Kategori: Bahasa Inggris

Program dan mata pelajaran Bahasa Inggris dari Rumah Belajar Bersama

  • Berprestasi untuk Apa?

    Berprestasi untuk Apa?

    “Eh, tawwa. Juara Bahasa Inggris se-Indonesia’, kata A. Zafira Aeesyah Putri. Sapaan senang itu disampaikan Aeesyah di kumpulan teman-teman kelas Bahasa Inggris saat Faika Qinara Putri Ridwan tiba di RBB (Rumah Belajar Bersama). Maklum, mereka baru saja bertemu setelah liburan Ramadhan dan Idul Fitri. Kekaguman Aeesyah itu ungkapkan karena ia mendapatkan informasi bahwa Faika telah meraih emas pada kejuaraan Bahasa Inggris di NSMAO (National Science and Mathematics Academic Olympiad);yang dilaksanakan sebelum Ramadhan. Rekan-rekan Aeesyah pun turut mengucapkan selamat dengan ucapan berbeda-beda. Membahagiakan deh. Faika tersenyum bergembira disertai senyum dengan wajah malu.

    Kelas Faika berbeda dengan Aeesyah namun bila pelajaran Faika telah selesai, ia selalu datang ke kelasnya Aeesyah dengan maksud bermain tapi penulis selalu memanfaatkan kehadiran Faika untuk membantu teman-temannya agar lancar membaca sebagaimana dirinya. Aeesyah yang tidak tertarik mengulang bacaannya tapi bila diajak berlatih bersama Faika, ia tergerak hati untuk membuka bukunya lagi, membaca untuk kedua kalinya. Faika tidak terburu-buru dalam membaca agar Aeesyah bisa mengikuti dan bila terjadi kesalahan, Faika bersedia mengulang ulang kumpulan kosa kata yang sulit hingga Aeesyah mengucapkan dengan benar. Kadangkala,. keduanya tertawa lepas bila Aeesyah tidak sanggup mengucapkan dengan benar. Itu hal yang lucu, bukan memalukan.

    Mengakrabkan kedua anak kelas 3 SD ini adalah trik yang jitu dalam memotivasi semangat dan ketekunan belajar. Aeesyah bergabung di RBB (Rumah Belajar Bersama) sekitar tiga bulan lalu. Wajarlah bila dalam pikirannya lebih banyak didominasi bermain. Sedangkan Faika, ia telah bergabung sejak TK. Tapi namanya juga anak anak, Faika merasa lebih nyaman bergabung bermain di kelasnya Aeesyah karena di kelasnya, terdapat anak SMP dan SMA yang cara bermainnya berbeda dengannya.

    Di luar jam belajar atau saat anak anak sedang keluar main, penulis perlahan menerangkan proses belajar Faika hingga bisa juara. Itu terjadi karena Faika rajin mau rajin membaca, menamatkan beberapa buku dan praktek bicara menjelaskan kehidupan sehari-hari di depan kamera video dalam Bahasa Inggris. ‘Iya ji Mister’, kata seorang anak bernama Nabila yang tidak ingin waktu bermainnya diusik. 😀

    Penulis tahu, tugas membaca memang hal membosankan namun jalan ini harus ditempuh. Masa yang terbaik menanamkan kebiasaan membaca adalah masa anak-anak yang diharapkan terus terbawa hingga dewasa.
    Dalam Al Qur’an, terdapat iqra (bacalah!). Itu adalah kalimat perintah. Perintah itu adalah sesuatu yang wajib dilaksanakan. Sekilas mengutip argumentasi Cak Nun, mengapa diwajibkan? Karena Tuhan tahu manusia tidak menyukainya. Dan agar manusia punya pengetahuan luas yang membedakannya dengan makhluk yang lainnya, ia harus membaca. Tidak bisa tidak. Bila ada kritik bahwa membaca itu bukan sekedar teks, itu benar juga. Tulisan ini bermaksud untuk turut membumikan literasi.

    Mendesain para pelajar sejak anak-anak mengikuti kompetisi hingga meraih juara adalah salah satu strategi yang baik untuk membangkitkan semangat dan ketekunan belajar yang lebih tinggi. Mereka bisa mengukur kwalitas dirinya dan membangun kepercayaan diri menghadapi tantangan. Persoalannya adalah tidak boleh menyerah karena dalam kompetisi ada kalah dan menang. Bila kalah, harus segera bangkit dan mempersiapkan diri lebih baik lagi. Mental demikian yang berkembang dalam diri Faika dan disebarkan kepada sahabatnya Aeesyah dan pelajar pelajar lainnya agar dapat berprestasi, mendapatkan hadiah dan berbahagia.

    Zulkarnain Patwa
    Bullukumba, Sabtu, 4 April 2026

  • Hemat Waktu

    Hemat Waktu

    Satu-satunya pelajar yang setelah pulang sekolah langsung belajar lagi adalah Rhenald Karuna Tanzil. Sekolah Rhenald di SMPN 1 Bulukumba, sekitar 100 meter dari RBB (Rumah Belajar Bersama). Jarak yang dekat ini membuatnya menghemat waktu dan tenaga untuk memenuhi kebutuhannya mahir berbahasa Inggris. Ganti pakaian seragam sekolah dengan pakaian harian, itu tidak perlu baginya.
     
    Rhenald terkadang terlihat sangat kelelahan dan mengantuk. Mungkin itu efek tugas atau kegiatan sekolah yang padat. Bila itu terjadi, ia akan duduk saja tanpa mengerjakan latihannya. Mr. Ancha, guru utama kelasnya, pun maklum dan membiarkannya hingga rasa capeknya hilang. Ia menentukan sendiri kapan waktu yang tepat untuk belajar.
     
    Perlahan tapi pasti, pelajar kelas 1 SMP ini ternyata telah tamat buku Basic English Grammar (tata bahasa Inggris dasar) yang tebalnya hampir 600 halaman. Wajar bila ia jarang sekali menanyakan persoalan pelajaran sekolah. Yang ia pikirkan adalah bagaimana cara menamatkan buku grammar tahap kedua yang akan memudahkannya menghadapi pelajaran sekolah tingkat SMA.
     
    Untuk urusan reading (bacaan), ia telah mampu mengucapkan kalimat-kalimat berbahasa Inggris dengan lumayan fasih dan relatif tidak ada kendala yang berarti memahami cerita cerita bacaan Inggris sederhana. Hal ini ia peroleh dari kebiasaannya praktek membaca setelah ia menjawab soal-soal cerita. Latihan seperti ini perlu terus ia lanjutkan agar tercipta keselarasan antara grammar dan reading yang akan sangat berpengaruh pada speaking-nya.
     
    Dibalik kemajuan Rhenald ini, bukan berarti ia tidak punya masalah dalam proses belajar. Sikapnya yang pendiam membuatnya jarang bertanya. Ia cukup percaya diri dengan jawaban-jawaban yang ia buat pada latihannya. Konsekuensinya, takkala dicek, ia harus banyak melakukan perbaikan. Beruntung, ia telah mengerti Basic Grammar sehingga dengan segera, ia dapat menyadari kenapa ia salah dan melakukan perbaikan sendiri.
     
    Keunggulan cara belajar Rhenald terletak pada ketekunannya yang terus bergerak maju. Sebagian orang enggan melanjutkan latihannya karena salah dalam menjawab atau tidak tahu. Pemikiran tersebut sama sekali tidak berlaku bagi Rhenald. Justru karena ia membuat kesalahan, ada jalan perbaikan Dari kesalahan-kesalahan pada jawabannya, para guru yang membantunya jadi lebih tahu materi apa yang Rhenald belum pahami secara utuh. Itulah yang didiskusikan bersama sampai ia benar-benar mengerti.
     
    Seragam sekolah yang terus melekat di tubuhselama di RBB dan cara belajar belajar Rhenald ini menghemat banyak waktu. Ia tampil dengan caranya sendiri untuk memenuhi kebutuhannya mahir berbahasa Inggris yang menurutnya akan ia gunakan untuk lulus bersekolah di salah satu SMA terbaik pilihannya nanti dan cita-cita yang lebih tinggi lainnya di masa mudanya kelak.

    Zulkarnain Patwa
    Jum’at, 3 April 2026

  • Matematika Tidak Menakutkan

    Matematika Tidak Menakutkan

    Pernahkah anda membayangkan anak kelas 1 atau 2 SD mengerti perkalian 1 sampai 9 di luar kepala? Patta Tiro Daeng Malaja anak yang tergolong pandai berhitung dan diakui oleh teman teman sekolahnya. Sejak TK, Tiro telah ikut pelajaran matematika dimana setelah kelas belajar selesai, Hermayanto Daeng Malaja, ayahnya Tiro, tidak langsung membawanya pulang ke rumah melainkan mengambil papan tulis dan spidol dan melakukan pengulangan penjumlahan, perkalian dan pengurangan.

    Kebiasaan berhitung ini tertanam dengan baik dalam diri Tro. Ia telah terbiasa dengan penjumlahan angka puluhan dan perkalian. Penguatannya terletak pada Modul Perkalian dan Pembagian Metode 40. Berbagai macam jurus dilakukan agar ia mau menjawab soal soal sebanyak 40 kali untuk satu tahapan materi. Anak TK ini bukan lagi belajar menulis angka tapi menjawab angka-angka dengan benar menggunakan pikirannya sendiri.

    Merasa cukup aman, Tiro pun kemudian ‘menghilang’ dari RBB (Rumah Belajar Bersama) dalam waktu cukup lama. Lalu ia masuk kelas 1 di SDN 2 Terang-Terang Bulukumba, Sulawesi Selatan–Salah satu sekolah terbaik. Setelah kelas 2 SD, ia baru kembali ke RBB. Ayahnya menyampaikan kabar gembira bahwa Tiro terkenal pintar berhitung berbagai pelajaran lainnya kecuali seni. Pendeknya. Ia anak berprestasi di sekolah. Itu kami dapat percaya karena Tiro punya pemahaman dasar-dasar berhitung dan wajah polosnya juga mengiyakan pernyataan ayahnya

    Pada pertemuan pertama, kami mencoba mengecek ulang pemahaman Tiro pada perkalian secara lisan. Ia lancar dan cepat menjawab pada soal perkalian acak 1 sampai 5. Pada perkalian 6 sampai 9, ia juga mampu melakukannya dengan baik tanpa sekalipun melihat catatan. Cuma saja, ia masih butuh waktu yang cukup luang untuk bisa menjawab dengan benar. Ia masih membutuhkan beberapa pertemuan untuk paham seluruh perkalian secara acak sebelum masuk materi pembagian secara acak juga. Setelah itu, ia akan mempelajari kuadrat, pecahan, persen dan sebagainya.

    Kecerdasan anak seperti ini sebenarnya bukanlah hal yang luar biasa, biasa saja. Tapi karena realitas di lingkungan sekitar kita, banyak anak anak sekolah yang hingga kelas 4 SD belum mampu menjawab dengan cepat penjumlahan sederhana, terlebih lagi perkalian, Tiro terlihat istimewa di sekolahnya. Masalah ini sebenarnya mudah terselesaikan. Cukup mengikuti cara yang dilakukan Tiro sebagaimana yang dijelaskan di atas atau menjadikan kegiatan berhitung itu sebagai aktivitas anak sehari-hari di rumah masing-masing.

    Dengan demikian, bayangan kita kepada anak anak kelas 1 atau 2 SD lancar perkalian ataupun sederetan aritmatika sederhana dapat terwujud sehingga Matematika yang sering dianggap pelajaran menakutkan itu bukan lagi masalah bagi anak-anak kita. Mereka akan senang berhitung sebagaimana Tiro dan anak anak pintar lainnya.

    Zulkarnain Patwa

  • Kepentingan Kuliah

    Kepentingan Kuliah

    Belajar sejak buaian ibu hingga ke liang lahat. Pengingat yang disampaikan Nabi Muhammad SAW ini mengajak manusia untuk tidak berhenti belajar. Ada kalanya orang dewasa mengatakan bahwa dirinya sudah tua, tidak sanggup lagi menerima pelajaran atau alasan kesibukan dan yang paling berat adalah malas. Pada hal ia tahu bahwa untuk mewujudkan hal yang ingin diraihnya, ia harus menuntut suatu bidang ilmu tertentu.

    Khadijah, berkacamata, mahasiswa yang hampir tamat S 2 (strata dua) sedangkan Nilam telah tamat S 1 (strata satu). Mereka belajar Bahasa Inggris untuk mengejar beasiswa karena berencana untuk kuliah lagi. Target yang ingin dicapai adalah lulus TOEFL (Test of English as a Foreign Language), sebuah standar akademik yang telah lama diterapkan di universitas ternama di Indonesia. Sebelum mereka sepakat belajar, kami terlebih dahulu memberikan gambaran bahwa untuk sampai pada pembelajaran TOEFL itu butuh proses yang panjang. Soal-soalnya mencakup grammar, reading dan listening (tata bahasa, bacaan dan mendengarkan percakapan). Namanya juga tes standar internasional, kosa-kata yang dipakai adalah yang tidak lazim digunakan.

    Rekan-rekan di RBB (Rumah Belajar Bersama) sekarang diisi oleh guru-guru Bahasa Inggris yang bertahun-tahun fokus belajar di Kampung Inggris, Pare, Kediri, Jawa Timur. Mereka meyakinkan Khadijah dan Nilam bahwa TOEFL itu bukanlah pelajaran yang sulit asalkan para pelajar mau peduli pada akar-akar pengetahuan alias basic. Kebanyakan orang gagal karena mereka langsung ikut pelatihan TOEFL tanpa punya pondasi dasar. Hasilnya pastilah berantakan.

    Kita ingin para pelajar kita tidak hanya mampu menggunakan Bahasa Inggris tersebut untuk kepentingan pragmatis semisal lulus TOEFL untuk memperoleh beasiswa tetapi juga mampu menjadikan bahasa sebagai alat memperoleh pengetahuan dengan kemampuan membaca jurnal-jurnal dan buku-buku berbahasa Inggris. Bela perlu, mereka bisa menulis dalam Bahasa Inggris.

    Untuk itu, para pelajar tidak perlu terburu-buru. Ya, itu memang membutuhkan waktu lebih banyak tapi hasilnya tentu berbeda. Kami pun sedikit berbagi pengalaman. Mr. Ancha, Mr. Agung dan penulis yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun di Kampung Inggris belajar membangun basis pengetahuan dari dasar meliputi reading, speaking, grammar dan listening di berbagai macam tempat sebelum sampai pada TOEFL. Pengalaman ini tidak mesti sama ke Khadijah dan Nilam dan pelajar lainnya tapi pada intinya, proses belajar secara terstuktur itu sangat penting untuk mencapai hasil yang maksimal.

    Khadijah dan Nilam yang terdidik itu tentu sepakat dengan tawaran kami. Mereka pun menjalani proses belajar pada Reading, grammar dan pronunciation (pengucapan). Mereka pun tidak canggung bergaul dengan para pelajar sekolah yang lebih muda darinya. Para pelajar SD (Sekolah Dasar) malahan selalu mencari Miss Nilam, panggilan akrab anak-anak, saat tidak melihat Nilam berada di kelas. Ya, layaknya kampung Inggris di Pare, Kediri, Jawa Timur, tidak ada sekat antara para pelajar anak-anak dan orang dewasa. Semua kalangan menikmati dunia belajar dengan riang gembira.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 1 April 2026

  • Permainan Serius

    Permainan Serius

    Belajar dengan suasana bermain adalah pilihan yang diberikan pada anak anak setelah pembelajaran serius selesai. Para anak-anak telah menyelesaikan beberapa lesson (pelajaran) Bahasa Inggris dan telah merasa capek membaca. Guna memanfaatkan waktu yang tersisa, mereka bermain kartu joker untuk belajar penjumlahan menggunakan penyebutan Bahasa Inggris.

    Syarat yang diberikan sederhana. Yang boleh menjawab soal adalah yang menyebutkan angka misal 5 + 7. Mereka terlebih dahulu harus menyebut five times seven. Itulah yang berhak menjawab. Bila tidak, meskipun jawaban benar, yang menjawab tidak mendapatkan poin. Pada akhirnya, tiap anak yang ikut lomba, berpikir dalam kosa-kata Inggris dan kemampuan berhitung sederhana juga terasah.

    Bagi anak-anak yang merasa lancar dalam berhitung selalu mau tampil pertama dan mencari lawan yang sepadan. Para pelajar ang lainnya tidak mau kalah. Mereka pun melakukan yang sama sembari menunggu yang sedang bertanding selesai sembari berpikir pikir siapa orang yang seimbang untuk dihadapi. Cara ini cukup adil. Poin yang diperoleh tidak melambung jauh, poin bersaing dengan ketat yang membuat mereka selalu semangat dalam menjawab lebih cepat.

    Kendala yang paling sering mereka temui adalah mengetahui jawaban benar dalam bahasa Indonesia tapi salah penyebutan atau bahkan tidak tahu mengungkapkan dalam Bahasa Inggris. Bila ini terjadi, orang-orang akan tertawa bersama. Para penonton yang tahu jawaban biasanya ikut membantu menjawab baik dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris. Bila demikian, biarpun peserta menjawab benar, soal dianggap batal. Tidak ada poin.

    Sedemikian serunya permainan ini, meskipun jam belajar telah berakhir, para pelajar tetap ingin melanjutkan permainannya. Orang tua pelajar yang telah datang menjemput mesti sabar menanti hingga permainannya selesai karena mereka tidak mau pulang. Guru pun harus meminta kepada orang tua pelajar agar berkenan sedikit menanti. Dan agar tidak kelamaan, dicarilah trik agar permainan segera selesai dengan jalan mengurangi jumlah kartu yang akan dijadikan soal.

    Dalam mendidik, kita pasti ingin agar materi yang diberikan itu mampu dikuasai oleh pelajar kita. Ini memang harus serius dikerjakan tapi kita juga tidak lupa bahwa santai dalam belajar itu penting. Bagi anak-anak, santai itu lebih penting daripada serius. Betapapun mereka berada dalam lingkungan belajar, mereka ingin bermain. Oleh karena itu, kita mesti cerdas merancang kegiatan belajar yang dunia bermain yang serius dapat menyemangati dan mendukung kemajuan dalam belajar.

    Zulkarnain Patwa 
    Bulukumba Selasa, 31 Maret 2026

  • Bakat Anak Enam Tahun

    Bakat Anak Enam Tahun

    Afwa anak TK (Taman Kanak-Kanak) yang suka mengikuti banyak kegiatan belajar. Saat berumur lima tahun, ia telah lancar membaca dalam Bahasa Indonesia dan langsung ikut kelas Reading (Bacaaan) Bahasa Inggris. Ia juga senag berhitung khususnya penjumlahan, perkalian dan pengurangan. ‘Saya sudah Iqra dua di megaji’ kata Afwa. Miss Uchi, ibunya yang guru Matematika, mengatakan bahwa Afwa mengaji pada neneknya sendiri. Untuk olahraga, pilihannya pada Karate.

    Semua ini Afwa peroleh karena Afwa hampir tiap hari berada di lingkungan belajar. Ia selalu ikut ke RBB (Rumah Belajar Bersama) ketika ibunya mengajar. Awalnya tujuannya sekedar ikut ibu dan bermain. Lama kelamaan, ia tertarik untuk mempelajari banyak hal dan bergabung di kelas yang ia senang lihat. Ibunya yang mengajarkan membaca dalam Bahasa Indonesia. Terheran-heran pada tulisan Inggris yang berbeda cara bacaannya dengan Bahasa Indonesia dan karena teman-teman bermainnya banyak juga dari anak anak di kelas Bahasa Inggris, ia pun tertarik bergabung kelas Inggris. Dan wow! Di luar dugaan, ternyata anak umur lima tahun bisa lancar pada buku bacaan berbahasa Inggris. Sebenarnya, ia sudah bisa tamat satu buku tapi ia lebih suka mengulang-ulang bacaannya agar lebih fasih. Namun ada juga kemungkinan ia agak kewalahan membaca pada halaman pada pertengahan lembaran buku karena pada bagian itu telah terdapat banyak kosa kata yang sulit diucapkan untuk pelajar asing.

    Pada Matematika, ibunya Afwa menjadikan pelajaran tersebut sebagai ‘makanan’ harian. Perhitungan yang berhubungan dengan kehidupannya sehari-hari sangat sering ditanyakan padanya dan dilatih untuk menemukan jawabannya sendiri. Untuk penjumlahan dan pengurangan, ia sudah tergolong cepat untuk ukuran anak yang saat ini berumur enam tahun sekarang ini. Sedangkan latihan perkalian, ia banyak mengerjakan secara tertulis pada Modul Metode 40 yang berisi perkalian dan pembagian satu sampai sembilan. Ia telah sampai pada perkalian tujuh dan guru-guru di RBB selalu memberikan soal soal latihan lisan untuk membuatnya bisa paham luar kepala.

    Urusan mengaji, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Neneknya adalah seorang guru mengaji senior di salah satu Masjid di Turungan Beru, Kec. Herlang Bulukumba. Namun hal itu hanya dapat ia lakukan bila ia pulang kampung. Jadi ibunya yang lebih banyak mendidiknya. Ia juga pernah belajar mengaji di RBB sewaktu masih tersedia kelas mengaji.

    Para guru berusaha sebaik-baiknya agar Afwa minimal dapat tamat satu atau dua buku Bahasa Inggris dan menguasai perkalian dan pembagian satu sampai sembilan sebelum berumur tujuh tahun, masuk SD selama ia tetap menikmati dunia belajarnya karena kita tidak ingin memberikan beban pelajaran yang berat pada anak. Jadi cara yang biasa kita lakukan adalah membiarkannya terlebih dahulu bermain hingga puas. Setelah itu, kita mengajaknya belajar. Cara ini efektif dan ia benar-benar aktif mengerjakan latihan-latihannya dengan serius, terlebih bila ia belajar dengan anak anak yang hampir seumuran dengannya, ia merasa bahwa belajar itu adalah bermain.

    Pengetahuan itu luas, bercabang-cabang. Kita akrabkan saja ilmu pengetahuan yang ditafsirkan akan sangat berguna untuk mendukung masa depan anak. Afwa adalah salah satu anak yang dapat mempelajari banyak tanpa merasa terbebani. Berkat ibunya yang selalu berada di lingkungan belajar dimana dia hadir di dalamnya, ia menikmati dunia belajarnya. Ia pun sangat memungkinkan menekuni pelajaran lainnya selain yang disebutkan di atas dan kita di RBB memang mengharapkan hal demikian. Biarkan anak mempelajari banyak hal hingga pada suatu saat dapat memilih sendiri cabang ilmu pengetahuan yang paling ia paling minati. Pilihannya itu yang akan menemaninya sepanjang perjalanan kehidupannya.

    Zulkarnain Patwa

    * Selasa, 31 Maret 2026

  • Liburan Belajar Mahasiswa

    Liburan Belajar Mahasiswa

    Kesadaran mengisi liburan dengan belajar itu biasanya dimiliki oleh orang-orang dewasa. Mereka yang sedang berkuliah mengisi waktunya dengan belajar Bahasa Inggris karena punya cita-cita hendak kuliah ke luar negeri. Waktu liburan yang tanpa kesibukan tak ingin dibuang percuma. Itu adalah momentum terbaik mempelajari hal hal yang cenderung tidak diajarkan di kampus.

    Pemikiran itulah yang mengendap kuat dalam diri Nashwa Aliya Irfan. Kesibukannya mengurusi tugas kampus memang di atas rata-rata karena ia memilih dua universitas dalam waktu yang bersamaan. Di UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah di Jakarta, ia mengambil jurusan Ilmu Hadist dan National Open University di Gambia di Afrika jurusan Psikologi–pembelajaran secara online.

    Kehadiran Nashwa di RBB (Rumah Belajar Bersama) sebenarnya ia telah lakukan semasa SD. Setelah masuk pesantren, ia sama sekali tidak berhubungan dengan RBB lagi. Entah pengaruh apa, ia malu untuk kembali RBB. Melalui diskusi panjang dengan orang tuanya Aris Irfan dan Hasriyanti, ia mendapat saran bahwa belajar bahasa asing itu tidak boleh berhenti terlebih bila punya cita cita kuliah ke luar negeri. Ia kemudian berhasil menyisihkan rasa malu dan bersiap menghadapi tuntutan yang akan dibebankan RBB di pundaknya.

    Pertanyaan yang muncul saat Nashwa berhadapan dengan tugas grammar (tata bahasa), pentingkah grammar itu? Jawabannya ia temukan pada saat belajar pada kelas Reading (bacaan). Nashwa bisa menjawab sesuai kaidah standar bahasa Inggris. Banyak pelajaran yang selama ini ia pelajari di YouTube khususnya tentang Question and Answer (pertanyaan dan jawaban) baru terjawab di kelas belajarnya ini. Selama ini, ia hanya mengandalkan kemampuan sendiri dan itu benar benar merepotkan dirinya karena banyak hal tidak bisa ia jawab dengan menyakinkan. Dari pengalaman ini, ia dapat memetik hikmah bahwa guru-guru sangat dibutuhkan untuk mengarahkan cara belajar yang tepat.

    Pengakuan Nashwa takkala dididik oleh Mr. Agung Pratama Salassa yaitu segala pertanyaan yang ia tanyakan terjawab. Menurutnya cara berpikir sang guru sangat terbuka sehingga ia tidak sungkan menanyakan apapun juga. Lagi pula, setiap ia menyelesaikan satu bab materi, bab yang sebelumnya tetap dibahas dan dihubungkan dengan bab yang terbaru dihadapi. Dalam satu bulan lebih sedikit belajar, ia sanggup menyelesaikan sembilan bab dari enam belas bab yang tersedia pada buku Basic Grammar, edisi standar internasional.

    Pada kelas Reading diajarkan oleh Mr. Ancha, Nashwa banyak berlatih membaca dengan suara nyaring disertai pembelajaran intonasi suara agar iramanya enak didengarkan. Pengucapan yang benar sedikit banyak menumbuhkan kepercayaan diri berkomunikasi dengan orang lain. Bacaan cerita yang disertai soal tanya jawab secara otomatis menambah perbendaharaan kosa kata tanpa harus menghapal. Dari empat puluh delapan lessons (pelajaran) yang tersedia, ia sanggup menyelesaikan tiga puluh tiga lessons pada buku Reading tersebut.

    Overall, Nashwa merasa liburan belajar itu berharga dan have fun (menyenangkan). Metode belajar yang ia peroleh dari guru-guru di RBB ia nyatakan bagus karena meskipun pembelajarannya sangat detail, ia tidak begitu kewalahan menerima penjelasan materi. ‘Serasa tidak belajar padahal belajar’, katanya. Liburan selesai. Semua pengetahuan yang ia peroleh kini ia bawa ke tempat kuliahnya untuk mendukung cita-citanya dapat kuliah ke luar negeri nantinya. Selamat menerapkan dan berjuang lebih lanjut di tempat lebih luas, Nashwa. Good luck!

    Zulkarnain Patwa
    Senin, 30 Maret 2026

  • Menemukan Cara Belajar Efektif

    Menemukan Cara Belajar Efektif

    Dunia pendidikan mesti akrab dengan bacaan buku. Tugas para guru bukan sebatas mampu mentransfer pengetahuannya tapi juga mengajak anak didiknya mencari pengetahuan dengan caranya sendiri. Dari buku inilah mereka bisa mengenal pemikiran dunia yang tidak hadir langsung di hadapannya.

    Pekerjaan ini memang tidak mudah tetapi bukan berarti tidak mungkin. Kita tahu bahwa tradisi kita lebih kuat dengan pembelajaran verbal, seperti orang Afrika, kata Kang Jalal. Bila kita teliti lebih dalam, anak anak Indonesia itu akrab juga kok dengan literasi. Mayoritas anak yang bergama Islam tiap hari mengaji dan diusahakan hingga tamat Al Quran. Dahsyat kan! Sayangnya, motivasi ini cenderung tidak didorong pada pengetahuan umum. Padahal setiap hari mereka menghadapi pelajaran sekolah.

    Dari dulu sampai sekarang, pelajaran yang paling menakutkan di sekolah adalah Bahasa Inggris dan Matematika. Coba deh, kita minta anak anak tiap hari membaca buku pelajaran Inggris dan Matematika, tidak mesti seketat mengaji. Buat mereka penasaran dengan mempertanyakan mengapa bisa begini atau begitu. Jawaban yang tidak memuaskan pikirannya akan membuatnya terus bertanya pada orang-orang di sekitarnya. Mereka pasti dengan sendirinya melakukan pengembaraan ilmu pengetahuan.

    Sebagian kecil dari kalangan keluarga terdidik menerapkan hal di atas. Ada juga yang berpikiran lebih praktis dengan mengirimkan anak anaknya masuk ke lembaga pendidikan alternatif semacam LKP (Lembaga Kursus Pelatihan)–Istilah pemerintah di Kementerian Pendidikan–les atau kursus istilah masyarakat umum. Mereka sadar betul bahwa ke depan pengetahuan agama dan pengetahuan umum harus mampu berjalan seiring menghadapi tuntutan zaman di era serba modern dan terbuka ini sangat dipengaruhi oleh pengembangan teknologi. Untuk jangka pendek, sedikitnya anak-anak tidak takut lagi pada pelajaran Matematika sekolahnya karena mereka tahu cara menjawab soal-soal, bukan menyontek. Untuk jangka panjang, mereka bisa mengikuti jejak B. J. Habibie atau ahli teknologi seperti pemuda pemudi Iran yang sedang berkembang pesat saat ini.

    Kita tahu bahwa ilmu pengetahuan itu tidak hanya pada Mengaji, Matematika dan Bahasa Inggris. Ada ilmu pengetahuan sosial, alam seni dan masih banyak lagi. Manusia pun punya bakat yang berbeda beda. Kita perlu mengenalkan mereka semua itu agar dapat menemukan ketertarikan yang tepat yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Pembiasaan pada bacaan buku akan memudahkannya tahu apa apa yang telah terjadi yang pernah dilakukan oleh orang orang besar dunia dan kemudian, mereka bisa memilih jalan pemikiran yang sesuai pilihannya atau malahan mereka bisa mengkritisi dan menciptakan sesuatu yang lebih baik dari yang sebelumnya.

    At last, anak anak pada foto ini adalah pelajar Bahasa Inggris di malam hari. Pada sore hari.hingga jelang Maghrib, mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengaji. Banyak diantara mereka juga mengambil dua kelas mengikuti kelas Matematika dengan cara belajar secara selang seling. Jadwal memang padat dan terkesan melelahkan, seolah merampas dunia bermain anak. Untuk mengatasi masalah tersebut, kita menjadikan belajar dengan suasana bermain. Membaca buku sering dilakukan secara bersama-sama terkesan seru dan riuh. Mereka juga punya banyak tawaran ide semisal membuat kelompok untuk menyelesaikan suatu masalah dan berakting dalam menyampaikan satu gagasan dari tugas yang diberikan. Cara belajar yang mereka usulkan itu seringkali diterima oleh guru-guru kelas yang menjadikannya merasa dihargai. Suasana hatinya senang dan tak jarang diikuti suara bersorak ria, hore. Pada intinya, mereka menemukan cara belajar yang membuatnya bahagia.

    Zulkarnain Patwa 
    Senin, 30 Maret 2026

  • Selangkah Lebih Maju

    Selangkah Lebih Maju

    Datang dan pergi adalah perjalanan hidup manusia. Kita akan berkunjung kembali ke tempat yang telah kita temui bilamana ada kesan baik ataupun kebutuhan pada tempat tersebut. Itulah yang dialami oleh Fauzan Saputra yang kini di kini bersekolah di Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal Irsyad) Mattoanging, Kab. Bantaeng. Semasa SD, ia aktif belajar di RBB (Rumah Belajar Bersama).

    Pilihan untuk belajar ketika pulang kampung di Bulukumba bagi Fauzan bukan sekedar mengingatkan cara mengisi waktu luang tapi sebuah kebutuhan tindak lanjut yang telah ia perjuangkan sebelumnya. Jauh sebelumnya, ia telah tamat dua buku Reading (bacaan) berbahasa Inggris dan mengetahui struktur perubahan tenses di luar kepala namun hal itu tidaklah cukup baginya. Ia tahu bahwa banyak hal yang belum ia tuntaskan. Untuk ukuran pelajar SMP (Sekolah Menengah Pertama), menguasai tenses itu sudah di atas rata-rata. namun di RBB, ia masih merasa belum hebat karena dirinya masih belum mampu menuntaskan ujian tulis dan lisan yang penuh dengan jebakan soal–Sebuah masalah sekaligus tantangan yang penting ia hadapi untuk menguatkan kepercayaan diri.

    Kelebihan Fauzan pada Reading memotivasinya untuk cepat berkembang. Kemampuannya membaca dengan suara nyaring disertai intonasi yang terukur telah terasah sehingga memudahkannya untuk berbicara dalam Bahasa Inggris dengan lumayan fasih. Tingkat kesalahannya sudah sangat rendah dan ia pun dengan segera dapat memperbaiki bila terjadi kesalahan dalam berucap. Kemampuannya dalam menjawab soal-soal cerita pun sudah tidak diragukan lagi.

    Buku Reading ketiga yaitu pada tahapan Pre Intermediate yang selama liburan Ramadhan 2026 yang ia pelajari punya kerumitan yang tinggi. Oleh karena itu, betapapun sebagian lessons (pelajaran) telah ia pelajari pada tahun lalu, ia memilih untuk mengulang dimulai dari lesson satu, halaman pertama. Pilihan cara cerdas ini membuatnya lebih rileks dalam belajar karena tentu ia telah mengenal isi cerita bacaan dan ia dapat melakukan pendalaman. Ini juga tanda bahwa dirinya tidak sekedar ingin dikenal telah menamatkan beragam buku tapi ia ingin benar-benar tamat dengan kualifikasi yang baik.

    Kendala yang dihadapi Fauzan tampak ketika ia memasuki pertengahan buku. Pada dasarnya, kemampuan untuk menjawab soal-soal cerita diperuntukkan bagi pelajar yang telah tamat Basic Grammar (tata bahasa) sedangkan Fauzan hanya memilih kelas Reading saja. Coba banyangkan, dalam satu soal, terdapat empat pertanyaan dimana semua jawaban harus mampu disusun dan digabungkan dalam satu kalimat saja. Wah, itu kan materi tingkat tinggi dari clause. Kalau jawaban hanya satu clause semisal noun clause atau adjective clause, itu mungkin masih agak mudah buatnya. Tak jarang, adverbial clause, noun clause serta adjective clause pun harus ikut serta dalam penulisan. Pusing kan! Sebagai alternatif, guru kelasnya memintanya menjawab dengan cara biasa, semampunya saja. Setelah itu, jawaban yang ia buat dimodifikasi sesuai dengan kemampuannya memahami isi pelajaran.

    Segi positif yang Fauzan temui dari kendala belajar di atas adalah dirinya telah mengenal pembelajaran yang tidak biasa ditemui oleh pelajar kelas 1 SMP. Dan yang terpenting, ia tidak patah semangat dan terus berusaha sebaik yang ia bisa. Hingga liburan Ramadhan selesai, ia belum juga menamatkan bukunya itu tapi yang jelas, ia terus bergerak maju selangkah demi selangkah. Menjaga mental belajar demikian ini pastilah pada akhirnya membuatnya bisa tamat. Harapan tersebut dapat terwujud manakala ia datang lagi belajar pada liburan berikutnya atau belajar pada guru-guru yang ada di lingkungan terdekatnya.

    Fauzan telah datang dan kini pergi kembali ke dunia pendidikan formalnya pesantren. Sebagaimana pengakuannya sebagai bintang sekolah semasa SD pada pelajaran Bahasa Inggris, reputasi tersebut nampaknya tetap melekat pada dirinyalah di pesantrennya. Ia sih pernah bilang bahwa kalau teman-tema SD-nya mau menyontek, mereka biasanya bayar ribuan rupiah. Ia sadar itu merepotkan orang karena uang jajan teman temannya habis hanya karena harus menyontek. Saran yang diperoleh dari gurunya yaitu membantu teman-temannya untuk memahami pelajaran agar mereka bisa cerdas hingga bisa mandiri menjawab soal-soal pelajaran sebagaimana Fauzan.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 29 Maret 2026

  • Dukungan Keluarga

    Dukungan Keluarga

    Orang yang jauh dari pusat pendidikan tapi punya keinginan kuat untuk belajar dapat mengikuti cara yang dilakukan Naura. Ia anak dari bukit Kindang yang tidaklah mungkin baginya untuk mengikuti lembaga ekstrakurikuler untuk kebutuhannya pada Bahasa Inggris dan Matematika. Tahun lalu pada 2025 tepat setelah tamat SD, ia menggunakan waktunya secara penuh belajar dan tinggal di kota Bulukumba. Pada liburan sekolah pada Ramadhan 2026, ia pun kembali belajar dari siang hingga jelang buka puasa.

    Tindakan pelajar seperti ini agak jarang kita temui dan menimbulkan rasa ingin tahu. Penulis pun berusaha menggali informasi dari ayah Naura. Ayahnya berpikir untuk hendak menyekolahkan anaknya di Pesantren Ummul Mu’minin, sekolah binaan Muhammadiyah di Kab. Maros, Sulawesi Selatan. Selain usaha lulus ujian, ia berharap Naura tidak ketinggalan dalam hal pelajaran. Hal itu pun didiskusikan dalam keluarganya sendiri dan menghasilkan keputusan untuk menggunakan waktu liburan dengan bergabung di RBB (Rumah Belajar Bersama). Karena bermanfaat, keputusan untuk kembali belajar pada 2026 bukanlah hal yang membosankan.

    Rekan-rekan pengajar di RBB pun punya kesan yang mendalam kepada ayah Naura. Setiap mengantar ke RBB, ayahnya tidak langsung pulang. Ia suka duduk di pagar sembari memperhatikan anaknya yang sedang belajar di ruang teras rumah. Ya, itu untuk Bahasa Inggris. Hal itu membuatnya bisa menyaksikan atmosfer belajar yang sedang berlangsung. Ia tentu dapat membaca apakah anaknya menikmati atau mengerti pelajaran atau tidak. Perhatian ini berlangsung bukan dalam sehari saja tapi setiap hari. Ternyata ia adalah anak semata wayang (anak satu satunya dalam keluarga). Naura merasa nyaman bila ayahnya tidak jauh dari sisinya ketika ia sedang beraktifitas.

    Sang ayah yang berpikir mengedepankan pendidikan sama sekali tidak terusik, tak merasa membuang waktu percuma. Ini karena ia tidak harus serba sibuk di lahan pertaniannya di kampung karena ia telah menanam cengkeh dan tanaman sejenis lainnya yang tidak mengharuskan hadir di ladang tiap hari. Kami pun jadi lebih akrab dengan orang tua pelajar.
    Kelas Belajar Naura
    Naura adalah anak yang pendiam. Ia lebih suka memperhatikan rekan kelasnya daripada berbicara. Kesan sabar ini menjadikannya tidak banyak bermain, lebih banyak fokus pada lembaran kertas latihan. Pendek kata, full belajar, minus bermain. Istirahatnya dengan duduk santai tanpa mengganggu atau diganggu oleh siapapun.

    Dalam hal pelajaran Bahasa Inggris, sebenarnya berbagai macam materi Basic English telah ia pelajari dan pahami tahun lalu. Pada kedatangan keduanya ini, kami agak kaget. Ia tidak lupa tapi beberapa pelajaran inti nampaknya tersimpan di alam bawah sadarnya. Padahal kami percaya bahwa apa yang ia telah pelajari erat kaitannya dengan pelajaran sekolahnya. Tanpa harus menyalahkan siapapun, kami mengambil sikap me-review materi yang lalu dan menambahkan bahan-bahan yang kemungkinan ia pelajari untuk anak SMP seumurannya.

    Sedangkan pelajaran Matematika yang baru ia pilih tahun ini, guru kelasnya tentu banyak mengajarkan menyeimbangkan dengan pelajaran sekolahnya dan memberikan penguatan pemahaman matematika dasar agar pondasinya kokoh dalam mempelajari Matematika tingkat lanjut di SMP. Ia menikmati proses belajar ini karena merasa cukup terbantu mengetahui materi yang belum sempat ia tuntaskan di sekolah.

    Sebagai penutup, belajar itu tidaklah mesti dibatasi oleh ruang dan waktu. Keinginan yang kuat akan mendekatkan kita pada pada tempat-tempat pendidikan yang dipercaya sesuai dengan kebutuhan dan cita-cita. Naura meskipun kampung halamannya masih kurang menawarkan pendidikan ekstrakurikuler, berkat dukungan keluarga bisa menembus batas tersebut dan telah berhasil menambah bekal dan meningkatkan kwalitas diri untuk menggapai masa depan yang cerah. Sampai ketemu lagi pada liburan berikutnya!

    Zulkarnain Patwa