bulan.

    Pada perjalanan menuntaskan buku Fundamentals of English Grammar dan basic TOEFL, Zaky membutuhkan energi lebih ekstra. Ia dihadapkan pada kumpulan soal-soal grammar, listening and reading yang jauh lebih rumit. Kosa katanya pun aneh-aneh dan jarang digunakan dalam pergaulan sehari-hari. Ragam soal-soal tersebut memang menciptakan tantangan tersendiri tapi siapapun juga yang selalu bertemu dengan rutinitas, kebosanan pasti datang mendera juga. Hal ini pun terjadi pada anak remaja seperti dirinya.

    Di sini lah peran ibu yang selalu hadir mendampingi. “Saya mendorong bahwa Bhs. English mendukung masa depannya dan bisa survive di mana saja”, terang Ayu. Selangkah lebih maju,  “Saya pahamkan bahwa Bhs. Inggris itu kebutuhan, bukan kewajiban. Dalam sebulan, satu dua kali saya bolehkan tidak pergi. Kalau saya sudah capek membujuk, saya sedikit memaksa juga”, lanjutnya.  Ibunya selalu mencari cara agar ia mau berangkat karena ibunya yakin bahwa bila ia sudah berada di kelas, ia larut dalam pembelajaran dan enjoy (baca: menikmati)”. Karena itu, Zaky mampu lalui tahapan sulit dengan sangat baik.

    Pembuktian kemajuan belajar Zaky dapat dilihat dari pengalaman. “Alhamdulilllah, kalau ada pekerjaan saya di Bira, Zaky sering ikut dan berbicara dengan turis mancanegara. Rumah belajar sering juga mengundang tamu mancanegara yang membuatnya mudah berinteraksi langsung dengan orang asing. Selain itu, ia pun biasa praktek sesama pelajar”, terang Ayu yang juga menjabat sebagai kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata, Dinas Pariwisata Bulukumba.

    Adapun mengenai pelajaran sekolahnya, “Saya sering mengevaluasi buku-bukunya. Saya lihat hasil pemeriksaan gurunya, rata-rata tinggi. Komentar guru Bhs. Inggrisnya, “Excelent.” Rata-rata nilainya 90 ke atas. Kursus Bhs. Inggris sangat bagus menunjang pembelajarannya di sekolah”, ugkap ibunya.

    Proses penamatan buku Fundamentals of English Grammar karya Betty Scrampfer Azar. Buku ini menjadi panduan Universitas Gadjah Mada untuk pelatihan TOEFL bagi calon mahasiswa S 2 pada tahun 2000.

    Dari pengalaman Bu Ayu dan Zaky ini, orang tua dan pelajar sebenarnya tidak perlu takut lagi pada Bhs. Inggris. Sebagai motivasi, Ayu memberi pesan, “Pelajari karakter anak kita. Dimana dia tertarik, di situ kita masuk untuk mempengaruhi keinginannya untuk belajar, termasuk Bahasa Inggris”, tutupnya.

    * Disadur dari petikan wawancara pada 25 Agustus 2020 di kantor Dinas Pariwisata Bulukumba.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

  • Latihan Berdiskusi Dalam Bahasa Inggris, Iccan Dan Pandi

    Latihan Berdiskusi Dalam Bahasa Inggris, Iccan Dan Pandi

    https://www.instagram.com/p/CEOThPEp7IY/?igshid=17nwd4s86jqna

  • Saatnya Anak SD Praktek Bhs. Inggris dengan Wisatawan

    Saatnya Anak SD Praktek Bhs. Inggris dengan Wisatawan

    Bulukumba, RBB (22/8)—Andi Alodia Syahda Syakira adalah pelajar kelas 6 di SD 32 Palambarae, Kec. Gantarang.  Kedua orang tuanya sangat menyadari bahwa Bahasa Inggris sebagai bekal utama dalam menghadapi tuntutan perubahan zaman di masa akan datang. Untuk itulah, Alo diikutkan kelas Bahasa Inggris.

    Pada saat liburan keluarga di Dego-Dego Na Bira (9/8), seorang wisatawan dari Italia berkunjung. Dengan bekal pengetahuan belajar bahasa selama 2 tahun, Alo memberanikan diri menyapa dan berkenalan dengan Mr. Marco. Pembicaraan hangat pun terjadi. Ia menanyakan berbagai hal tentang tempat wisata yang pernah Marco kunjungi di Indonesia, Eropa, dan negara-negara yang pernah dikunjunginya di dunia. Marco melayani semua pertanyaan. Dan karena Alo mengerti pembicaraan, Marco bersemangat menjelaskan satu persatu.

    Bahasa Inggris layaknya telah menjadi jendala Alo untuk menambah wawasannya dalam mengenal dunia yang luas ini. Ia pun sering mengekspresikan diri dengan mengatakan, “Wah!” saat Marco menceriterakan dunia bawah laut dan hal-hal yang baru baginya. Ifha Musdalifa yang juga tahu berbahasa Inggris dan hadir di tempat tersebut mengatakan, “Itu pertanda bahwa ia mengerti apa yang bule tersebut bicarakan”. Sebagai bentuk dukungan, “Pengalaman dan praktek seperti ini perlu untuk menambah kepercayaan dirinya”, kata ibu Alo ini.

    Saat Marco menanyakan siapa saja orang ramai yang berada di sekelilingnya, anak berumur 11 tahun ini dengan sigap menjelaskan semua orang tersebut adalah keluarganya. Ia menerangkan bahwa ia datang ke sini bersama ibu, ayah, 1 orang saudara laki laki, 2 orang saudara perempuan, dan 4 orang tantenya untuk kunjungan liburan. Marco pun memberikan berbagai pertanyaan yang menarik perhatian dunia anak yang membuat Alo menjawab dengan riang gembira.

    Sementara itu, Nain yang juga turut mendidik Alo di Rumah Belajar Bersama mengatakan, “Kemampuan Alo ini adalah hal yang wajar karena ia teratur mengikuti kelas belajar, tekun mengerjakan latihan yang membuatnya paham Basic English. Anak ini pun telah mengerti struktur tense—sangat sedikit anak SD di Indonesia yang menguasainya—yang memudahkannya berbicara dengan benar atau tidak terbalik balik sehingga orang lain cepat mengerti. Inilah yang membantunya untuk tidak perlu menerjemahkan pembiacaraan kata per kata, betapa pun penambahan kosa kata itu penting untuk terus ditingkatkan.”

    Ia menambahkan, “Dialog dengan orang asing itu menambah semangat para pelajar. Pelajar pun dapat tahu sejauh mana kemampuan dirinya dalam berbahasa Inggris. Kita pun sebagai pengajar akan lebih tahu hal-hal apa yang kurang dan lebih sehingga kita dapat mengambil langkah yang paling tepat untuk  percepatan pencerdasan pelajar tersebut.”

    Saat ini Alo bersama rekan rekannya di Rumah Belajar sedang giat-giatnya membaca buku cerita berbahasa Inggris. Tiap pertemuan, mereka diwajibkan tampil di depan kelas untuk mengkisahkan kembali apa yang dipahami dari bacaannya. Menurut Nain, “Kelas tersebut khusus bagi pelajar kategori pre-intermediate.”, tutupnya.

    Rumah Belajar Bersama sekarang ini terdapat  di 2 kabupaten. Kab. Bulukumba beralamat di Jl. Teratai No. 16, Kecamatan Ujung Bulu. Adapun yang Kab. Bantaeng beralamat di Jl. Sungai Calendu No. 5, Kelurahan Mallilingi.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

     

  • Bhs. Inggris: Berpura-Pura menjadi Guru

    Bhs. Inggris: Berpura-Pura menjadi Guru

    Bulukumba, RBB (14/08)—Pada pembahasan buku Basic English Grammar, tiap pelajar maju menjelaskan isi yang penting pada Bab I di depan rekan-rekan kelasnya. Seseorang berpura-pura menjadi guru sementara yang lainnya seolah-olah tidak mengerti sehingga harus bertanya untuk mengetahui. Karena peserta kelas pre-intermediate ini hanya 3 orang, ada cukup banyak waktu untuk praktek secara bergiliran.

    Yang mendapat tugas paling utama adalah Fadel. Ia telah menegrti cara membagi sub-sub bagian materi dan memberikan beberapa contoh kalimat pada tiap pembahasan. Kesulitan yang ia hadapi adalah  cara menjelaskannya masih sering menghadap dan berbicara ke papan tulis, bukan rekan kelasnya. Kelebihannya, ia mampu menjawab semua pertanyaan rekan kelasnya dengan benar.

    Hanifah yang berpura-pura menjadi guru kelas.

    Adapun Hanifah dan Alodia masing-masing diberi kesempatan menerangkan materi penting yaitu pada “negatif dengan be, singlular noun and plural noun, constractions, dan be + place.”  Kelemahannya adalah terkadang tidak diperhatikan saat menjelaskan.

    Alodia yang juga berpura-pura menjadi guru. 😀

    Target yang ingin dicapai pada pembelajaran kali ini bukan lagi pada penguasaan materi tapi lebih pada cara menumbuhkan kepercayaan diri dalam menyampaikan gagasan.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

  • Bahasa Inggris: Melatih Kepercayaan Diri Berbicara

    Bahasa Inggris: Melatih Kepercayaan Diri Berbicara

    Bulukumba, RBB (14/08)—Kelas Bahasa Inggris kategori pre-intermediate malam ini belajar tentang bagaimana cara tampil percaya diri berbicara dalam Bhs. Indonesia dan Inggris. Mereka unjuk kebolehan secara bergantian.

    Alodia terlebih dahulu bercerita tentang “A good Book” (Sebuah buku yang Bagus) dan Hanifah kemudian menceriterakan “In a Departement Store” (Di Sebuah Toko). Penampilan mereka ini lebih baik dari sebelumnya karena telah sangat yakin terhadap penguasaan materi. Alodia mengatakan, “Saya lebih sedikit tenang dan tidak gugup karena latihan di rumah dan paham isi cerita namun mimik dan gerakan tanganku masih kurang. Baru dua sampai tiga kali saya sanggup menggerakkan tangan”, katanya jujur.

    Explaining “A good Book.”

    Hal senada dialami rekan kelasnya. Hanifah menjelaskan, “Sebelum hadir di kelas, latihan di rumah sangat membantu saya untuk mampu menyampaikan apa yang saya pikirkan. Saya butuh latihan yang banyak agak lebih mahir”, ungkapnya.

    Sebagai langkah tindak lanjut, guru kelasnya memberinya lagi PR (Pekerjaan Rumah) yang sama tapi materi yang berbeda dengan menganjurkan untuk berlatih berbicara di depan cermin di rumah masing-masing. Supaya lebih mudah, praktek latihan terlebih dahulu dalam Bhs. Indonesia. Setelah merasa lebih baik, latihannya dalam bahasa Inggris.

    Kelebihan dan kekurangan mereka akan diketahui pada pertemuan berikutnya di hari Senin, 17 Agustus 2020.

    Bersambung…

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

     

     

     

  • Bahasa Inggris untuk Pemula

    Bahasa Inggris untuk Pemula

    Bulukumba, RBB (15/8)—Anak anak SD (Sekolah Dasar) di Rumah Belajar sore ini sedang belajar latihan dialog. Mereka terlebih dahulu menuliskan diskusi yang baru saja mereka pelajari bersama. Setelah itu, mereka akan menghapal dan melakukan praktek berbicara secara berpasangan.

    Adapun yang dipelajari adalah tentang penggunaan penggunaan Wh-Question pada “what, who dan where.” Kalimatnya berisi tentang perbedaan antara kalimat yang kata bendanya tunggal dan jamak. Contoh sederhana:

    1. A: What is this/that? (Apa ini/itu?)
    B: This/that is a tree. (Ini adalah sebuah pohon)
    2. A: Who are they? (Siapa mereka?

    B: They are Neyra and Fateh (mereka adalah Neyra dan Fateh.)
    3. A: Where are you? (Dimana Anda?)
    B: I am here.     (Saya di sini.)

    Beberapa kalimat tidak dituliskan di sini namun secara garis besar telah terdapat pada contoh di atas.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama